💻 ERROR 404: BOSS IN LOVE ⚠️
"Apa jadinya kalau CEO robot harus belajar jadi manusia dari staf paling kacau di kantornya?"
Arsenio adalah CEO Volt-Tech yang hidupnya hanya berisi angka, logika, dan efisiensi. Baginya, manusia hanyalah kumpulan data. Tapi bagi Alinea, staf baru yang hidupnya seberantakan kabel charger di dasar tas, Arsenio hanyalah sebuah robot dingin yang sensor perasaannya sudah expired.
Gara-gara insiden kopi susu dan mulut pedasnya, Alinea terjebak kontrak gila:
"Humanity Coaching".
Tugasnya? Mengajari Arsenio cara menjadi manusia normal demi meyakinkan neneknya bahwa sang cucu bukan mesin pencetak uang semata. Alinea pikir ini cuma soal akting sampai sang Bos mulai menunjukkan glitch aneh: detak jantung yang mendadak overclock tiap kali Alinea berada dekat dengannya.
Ternyata, mengajari robot cara mencintai itu lebih rumit daripada coding paling error sekalipun.
🚫 Warning: High tension, snarky comments, and a lot of heart-melting glitches.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aira Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 — SOROTAN
Alinea tidak pernah membayangkan hidupnya bisa dijungkirbalikkan hanya oleh satu kalimat.
“She’s not temporary.”
Tiga hari setelah gala, namanya muncul di tajuk artikel bisnis. Bukan sebagai staf biasa. Bukan sebagai tim marketing junior. Tapi sebagai:
“Perempuan di Balik Perubahan CEO Volt-Tech.”
Ia membaca judul itu sambil menatap layar laptop di pantry kantor. Tangannya kaku di atas keyboard. Perubahan? Ia bukan perubahan. Ia bahkan belum yakin siapa dirinya bagi Arsenio.
Nomor tidak dikenal.
“Alinea? Kami dari MediaNova. Bisa minta waktu wawancara singkat?”
Ia langsung memutus panggilan. Jantungnya berdegup cepat. Belum juga jam sembilan pagi, tapi ia sudah ingin menghilang dari muka bumi.
Di lantai atas, Arsenio menerima laporan dari tim PR.
Layar di depannya menampilkan grafik yang melonjak tajam—bukan angka penjualan, melainkan seberapa sering nama Alinea disebut dalam satu jam terakhir. Di atas sana, segalanya tampak seperti data yang bisa dikendalikan. Tapi di bawah, di lantai yang sama, ia tahu satu orang sedang hancur karena data-data itu.
“Media mulai menggeser narasi, Pak. Dari ‘CEO robot’ menjadi ‘CEO yang berubah karena perempuan.’”
Arsenio membaca ringkasan berita dengan ekspresi datar.
“Apakah itu merugikan?”
“Secara brand, tidak. Human interest story meningkatkan engagement. Tapi fokusnya terlalu personal.”
Arsenio mengangguk pelan.
Arsenio mengangguk pelan.
Personal. Itu adalah kata yang selama ini ia hindari dalam urusan bisnis. Kini, kata yang paling ia takuti itu justru menjadi headline di mana-mana.
Dahulu, ia mengendalikan narasi. Sekarang, narasinya mulai mengendalikan hidupnya.
“Pastikan tidak ada wawancara tanpa persetujuan saya,” ujarnya tegas.
“Termasuk untuk Alinea?”
Tatapannya berubah.
“Terutama untuk Alinea.”
Masalahnya, dunia tidak menunggu izin.
Saat Alinea turun ke lobi untuk mengambil dokumen, dua kamera sudah menunggu di balik kaca gedung yang tinggi. Flash menyala tepat saat pintu otomatis terbuka.
Putih, menyilaukan, dan menghakimi.
Dunia luar bukan lagi sekadar layar laptop yang bisa ia tutup. Dunia luar sekarang ada di depan matanya.
“Alinea! Benar Anda pacar resmi CEO?”
“Bagaimana rasanya naik kelas sosial?”
“Apakah ini strategi perusahaan?”
Pertanyaan datang bertubi-tubi.
Alinea membeku.
Semua mata—bukan hanya dari balik lensa kamera, tapi juga dari rekan kerja yang mendadak menoleh—menatapnya serentak. Ia bukan tipe orang yang takut tampil. Ia terbiasa bicara di depan klien. Tapi ini berbeda. Ini bukan presentasi proyek yang bisa ia siapkan bahannya. Ini adalah penghakiman publik tanpa naskah.
Satpam segera menutup pintu kembali, memutus kilatan cahaya yang seolah hendak menelan lobi itu.
Alinea terengah pelan. Tangannya gemetar di sisi tubuh. Ia baru menyadari satu hal pahit—dahulu ia merasa Arsenio adalah sosok yang mengontrol segalanya dengan jemari dinginnya. Sekarang, ia sadar ada kekuatan lain yang jauh lebih brutal, lebih buta, dan lebih tak terbendung adalah Opini publik.
Siang itu, ruang kerja Arsenio terasa lebih tegang dari biasanya.
Ia berdiri mematung di depan jendela kaca besar, menatap jauh ke bawah. Media masih di sana—seperti kawanan predator yang sabar menunggu mangsa keluar dari lubangnya.
Dari ketinggian ini, kerumunan itu tampak kecil. Namun, Arsenio tahu, kebisingan yang mereka ciptakan cukup kuat untuk meruntuhkan dinding-dinding yang baru saja ia bangun di sekitar Alinea.
“Saya tidak ingin dia keluar sendirian,” katanya pada asisten.
“Kita bisa atur akses khusus lift belakang.”
Arsenio menggeleng.
“Tidak. Itu terlihat seperti kita menyembunyikannya.”
Arsenio tidak ingin Alinea terlihat seperti sebuah kesalahan. Tapi, ia juga tidak ingin wanita itu terluka.
Konflik itu mulai menggerogoti fokusnya. Ini bukan lagi sekadar menjaga reputasi atau memoles citra perusahaan. Ini soal perlindungan. Dan ia belum benar-benar tahu, apakah melindungi berarti memberikan Alinea ruang untuk bernapas... atau justru mengambil kendali sepenuhnya atas hidup wanita itu.
Alinea akhirnya dipanggil ke ruangannya.
Ia masuk tanpa mengetuk seperti biasa—sebuah kebiasaan yang dulunya adalah bentuk perlawanan, namun kini terasa seperti sisa-sisa keberanian yang rapuh. Tapi kali ini, tidak ada sarkasme yang meluncur dari bibirnya. Tidak ada sindiran tajam. Hanya ada kelelahan yang nyata, yang menggantung berat di bahunya.
“Media di bawah,” katanya singkat.
“Saya tahu.”
Hening.
“Kamu atur ini?” tanyanya langsung.
Arsenio menatapnya tajam.
“Tidak.”
“Karena rasanya kayak aku dipamerin.”
Kalimat itu membuat sesuatu dalam dirinya bergerak.
“Saya tidak pernah berniat menjadikanmu tontonan.”
“Tapi kamu klaim aku di depan publik.”
Nada suara Alinea tidak meninggi. Tidak ada ledakan amarah. Ia hanya bicara dengan nada yang... kecewa.
Dan bagi Arsenio, kekecewaan itu terasa jauh lebih berat daripada makian mana pun. Itu adalah beban yang menekan dadanya, membuatnya sesak.
Arsenio berdiri dari kursinya. Ia tidak lagi bicara dari balik meja kekuasaan. Ia melangkah maju, mendekat perlahan, seolah takut jika ia bergerak terlalu cepat, Alinea akan pecah berkeping-keping di depannya.
“Aku tidak menyangka responsnya sebesar ini.”
“Aku juga nggak.”
Sunyi.
Untuk pertama kalinya sejak mereka memulai sandiwara ini, ada jarak baru yang membentang di antara mereka.
Jarak itu bukan tercipta karena perasaan yang mendingin. Bukan pula karena benci. Tapi karena dunia. Dunia yang tiba-tiba merasa berhak ikut campur, dunia yang menuntut jawaban, dan dunia yang membuat ruang privat di antara mereka kini terasa seperti etalase kaca yang siap pecah kapan saja.
Sore harinya, artikel lain muncul ke permukaan.
“Dari Staf Biasa ke Lingkaran Elite.”
Foto Alinea yang diambil diam-diam saat ia berjalan di area parkir menjadi sampulnya. Ia tampak buram, tak siap, dan rentan. Dalam hitungan jam, komentar-komentar di bawahnya mulai berubah arah. Pujian tentang "perubahan" Arsenio menguap, berganti dengan spekulasi liar dan suara sumbang yang meragukan setiap langkah yang pernah ia ambil.
“Opportunis.”
“Gold digger versi modern.”
“Main cantik.”
Alinea menatap layar dengan napas yang terasa berat dan panas.
Harga dirinya seperti ditarik-tarik oleh ribuan tangan orang asing yang tak pernah ia kenal. Bukan karena ia miskin. Bukan karena ia tidak layak. Tapi karena dunia tidak pernah bisa menerima perubahan posisi tanpa bumbu prasangka.
Ia menutup laptopnya dengan suara keras yang bergema di ruangan. Air mata sudah menggantung di sudut mata, tapi ia menahannya dengan paksa. Ia tidak ingin menjadi korban yang menangis, tapi ia juga tidak sudi menjadi pion yang digerakkan.
Pertanyaannya sekarang adalah siapa sebenarnya yang sedang mengontrol narasi ini? Dunia, tim PR... atau justru pria di lantai atas itu?
Malam harinya, ponsel Arsenio bergetar. Sebuah panggilan masuk dari sang ibu.
“Perempuan itu sudah jadi pusat perhatian.”
“Iya.”
“Kamu tidak bisa membiarkan ini liar.”
Nada suaranya dingin seperti biasa.
“Kontrol situasinya.”
Kata itu menusuk telak: Kontrol.
Arsenio tersadar, sepanjang hidupnya ia adalah budak dari kata itu. Kontrol pasar, kontrol resiko, hingga kontrol emosi—semua ada di genggamannya. Namun kini, ironi itu menghantamnya.
Semakin keras ia mencoba mengontrol situasi, semakin Alinea tampak seperti sekadar objek yang ia atur. Padahal, itu adalah satu-satunya hal yang paling ingin ia hindari.
“Dia bukan aset yang harus saya kontrol,” jawabnya akhirnya.
Ibunya terdiam sesaat.
“Kalau begitu, pastikan dia cukup kuat.”
Telepon terputus.
Arsenio terpaku, berdiri lama di tengah kesunyian ruangannya yang mendadak terasa terlalu luas. Pikirannya tertuju pada satu nama: Alinea.
Apakah Alinea cukup kuat menghadapi semua ini ?
Atau justru ia yang selama ini memaksa perempuan itu untuk terus-menerus menjadi kuat?
Keesokan harinya, Alinea mengambil satu langkah yang tidak pernah diduga siapa pun. Ia memutuskan untuk berhenti bersembunyi.
Satu undangan wawancara ia terima. Bukan dari media gosip yang haus sensasi, melainkan dari kanal bisnis digital ternama. Tanpa sepatah kata pun pada Arsenio, Alinea melangkah sendiri. Ia lelah terus-menerus menjadi pihak yang harus dilindungi tanpa suara—seolah ia tak punya taring untuk membela diri.
Ruang studio kecil itu terasa dingin, kontras dengan deretan lampu panggung yang menyorot tajam. Di hadapannya, seorang host tersenyum profesional, siap menggali sisi lain dari seorang Alinea.
“Kami ingin tahu, apa benar Anda membawa perubahan pada CEO Volt-Tech?”
Alinea menarik napas panjang, membiarkan oksigen memenuhi dadanya yang sesak.
Ia punya pilihan. Ia bisa saja menjawab aman, melontarkan kalimat basa-basi yang membosankan, atau sekadar menghindar dengan senyum palsu.
Namun, untuk pertama kalinya, Alinea menolak menjadi pasif. Ia memilih untuk berhenti didikte. Di bawah sorot lampu studio yang tajam, ia memutuskan untuk merebut kendali atas narasinya sendiri.
“Saya tidak membawa perubahan,” katanya tenang. “Arsenio sudah punya kapasitas itu. Saya hanya kebetulan berdiri di dekatnya ketika ia memilih berubah.”
Host tampak terkejut.
“Jadi ini bukan strategi?”
Alinea tersenyum tipis.
“Kalau hubungan manusia selalu dianggap strategi, mungkin kita terlalu terbiasa melihat dunia seperti papan catur.”
Jawaban itu meledak—viral dalam hitungan jam.
Di layar ponsel ribuan orang, sosoknya bukan lagi gadis biasa yang tertunduk di balik bayang-bayang perlindungan Arsenio. Kali ini, dunia melihatnya dengan cara berbeda.
Ia tidak lagi berada di belakang atau di bawah kendali siapa pun. Di depan kamera itu, Alinea membuktikan bahwa ia mampu berdiri tegak, menatap dunia dengan mata yang sama tajamnya. Ia telah sampai pada titik di mana ia bukan lagi sekadar pendamping, melainkan perempuan yang berdiri sejajar.
Di tengah kesunyian kantornya, Arsenio terpaku menatap klip wawancara itu dari layar tablet.
Tidak ada amarah yang meledak. Tidak pula ada kekesalan yang biasa muncul saat rencananya diganggu. Arsenio justru... terdiam.
Ia, yang selama ini memuja kendali mutlak, baru saja menyaksikan Alinea melangkah keluar dari garis yang ia buat. Tanpa izinnya. Tanpa persetujuannya. Namun anehnya—ia tidak merasa kehilangan apa pun.
Alih-alih merasa kuasanya luntur, sebuah perasaan asing justru menyusup ke dadanya yaitu rasa bangga. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat sosok yang rapuh dan butuh perlindungan. Di depan matanya kini, ada seorang partner yang tangguh—perempuan yang akhirnya mampu berdiri tegak di atas kakinya sendiri.
Sore itu, mereka bertemu di ruang kerja.
“Kenapa nggak bilang dulu?” tanya Arsenio.
Alinea mengangkat bahu.
“Karena aku nggak mau selalu lewat kamu.”
Sunyi.
“Aku capek jadi variabel.”
Arsenio menatapnya lama.
“Aku tidak ingin kamu merasa dikendalikan.”
“Kadang bukan kamu yang sadar ngendaliin.”
Kalimat itu menghujam. Jujur, telanjang, dan menyakitkan.
Arsenio terdiam, membiarkan egonya terkuliti satu demi satu. Tak ada bantahan. Tak ada pembelaan diri.
Di tengah keheningan yang menyesakkan itu, sang penguasa kendali akhirnya menyerah. Arsenio mengangguk pelan—sebuah pengakuan bisu bahwa kali ini, ia memang telah kalah.
“Mungkin saya terlalu terbiasa memegang kendali.”
Alinea mendekat satu langkah.
“Terus sekarang?”
Arsenio menatapnya tajam.
Bukan tentang rencana minggu depan. Bukan lagi soal strategi jangka panjang yang biasa ia agungkan.
Baginya, hanya ada detik ini. Sekarang.
“Kita belajar bagi kendali,” jawab Arsenio akhirnya.
Hening.
Alinea tersenyum kecil.
“Berarti kamu siap kalau suatu hari aku beda pendapat?”
“Selama kamu tidak pergi tanpa bicara, saya siap.”
Jawaban itu meluncur sederhana.
Tak ada lagi teka-teki, tak ada lagi manipulasi. Arsenio yang baru saja melepaskan topeng kendalinya, kini berdiri di sana—sangat jauh berbeda dari Arsenio yang selama ini dunia kenal.
Di luar sana, media terus menulis. Netizen riuh berkomentar, dan keluarga tetap mengawasi dengan tatapan tajam.
Namun, di tengah kepungan tekanan itu, perlahan segalanya berubah.
Alinea tak lagi berdiri di belakang sebagai bayangan. Arsenio pun tak lagi berdiri di atas sebagai penguasa. Kini, mereka berdiri sejajar.
Memang belum stabil, pun jauh dari kata sempurna. Tapi di antara retakan itu, mereka mulai belajar untuk saling memahami.
Pertanyaannya bukan lagi tentang siapa yang saling suka.
Melainkan—siapa pemegang kuasa atas cerita ini? Publik? Keluarga? Atau diri mereka sendiri?
Dan untuk pertama kalinya, jawabannya melampaui logika kendali. Sebab kekuasaan terbesar bukanlah tentang siapa yang mengatur, melainkan tentang siapa yang berani untuk percaya.
Boleh minta tolong nggak, readers? Klik tombol Like dong! Tenang, klik Like itu 100% GRATIS, nggak dipungut biaya sepeser pun dan nggak bakal ngurangin kuota seblak kalian. Hehe. 🤭 Yuk, bantu Author yang lagi multitasking ini tetap semangat update dengan satu klik aja. Show some love, please? 🫶✨