Alena Alexandria, sang hacker jenius yang ditakuti dunia bawah tanah, tewas mengenaskan dalam pengejaran maut.
Bukannya menuju keabadian, jiwanya justru terlempar ke dalam tubuh mungil seorang bocah terlantar berusia lima tahun.
Sialnya, yang menemukan Alena adalah Luca, remaja 17 tahun berhati es, putra dari seorang mafia dari klan Frederick.
"Jangan bergerak atau aku akan menembakmu," desis Luca dingin sambil menodongkan senjata ke arah bocah itu.
"Ampun, Om. Maafkan Queen," ucapnya, mendongak dengan mata berkaca-kaca.
"Om?"
Dapatkah Alena bertahan hidup sebagai bocah kesayangan di sarang mafia, ataukah Luca akan menyadari bahwa bocah di pelukannya adalah ancaman terbesar yang pernah masuk ke kediaman Frederick?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15
"Luca! Berhenti di sana dan jelaskan padaku siapa yang sedang kau dekap itu?!" seru suara bariton yang menggelegar di aula utama villa rahasia di pinggiran Milan.
Villa itu berdiri megah dengan arsitektur klasik Italia, dikelilingi kebun anggur yang luas, tempat yang seharusnya menjadi persembunyian paling aman bagi Luca.
Namun, rencana untuk bersembunyi dengan tenang hancur berantakan saat pintu setinggi tiga meter itu terbuka.
Luca mematung di ambang pintu. Tangannya masih kokoh menggendong Queen yang terbungkus jasnya.
Di depannya, berdiri seorang pria paruh baya dengan setelan jas bespoke abu-abu yang tampak sangat berkuasa, Edgar Frederick. Dan di sampingnya, seorang wanita cantik dengan gaun sutra emerald yang tampak pucat pasi, Ava, ibunda Luca.
"Papa? Mama?" Luca meneguk kasar ludahnya. "Kenapa kalian bisa ada di sini? Bukankah kalian masih di Paris?"
Ava tidak menjawab. Matanya yang indah terbelalak sempurna, jemarinya menutup mulutnya yang terbuka karena syok. Ia menatap ke arah kain di dekapan Luca, lalu melihat ke arah wajah putranya yang tampak lelah.
"Suamiku... lihat itu," bisik Ava. "Lihat tangannya, Luca memeganginya seolah-olah dia adalah harta karun paling berharga."
"Aku melihatnya, sayang," geram Edgar. Rahangnya mengeras, urat di pelipisnya berdenyut. Ia melangkah maju dengan langkah lebar yang mengintimidasi, membuat Bobby yang berdiri di belakang Luca otomatis mundur selangkah.
"Astaga, Luca!" Ava tiba-tiba memekik. "Kau baru tujuh belas tahun dan kau sudah membawa pulang seorang anak?! Apakah itu cucu kami?!"
Queen, yang tadi sempat tertidur karena kelelahan, terusik oleh teriakan itu. Ia mengintip dari balik kerah jas Luca, matanya yang besar berkedip bingung menatap dua orang asing di depannya.
"Cucu?" gumam Queen dengan suara cemprengnya. "Luca, siapa nenek cantik ini?"
"Apa?! Dia baru saja memanggilku nenek? Dan dia juga memanggilmu dengan nama saja? Oh Tuhan, inikah pergaulan anak zaman sekarang!" Ava hampir jatuh pingsan jika tidak segera berpegangan pada pilar.
Edgar sudah sampai di depan Luca. Wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari putranya. Nafasnya nampak memburu penuh amarah.
"Kau menghilang dari radar, mansionmu diserang, dan sekarang kau muncul di Milan membawa seorang bocah yang mirip denganmu di masa kecil? Luca Frederick, jelaskan sebelum tangan ini mendarat di wajahmu!"
Edgar sudah mengangkat tangannya, telapak tangannya terbuka lebar, siap untuk memberikan pelajaran keras pada putranya yang dianggap telah melampaui batas.
"Tunggu! Papa, jangan!" teriak Luca sambil memutar tubuhnya untuk melindungi Queen dari jangkauan Edgar. "Ini bukan seperti yang Papa pikirkan! Aku tidak punya anak! Dia bukan anakku!"
"Lalu kenapa dia ada di pelukanmu seperti bayi kanguru?!" bentak Edgar. "Wajahnya gembul, matanya bulat, dan dia terlihat sangat keras kepala. Itu gen Frederick, Luca! Jangan coba-bagi berbohong padaku!"
"Dia ini target penyelamatan!" Luca berseru frustrasi. "Dia Queen! Keponakan Sean Harley! Aku menemukannya di mobil Bobby setelah insiden gudang!"
Tangan Edgar yang tadinya sudah melayang di udara mendadak membeku.
"Harley? Keponakan Sean?"
Ava, yang tadinya sudah hampir menyiapkan nama baptis untuk sang cucu, ikut terdiam. Ia mendekat dengan hati-hati, memperhatikan wajah Queen lebih dekat. "Bukan anakmu? Kau yakin? Tapi lihat pipinya, sangat mirip denganmu saat kau masih suka merengek minta susu cokelat."
"Mama, demi apa pun, aku baru tujuh belas tahun! Aku bahkan belum punya pacar! Bagaimana bisa aku punya anak sebesar ini?!" Luca memutar bola mata malas, wajahnya memerah padam karena malu luar biasa.
Queen, yang mulai menyadari situasi lucu ini, tiba-tiba mengeluarkan seringai nakal yang hanya bisa dilihat oleh Luca. Jiwa Alena di dalam sana tertawa terbahak-bahak.
"Papa Luca... Queen lapar," ucap Queen dengan nada yang sengaja dibuat semanja mungkin, sambil memeluk leher Luca lebih erat.
Luca merasa seolah disambar petir. "Heh! Bocah gila! Jangan panggil aku begitu!"
"LUCA! Dengar itu, dia baru saja memanggilmu Papa! Kau mau mengelak apalagi?!" Edgar kembali berteriak.
"Dia sengaja! Dia mempermainkanku!" Luca menoleh ke arah Queen dengan tatapan yang seolah ingin memakan orang. "Queen, katakan yang sebenarnya atau aku akan membuangmu ke kebun anggur sekarang juga!"
"Tuan Edgar, Nyonya Ava... mohon tenang." Bobby akhirnya memberanikan diri menengahi sambil menahan tawa sampai perutnya sakit. "Bocah ini benar-benar berasal dari keluarga Harley. Luca hanya menyelamatkannya. Soal panggilan tadi... yah, sepertinya Queen memang sangat suka menjahili tuan muda."
Ava menghela napas panjang, memegangi dadanya yang naik-turun. Ia hampir saja percaya kalau dirinya telah menjadi nenek.
"Jadi... aku belum jadi nenek?"
"Belum, Ma. Sama sekali belum," sahut Luca lemas.
Edgar menurunkan tangannya, meskipun matanya masih menatap Queen dengan penuh selidik.
"Harley sedang mencarinya dengan gila-gilaan. Dan kau malah membawanya ke sini? Kau tahu apa artinya ini, Luca? Kau memicu perang besar."
"Aku tahu," jawab Luca, suaranya kembali dingin dan serius. Ia menatap ayahnya tanpa rasa takut. "Tapi mereka mengincarnya karena otak geniusnya. Dia bukan sekadar bocah. Dia aset yang tidak boleh jatuh ke tangan Sean."
Edgar terdiam melihat keberanian di mata putranya. Ia kemudian melirik Queen yang kini sedang menjulurkan lidah ke arah Bobby.
"Baiklah," gumam Edgar sambil merapikan jasnya yang sedikit berantakan. "Kita akan bicara di dalam. Dan Luca... jangan pernah lagi menggendong siapa pun dengan cara seperti itu di depanku. Jantung ibumu tidak sekuat itu."
"Ya, ya, baiklah." Luca melangkah masuk ke dalam villa mewah itu diikuti oleh kedua orang tuanya.
Di dalam gendongannya, Queen alias Alena berbisik pelan di telinga Luca.
"Luca, papamu seram sekali ya. Tapi mamamu cantik. Lain kali Queen panggil mama juga ya?"
"Diam kau, Kelinci Pink. Atau aku akan benar-benar memberitahu mereka kalau kau adalah mata-mata," ancam Luca, meski ia tidak bisa menyembunyikan senyum tipis yang muncul karena kekonyolan pagi itu.
ternyata Sean juga manusia biasa😌