Apa yang sebenarnya di maksud dengan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karang Biru Samudera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Camping
Tepat pukul 1 siang, mobil yang mereka tumpangi sampai di pemberhentian pertama. Tanpa membuang banyak waktu dan berbasa-basi, Luca beserta teman-temannya langsung menyiapkan kebutuhan mendaki dengan di bantu para pengawal Aurora. Sementara para gadis hanya di perbolehkan menunggu sembari menata makanan yang tadi Luca siapkan dari rumah.
"Sayang, udah belum?" Tanya Alice pada sang kekasih yang tengah memasukkan jas hujan mereka ke dalam tasnya.
"Bentar lagi, yang." Sahut Rion menutup tasnya dengan pelindung lalu meletakkannya di samping tas lain yang sudah siap.
"Ini semua, lo yang masak Ca?" Tanya Leo menatap berbagai menu di depannya sembari duduk di sebelah Aurora.
"Iya. Kalo tau bakal ada tambahan personel, tadi gue bikin lebih banyak." Ucap Luca yang lebih dulu memberikan makanan itu untuk para gadis dan pengawal Aurora.
"Lo bisa masak?" Tanya Alexa sedikit terkejut karena Luca yang memiliki keahlian semacam itu.
"Gue biasa hidup sendiri dan tanpa pembantu sejak SMA, jadi gue udah biasa buat masak atau ngerjain kerjaan rumah yang lainnya sendiri."
"Wahhh... Keren ya. Jarang-jarang loh ada cowok yang bisa kayak gitu." Ucap Audrey memuji.
"Masak sih? Bukannya udah banyak ya cowok yang bisa masak?"
"Gak kok. Tuh buktinya si Rion gak bisa apa-apa. Nyalain kompor aja dia gak bisa." Sahut Alice menyindir sang kekasih, tak terima dengan kesimpulan yang Luca berikan.
"Sayang, kok gitu sih?" Tegur Rion tersenyum dan mengusap kepala Alice lemah lembut.
"Loh, aku kan ngomong fakta, gak boleh tersinggung dong?"
"Iya.... Tapi gak di depan temen-temen aku juga, malu sayang."
"Oh.... Maaf ya."
"Lo gak makan?" Tanya Alexa karena Luca yang hanya diam dan memperhatikan mereka makan.
"Gue masih kenyang. Tadi makan roti di jalan."
"Berdua sama gue mau gak?"
"Gak usah, lo makan aja."
"Gue juga gak terlalu laper sebenernya. Jadi bareng aja, mubazir kalo gak abis."
Tak enak hati jika kembali menolak, Luca pun menerima pemberian Aline dan memakannya.
Tak butuh waktu lama untuk mereka menghabiskan makan siang yang tersedia. Sebagai manusia yang baik, mereka tak lupa membersihkan semua bekas yang tersisa dan membuangnya di tempat sampah.
"Untuk kebutuhan kita selama perjalanan dan camping nanti ada di tas yang di bawa Luca, Rion, sama Leon. Kalau untuk tenda dan keperluan camping yang lainnya, ada di tas yang di bawa pengawal Aurora. Buat Vino sama gue, kita yang bakalan gantian bawain barang-barang kalian. Jadi, kalo kalian butuh bantuan atau apapun, kalian ngomong aja sama kita." Ucap Leo menjelaskan sebelum mereka memulai perjalanan.
"Kalian gak lupa bawa obat-obatan sama p3 kan?" Tanya Alice memastikan.
"Udah, ada di tas yang di bawa Leon."
"Oh iya Line, kalo lo krasa udah gak kuat, ngomong aja, nanti kita istirahat." Ucap Luca perhatian.
"Emang buat sampek ke puncak butuh berapa lama?" Tanya Aline penasaran.
"Kalo lancar sekitar 1-3 jam." Jawab Leon karena dirinya yang pernah ke sana sebelumnya.
"Kita berangkat sekarang?" Tanya Alexa menatap mereka satu per satu yang di jawab dengan anggukan kepala.
"Jangan lupa doa." Ucap Audrey mendekatkan tubuhnya dengan yang lain untuk membuat lingkaran.
Sekitar 10 menit akhirnya mereka selesai berdoa. Sebelum memulai perjalanan, Leon tak lupa membagikan tongkat yang dia bawa untuk para gadis. Maklum tak ada satupun dari mereka yang berpengalaman dengan kegiatan yang akan mereka lakukan saat ini, jadi Leon berjaga-jaga membawanya untuk membantu memudahkan perjalanan mereka.
Stamina dan fisik yang kuat memang sangat diperlukan ketika seseorang memutuskan untuk melakukan kegiatan alam. Tujuannya, tentu agar tidak merepotkan rombongan atau membahayakan dirinya sendiri. Beruntung, mereka biasa melatih tubuh mereka di tempat gym setiap 3 kali seminggu untuk melatih ketahanan fisik dan kebugaran tubuh mereka. Jadi, Audrey dan teman-temannya sama sekali tak terlihat kuwalahan setelah hampir 1 jam setengah mereka menempuh perjalanan tanpa istirahat.
"Bisa berhenti dulu gak? Gue udah gak kuat nih." Ucap Audrey pada Leo yang ada di belakangnya.
"Leon! Di depan cari tempat buat istirahat!" Teriak Luca pada Leon yang ada di barisan paling depan.
Perintah di terima dengan baik. Beberapa langkah setelah Luca mengatakan itu, Leon menghentikan langkahnya di tempat yang dia rasa cocok dan aman untuk beristirahat. Banyak pepohonan untuk bersandar serta suasana yang rindang dan teduh.
"Capek?" Tanya Rion penuh perhatian dan tersenyum lembut seraya menyisir rambut Alice yang sedikit berantakan.
Tak perlu mengatakannya, Alice langsung menyandarkan kepalanya di bahu sang kekasih dengan mata terpejam. Dia tak cukup lelah, tapi kenyamanan yang Rion berikan membuat Alice merasa lebih baik.
Sementara itu, masing-masing diantara mereka saling berbagi minuman untuk menuntaskan dahaga dan sedikit menghilangkan rasa lelah.
10 menit berlalu, tak ada obrolan yang tercipta karena untuk menghemat tenaga sampai di puncak.
"Udah cukup belum? Kalau udah, yuk lanjut." Ucap Leon menatap teman-temannya satu per satu.
"Gimana Rey? Udah cukup apa lanjut?" Tanya Leo karena kebetulan dia lah yang duduk di sebelah Audrey.
"Kurang berapa lama lagi?" Tanya Audrey menatap Leon.
"Masih 1 jaman lagi." Jawab Leon.
"Bentar lagi deh. 10 menit."
"Leon? tempatnya gimana sih? Gak mengecewakan kan?" Tanya Alexa penasaran.
"Ya kalo buat kalian yang pertama naik sih menurut gue gak. Tempatnya masih asik dan cocok untuk pemula. Kalo masalah pemandangan, pastinya gak malu-maluin lah kalo di pamerin ke instagram." Ucap Leon menjelaskan.
"Lanjut yuk." Ajak Audrey seraya bangkit dari tempatnya.
"Lo yakin Rey udah gak papa?" Tanya Aurora memastikan sebelum mereka memutuskan untuk kembali melangkah.
"Udah kok. Gue cuma butuh istirahat sebentar doang."
"Ya udah, yuk jalan." Ucap Leon.
Perjalanan kedua yang mereka lalui terlampaui dengan sangat baik. Tanpa hambatan atau sesuatu yang tidak diinginkan di tengah perjalanan. Bahkan, mereka juga bertemu dengan beberapa pendaki yang hendak turun.
***
Tepat pukul 5 sore, akhirnya mereka sampai di puncak yang mereka tuju. Beruntung, mereka sempat menikmati matahari terbenam meski itu hanya sebentar.
Di saat para lelaki menyiapkan tenda dan lain sebagainya, Aurora beserta teman-temannya menyiapkan makanan untuk makan malam mereka. Hanya sesuatu yang sederhana memang, mie instan + telur dengan secangkir minuman hangat. Entah itu kopi, susu, coklat ataupun teh.
"Yang?" Panggil Alice pada Rion yang tengah serius memasang tenda seraya melangkah mendekat. Gelas di tangan tak lupa di sodorkan sebagai bentuk perhatian juga kasih sayang.
"Makasih sayang." Ucap Rion tersenyum bahagia setelah menyeruput minuman yang Alice berikan.
"Enak ya kalo kemana-mana di temenin sama ayang, jadi diperhatiin terus." Ucap Leo menyindir.
"Makanya punya pacar bos, biar gak iri" Sahut Rion mencibir.
"Emang Leo gak punya pacar?" Tanya Alice.
"Baru aja putus. Hubungan LDR. Sok-sokan jaga hati buat yang jauh di sana, eh, malah ujung-ujungnya di selingkuhin juga." Jawab Rion menjelaskan.
"Itu artinya ceweknya emang gak baik buat lo." Sahut Aline menanggapi.
"Tapi lo gak trauma kan kalo misal jalanin hubungan LDR lagi?" Tanya Audrey yang berjalan mendekat dan memberikan salah satu cangkir di tangannya pada Leo.
Menerimanya dengan senyuman, Leo terlebih dulu menyeruput minuman yang Audrey berikan sebelum menjelaskan.
"Kenapa harus trauma? Baik buruknya suatu hubungan itu kan tergantung pada kita yang menjalaninya. Entah itu gue atau dia yang membuat hubungan itu menjadi berakhir, ya kita gak bisa salahin. Karena nyatanya, kalo udah jodoh itu gak bakalan kemana. Selagi gue udah berusaha tapi apa yang gue dapetin gak sesuai sama usaha yang gue keluarin, ya gue harus mensyukuri. Artinya, Tuhan lagi nyiapin seseorang yang emang terbaik buat gue. Dan itu bukan dia." Ucap Leo panjang lebar. Membuat semua orang yang mendengar terkejut tak percaya.
"Wihh..... Siapa tuh yang barusan ngomong kayak gitu? Beneran si Leonardo Estrada apa kembarannya?" Celetuk Leon tak percaya dengan apa yang baru saja di katakan sahabatnya itu.
"Bukan. Tapi setan penunggu tempat ini." Ucap Leo sinis. Namun setelahnya, gelak tawa terdengar diantara mereka.
"Hus, kalo ngomong jangan sembarangan." Tegur Audrey mengingatkan.
"Tenda yang paling besar buat kalian cewek-cewek." Ucap Leon menunjuk tenda yang ada di sebelahnya.
"Makasih Leon." Ucap Alice dengan senyumannya.
"Sama-sama."
"Udah beres semua belum?" Tanya Aurora sesaat setelah ia selesai menata makanan yang tadi mereka buat di atas karpet.
"Udah. Tinggal masukin barang-barang aja." Jawab Luca.
"Ya udah yuk, makan." Ajak Aline pada mereka.
Keindahan langit sore menjelang malam menjadi pemandangan sempurna untuk mereka nikmati sembari memakan makanan yang tersaji. Tak lupa, mereka juga saling berbagi cerita satu sama lain sebagai pengisi waktu. Candaan juga mereka keluarkan guna menambah keakraban diantara mereka.
Tak ayal, mereka pun bisa saling mengerti satu sama lain. Apa yang menjadi kegemaran dan di sukai serta apa saja yang mereka benci.
"Ada yang mau sosis bakar gak?" Tanya Leo memberi tawaran. Tampaknya, dia kembali kelaparan.
"Boleh tuh." Ucap Audrey menerima.
"Eh, Ra. Next time mabar bareng yuk? Kata anak-anak lo suka main game plus pro juga. " Ajak Leon antusias.
"Boleh. Tapi tunggu gue longgar ya?" Ucap Aurora menyetujui.
"Oke."
"Luca?" Panggil Aline. Luca yang kebetulan tengah fokus dengan kameranya pun menolehkan wajahnya.
"Lo, dari kapan suka motret?" Lanjut Aline bertanya.
"Dari gue SMA. Tapi cuma hobby doang."
"Gue boleh liat gak?"
Sama sekali tak keberatan, Luca memberikan cameranya pada Aline. Membiarkannya melihat hasil fotonya yang ada di camera itu.
"Wahh... Keren juga nih hasilnya." Ucap Aline memuji setelah melihat hasil beberapa foto tangkapan Luca.
"Kenapa gak di seriusin aja? Kalo gue liat dari hasilnya, ini lumayan loh." Ucap Aline melanjutkan seraya memberikan kamera itu kembali pada pemiliknya.
"Maunya sih gitu. Tapi, takdir Tuhan belum ngizinin gue buat melangkah lebih jauh ke sana." Ucap Luca.
"Sosis bakar udah jadi." Ucap Leo antusias seraya membawa 2 piring berisikan sosis bakar buatannya.
"Makasih Leo." Ucap Aurora mengambil satu sosis dari sana.
"Thanks Leo." Ucap Audrey yang juga ikut menyomot.
"Thank you Luca." Ucap Alexa.
Setelahnya, obrolan kembali tercipta diantara mereka. Entah itu sesuatu yang menyentuh hati atau tak berguna bagi pendengarnya.
***
Birunya langit malam dengan gemerlap taburan ribuan bintang tampaknya telah mengundang perhatian Aurora lebih. Setelah mereka selesai mengobrol dan rasa kantuk yang sudah menghinggapi, Aurora tak ikut masuk ke dalam tenda guna beristirahat. Dia, memilih duduk di depan perapian dengan ditemani secangkir kopi hangat sembari menikmati keindahan keindahan yang tersaji.
"Ra? Belum tidur?" Tegur seseorang mengejutkan Aurora yang tadi sempat melamun.
"Belum ngantuk." Jawabnya singkat seraya menolak menatap orang yang baru saja menegurnya.
"Lo sendiri?" Lanjut Aurora bertanya setelah menyeruput kopinya.
"Gue juga belum ngantuk. Gue temenin gak papa kan?" Ucap Leo seraya membuat minuman hangat lalu duduk di sebelah Aurora.
Sebagai jawaban, Aurora hanya bergumam dan mengangguk kecil.
"Enak gak jadi anak kedokteran?" Tanya Leo memulai obrolan.
"Enak gak enak ya harus di jalani. Kan udah jadi pilihan. Jadi harus tanggungjawab."
"Bener juga sih."
"Lo sendiri? Kenapa milih masuk jurusan arsitektur."
"Karena gue suka gambar rumah. Dulu, pas gue masih SMP, gue sering liat rumah-rumah yang bagus + unik milik temen-temen gue atau temen nyokap bokap. Dari situ, gue mulai tertarik dan bercita-cita kalo suatu saat nanti gue yang bikin rumah kayak gitu."
"Berarti kalo nanti gue bikin rumah, lo bisa dong yang desain?"
"Bisa. Yang penting lo mampu aja bayar gue. Hahaha."
"Gue kira gratis. Kan temen."
"Hahaha... Bisa sih, kalo gue sama lo berjodoh. Eh, tapi bercanda."
Bukannya merasa tersinggung dengan candaan Leo barusan, Aurora justru ikutan tertawa karena merasa terhibur.
"Ra?" Panggil Leo dengan raut wajah serius setelah beberapa saat keduanya saling terdiam.
"Hm?" Gumam Aurora tanpa menoleh.
"Gue boleh nanya gak?"
"Nanya aja. Kenapa musti minta izin?" Kekeh Aurora menatap Leo.
"Ya takutnya lo tersinggung karena pertanyaan gue itu."
"Asalkan masih batas wajar, gue gak masalah kok."
"Itu mah sama aja. Batas wajar seseorang kan beda-beda."
"Ya udah iya. Lo mau nanya apa?"
"Sebelum sama Si Kenzo, lo pernah pacaran gak?"
"Gak. Kenzo itu cowok pertama buat gue."
"Oh, jadi cinta pertama." Ucap Leo seraya mengangguk-anggukan kepalanya lalu menyeruput minumannya.
"Gak juga."
"Huh? Gimana maksudnya? Gak paham gue."
"Waktu itu Kenzo nyatain perasaannya di depan banyak orang. Awalnya gue berniat buat nolak karena gue sama sekali gak punya rasa saat itu. Tapi, karena gue gak tega bikin dia malu, jadi gue terima. Ya gue pikir, witing tresno jalaran soko kulino." Ucap Aurora menjelaskan.
"Apaan tuh artinya?" Tanya Leo bingung dengan kalimat terakhir yang Aurora ucapkan.
"Cinta itu datang karena terbiasa. Apa salahnya buat kita mencoba dan memberi kesempatan kan?"
"Terus?"
"Setelah gue krasa nyaman dan perasaan itu mulai ada, dia malah selingkuhin gue. Jadilah kita putus."
"Lo.....kecewa?"
"Gak juga."
"Kok gitu?"
"Karena perasaan itu belum sepenuhnya, baru mulai tumbuh. Nyokap gue juga selalu bilang dan ngajarin ke gue. Kalo misalkan kita jatuh cinta sama seseorang tapi seseorang itu belum jadi milik kita sepenuhnya alias suami kita, kita gak perlu ngasih cinta kita ke dia 100%, cukup 5% aja. Jadi, kalo toh misalkan kita gak jadi sama dia, rasa sakit sama kecewanya itu gak terlalu. Dan kita juga bisa mikir realistis kalo dia emang ditakdirkan bukan buat kita."
"Lo keren Ra. Salut gue sama lo. Baru kali ini gue nemuin cewek yang bisa berpikiran sedewasa itu masalah percintaan. Biasanya kan kebanyakan cewek itu suka lebay atau melebih-lebihkan."
"Wahh.... Jadi lo nganggap semua cewek itu sama?"
"Ya gak juga. Gue bilang kan kebanyakan. Selama ini cewek-cewek yang gue temuin juga kayak gitu."
"Lo sendiri, udah lama pacaran sama mantan lo?"
"Dari SMA kelas 1."
"Pacar pertama?" Leo mengangguk.
"Cinta pertama juga?" Leo kembali mengangguk.
"Udah berapa lama?"
"Masuk tahun ke 6."
"Lama juga ya."
"Ya gitu."
"Lo, beneran gak trauma?" Leo menggeleng.
"Kok bisa? Apa jangan-jangan, lo punya cewek lain? Maklum, cowok."
"Hahahaha... Pinter banget lo kalo ngambil kesimpulan."
"Tapi gue serius. Emang iya lo sesabar itu saat tau cewek lo selingkuh? Secara kan hubungan kalian udah lama. Dan pastinya, lo udah punya rencana serius sama dia."
"Ya awalnya gak. Gue marah, gue kecewa sama diri gue sendiri, gue tanya sama dia apa kekurangan gue sampek dia tega selingkuhin gue. Tapi setelah gue tau semua jawabannya, gue mulai nyadar kalo itu emang jalan Tuhan buat gue. Dengan itu gue juga tau kalo kedepannya saat gue diizinin buat menjalin hubungan lagi gue harus gimana."
"Emang harus gimana?"
"Lebih bisa menghargai waktu dan pasangan kita. Gue juga gak mau pacaran, pengen langsung nikah aja."
"Semoga ke kabul ya?"
"Amin."
"Tidur gih, udah jam 3 pagi. Besok nyesel loh gak bisa liat sunrise." Ucap Leo seraya bangkit berdiri dan meletakkan gelasnya di tempat semula.
"Hm."
"Good night Aurora." Pamit Leo sebelum masuk ke dalam tenda.
"Good night Leo."
Tak berselang lama setelah Leon masuk ke dalam tenda, Aurora juga ikut menyusul masuk ke dalam tenda miliknya.
***
Kabut putih yang menyelimuti di sertai hawa dingin yang berhembus, menyambut pagi Aurora saat membuka tenda miliknya. Menoleh sejenak pada teman-temannya yang masih terlelap, Aurora lebih dulu keluar untuk menikmati suasana yang belum pernah ia temui sebelumnya.
Udara segar yang dia hirup benar-benar membuat Aurora merasa tenang sekaligus nyaman. Tak sia-sia dirinya ikut bersama teman-temannya menghabiskan waktu weekend yang biasanya hanya di rumah dan di depan komputer.
"Morning Aurora." Sapa seseorang mengejutkan Aurora yang tengah menikmati waktunya.
"Morning." Balas Aurora saat seseorang itu berdiri di sebelahnya.
"Kok udah bangun? Lo gak tidur?" Tanya Leo dengan senyum khasnya.
"Tidur. Emang udah waktunya bangun aja. Lo sendiri? Gak tidur?"
"Tidur."
Bukannya ikut menikmati suasana pagi seperti apa yang Aurora lakukan, Leon justru melangkah ke arah pantry mereka.
"Mau kopi gak?" Tanya Leo memberi tawaran. Dia memang berniat untuk membuat minuman hangat sebagai teman.
"Boleh. Sama sekalian roti panggung juga gak papa."
"Gue nawarinnya cuma satu."
"Ya gak papa dong kalo sekalian. Lagian, nanggung banget kalo cuma kopi doang."
"Bisa aja lo."
"Morning Aurora." Sapa seseorang yang lain yang baru saja keluar dari tendanya.
"Morning Vino." Balas Aurora dengan senyuman.
"Eh, udah bangun lo, Leo?" Ucap Vino terkejut karena dia pikir dirinya yang pertama.
"Lo gak nyadar kalo ada slot kosong di sebelah lo?" Tanya Leo mencibir seraya memanggang beberapa roti.
"Gak." Ucap Vino singkat.
"Morning gays." Sapa seseorang lagi membuat keduanya kompak menoleh ke belakang dan Leon yang hanya melirik sekilas.
"Morning Luca." Balas Aurora.
"Di sini ada spot bagus gak ya buat foto?" Tanya Luca yang sudah sibuk dengan cameranya.
"Lo nanya sama siapa?" Tanya Leo menggoda.
"Leon belum bangun, jadi mana kita tahu." Sahut Vino secara tidak langsung menjawab pertanyaan Luca.
"Lo kan yang suka motret, jadi lo pasti taulah mana spot yang bagus atau gak. Di caria aja." Sahut Leo memberi saran.
Tak langsung menjalankan saran yang Leo berikan, Luca tahu memilih untuk mengajak cameranya itu melakukan pemanasan dengan mengambil gambar secara acak dan asal.
"Cantik." Gumam Luca terpesona saat hasil jepretannya memperlihatkan setengah wajah Aurora yang berpadu indah dengan cahaya pagi yang menyinarinya.
"Huh? Lo ngomong sesuatu Ca?" Tanya Vino yang tak sengaja mendengarnya.
"Huh? Ngomong apa? Lo salah denger kali." Ucap Luca pura-pura.
"Selamat pagi semuanya." Sapa Audrey dengan wajah kantuk nya saat keluar dari tenda. Di susul Alexa dan 2 saudara kembar di belakangnya.
"Pagi." Balas mereka hampir bersamaan.
"Rion belum bangun?" Tanya Alice entah pada siapa karena tak melihat keberadaan sangat kekasih diantara mereka.
"Belum. Kecapean mungkin." Jawab Leo yang melangkah mendekati dua sahabatnya dengan 2 cangkir minuman hangat di tangannya lalu di berikan pada Luca dan Vino.
"Thank you." Ucap keduanya hampir bersamaan.
Kembali ke tempat semula, Leo mengambil 2 cangkir yang tersisa lalu memberikan salah satunya pada Aurora.
"Thanks Leo." Ucap Aurora.
Setelahnya, ia kembali lagi dan mengambil piring berisi roti panggung lalu di bagikan untuk ketiganya.
"Kalo kalian mau bikin sendiri. Gue udah terlanjur bikin pas." Ucap Leo menjawab tatapan Alexa yang diberikan untuknya.
Tak berapa lama setelah itu, Leon dan Rion terlihat keluar dari tenda dan menyapa mereka. Lalu di susul dengan para bodyguard Aurora yang juga ikut keluar dari tenda satu per satu. Kebetulan, 2 saudara kembar tengah membuat minuman hangat dan juga roti panggung, jadilah mereka sekalian membuatkan untuk mereka semua.
"Next time kita kayak gini lagi ya?" Ucap Audrey tiba-tiba seraya menikmati roti panggang nya.
"Ketagihan lo?" Tanya Leon.
"Ho'oh. Berbaur sama alam kayak gini ternyata menyenangkan."
"Baru nyadar lo? Kemaren kemana aja?" Cibir Alexa.
"Males."
"Eh, semalem lo gak papa Line?" Tanya Vino tiba-tiba.
"Emang gue kenapa? Gue baik-baik aja kok."
"Kan lo alergi dingin, semalem ngaruh gak?"
"Gak tuh. Mungkin karena gue selalu bawa ini." Ucap Aline memperlihatkan icebox yang tak pernah lepas dari genggamannya.
"Lagian, semalem Alice gak pernah lepasin pelukannya dari gue, jadi gue gak krasa dingin sama sekali." Lanjutnya menjelaskan.
"Bagus deh. Pokoknya, kalo lo krasa udah gak enak sama tubuh lo, lo bilang aja sama kita. Gak usah sungkan." Ucap Vino berpesan.
"Wihhh.... Seorang Vino alditama perhatian banget sama seseorang?" Sahut Leon menyindir sahabatnya itu yang tipikel cuek.
"Resek lo." Sungut Vino seraya melempar sang sahabat dengan roti miliknya yang masih tersisa.
Gelak tawa pun tercipta diantara mereka karena ulah kedua pria itu. Sementara Aline yang menjadi penyebabnya justru terlihat cuek dan menganggapnya biasa.
"Ca, mau kemana?" Tanya Audrey karena Luca yang tiba-tiba berdiri.
"Cari spot bagus buat nambah koleksi." Jawab Luca seraya melangkahkan kakinya entah kemana.
"Ikut dong. Sekalian fotoin gue ya nanti." Ucap Audrey seraya bangkit dan mengejar Luca sebelum lebih jauh pergi.
"Kamu mau foto juga sekalian gak yang?" Tanya Rion pada sang kekasih.
"Yuk." Ucap Alice antusias.
Keduanya pun menyusul Luca dan Audrey untuk ikut mengabadikan kebersamaan mereka di sana.
"Kalian gak ikutan juga?" Tanya Vino menatap gadis-gadis yang tersisa.
"Ikutan, tapi nanti. Tunggu kopi gue habis dulu." Jawab Alexa.
"Keburu sunrise nya ilang. Sekarang aja yuk, sama gue. Itu kopi di bawa aja." Ucap Leo lebih dulu berdiri.
"Ya udah, yuk."
Kepergian Leo dan Alexa menyisakan mereka yang hanya berempat. Karena bodyguard Aurora sudah ikut pergi bersama Luca untuk memanfaatkan waktu mereka.
"Lo berdua gak ikutan?" Tanya Leon menatap Aurora dan Aline bergantian.
"Kita berdua gak suka foto-foto." Sahut Aurora santai yang sudah fokus dengan game di hpnya.
"Pantes kalian sama sekali gak tertarik." Sahut Vino.
"Ra, madep sini bentar deh?" Panggil Leon tiba-tiba. Dan saat Aurora berbalik, Leon berhasil melayangkan jepretannya dengan kamera handphone.
"Cantik ya." Puji Leon bangga menatap hasil fotonya yang tak mengecewakan.
"Emang gue cantik." Sahut Aurora percaya diri.
"Astaga mbaknya. Pd banget sih?" Cibir Aline tak suka meski hanya bercanda.
"Harus dong." Kekeh Aurora.
"Boleh di simpen gak?" Tanya Leon meminta izin.
"Simpen aja kalo gak menuh-menuhin memori HP lo." Ucap Aurora memberi izin.
"Memori gue lebih dari satu tera."
"Susulin yang lain yuk? Daripada kita di sini gak ngapa-ngapain." Ajak Aline berdiri. Ketiganya pun mengikuti dan menyusul teman-temannya yang lain.
***
Meski hanya berfoto ria atau sekedar menikmati pemandangan yang tercipta, tapi mereka begitu menikmati momen itu dan tak akan melupakannya.
"Foto bareng yuk?" Ajak Luca tiba-tiba.
"Boleh tuh." Sahut Aline menyetujui.
"Emang lo bawa tripod?" Tanya Leon.
"Bawa. Tunggu bentar." Memberikan kameranya pada Rion, Luca berlari menuju tendanya untuk mengambil tripod.
"Disebelah mana?" Tanyanya setelah berhasil mendapatkan barang yang dia cari.
"Sebelah sini aja. Backgroundnya bagus, pencahayaannya juga pas." Ucap Vino menunjuk tempatnya berdiri saat ini.
"Oke."
Mengatur terlebih dahulu tripod nya, Luca meminta kembali kameranya yang masih di pegang Rion untuk mencari enggel yang pas.
"Udah nih." Ucapnya setelah selesai mengatur semuanya.
"Langsung bareng-bareng?" Tanya Leon.
"Iya, langsung bareng-bareng aja." Jawab Luca.
"Mas sama temen-temen yang lain ikutan juga." Lanjutnya menatap bodyguard Aurora untuk ikut bergabung bersama mereka.
"Gak papa mas?" Tanya salah satunya tak enak hati.
"Ya gak papa. Emang kenapa?" Sahut Luca santai seraya menggiring mereka untuk segera baris.
"Vin, di jadiin 2 barisan." Lanjutnya memerintah seraya melihat layar kameranya.
Vino yang merasa dirinya di perintah, langsung mengatur mereka menjadi 2 barisan. Semua bodyguard Aurora beserta dirinya, Leo dan Leon berdiri di belakang, sementara sisanya duduk di depan dengan beralaskan tanah.
Setelah di rasa pas dan semuanya masuk ke dalam tangkapan lensa, Luca mengatur kameranya menjadi mode timer.
"10 detik." Ucap Luca. Setelahnya, dia pun berlari dan duduk di sebelah Aurora untuk ikut berfoto bersama.
"Bagus gak hasilnya?" Tanya Audrey penasaran.
"Bagus dong." Ucap Luca bangga.
"Mau langsung turun atau tunggu bentar lagi?" Tanya Leon meminta saran.
"Gimana gays?" Sahut Vino ikut bertanya seraya menatap para gadis satu per satu. Seolah keputusannya tergantung jawaban dari mereka.
"Sekarang aja." Putus Aurora mewakili teman-temannya.
"Oke. Kalo gitu kita beresin tenda sekarang." Ucap Leon setuju dan lebih dulu melangkah mendekati tenda mereka.
Dengan saling bekerjasama dan membantu satu sama lain, mereka membereskan semuanya. Ada yang membongkar tenda, meliput sleeping bag dan menggulung matras, menata peralatan memasak dan makanan yang masih tersisa, serta tak lupa membawa sampah yang sudah terkumpul untuk di bawa turun.
"Yakin udah semua kan? Gak ada yang ketinggalan." Tanya Leon memastikan sebelum mereka memutuskan untuk turun. Semuanya telah terkemas rapi di dalam tas masing-masing.
"Udah." Jawab Audrey pasti.
"Pastiin dulu. Mungkin ada printilan-printilan kecil yang belum atau lupa."
"Udah semua kok. Tadi gue udah pastiin dua kali."
"Ya udah, kita jalan sekarang." Putus Leon akhirnya.
Sama seperti kemarin saat mereka berangkat untuk naik, kali ini pun tak ada halangan apapun dan sesuatu yang terjadi diantara mereka saat perjalanan turun. Semuanya lancar tanpa hambatan.