Seorang pemulung menemukan jasad tanpa wajah di Kampung Kemarin. Hanya ada cincin bertanda 'S' dan sehelai kertas tentang "kayu ilegal" sebagai petunjuk.
Detektif Ratna Sari menyadari kasus ini tidak biasa – setiap jejak selalu mengarah pada huruf 'S': dari identitas korban, kelompok tersembunyi, hingga lokasi rahasia bisnis gelap.
Ancaman datang dari mana saja, bahkan dari dalam. Bisakah Ratna mengungkap makna sebenarnya dari 'S' sebelum pelaku utama melarikan diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11 (eleven)
Beberapa hari setelah malam berdarah di Hutan Kemuning, wajah kota Sukamaju tampak berbeda. Headline surat kabar nasional masih dipenuhi oleh wajah Komisaris Bambang yang kini mengenakan rompi tahanan berwarna oranye, berdampingan dengan foto Surya Atmadja yang tertangkap saat mencoba melarikan diri ke luar negeri dengan jet pribadinya. Skandal "Sapu Kayu" telah mengguncang fondasi pemerintahan provinsi, memaksa belasan pejabat tinggi mengundurkan diri setelah manifest yang dikirimkan Ratna terverifikasi kebenarannya.
Namun, di sebuah rumah sederhana di sudut Kampung Kemarin, hiruk-pikuk politik itu terasa sangat jauh.
Detektif Ratna Sari berdiri di depan pintu rumah Mbah Mansur yang sudah diperbaiki oleh bantuan sukarela warga. Ia tidak lagi mengenakan jas polisi yang kaku. Sore itu, ia memakai kemeja kasual, namun di pinggangnya tetap tersampir lencana detektifnya yang kini telah dipulihkan statusnya oleh Mabes Polri. Di sampingnya, Teguh berdiri dengan kaki yang masih dibalut perban tipis, membawa sebuah kotak besar yang diikat pita merah.
"Ibu yakin kita tidak terlalu terlambat?" bisik Teguh sambil tersenyum.
Ratna membalas senyuman itu. "Keadilan mungkin terlambat, Teguh. Tapi janji harus tetap ditepati."
Mereka mengetuk pintu. Tak lama kemudian, wajah Mbah Mansur muncul. Pria tua itu tampak jauh lebih segar. Kerutan di dahinya yang dulu penuh beban kini tampak melunak. Saat melihat siapa yang datang, mata Mbah Mansur berbinar haru.
"Bu Detektif! Nak Teguh! Mari masuk, mari!" seru Mbah Mansur dengan suara yang mantap.
Di dalam rumah, suasana terasa hangat. Santi sedang menyiapkan teh di dapur, wajahnya tidak lagi pucat. Bagas sedang asyik menggambar di lantai, sementara Laras berlari kecil menyambut mereka dengan tawa yang renyah.
"Kakak Teguh bawa apa itu?" tanya Laras dengan mata membulat penasaran.
Teguh berlutut, meletakkan kotak itu di atas meja kayu di tengah ruangan. "Ingat janji Mbah Mansur tanggal sembilan Januari lalu? Ini adalah titipan dari Mbah, tapi Kakak yang bantu bawakan karena kotaknya sangat berat."
Saat kotak itu dibuka, aroma cokelat dan vanila yang manis memenuhi ruangan. Sebuah kue ulang tahun bertingkat dua dengan hiasan berbentuk bunga-bunga kecil dan tulisan emas:
"Selamat Ulang Tahun, Laras".
Laras memekik senang. Mbah Mansur mendekat, merangkul cucunya dengan tangan yang gemetar karena bahagia. "Mbah bilang juga apa, Nduk? Orang-orang baik seperti Bu Detektif tidak akan membiarkan lilinmu mati."
pol.1aal
"Bu Detektif, air tehnya sudah siap," suara Santi, menantu Mbah Mansur, terdengar lembut. Ia membawakan nampan berisi gelas-gelas teh hangat. Wajahnya masih nampak lelah, namun binar di matanya sudah kembali.
"Terima kasih, Bu Santi. Bagaimana keadaan Laras?" tanya Ratna.
Santi tersenyum, menunjuk ke arah kamar. "Sedang dipakaikan baju baru oleh Mbahnya. Dia sangat antusias sejak Nak Teguh membawa kotak besar tadi."
Tak lama kemudian, Mbah Mansur keluar sambil menuntun Laras. Gadis kecil itu memakai gaun sederhana berwarna merah muda, rambutnya yang tipis dikuncir dua dengan pita mungil. Mbah Mansur sendiri tampak gagah dengan kemeja batik usang yang dicuci sangat bersih.
"Ayo, Kakak Teguh! Mana kuenya?" seru Laras dengan riang.
Teguh, yang sedang bersandar di pintu sambil memegang kotak besar dengan pita merah, tertawa lebar. "Sabar, Tuan Putri. Kuenya harus diletakkan dengan hormat."
Mereka semua berkumpul di meja jati tua di tengah ruangan. Teguh membuka kotak itu perlahan. Sebuah kue ulang tahun cokelat yang indah muncul, lengkap dengan lima buah lilin kecil di atasnya. Bagi orang lain, mungkin ini hanya kue biasa, tapi bagi keluarga ini, kue itu adalah simbol kemenangan atas maut.
Mbah Mansur menyalakan lilinnya satu per satu. Cahaya kecil itu memantul di mata mereka yang berkaca-kaca.
"Sembilan Januari sudah lewat beberapa hari," Mbah Mansur membuka suara, suaranya berat karena emosi. "Tapi hari ini, tanggal enam belas, bagi kakek adalah hari lahirmu yang kedua kali, Laras. Terima kasih, ya Allah... terima kasih, Bu Ratna, Nak Teguh."
Laras memejamkan mata, merapatkan kedua tangannya di depan dada, lalu meniup lilin-lilin itu dengan sekali embusan kuat. Fuuu!
Tepuk tangan pecah di ruangan kecil itu. Ratna tersenyum, merasakan kehangatan yang jarang ia dapatkan selama bertugas sebagai detektif. Namun, saat ia melihat Mbah Mansur memotong kue, pandangan Ratna tertuju pada sebuah benda di atas lemari kecil di sudut rumah.
Sebuah amplop cokelat tua tanpa nama pengirim yang terselip di bawah pot bunga.
"Mbah, apakah ada tamu lain yang datang hari ini?" tanya Ratna pelan, mencoba tidak merusak suasana.
Mbah Mansur menoleh sejenak. "Oh, itu... tadi pagi ada kurir yang mengantarkan paket makanan untuk kami. Katanya titipan dari teman lama Samsul. Saya pikir itu dari kantor polisi."
Ratna berdiri, mendekati amplop itu. Ia membukanya dengan hati-hati menggunakan ujung jarinya. Di dalamnya bukan berisi surat, melainkan sebuah kepingan logam perak berbentuk huruf 'S' yang sangat halus, dan sehelai foto satelit yang menunjukkan area perkebunan sawit raksasa di perbatasan provinsi.
Di balik foto itu tertulis sebuah catatan pendek dengan tinta merah:
"Pabrik di Kemuning hanyalah ranting yang gugur. Akarnya ada di sini. Selamat atas ulang tahunnya, Sari. - S"
Ratna merasakan aliran dingin merambat di punggungnya. Huruf 'S' pada kepingan perak itu tidak lagi memiliki lekukan yang sama dengan cincin milik Samsul. Ini adalah variasi baru, lebih tajam, lebih modern.
Ia segera melirik ke arah Teguh. Teguh menyadari perubahan ekspresi atasannya dan langsung mendekat. Ratna memberikan foto itu kepada Teguh secara diam-diam.
"Bu," bisik Teguh setelah melihat foto itu. "Ini koordinat di luar wilayah hukum kita. Ini masuk ke area konsesi milik grup multinasional."
Ratna kembali menatap Laras yang sedang tertawa memakan kuenya. Keadilan yang ia pikir sudah selesai dengan ditangkapnya Bambang dan Surya Atmadja ternyata hanyalah awal. Bambang mungkin hanya seorang pengelola lapangan, tapi 'S' yang sebenarnya baru saja mengirimkan kartu namanya.
"Saras?" gumam Teguh pelan.
"Entahlah," sahut Ratna. "Tapi siapapun yang mengirim ini, dia ingin aku tahu bahwa permainannya belum berakhir. Mereka tahu di mana Mbah Mansur tinggal. Mereka tahu apa yang kita lakukan di sini."
Ratna menyadari bahwa kebahagiaan di gubuk ini sangatlah rapuh. Selama akar dari 'S' belum dicabut, keluarga ini dan mungkin ribuan keluarga lainnya tidak akan pernah benar-benar aman.
"Mbah," Ratna mendekat kembali ke meja, berusaha menenangkan suaranya. "Sepertinya saya dan Teguh harus kembali ke kantor lebih awal. Ada beberapa berkas administrasi yang mendesak."
Mbah Mansur menatap Ratna dengan bijak, seolah ia mengerti bahwa kedamaian ini baru saja terganggu lagi. "Jaga diri kalian, Nak Detektif. Jangan biarkan cahaya di mata kalian padam karena kegelapan yang kalian lawan."
Saat Ratna dan Teguh berjalan keluar menuju mobil, senja di Sukamaju mulai berganti menjadi malam yang pekat. Ratna menggenggam kepingan perak 'S' itu erat-erat di dalam saku jasnya.
"Teguh, hubungi Hendra. Katakan padanya jangan matikan generator di bunker dulu," perintah Ratna saat ia masuk ke kursi kemudi.
"Kita akan ke mana, Bu?"
Ratna menyalakan mesin mobil, matanya menatap lurus ke arah jalan raya yang membentang menuju perbatasan. "Kita akan mencari akar dari huruf 'S' ini sebelum mereka sempat mengirimkan kado berikutnya untuk kita."
Mobil itu meluncur pergi, meninggalkan Kampung Kemarin yang kini diterangi cahaya lampu jalan yang remang-remang, menuju sebuah misteri yang jauh lebih luas dari sekadar kayu ilegal di Sukamaju.