Melihatmu tersenyum lebar dibawah sinar mentari pagi, membuatku semangat menjalani hari.
Dandelion, adakah kesempatan untukku ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inar Hamzah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KAMU KENAPA ?
Jika saat ini Rico sudah menjelajahi alam mimpinya, berbeda dengan Deya yang masih saja merapikan tumpukan kertas dengan beberapa gambar dan tulisan yang sama. Terdengar helaan nafas panjang dari gadis manis itu, helaan yang begitu berat dan terdengar hampir seperti rasa enggan dan rasa bersalah yang bersamaan.
Ia tak ingin mengecewakan kedua orang tuanya, lebih-lebih sang ayah yang sangat berharap banyak pada kedekatannya dengan Rico. Haa ? Apa ? Dekat ? Memang mereka saat ini sudah bisa dikatakan dekat ? Rasanya tidak. Beberapa waktu lalu, ia sengaja menutup sambungan telepon itu. Ia masih belum ingin Rico mengenalinya lebih jauh dan dalam lagi. Ia tak ingin ada orang lain yang mengetahui sisi lemah dan manjanya.
Deya ingin berdiri di atas kakinya sendiri, ingin hidup dengan penuh mimpi dan tenang. Meski harus melewatinya sendiri, untuk saat ini tak jadi masalah baginya. Meski ia merasa ada beberapa rekan kantornya yang tertarik padanya. Namun, itu bukan masalah baginya.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, akhirnya tumpukan kertas itu sudah rapi seperti yang diinginkan. Tak banyak yang tahu, bahwa dia memiliki usaha sendiri, meski kecil-kecilan namun cukup membantu menambah uang jajannya. Deya memiliki usaha fotocopy, usaha tersebut hanya diketahui oleh orang-orang terdekatnya. Di toko fotocopy, ada seorang gadis belia yang ia percaya untuk mengelolahnya. Jika di toko banyak kerjaan, tak jarang Deya menawarkan bantuannya. Sama seperti yang dilakukannya malam ini.
Di atas tempat tidur berukuran 160x200 itu, dia menatap langit kamar yang menampilkan cahaya Bintang yang di desainnya sendiri. Ia masih mengingat dengan jelas suara riang Rico saat ia berencana menerima ajakan laki-laki itu untuk makan siang. Namun, sungguh dalam hati kecilnya berkata ia belum siap, ia belum sepenuhnya siap dan tak akan pernah siap. Ia sama sekali tak menyukai ataupun membenci Rico, ia hanya membenci keadaan yang mengharuskan mereka terjebak dalam perjodohan ini. Bagaimana tidak, laki-laki yang tak pernah dikenal sebelumnya dan tiba-tiba datang melamar. Sungguh Deya sangat membenci situasi ini.
Lelah memikirkan semuanya, kedua mata yang sedari tadi sayu itu kini mulai terpejam dan perlahan terdengar hembusan nafas yang teratur di bawah sinar bintang dikamarnya.
***
Waktu berlalu begitu cepat, matahari sudah mulai menampakkan diri. Jarum jam semakin ke kanan menunjukkan pukul tujuh pagi. Deya terkaget dengan setengah sadar dia bangun dari tempat tidurnya dan berlari ke kamar mandi. Gadis itu dipastikan akan telat hari ini, meski alarm sudah disetting seperti biasa. Namun, entah mengapa dia tak menyadarinya.
Gelagapan ia mulai membasahi tubuhnya dengan air dingin, ia menggerutu pada diri sendiri.
“Aduuuh, bisa-bisanya nggak dengar alarm. Lagian ngapain sih tidur lagi setelah Subuhan tadi. Deyaaa.” Menggerutu dan meneriaki namanya sendiri.
Selama Deya berganti pakaian, rupanya Kia juga menyadari sang putri yang belum juga turun hingga kini sudah lewat dari jam tujuh.
“Anak itu pergi kerja nggak sih ? Tumben-tumben jam segini belum berangkat.” Lirih Kia sembari menyiapkan sarapan.
Dug,,dug,,dug,,
Pandangan Kia tertuju pada sumber suara, rupanya suara langkah kaki Deya yang sedang berlari menuruni tangga.
“Ibu, kenapa nggak bangunin. Kan ini jadi telat.” Omelnya melangkah ke arah sang ibu.
“Iya mana ibu tau. Kan kamu udah nggak pernah dibangunin lagi. Lagian tumben telat bangun. Semalam ngapain aja ? Jaga Bumi ?”
“Nyusun beberapa buku yang di fotocopy bu, Kata Dira mau diambil hari ini. Kasian dia udah banyak kerjaan, jadi saya menawarkan bantuan.” Jelasnya sambil mengunyah.
Kia hanya mengangguk pertanda paham.
“Hmm, itu nanti Dira datang, semuanya udah disusun di atas meja ya bu. Berangkat dulu.” Pamitnya dan berlari menuju rak sepatu.
***
Deya tengah sibuk dengan pekerjaannya, hingga tak menyadari bahwa waktu kian berlalu. Dia melupakan bahwa ada laki-laki yang saat ini menunggu kepastian dari ajakannya semalam. Sudah dari pukul sembilan pagi Rico mengiriminya pesan singkat, namun hingga pukul dua belas siang, pesan itu tak kunjung terbalas, apalagi dibaca.
“Deya, kamu bawa bekal apa hari ini ?” Tanya Hendy salah satu rekan kerjanya.
“Ha ? Bekal ?” Deya balik bertanya.
“Iya, bekal mu. Bukannya biasa setiap hari kamu bawa bekal ya.” Jelas Hendy kembali.
“Lupa.” Jawabnya singkat. “Astaga.” Ia segera berlari ke lokernya dan untuk mengecek ponsel yang tak dihiraukannya sedari pagi tadi.
Deya melihat notif pesan dari Rico yang baru dibukanya setelah dua jam berlalu.
“De, jadikan ? Nanti jam berapa ?” Isi pesan singkat dari laki-laki yang kini tengah menunggu balasan itu.
Dengan cepat Deya membalas pesan tersebut. “Aku tunggu sepuluh menit lagi di resto favorit aku. Ini aku share lock.” Balas Deya dan mulai bersiap untuk meninggalkan kantornya.
Selfi yang melihat teman dekatnya dikantor tengah bersiap untuk pergi, sontak saja mengundang rasa penasaran. Bagi selfi, Deya keluar dijam istirahat kantor itu hal yang tak biasa. Meski tak membawa bekal sekalipun, dia akan lebih memilih membelinya di kantin kantor atau dia akan membagikan bekalnya.
“De, kamu mau kemana ?” Selfi bertanya seperti berbasa basi, namun dibalik itu rasa penasaran menyelimutinya.
“Mau keluar makan Sel, sama teman lama ku.” Jawabnya setengah jujur.
Selfi hanya mengangguk sambil melihat punggung Deya yang Semakin mengecil ditelan jarak. Hendy yang tak sengaja mendengar pembicaraan mereka juga mengangguk sambil menyuapkan nasi dalam mulutnya.
Belum sempat Deya membagi lokasi dengan Rico, laki-laki itu telah lebih dulu membalas pesannya.
“Aku sudah didepan kantormu dari setengah jam yang lalu.”
Deya hanya menggidikkan bahu petanda tak mau terlalu mengambil pusing, kan itu mau nya dia juga. Siapa suruh datang dari tadi, aku bahkan baru saja membalas pesannya. Pikir Deya dan melajukan motornya menuju depan kantor.
Benar saja, Rico menunggu di atas motor maticnya dengan mengenakan celana selutut, atasan kaos oblong warna berbeda namun masih senada dengan bawahannya. Juga tak lupa jaket berwarna hitam, tatanan rambut yang cukup rapi.
Entah apa yang membuat Deya tidak bisa melihat betapa tampannya laki-laki yang sedari tadi menunggunya itu. Padahal beberapa perempuan melirik ke arah Rico, namun laki-laki itu memilih tak menggubrisnya sama sekali. Pandangan Rico tak lepas dari Deya yang keluar dari parkiran kantor.
“Pake motor ku aja.” Tawar Rico yang menghampiri tempat Deya berhenti.
“Iya udah, kamu pake motormu, aku pake motorku lah.” Jelasnya sembari menyipitkan mata untuk meminimalisir cahaya matahari memasuki retinanya. Dengan sigap Rico mengangkat tangannya untuk menjadi payung bagi Deya.
Untuk beberapa saat, Deya mematung namun kembali berhasil menguasai dirinya.
“Jauh nggak tempatnya ?”
“Lumayan, sekitar dua puluh menitan.”
“Ayo, kamu nggak usah motoran.” Ajak Rico yang terdengar seperti permintaan.
Deya tak menjawab, namun menatap laki-laki di depannya itu datar.
“Kamu kenapa De ? Ayo, makin lama kamu mikir makin lama kita nyampe sana. Lama juga kamu balik ke kantor mu lagi.” Jelas Rico untuk memangkas pikiran jelek Deya pada dirinya.
Deya tak menjawab, namun memilih untuk memarkirkan motornya di area parkir costumer.
“Mbak, temennya udah lama tau nunggu. Mungkin sudah satu jam dia di atas motornya. Saya tawari untuk masuk, barangkali mbak lupa ada janji, tapi masnya bilang saya nunggu aja disini. Dia pasti lagi sibuk.” Seloroh bapak juru parkir paruh baya itu.
Deya hanya tersenyum simpul dan berjalan menghampiri Rico. Sigap Rico menurunkan footstep motornya dan menatap Deya sekilas.
“Kamu kenapa ? Kok pucat gitu ?”
Bukannya jawaban yang diterima oleh Rico, namun hanya gelengan yang didapatinya.