Lahir pada malam 1 Suro setelah dikandung dua belas bulan, seorang bayi menjadi incaran para pendekar aliran hitam dan putih. Di tengah pertumpahan darah, ia menghilang dari dunia manusia.
Diasuh oleh makhluk mitos di rimba purba, ia tumbuh dengan ilmu yang tak dikenal perguruan mana pun. Ia belajar dari angin, dari api, dan dari naluri alam.
Saat dewasa, Braja Geni kembali ke dunia persilatan.
Kehadirannya menggemparkan jagat kanuragan. Jurusnya tak berpihak pada putih maupun hitam—ia adalah kekuatan baru yang mengancam keseimbangan.
Namun di balik kesaktiannya, tersembunyi rahasia kelahiran dan takdir besar yang akan menentukan arah dunia persilatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Sebenarnya Nyi Lestari pun merasa iba melihat ketiga anaknya terdiam kaku seperti patung di bawah pohon sawo. Hatinya seorang ibu tentu tak tega. Namun ia tahu benar, begitulah cara suaminya mendidik—keras di luar, namun penuh maksud di dalam.
Tak lama kemudian, Nyi Lestari dan Ki Baraya justru duduk bersila di bawah pohon itu. Mereka membuka hidangan yang dibawa: ayam berbumbu harum, ikan goreng keemasan, pepes tahu yang masih mengepulkan uap, lalapan segar lengkap dengan sambal hijau yang menggugah selera.
Aroma masakan itu menyebar, menusuk hidung Laras dan Jatisangkar yang hanya bisa menelan ludah.
“Ahh… mantap sekali masakanmu, Nyi. Sadaaap!” puji Ki Baraya sambil menyuap ayam dengan lahap.
Karuan saja Jatisangkar meradang. Tadi mereka hanya disuapi nasi dan tempe, itu pun sekadarnya.
“Apa-apaan ini, Yah? Anaknya cuma diberi tempe, sementara Ayah dan Ibu pesta daging?” geram Jatisangkar tak terima.
Kali ini Laras pun sependapat dengan kakaknya.
“Iya, Ayah tega sekali… bagi sedikit ayamnya, Yah,” pinta Laras dengan wajah memelas.
Bukannya memberi, Ki Baraya justru tergelak keras.
“Behahaha! Begitulah kalau ingin menjadi calon pendekar! Masih mending Ayah beri kalian tempe. Dulu, saat Ayah berguru, Ayah hanya diberi nasi putih selama tiga hari. Itu pun sehari cuma sekali makan. Nah, untuk kalian, Ayah sudah melonggarkan sedikit. Dua kali sehari… pakai tempe pula! Jadi jangan manja. Nikmati saja… mengerti?”
Laras termangu. Jadi mereka akan dibiarkan seperti ini selama tiga hari? Dan hanya makan tempe?
“Ayah ini memang raja tega… si barokokok!” ledek Jatisangkar dengan kesal.
“Husss! Mau Ayah tambah jadi sepekan, Jati?” ancam Ki Baraya sambil menyipitkan mata.
Wajah Jatisangkar langsung memucat.
“Ohh jangan, Ayah! Ampun!” serunya ketakutan.
“Behahaha! Nah, jangan rewel. Ayah mau tidur dulu. Ibumu yang akan mengawasi kalian. Tapi dengar baik-baik… kalau malam ini ada yang sampai tertidur, maka laku latihan kalian akan Ayah tambah sehari. Berlaku kelipatan. Dan kalau protes… tambah lagi sehari! Behahaha!”
Tawanya menggema di halaman, sementara tiga anak itu hanya bisa saling pandang dengan wajah campur aduk antara kesal, lapar, dan pasrah.
Ki Baraya yang sejak tadi memperhatikan Braja tetap tenang, akhirnya bersuara.
“Kau diam saja, Braja. Bahkan tadi Ayah melihat kau hanya tersenyum ketika saudara-saudaramu mengeluh. Mengapa begitu?” tanyanya sambil menatap tajam namun ingin tahu.
Braja mengangkat wajahnya perlahan. Senyumnya tipis, tapi tulus.
“Aku justru merasa senang, Ayah. Ternyata… memiliki keluarga itu seru juga, ya,” ucapnya pelan, diselingi tawa kecil.
Jatisangkar mendengus.
“Sial kau, Braja. Kami menderita begini, malah kau bahagia. Memangnya kau sanggup tiga hari seperti ini?” tantangnya.
Braja menoleh kepadanya tanpa marah.
“Aku tak tahu, Jati. Tapi bila menjalaninya bersama kalian… aku akan dengan senang hati menanggung semuanya.”
“Jangan sok manis kau!” timpal Jatisangkar kesal. “Nanti pagi kalau seluruh tubuhmu bentol-bentol digigit nyamuk hutan, baru kau tahu rasa!”
Braja tersenyum samar. Suaranya kemudian merendah, hampir seperti desir angin.
“Tenang saja… nyamuk pun bisa menurut padaku. Aku akan menyuruh mereka untuk tidak menggigit kalian.”
Ucapan itu begitu lirih, namun cukup terdengar oleh Laras dan Jatisangkar. Keduanya langsung saling pandang, wajah mereka seketika berbinar.
“Benarkah, Kang?” bisik Laras penuh harap.
“Ya. Laras dan Kakang Jati tak perlu khawatir,” jawab Braja pelan.
Walau suara itu amat lirih, Ki Baraya yang baru saja merebahkan diri ternyata masih mendengarnya. Namun ia tidak membuka mata. Hanya seulas senyum tipis terbit di wajahnya.
Entah karena ia percaya… atau karena ia sedang menunggu sesuatu terjadi malam itu.
Matahari akhirnya benar-benar tenggelam di ufuk barat. Sisa cahaya jingga pun perlahan lenyap, digantikan gelap yang menyelimuti tempat latihan itu. Angin malam mulai berembus pelan, membawa hawa lembap khas hutan.
Dan seperti yang mereka cemaskan… satu dua nyamuk mulai berdatangan.
Awalnya hanya dengung tipis di telinga.
Lalu satu gigitan.
Kemudian dua.
Tak lama, semakin banyak.
Ketiga bocah itu mulai meringis. Gatal menyiksa menjalar di kulit mereka. Tapi tubuh mereka kaku tak berdaya. Tak bisa mengusir. Tak bisa menepis. Bahkan sekadar menggaruk pun mustahil.
“Ayo, Braja… keluarkan kemampuanmu. Usir nyamuk ini cepat…” bisik Jatisangkar dengan suara tertahan.
“Iya, Kang… aku mulai digigit… aduhh, gatal sekali… tapi tak bisa menggaruk…” keluh Laras hampir menangis.
Braja menarik napas perlahan.
“Baiklah… aku akan mencoba mengusir mereka.”
Ia lalu bersiul pelan sekali, hampir tak terdengar. Ia tak ingin Ki Baraya atau Nyi Lestari menyadarinya.
Namun siulan itu… terasa berbeda.
Tak ada getar tenaga dalam di dalamnya. Tak ada resonansi aneh yang biasanya membuat makhluk kecil tunduk. Hanya siulan biasa, kosong tanpa daya.
Braja mencoba lagi.
Sekali.
Dua kali.
Tetap sama.
Bukannya berkurang, dengung nyamuk justru makin ramai. Seolah-olah mereka terpanggil.
“Hey, semprul! Kau ini mengusir atau memanggil, hah? Bukannya makin sedikit, malah makin banyak! Sial kau, Braja!” geram Jatisangkar sambil meringis kesakitan.
“Kakang, kenapa? Waktu itu kau bisa membuat kupu-kupu menurut padamu. Ular pun tunduk… tapi nyamuk ini tetap menggigit kami…” keluh Laras putus asa.
Braja terdiam.
Lalu kesadaran itu datang seperti petir di benaknya.
Totokan Ki Baraya… bukan totokan biasa.
Itu bukan sekadar melumpuhkan tubuh.
Itu menekan pusat tenaga dalam. Mengunci aliran daya. Bahkan melemahkan ilmu yang bukan berasal dari manusia.
“Luar biasa…” gumam Braja pelan. “Ayahmu memang hebat, Laras. Totokannya mampu membuatku kehilangan ilmuku.”
“Haah! Pembual kau, Braja! Haduuuhh… gataaaal… sial…” Jatisangkar hampir menangis, wajahnya sudah dipenuhi bentol.
“Jadi… kau tak bisa mengusir nyamuk-nyamuk ini, Kang?” tanya Laras lirih.
Braja tersenyum pahit.
“Maafkan aku, Laras. Lihatlah… tubuhku pun mulai bentol-bentol. Ayahmu telah benar-benar melemahkanku. Aku juga gatal sekali… haduuh…”
Dan untuk pertama kalinya sejak latihan itu dimulai, Braja benar-benar merasakan kelemahan.
Ia tak lagi berbeda.
Ia tak lagi istimewa.
Di bawah langit malam yang gelap itu, mereka bertiga sama-sama menjadi anak-anak yang tersiksa oleh gigitan nyamuk hutan.
Sementara di atas dahan pohon sawo, Ki Baraya yang tampak terlelap… sebenarnya masih tersenyum tipis dalam diam.