"Kalau kamu mau jadi malaikat, lakukan di tempat lain. Di Kediaman Jati Jajar, akulah ratunya!"
Rosie, seorang manajer sukses di era modern, terbangun di tubuh Kirana Merah Trajuningrat, sosok antagonis yang dibenci seluruh rakyat Kerajaan Indraloka.
Dunia di mana "Citra Diri" adalah segalanya, Merah dikenal sebagai gadis pemarah yang hobi menindas adiknya, Putih Sekar. Namun, Rosie segera menyadari ada yang salah.
Putih yang dianggap "Anak Kesayangan Rakyat" ternyata adalah manipulator ulung yang lihai bermain peran sebagai korban di depan para pelayan dan Pangeran.
Ditambah lagi, Ibu kandung Merah, Nyai Citra, adalah wanita ambisius yang menyiksa Putih demi kekuasaan, tanpa sadar bahwa setiap cambukannya justru memperburuk reputasi Merah di mata Pangeran Ararya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riyana Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manual Labor
Citra memasang wajah kesal. Menurutnya, Merah terlalu banyak berubah dalam satu malam, dia terlalu baik pada pelayan. Namun, dia tidak mungkin memarahi Rosie, yaitu Merah, anak kesayangan di matanya.
"Cepat bantu dia membersihkan diri! Baunya sudah seperti lumpur sungai!" perintah Citra sebelum berbalik pergi menuju kamarnya sendiri.
Laras dan Gendis segera memapah Rosie menuju bagian belakang kediaman, melewati dapur yang masih mengepulkan asap rempah. Di sana terdapat sebuah bangunan kecil khusus yang terbuat dari susunan batu kali dan dinding bambu rapat sebagai tempat mandi. Rosie bersyukur dia tidak perlu kembali ke area sungai yang terbuka dan penuh dengan mulut tajam para warga tadi pagi.
Rosie melirik ke arah aliran air yang menghilang di balik bangunan mandi.
“Airnya mengalir terus ke belakang rumah,” ujarnya pelan. “Buat apa saluran itu dibuat sebesar ini?”
"Rumah ini memang dibangun dekat sungai kecil untuk memudahkan pengairan ladang rempah di belakang, Nona," jelas Gendis sambil menuangkan air hangat ke dalam sebuah tempayan besar. "Hasil bumi dari Jati Jajar adalah yang paling banyak di daerah ini. Kita adalah pengepul utama sebelum rempah-rempah itu dibawa ke istana kerajaan."
Rosie mendengarkan penjelasan itu dengan saksama. Jadi, ayah Merah dan Putih bukan sekadar petani, melainkan pengusaha logistik rempah yang memiliki peran vital bagi kerajaan. Otak bisnisnya mulai bekerja, dia berada di pusat kekuatan ekonomi Indraloka.
"Tapi Nona Merah biasanya tidak pernah mau tahu urusan gudang," bisik Laras kepada Gendis saat mereka mulai membantu Rosie membuka pakaiannya yang basah.
"Iya, Nona biasanya hanya peduli soal warna kemben dan bedak dingin," tambah Gendis dengan nada heran yang tertahan.
Rosie hanya bisa diam saat mereka mulai mengguyurkan air ke tubuhnya. Dia sempat menolak saat tangan mereka hendak menggosok punggungnya, tapi kedua pelayan itu langsung memasang wajah pucat.
"Mohon jangan menolak, Nona. Kami akan dianggap tidak berguna jika majikan kami harus mandi sendiri. Nyonya Besar akan sangat marah jika tahu kami tidak melayani Nona dengan benar," pinta Gendis dengan mata berkaca-kaca.
Rosie menghela napas pasrah. "Ya udah, silakan. Tapi nanti aku enggak bisa ngelakuin apa-apa kalau semua dibantu begini. Bisa kena skill issue aku kalau terus-terusan dimanjakan."
"Seki ... apa, Nona?" tanya Laras dengan kening berkerut dalam.
"Lupain aja. Lanjutkan mandinya," perintah Rosie singkat.
Laras mulai menggosok kulit Rosie dengan sabun batangan berwarna kuning yang terbuat dari campuran kunyit dan madu. Aromanya sangat segar dan sedikit menyengat.
Sementara itu, Gendis meremas sepotong daging lidah buaya dan jeruk nipis untuk dijadikan sampo pada rambut hitam Rosie yang legam. Meskipun proses mandinya sangat tradisional, Rosie merasa otot-ototnya yang tegang perlahan mulai rileks.
Setelah rambutnya dibilas dengan air jeruk nipis yang menyegarkan, Rosie merasa mulutnya terasa asam dan tidak nyaman. Sebagai orang yang terbiasa dengan ritual sikat gigi elektrik dan pasta gigi mint yang berbusa melimpah, dia merasa ada yang kurang.
"Gendis, aku mau sikat gigi," ucap Rosie spontan.
Laras dan Gendis saling berpandangan sejenak, lalu dengan sigap Laras berlari kecil ke arah sudut dapur dan kembali membawa sebuah tempurung kelapa kecil berisi serbuk hitam serta sepotong kayu pendek yang ujungnya sudah ditumbuk hingga berserabut.
Rosie menatap benda itu dengan dahi berkerut. "Ini apa?"
"Ini tumbukan arang kayu halus yang dicampur dengan sedikit garam, Nona," jawab Laras polos. "Dan ini tangkai tanaman yang sudah kami siapkan untuk Nona."
Rosie menatap serbuk hitam pekat itu dengan horor. "Arang? Kalian mau aku menggosok gigi pakai arang? Yang bener aja, nanti gigiku jadi hitam semua kayak habis makan cumi-cumi!"
Gendis terkekeh pelan sambil menutup mulutnya. "Nona Merah lucu sekali. Arang ini justru akan membuat gigi Nona putih dan napas Nona segar. Bukankah Nona biasanya paling rajin melakukan ini agar Baginda Raja terpikat saat melihat senyum Nona?"
Rosie meringis dalam hati. Duh, si Merah ini ternyata ambisius banget urusan tebar pesona.
Dengan ragu-ragu, Rosie mengambil tangkai kayu berserabut itu, mencelupkannya ke dalam air, lalu menempelkannya pada serbuk arang. Saat dia mulai menggosokkannya ke gigi, rasa asin yang tajam dan tekstur kasar arang langsung memenuhi mulutnya. Rasanya sangat aneh, seperti sedang mengunyah sisa pembakaran sampah.
"Astaga, ini bener-bener manual labor," gumam Rosie sambil terus menggosok dengan telaten.
Dia berkaca pada permukaan air di tempayan besar. Wajahnya yang cantik kini terlihat mengerikan dengan busa hitam yang memenuhi sela-sela bibirnya. Jika teman-teman kantornya di Jakarta melihat ini, mereka pasti mengira dia sedang mengikuti tantangan aneh di media sosial.
Namun, setelah berkumur beberapa kali dengan air bersih yang segar, Rosie terkejut. Dia meraba giginya dengan lidah. Kesat, bersih, dan rasa asam di mulutnya hilang seketika.
"Wah, ternyata ampuh juga," bisik Rosie takjub. "Meskipun tanpa rasa strawberry atau cool mint, ternyata arang ini lumayan fungsional. Efisiensi tingkat tinggi dengan bahan lokal."
Laras kemudian memberikan selembar daun sirih yang sudah dibersihkan. "Silakan dikunyah sebentar, Nona, agar gusi Nona kuat dan napas Nona wangi bunga."
Rosie menerima daun itu, mengunyahnya sedikit, dan merasakan sensasi hangat yang menjalar di mulutnya. Dia merasa benar-benar seperti manusia purba yang naik kelas.
Dia hanya mengenakan kain lilit tipis saat air dingin mengguyur tubuhnya, membuat sesekali menggigil kedinginan. Namun, setiap kali dia menarik napas, aroma pepohonan rindang di sekitar tempat mandi itu terasa sangat bersih dan murni, jauh lebih segar daripada udara Jakarta yang biasanya dia hirup.
"Nona, kaki Nona bengkak," ucap Gendis sambil menunjuk pergelangan kaki kanan Rosie yang mulai membiru.
Rosie menatap kakinya. "Ini enggak seberapa dibanding rasa malu karna tergelincir di depan orang banyak tadi."
Dia menyadari satu hal, perjalanannya di Indraloka baru saja dimulai. Dia harus segera pulih dan menemukan jalan keluar, sebelum Putih dan Citra menyadari bahwa 'Merah' yang mereka kenal sudah berubah, tidak lagi menjadi tokoh jahat yang kalah.