"Datang sebagai tamu tak diundang, pulang membawa calon suami yang harganya miliaran."
Bagi seorang wanita, tidak ada yang lebih menghancurkan harga diri selain datang ke pernikahan mantan yang sudah menghamili wanita lain. Niat hati hanya ingin menunjukkan bahwa dia baik-baik saja, ia justru terjebak dalam situasi memalukan di depan pelaminan.
Namun, saat dunia seolah menertawakannya, seorang pria dengan aura kekuasaan yang menyesakkan napas tiba-tiba merangkul pinggangnya. Pria itu—seorang miliarder yang seharusnya berada di jet pribadi menuju London—malah berdiri di sana, di sebuah gedung kondangan sederhana, menatap tajam sang mantan.
"Kenalkan, saya tunangannya. Dan terima kasih sudah melepaskannya, karena saya tidak suka berbagi permata dengan sampah."
Satu kalimat itu mengubah hidupnya dalam semalam. Pria asing itu tidak hanya menyelamatkan wajahnya, tapi juga menyodorkan sebuah kontrak gila: Menjadi istri sandiwara untuk membalas dendam pada keluarga sang miliarder.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Bayang-Bayang Sang Ayah
Helikopter berguncang hebat saat memutar arah menjauhi kastil Julian Black yang kini mulai dilalap api. Di dalam kabin, suasana yang tadinya penuh kelegaan karena sinyal suar dari Ariel, mendadak berubah menjadi horor yang lebih dingin dari salju Inggris. Alana menatap layar tablet Arkan dengan mata yang hampir tidak berkedip.
Di layar itu, sosok Malik—ayah yang baru saja ia peluk di perkebunan teh tempo hari—tampak berdiri tegak di depan sisa-sisa reruntuhan rumah lama Alana di Jakarta. Ia tidak lagi memakai kaos oblong atau sarung. Ia mengenakan setelan jas abu-abu metalik yang sangat mahal, rambutnya tertata rapi, dan tangannya memegang sebuah tongkat komando perak.
"Itu... itu nggak mungkin Ayah," bisik Alana. "Ayah kan di villa, lagi jagain kebun teh. Mas, ini pasti AI, kan? Atau teknologi deepfake yang sering dipakai buat nipu orang di internet?"
Larasati mendekat, matanya menyipit menatap layar. Wajahnya yang pucat kini berubah menjadi setajam silet. "Bukan, Alana. Itu bukan Malik yang kita kenal. Tapi cara dia berdiri, cara dia menatap kamera... itu gaya Malik yang asli sebelum dia kehilangan ingatannya dua puluh tahun lalu."
Arkan menoleh cepat ke arah mertuanya. "Kehilangan ingatan? Ibu bilang Ayah menghilang untuk melindungi kami!"
Larasati menghela napas panjang, ia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi helikopter yang empuk. "Saat kecelakaan itu terjadi, Malik mengalami cedera kepala yang sangat berat. Dia ditemukan oleh seorang nelayan dalam keadaan amnesia total. Selama bertahun-tahun, dia hidup sebagai pria biasa tanpa tahu siapa dirinya. Itulah sebabnya dia terlihat sangat lembut saat kalian bertemu kemarin. Tapi Kakek Waluyo... sepertinya dia sudah menemukan cara untuk mengembalikan 'monster' di dalam diri Malik."
"Monster?" Alana menelan ludah. "Ayah aku itu monster?"
"Malik bukan hanya sekadar intelijen, Lana," sahut Larasati pedih. "Dia adalah perancang strategi utama 'The Board' sebelum dia jatuh cinta padaku dan memutuskan untuk berkhianat. Dia adalah orang yang membangun seluruh sistem keamanan yang baru saja kita hancurkan di kastil Julian. Dan sekarang, sepertinya Kakekmu sudah berhasil 'mencuci otak' atau memicu kembali kepribadian lamanya."
Perjalanan pulang ke Jakarta terasa seperti perjalanan menuju lubang hitam. Alana hanya terdiam, memeluk Mochi yang tampak ikut gelisah. Arkan terus berkoordinasi dengan Ariel melalui jalur satelit. Ternyata Ariel berhasil meloloskan diri dari kastil melalui terowongan bawah tanah dan kini sedang dalam penerbangan berbeda menuju Jakarta.
"Lana," Arkan memegang tangan Alana. "Kita tidak akan langsung ke rumah. Kita ke markas cadangan di Bogor. Tempat itu lebih aman."
"Nggak, Mas," Alana mengangkat wajahnya, matanya merah karena kurang tidur tapi penuh determinasi. "Kita ke rumah lama aku. Kalau itu beneran Ayah, dia pasti nunggu aku di sana. Dia tahu aku bakal pulang ke tempat semuanya bermula."
"Itu berbahaya, Lana! Kita nggak tahu apa yang ada di pikiran Malik sekarang!" seru Arkan.
"Dia ayah aku, Mas! Sejahat-jahatnya dia di masa lalu, dia tetep orang yang ngasih aku kunci Phoenix itu!" Alana bersikeras. "Mas Arkan sering bilang bisnis itu soal ambil risiko. Nah, sekarang aku mau ambil risiko terbesar dalam hidup aku."
Arkan menatap mata Alana. Ia melihat kilatan yang sama dengan kilatan di mata Malik dalam video tadi. Darah intelijen itu memang mengalir deras di tubuh istrinya. Akhirnya, Arkan mengangguk lemah. "Oke. Tapi aku akan bawa seluruh tim elit. Tidak ada tawar-menawar soal itu."
Jakarta, pukul 02.00 dini hari.
Kawasan pemukiman padat penduduk itu tampak sunyi. Mobil SUV Arkan berhenti agak jauh dari lokasi rumah lama Alana yang sudah dipagari seng karena bekas kebakaran. Bau asap sisa kebakaran masih tercium samar, bercampur dengan aroma sampah dan air selokan.
Alana turun dari mobil, diikuti Arkan dan Larasati. Tim pengawal menyebar di kegelapan, bergerak layaknya bayangan.
Di tengah reruntuhan rumah yang menghitam, Malik duduk di sebuah kursi lipat. Di depannya ada sebuah meja kecil dengan papan catur di atasnya. Ia tampak sedang asyik bermain sendiri di bawah sorotan lampu jalan yang berkedip-kedip.
"Ayah..." panggil Alana lirih.
Malik tidak mendongak. Ia memindahkan satu pion putih. "Dua puluh tahun, Alana. Kamu tumbuh besar tanpa tahu bahwa setiap langkahmu diatur oleh papan catur ini. Kakek Waluyo pikir dia adalah Rajanya. Julian pikir dia adalah Bentengnya. Tapi mereka lupa... aku adalah pemainnya."
Suara Malik terdengar berbeda. Tidak ada lagi kehangatan di sana. Suaranya dingin, datar, dan penuh otoritas yang mengintimidasi.
Larasati melangkah maju. "Malik, hentikan kegilaan ini. Waluyo sudah di penjara. 'The Board' sudah runtuh. Pulanglah bersama kami."
Malik akhirnya mendongak. Matanya menatap Larasati, namun tidak ada binar cinta di sana. Hanya ada kekosongan. "Larasati... istriku yang cantik. Kamu pikir aku menghilang karena kecelakaan? Tidak. Aku menghilang karena aku sadar, kelemahan terbesarku adalah kalian. Dan sekarang, Kakek Waluyo sudah mengembalikan kekuatanku."
Malik berdiri, tongkat komandonya beradu dengan lantai semen yang pecah. "Arkan, kamu pikir kamu sudah menang karena menghancurkan server Julian? Server itu hanyalah pengalih perhatian. Data yang asli... data yang bisa mengendalikan seluruh aliran dana gelap di dunia ini... tidak pernah ada di dalam lonceng kucing itu."
Alana melongo. "Lho? Terus selama ini kita berantem demi apa?! Mas Arkan hampir mati, Mas Ariel hampir meledak, aku hampir jantungan... itu cuma demi lonceng kosong?!"
Malik tersenyum tipis, sebuah senyum yang membuat bulu kuduk berdiri. "Data itu ada di dalam memori bawah sadarmu, Alana. Teknik hipnosis yang diterapkan ibumu saat kamu masih bayi. Kamu adalah Human Hard-drive yang berjalan. Dan aku di sini untuk mengambilnya."
Situasi mendadak menjadi sangat kacau. Dari balik seng-seng tua, muncul belasan pria berpakaian rapi dengan senjata peredam suara. Mereka bukan anak buah Kakek, bukan anak buah Julian. Mereka adalah pasukan pribadi Malik—unit rahasia yang ia bangun selama ia "menghilang".
"Lana, lari!" teriak Arkan sambil melepaskan tembakan ke arah lampu jalan agar suasana menjadi gelap total.
Baku tembak pecah di tengah pemukiman padat itu. Alana ditarik oleh Larasati bersembunyi di balik tembok sisa dapur rumahnya.
"Bu! Apa maksud Ayah?! Aku ini hard-drive?!" tanya Alana histeris.
"Alana, dengarkan Ibu!" Larasati memegang bahu Alana kuat-kuat. "Ibu dulu adalah ilmuwan syaraf di 'The Board'. Kami menanamkan kode akses itu melalui frekuensi suara tertentu yang hanya bisa diingat oleh anak kecil. Ibu pikir itu akan hilang seiring usiamu, tapi ternyata Malik tahu cara membangkitkannya!"
"Gimana caranya?!"
"Dengan suara denting kunci Phoenix yang kamu bawa!"
Alana meraba sakunya. Kunci kuno itu masih ada di sana. Tiba-tiba, Malik muncul dari balik asap ledakan granat kecil. Ia tidak membawa senjata, hanya sebuah perangkat kecil pemutar suara.
"Dengarkan ini, Alana," ucap Malik.
Sebuah suara frekuensi tinggi yang sangat aneh mulai terdengar dari perangkat tersebut. Alana mendadak merasakan sakit kepala yang luar biasa. Bayangan-bayangan angka, koordinat, dan nama-nama asing mulai berkelebat di pikirannya seperti slide proyektor yang diputar sangat cepat.
"Argh! Mas Arkan! Sakit!" Alana terjatuh, memegangi kepalanya.
Arkan mencoba menerjang Malik, tapi ia dihadang oleh dua pengawal Malik yang sangat tangguh. Arkan terdesak. Larasati mencoba merebut perangkat itu, tapi Malik mendorongnya dengan kasar.
"Hentikan, Malik! Kamu akan menghancurkan otak anakmu sendiri!" teriak Larasati.
"Dia akan menjadi kunci kebangkitan 'The Board' yang baru di bawah pimpinanku!" sahut Malik gila.
Di saat Alana hampir kehilangan kesadaran karena serangan informasi di otaknya, sebuah suara motor besar meraung keras dari ujung gang. Sebuah motor sport hitam melompat melewati pagar seng dan mendarat tepat di antara Malik dan Alana.
Pengendaranya melepaskan helm. Ariel!
Tapi dia tidak sendiri. Di belakangnya, berdiri seorang pria tua yang sangat familiar, namun kini memakai baju oranye penjara dan tangannya diborgol, dikawal oleh polisi internasional. Kakek Waluyo.
"Ayah! Hentikan!" teriak Ariel. "Kakek Waluyo sudah menceritakan semuanya! Ayah bukan pemimpin 'The Board'! Ayah hanyalah korban eksperimen Kakek yang gagal!"
Malik berhenti sejenak, wajahnya tampak bingung. "Apa... apa maksudmu?"
Kakek Waluyo tertawa parau dari balik barisan polisi. "Malik, kamu pikir ingatanku kembali karena aku hebat? Tidak. Aku memicu kembali ingatanmu agar kamu menyerang anak dan menantumu sendiri. Karena jika aku tidak bisa memiliki Arkananta, maka biar kalian semua saling menghancurkan!"
Alana menatap ayahnya yang kini mulai gemetar. Perangkat di tangannya terjatuh. "Ayah... tolong jangan jadi monster," rintih Alana sebelum semuanya menjadi gelap.