NovelToon NovelToon
Pernikahan Paksa Dengan Pembullyku Di Masa Lalu

Pernikahan Paksa Dengan Pembullyku Di Masa Lalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Cinta Murni
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sabina

Rania Wiratama seorang gadis yang dipaksa menikahi pembully-nya di Masa lalu atas keinginan terakhir Eyang Kartika, Rania bekerja sebagai Photography dan penjual foto lewat website.
Arga Prananda seorang pria yang bekerja di anjungan laut lepas, nampak menyesali perbuatannya pada Rania. Rasa bersalah selama bertahun-tahun mengubahnya menjadi obsesi sekaligus cinta. Rania yang sudah memendam rasa benci dan trauma tak mampu menatap apalagi bersama Arga. Tapi Arga selaku suami dan Imam bagi Rania berjanji untuk membimbing dan menuntun istrinya ke jalan agama, sekaligus mencintai Rania. Bagaimana akhir pernikahan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Pagi ini napas Rania tercekat, hatinya terasa sunyi.

Di hari pernikahannya ini sang nenek sakit---Rania juga terpaksa harus menikahi pria yang menitikan noda berupa trauma padanya di masa lalu.

Padahal para perias tengah sibuk bergerak, para catering dan penata busana memastikan segalanya sempurna.

Hari yang mengerikan dalam hidupnya adalah hari ini, seharusnya hari pernikahan adalah momen kebahagian bagi setiap wanita.

Namun berbeda dengan Rania Wiratama---Hari pernikahan justru adalah hari duka untuknya.

"Ini semua demi Eyang...," batin Rania.

Rania duduk di depan cermin besar, matanya menatap kosong ke depan tak ada senyuman di wajahnya---Tangannya saling menggenggam erat di pangkuan.

Jemarinya dingin, napasnya kembang kempis---Dirinya seolah bukan untuk menikah melainkan berjalan menuju neraka.

Hari ini Rania akan menikah dengan lelaki yang namanya---masih terasa seperti luka lama.

"Kak Rania...tenang ya...," suara perias terdengar lembut.

"Kenapa kakak Rania nampak tak bahagia?" tanya sang perias dengan suara hampir berbisik.

Rania hanya menggelengkan kepalanya, dirinya tak bisa menceritakan apapun soal ini---Keselamatan Eyang Kartika ada di tangannya.

"Saya gugup," jawab Rania.

Mua itu hanya tersenyum dan mengatakan hal itu wajar saja, lalu dengan terampil mereka bekerja.

Pernikahan hari ini sesuai keinginan Eyang Kartika ingin menggunakan adat jawa yang pakem, kain jarik di lilitkan dengan rapi.

Satu persatu hiasan jawa di sematkan ke rambutnya yang sudah di sanggul dengan sempurna, aroma bunga kantil, putih, kecil dan harum tercium.

Ini melambangkan keterikatan yang abadi, namun memiliki ironi dan duka.

Di atas sanggulnya terdapat kembang goyang di pasangkan dengan hati-hati, setiap helainya bergetar pelan saat Rania mau berdiri.

Keemasan di bawah cahaya pagi, indah nampak sakral dan Rania tersenyum tipis menunjukan hatinya yang sebenarnya ingin berteriak.

Tak lama salah satu keluarga Prananda masuk, mengetuk pintu.

"Pak penghulu sebentar lagi sampai, dan akad akan segera di mulai," ujar seorang pria dengan blangkon dan adat jawa itu.

Rania yang mendengar akad akan di mulai hanya bisa memejamkan matanya, hatinya menjerit dan berontak.

"Kenapa harus Arga, cobaan apalagi Ya allah engkau kirimkan imam yang memiliki masa lalu buruk pada Hamba," batin Rania.

Tangannya meraih tisu, lalu menyeka air matanya agar riasannya tak luntur.

Ingatan buruk mulai datang selayaknya tamu tak diundang, tawa mengejek, pukulan, dorongan kasar, bahkan hal-hal menakutkan datang berkelebat di pikirannya.

"Rania...," panggil lirih Indah Wiratama kepada keponakannya.

"Aduh Ayune, ponakan." Jeda. "Kamu tahu nggak, Eyang lagi di kursi roda dan sedang di infus...beliau kekeh ingin melihat cucu pertamanya menikah."

Mendengar itu dadanya semakin sesak, kenapa sekarang posisinya serba salah.

Jika dia menolak nyawa sang nenek dalam bahaya, tapi jika dia menerima maka hidupnya siap di dorong ke dalam duka.

"Wiss toh, masa lalu nggak usah di ungkit," ujar Indah menepuk pelan bahu keponakannya.

Rania hanya menghela napas dan hanya menganggukkan kepalanya dengan pasrah.

"Iya bule, Rania akan berkorban demi eyang," jawab Rania.

Rania memejamkan mata, seolah bersedia mengorbankan kebahagiaannya-----jika bukan demi kebahagiaan setidaknya sang nenek di beri umur yang panjang.

Harapannya kali ini semoga dirinya tak menangis di depan semua orang---termasuk Arga yang akan jadi calon imam untuknya.

Di luar ruangan Arga sudah siap dengan pakaian adat jawa dengan blangkon, dan semuanya.

"Ayo penghulu udah siap," ujar salah seorang wanita dari keluarga Prananda.

Mendengar itu jantung Rania seperti mencelos, hatinya amat sakit seperti di tahan.

Rania keluar dengan di tuntun Indah---sang tante dan ekor gaunnya di pegang oleh sepupunya yang masih SMA.

Fera Wiratama.

Rania duduk di samping Arga lalu kepalanya di tutup kerudung putih yang tipis oleh Lena ibunya, dan akad nikah di mulai, di depan penghulu Arga berjabat tangan di atas meja.

Penghulu mulai berbicara.

Suaranya lantang, berwibawa, mengalir doa yang terdengar jauh di telinga Rania.

Dalam suara tarikan napasnya sendiri.

"Saudara Arga Prananda," suara penghulu bergema dengan menggunakan microphone.

"Apakah saudara siap menikahi Rania Wiratama dengan mas kawin seperangkat alat solat, satu set perhiasan emas seberat 10 gram, dan uang tunai senilai 30 juta."

Mendengar mas kawin itu Rania langsung membulatkan mata, nampak tak percaya jika Arga memberikan mahar sebesar ini hanya untuknya.

Ruangan mendadak hening.

Rania mengigit bibir bagian dalamnya, jemarinya mencengkram ujung kebaya putihnya hingga berkerut.

"Arga terima nikahnya---" ucapan Arga terpotong oleh sang penghulu.

"Sabar Tong! gua belum nyebut!" ujar penghulu, seluruh ruangan tertawa.

Sementara Rania diam tanpa ekspresi.

"Ikutin saya," ujar penghulu.

"Saya nikahkan Ananda Rania Wiratama Binti Karto Wiratama dengan mas kawin seperangkat alat solat, satu set perhiasan emas seberat 10 gram, dan uang tunai senilai 30 juta."

Dalam satu tarikan napas, "saya terima nikahnya Ananda Rania Wiratama Binti Karto Wiratama dengan mas kawin seperangkat alat solat, satu set perhiasan emas seberat 10 gram, dan uang tunai senilai 30 juta."

"Gimana para saksi sah?" tanya sang penghulu.

"Sah."

"Sah."

Lalu satu ruangan itu berdoa, sementara Rania merasa ada palu yang menghantam kepalanya, matanya berkaca-kaca, mati-matian gadis itu menahannya.

Selayaknya pohon yang di terjang angin terus menerus, jika tak sanggup akan tumbang.

Saat selesai berdoa, pandangan Rania mengabur air matanya mengalir.

Gadis malang itu langsung pingsan ke samping arah sang suami, dengan sigap Arga menahan kepala Rania.

"Astagfirullah Rania!" teriak Arga.

Para tamu juga nampak kaget melihat Rania yang pingsan, karena sejak sebelum akad wajah gadis malang itu sudah pucat.

“Ya Allah!”

“Rania pingsan!”

“Air! Cepat ambil air!”

Sang ayah---Karto Wiratama nampak panik melihat sang putri pingsan.

"Rania...Bangun," ujar Arga yang membangun gadis sudah menjadi istrinya di dekapannya.

Arga menelan ludahnya, rasa bersalah semakin menghantamnya---inikah harga dari masa lalunya.

Melihat wanita yang pernah dirinya sakiti kini tak sadarkan diri di pangkuannya setelah mengucap janji suci, tepat setelah resmi secara hukum dan agama.

"Bawa ke rumah sakit!" perintah Arga membopong tubuh wanita yang sudah resmi jadi istrinya.

"Arga...," ujar Karto lirih.

"Ayah dengar Rania sekarang tanggung jawab saya! Saya suaminya! Saya mau bawa istri saya ke rumah sakit!" tegas Arga.

Pria itu mendekap Rania sedikit erat, melindunginya dari kerumunan, pertama kalinya Arga Prananda sadar---pernikahan ini sudah memaksa Rania.

*

*

*

1
DewiKar72501823
kak putri cerita mu bagus sekali..the best 👍🏻🥰
Putri Sabina: makasih kakak udah mampir🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!