✨Rilis episode setiap hari Senin, Rabu, Jum'at, pukul 19.00 wib, dan Minggu Pukul 07.00 wib.
Di dunia lamanya Ren Akasa adalah pria kantor yang di perlakukan buruk oleh atasan dan juga rekan kerjanya.
Tekanan kerjaan yang gila, gaji yang sering di tunda juga rekan kerja yang manipulatif. Suatu ketika ia di tarik ke dunia lain, BUKAN untuk menjadi PAHLAWAN melainkan untuk menjadi RAJA IBLIS.
Antara menjadi penyelamat yang bijak, atau menjadi penguasa tirani yang dingin, mengingat selama hidupnya di dunia nyata ia diperlakukan bagai pecundang.
dengan kekuatan yang Ren miliki, apakah dunia lain akan menjadi pelampiasannya akibat perlakuan dari dunia lamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lorenzo Leonhart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar di Ujung Pedang dan Tatapan dari Langit Part 2
BOOM!
Benturan pertama itu tidak menghasilkan suara daging yang terkoyak atau tulang yang patah, melainkan dentuman logam berat yang bergema hingga ke ujung hutan perbatasan. Kavaleri depan Arthemis, yang terdiri dari dua puluh ksatria berbaju zirah lengkap dengan kuda-kuda perang yang juga berlapis baja, seolah menghantam gunung granit yang tak tergoyahkan.
Alih-alih menembus pertahanan Zosma, momentum seruan mereka justru berbalik menghantam diri mereka sendiri. Kuda-kuda itu terjungkal, terlempar ke samping seolah-olah mereka baru saja menabrak dinding dimensi yang tak kasat mata.
"Apa?!" Arthur von Phoenix membelalakkan matanya. "Hanya dengan satu perisai?!"
Zosma masih berdiri di posisi yang sama. Kakinya terkubur beberapa inci lebih dalam ke dalam lumpur rawa akibat tekanan beban kavaleri tersebut, namun tubuh raksasanya tidak bergeming sedikit pun. Aura emas yang menyelimutinya kini semakin terang, membentuk siluet kepala singa raksasa yang sedang mengaum di depan perisainya.
"Absolute Aegis: Impact Reflection," gumam Zosma dengan suara rendah yang menggetarkan udara.
Tiba-tiba, energi emas itu meledak keluar dari permukaan perisai. Gelombang kejut fisik melontarkan sisa-sisa kavaleri yang masih mencoba merangsek maju. Mereka terbang ke udara seperti mainan kayu yang dilemparkan anak kecil, lalu jatuh bergelimpangan ke dalam air rawa yang keruh.
Di puncak menara, Ren Akasa melihat momen itu sebagai sinyal. Ia mengangkat tangannya, memberikan perintah melalui transmisi Mana yang terhubung langsung dengan Mahkota Vargos.
"Valeria, sekarang. Tutup pandangan mereka."
"Hmph, akhirnya bagianku tiba," sahut Valeria dari posisinya di balkon sayap kiri.
Gadis penyihir itu mengangkat tongkat kristalnya tinggi-tinggi. Bibirnya merapalkan mantra kuno dengan sangat cepat. Seketika, suhu di sekitar rawa turun drastis. Embun pagi yang tadinya mulai menguap oleh pedang Arthur, kini justru berkumpul kembali dan menebal dalam hitungan detik.
"Great Magic: Mirror Eternal Mist!"
Kabut putih yang sangat pekat dan berbau sulfur tiba-tiba muncul dari dasar rawa, menelan seluruh pasukan Arthemis dalam kegelapan putih. Arthur mencoba menebaskan pedang Exaltation-nya untuk membakar kabut tersebut dengan panas suci, namun kabut itu bukan sekadar uap air biasa. Ini adalah kabut ilusi yang ditenagai oleh Miasma yang telah dimurnikan.
Setiap kali Arthur membakar satu bagian, kabut itu akan kembali menutup dengan lebih padat.
"Tetap dalam formasi! Jangan berpencar!" teriak Arthur. Namun, suaranya terdengar meredam, seolah-olah ia sedang berteriak di dalam ruang hampa.
Para ksatria Arthemis mulai panik. Di dalam kabut, jalan setapak rawa yang sempit seolah-olah bercabang menjadi ribuan arah. Mereka tidak bisa melihat rekan di samping mereka, dan yang lebih mengerikan, mereka mulai mendengar suara-suara aneh dari bawah permukaan air.
Di bawah permukaan air rawa yang gelap, Shallan memimpin dengan keanggunan seorang predator. Ia tidak menggunakan zirah berat, hanya pakaian kulit merahnya yang kini basah kuyup, namun ia tidak peduli. Di sekelilingnya, ratusan prajurit kerangka yang ia bangkitkan dari sisa-sisa perang kuno Vargos bergerak tanpa menimbulkan riak.
"Tunggu sinyalnya..." Shallan berbisik pada dirinya sendiri, matanya merah menyala di balik air.
Begitu ia merasakan getaran kaki kuda yang goyah tepat di atasnya, Shallan memberikan tanda. Ratusan tangan tulang yang kering tiba-tiba mencuat dari dalam lumpur, mencengkeram kaki-kaki kuda dan menarik mereka ke bawah.
"Aaakh! Sesuatu menarikku!"
"Toloooong! Lumpur ini hidup!"
Jeritan kengerian mulai memenuhi udara rawa yang berkabut. Pasukan Arthemis yang tadinya terlihat sangat gagah dan disiplin, kini kacau balau. Mereka tidak bisa melihat musuh, namun musuh ada di mana-mana di balik kabut, di bawah kaki mereka, dan di dalam bayangan.
Sementara pertempuran hebat pecah di luar, Ren tetap waspada terhadap kemungkinan adanya unit elit yang mencoba menyusup melalui jalur udara atau sihir teleportasi jarak pendek. Ia melirik kembali ke arah empat pelindung lini kedua di aula utama melalui jendela sistemnya.
Behemoth kini sudah merangkak, posisi tubuh badaknya siap untuk menyeruduk siapa pun yang berani menyentuh pintu aula. Urat lava di tubuhnya bercahaya merah tua, memanaskan udara di sekitarnya.
Di sampingnya, Alice sedang duduk santai di atas tumpukan peti logistik, sambil memainkan rambut Lilac-nya. Ia tampak bosan, namun Ren tahu bahwa Alice sedang merentangkan "Jaring Darah" di seluruh koridor kastil. Jika ada satu tetes keringat musuh jatuh di dalam kastil, Alice akan mengetahuinya.
Kagehisa berdiri diam di tengah aula, tangannya tetap berada di gagang katana. Mata merahnya yang menyala di balik zirah gelap itu terus memindai setiap sudut ruangan, mencari anomali ruang yang mungkin muncul.
Dan Silas, sang Nekromancer, berdiri dengan tangan terbuka seolah-olah sedang menyambut tamu. Ia sedang menunggu korban pertama dari medan perang rawa untuk "dijemput" jiwanya dan dijadikan budak pelindung kastil.
"Semua sudah di posisinya," gumam Ren. Ia merasakan denyut Mahkota Vargos yang menyinkronkan seluruh Mana di wilayahnya.
Kembali di medan perang, Arthur von Phoenix mulai menyadari bahwa pasukannya sedang dibantai secara perlahan dalam perang atrisi. Ia tidak bisa membiarkan ini terus berlanjut.
"Cukup dengan trik murahan ini!" Arthur berteriak murka. Ia menusukkan pedang Exaltation ke tanah jalan setapak, dan energi suci yang luar biasa meledak keluar, menciptakan kubah cahaya yang memaksa kabut Valeria menjauh untuk sementara.
Di depannya, Zosma masih berdiri tenang dengan perisainya.
"Kau... raksasa terkutuk," desis Arthur. "Kau pikir bisa menahan kekuatan seorang Pahlawan dengan selembar logam itu?"
Zosma menatap Arthur dengan tatapan dingin. "Logam ini adalah janjiku kepada Tuan Leon. Dan janjiku... tidak akan pernah bisa kau hancurkan, oleh mahkluk hina sepertimu!"
Arthur melompat dari kudanya, membiarkan hewan itu mundur ke barisan belakang. Ia memegang pedangnya dengan kedua tangan. Aura emas suci membungkus tubuhnya, membentuk sayap burung Phoenix yang membentang lebar.
"Phoenix Slash: Cleansing of the Wicked!"
Arthur melesat dengan kecepatan cahaya, pedangnya menebas secara vertikal ke arah kepala Zosma. Serangan itu begitu kuat hingga udara di sekitarnya seolah-olah terbakar.
Zosma tidak menghindar. Ia justru menurunkan pusat gravitasinya, mengangkat perisai emasnya sedikit lebih tinggi, dan membiarkan seluruh Mana-nya mengalir ke satu titik pusat di perisainya.
CLANG!!!
Benturan itu menciptakan gelombang cahaya yang menyilaukan, membuat seluruh wilayah Vargos seolah-olah mengalami siang hari secara instan selama beberapa detik.
Di dimensi Aetherial Sanctum, wanita berambut perak itu tersentak pelan. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah bola kaca, matanya yang lembut terpaku pada titik benturan tersebut. Jari-jarinya yang menyentuh permukaan bola kaca sedikit gemetar, bukan karena takut, melainkan karena ia merasakan betapa kuatnya tekad Ren yang tersalurkan melalui jenderalnya.
Ia tersenyum lembut sekali lagi, sebuah senyuman yang sangat murni, seolah-olah ia sedang menonton babak pertama dari sebuah pertunjukan agung yang sudah lama ia nantikan.
Di puncak menara Vargos, Ren Akasa menatap ke bawah ke arah ledakan cahaya tersebut. Bibirnya membentuk senyuman tipis yang mematikan.
"Selamat datang di Vargos, Arthur. Sekarang, mari kita lihat apakah kau benar-benar abadi seperti namamu."
[Status Misi: Dinding yang Tak Tergoyahkan]
[Progres: Pertempuran Utama Dimulai]
[Peringatan: Level Musuh Meningkat - Arthur von Phoenix memasuki Mode Awakened.]
Bersambung.