Maxime Brixtone adalah seorang mafia yang sepanjang hidupnya terjebak dalam perselisihan kelam dengan ibu tirinya. Di tengah hidupnya yang penuh duri dan misteri tentang bagaimana konflik itu akan berakhir, Max berada di ambang kematian akibat rencana pembunuhan yang dirancang oleh sang ibu tiri.
Tak disangka, hidupnya di selamatkan oleh seorang wanita yang telah bersuami. Max bersembunyi di kediaman wanita tersebut, hingga mereka tanpa sengaja menyaksikan sang suami melakukan perselingkuhan.
Dari titik itu, batas antara rasa terima kasih, kemarahan, dan obsesi kepada wanita penyelamat hidupnya mulai kabur.
Max pun memiliki sebuah ide gila untuk menjadikan wanita yang telah menyelamatkan nyawanya menjadi seorang janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 28
Pintu terkunci. Tirai otomatis menutup rapat, menelan cahaya luar dan menyisakan suasana redup yang terasa lebih seperti ruang interogasi daripada ruang rapat.
Max akhirnya duduk.
Perlahan.
Gerakannya tenang, tapi justru itulah yang membuat udara semakin berat.
Jam terus bergerak.
Satu jam.
Dua jam.
Tiga jam.
Akhirnya, setelah hampir lima jam, Max kembali duduk di kursinya.
Bleiz menyerahkan map hitam tipis.
Kontrak.
“Dana tahap pertama cair dalam tujuh hari,” kata Max tegas. “Tahap kedua menyusul jika target kuartal tercapai.”
Max menatap Darwin.
“Kau mendapat pertumbuhan.” Lalu beralih pada Drake.
“Dan kau mendapat pengawasan langsung dariku. Max berdiri.
Rapat selesai—tanpa tepuk tangan, tanpa senyum.
Saat pintu kembali dibuka dan udara luar masuk, rasanya seperti keluar dari ruang tekanan tinggi.
Bleiz berjalan lebih dulu.
Max berhenti sesaat di ambang pintu.
Ada sesuatu di sudut bibirnya—bukan senyum, bukan juga ejekan. Lebih seperti seseorang yang mengetahui rahasia orang lain… dan menikmati fakta bahwa rahasia itu belum terbongkar.
“Kau orang yang disiplin, Drake,” ucap Max tenang. “Aku suka pria yang tahu bagaimana menjaga komitmen.” Kalimatnya terdengar biasa. Tapi nada suaranya… tidak.
Drake membalas tatapan itu tanpa berkedip.
Max melanjutkan, masih dengan suara rendah yang hanya cukup untuk tiga orang di ruangan itu.
“Karena dalam bisnis, pengkhianatan kecil pun bisa menghancurkan semuanya.”
Senyap.
Bleiz melirik sekilas pada Drake, seolah memahami lapisan makna yang tersembunyi.
“Dan biasanya,” lanjutnya pelan, “orang yang gagal menjaga sesuatu yang seharusnya menjadi tanggung jawab pribadinya… cenderung gagal menjaga yang lebih besar.”
Sindiran itu halus. Tapi tajam. Zayna. Nama itu tidak disebut. Namun terasa.
Drake merasakan denyut di pelipisnya mengeras, namun wajahnya tetap datar.
“Kepercayaan dibangun dari hasil kerja, bukan asumsi pribadi,” jawab Drake tenang.
Max menatapnya beberapa detik lebih lama.
Menilai.
Menimbang.
Menekan.
“Bagus,” katanya. “Aku hanya ingin memastikan dana besar ini berada di tangan seseorang yang mengerti arti setia.” Kata Max. Kalimat terakhir itu diucapkan tanpa perubahan ekspresi.
Namun maknanya menghantam.
Dan Drake yang berdiri membeku beberapa detik setelahnya. Apakah Max tahu? Tapi jika Max tahu itu adalah hal lumrah, dia tahu segalanya. Max tidak berbicara tanpa alasan. Tidak menyindir tanpa informasi.
Artinya hanya satu—
Max pasti tahu tentang Zayna. Dan jika Max tahu… maka itu bukan lagi rahasia kecil. Itu potensi senjata.
“Jangan ada skandal apapun.” Lanjut Max lagi.
Langkah Max menjauh di lorong perusahaan, diiringi Bleiz yang selalu setengah langkah di belakangnya.
Max benar-benar menghilang dari ruangan rapat dan masuk ke dalam lift.
Dan untuk pertama kalinya sejak lima jam terakhir, ruangan itu benar-benar hening.
Drake tidak langsung bergerak, ia akhirnya mantap akan menceraikan Zayna. Setelah ucapan Max yang membuatnya gelisah. Drake tidak mau mengambil resiko. Zayna pasti akan datang ke perusahaan dan mengacaukan semuanya. Maka dari itu Drake akan memotong ikatannya dengan Zayna. Ia berdiri di tempatnya, kemudian menatap meja rapat yang penuh berkas, seolah angka-angka tadi masih melayang di udara.
Baru setelah beberapa detik, ia menarik napas panjang.
Dalam.
Lalu menghembuskannya perlahan.
Tegang yang sejak tadi ia tahan di dada akhirnya retak. Telapak tangannya terasa dingin. Rahangnya yang sedari tadi mengeras kini sedikit mengendur.
Darwin menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Aku hampir mengira dia akan membatalkan semuanya,” gumam Drake pelan.
Darwin tersenyum tipis, namun matanya tetap tajam.
“Dia tidak datang untuk membatalkan,” jawab Darwin rendah. “Dia datang untuk memastikan siapa yang pantas ditekan.”
Darwin menatap Drake.
“Kau sadar sekarang apa artinya ini?” Kata Darwin.
Drake menggeleng
“Dana besar. Pengawasan langsung. Dan nama Max terikat pada Darwin IT. Itu bukan hanya investasi. Itu tanda kepemilikan tak terlihat.”
Darwin berjalan ke jendela dan membuka sedikit tirai. Dari lantai atas itu, ia bisa melihat mobil hitam yang membawa Max keluar dari halaman perusahaan.
“Dia tidak mempercayai perusahaan ini,” ucap Darwin pelan. “Dia menguji orang-orang di dalamnya.”
Drake bangkit dari kursinya. Tatapannya ikut tertuju pada mobil yang semakin menjauh.
Drake menarik napas sekali lagi, kali ini lebih stabil.
Di balik ketenangan Darwin, pikirannya sudah bekerja cepat—menyusun strategi, memetakan risiko, dan menghitung kemungkinan terburuk. Karena Darwin tahu satu hal yang Drake mungkin belum sepenuhnya sadari—
Saat seseorang seperti Max menanamkan dana, ia tidak hanya membawa uang. Ia membawa bayangan. Dan bayangan itu kini berada tepat di atas Darwin IT.
———
Sepanjang rapat tadi, Max memang terlihat tenang.
Terlalu tenang.
Namun setiap kali Drake berbicara, setiap kali pria itu menjelaskan angka-angka dengan suara stabil seolah hidupnya bersih tanpa cela, ada sesuatu yang mendidih di dalam dada Max.
Wajah tanpa rasa bersalah itu.
Tatapan lurus yang seolah tak menyimpan beban.
Max melihatnya—dan yang ia lihat bukan hanya seorang manajer investasi.
Ia melihat pria yang membuat Zayna menangis dalam diam.
Pria yang membuat wanita itu menahan luka sendirian.
Pria yang masih menyandang status suami… tapi tak pernah benar-benar menjaga.
Saat Drake menjawab pertanyaan dengan percaya diri, rahang Max sempat mengeras.
Tangannya yang bertumpu di meja perlahan mengepal.
Dalam benaknya, bayangan itu muncul begitu saja—
Meremukkan.
Menghancurkan.
Membuat Drake merasakan sakit yang sama, atau bahkan lebih.
Satu gerakan saja.
Satu perintah saja.
Dan hidup Drake bisa runtuh dalam hitungan hari.
Max mampu melakukannya.
Ia terbiasa menghancurkan.
Namun hari ini, ia menahan diri.
Bukan karena ragu.
Bukan karena takut.
Tapi karena rencananya lebih besar dari sekadar pelampiasan amarah.
Max tahu, menghancurkan Drake sekarang hanya akan menjadi ledakan sesaat. Kepuasan singkat. Setelah itu? Selesai.
Tapi jika ia bermain perlahan…
Jika ia membuat Drake berdiri tinggi lebih dulu…
Jika ia membuatnya merasa aman…
Maka saat kejatuhan itu datang, dampaknya akan jauh lebih dalam.
Max ingin Drake sadar.
Sadar bahwa semuanya hilang.
Sadar bahwa ia sendiri yang menggali lubangnya.
Sadar bahwa wanita yang ia sia-siakan justru memilih berdiri di sisi orang lain.
Di dalam mobil, Max memejamkan mata sejenak.
Menarik napas.
Mengembuskannya perlahan.
“Belum,” gumamnya pelan pada dirinya sendiri.
Drake belum pantas dihancurkan hari ini.
Ia harus dibuat percaya dulu.
Harus dibuat bergantung dulu.
Harus dibuat merasa tak tersentuh.
Apalagi Drake belum menceraikan Zayna, dan wanita itu juga bisa goyah kapan saja.
Jika semua sudah dalam genggaman. Baru setelah itu. Max akan memastikan kejatuhan Drake terasa menyakitkan.
Di kursi depan, Bleiz memperhatikan melalui kaca spion.
Biasanya Max akan memberi instruksi setelah pertemuan penting—evaluasi singkat, perintah lanjutan, atau minimal satu kalimat penutup yang menandakan arah berikutnya.
Namun kali ini… tidak ada.
Max hanya diam.
Bleiz menyipitkan mata sedikit.
Pagi tadi berbeda.
Ia sendiri yang menyetir ketika Max keluar dari rumah kecil di gang sempit itu. Rumah yang bahkan tak pantas dikaitkan dengan nama sebesar Max.
Rumah kumuh.
Cat dinding mengelupas.
Pagar berkarat.
Namun Max keluar dari sana dengan wajah yang… cerah.
Langkahnya ringan.
Senyumnya tipis tapi nyata.
Bahkan ia sempat bersenandung pelan—sesuatu yang hampir tak pernah terjadi.
Dan sekarang—
Suasana itu berubah drastis.
Aura Max menggelap.
Dingin.
Mencekam.
Bleiz akhirnya membuka suara, hati-hati.
“Tuan… apakah ada yang perlu saya siapkan?”
Tidak ada jawaban langsung. Beberapa detik berlalu. Baru kemudian Max berbicara, tanpa membuka mata dan masih menyandarkan kepalanya di kursinya.
“Pantau pergerakan Drake.” Nada suaranya rendah. Stabil. Tapi berbahaya.
Bleiz menangkap perbedaan itu.
“Secara finansial saja… atau—”
“Semua,” potong Max.
Satu kata. Tegas.
Bleiz mengangguk pelan.
Bersambung
penguntit suruhan nevari belum tuntas yg kemarin 🤣🤣🤣
hemmm mau ketemu istri orang aja adaaa saja gangguannya😏
ceritanya nggantung lagi dah kayak kates
sombonge ndhisek ajooorrre kari wkwkwk