Saat Jepang berada diambang kepunahan karena krisis populasi, cinta bukan lagi pilihan, melainkan tugas negara yang menekan. Pemerintah membuat ulang kurikulum SMA bernama Sistem Dua Kekasih. Semua murid dipaksa berpasangan dengan lawan jenis, duduk berdampingan, tinggal bersama, dan semuanya dihitung berdasarkan poin.
Cerita berfokus pada Naruse Takashi, seorang remaja tanpa tujuan hidup yang hanya ingin mengabdi kepada seorang gadis biasa, yang dia percaya sebagai belahan jiwanya.
Kira-kira, siapakah yang akan menjadi belahan jiwa Naruse?
Genre: Drama, Psychological, Romance, School, System.
Catatan:
1. Cerita ini fiktif belaka.
2. Update satu Minggu 3-5 Kali.
3. Ada BAB Spesial tiap 20 BAB.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yapari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 — Sekolah Sesungguhnya —
Tiga hari telah berlalu. Waktu memang tidak terasa saat semuanya berjalan baik.
Semua murid sudah resmi berpasangan. Dan kini tiba saatnya untuk kehidupan sekolah yang sebenarnya.
Kami juga harus mempersiapkan diri, karena pasti akan ada banyak aturan sekolah yang harus diikuti.
Sebelumnya, aktivitas kami terbatas di dalam asrama sembari diisi oleh misi harian bersama pasangan. Ada tugas sederhana seperti duduk berdampingan, bicara sedekat mungkin, dan masih banyak lagi. Lalu di balik itu semua, poin-poin terus bertambah.
Bagi mereka yang berpasangan di hari pertama, termasuk aku dan Elena, perolehan poin kami jelas lebih banyak.
Sekarang, total Poin Pasangan kami ada di angka 346 Poin. Lumayan banyak sebab tidak ada pemborosan di antara kami.
Tok! Tok!
Suara ketukan pelan terdengar, membuyarkan lamunanku. Posisiku sedang berbaring di kasur.
"Hei, Naruse-kun... cepatlah! Kita tidak boleh terlambat, tahu?"
Suara Elena terdengar dari balik pintu.
"Berapa menit lagi?"
"Tiga puluh menit."
"Bukannya itu masih lama?"
"Memangnya secepat apa kau bisa bersiap-siap?"
Kami bicara tanpa saling memandang, karena terhalang oleh pintu kamar.
"Pintunya tidak terkunci, Elena. Buka saja kalau kau mau."
"Bukan itu mauku. Kalau kau tak kunjung bergerak dalam lima menit, aku akan pergi sendiri."
"Tu-tunggu, jangan begitu!"
Aku pun menghela napas pendek, lalu berdiri tegak.
Setelah melakukan sedikit peregangan, langkahku bergerak menuju pintu.
"Aku akan siap-siap, jadi jangan pergi sendiri."
Tanganku memegang gagang pintu, kemudian memutarnya. Begitu pintunya terbuka, Elena sudah tidak ada.
Ke mana dia?
Dia menghilang begitu cepat. Jangan bilang sudah pergi duluan?
"Elena?"
Aku mencoba memanggil, dan tidak ada respons. Tapi begitu aku mengedarkan pandang, sesuatu menyentuh lenganku.
"Naruse-kun, dapat!"
"Hah?"
Elena muncul dari titik butaku. Dia setengah tersenyum. Seringainya lebih lebar ketimbang hari pertama.
"Kau mengira aku benar-benar pergi sendiri?"
"Ya, kau mengejutkanku."
"Begitu, ya? Aku senang kau mencariku."
Melihat sisi defensifnya yang semakin tipis, aku jadi ikut senang. Dia sudah bisa bercanda sembari tersenyum sekarang.
"Cepat siap-siap, aku akan menunggu di sofa."
Dia melepaskan lenganku.
"Ya. Hari ini kau tampak sangat manis, Elena."
"Eh?!"
Sebelum ke kamar mandi, aku menjahilinya sedikit. Dan aku tidak tahu dia memasang wajah seperti apa begitu aku mengatakan itu.
Setelah itu, aku pun pergi mandi. Sampai sepuluh menit berlalu, kini aku sudah siap.
"Kita berangkat sekarang."
Kami sama-sama mengenakan seragam seperti hari pertama, dan dimulailah kehidupan sekolah kami yang sesungguhnya.
Cuaca pagi ini lumayan cerah, tidak seperti dua hari lalu yang kadang dihiasi hujan. Kami tidak banyak bicara di perjalanan.
Beberapa saat kemudian, kami memasuki gedung kelas satu dan langkah kami terhenti di depan salah satu ruangan yang pintunya dibiarkan terbuka. Di atasnya, ada sebuah penanda bertuliskan Kelas B.
Atas pemberitahuan sistem melalui jam tangan milik kami, di sinilah kelas kami berada.
"Ayo masuk, Elena!"
"Aku agak gugup."
"Kau takut sekelas lagi dengannya? Tenang saja, aku ada di sisimu."
"Bu-bukan itu, aku akan menamparnya lagi jika dia berani menggodamu."
"Wah, kenapa malah aku yang merasa takut?"
"Ya, sudahlah. Kita masuk saja!"
Begitu melangkahkan kaki ke dalam, ternyata ruangannya lebih luas dari yang kukira.
Tampilannya seperti kelas pada umumnya. Di depan ada papan tulis, sementara lantainya terbuat dari keramik abu-abu.
Tidak hanya itu, ada kursi berdesain melengkung berwarna coklat muda. Setiap pasangan memiliki dua kursi menyatu di satu meja, membentuk setengah lingkaran kecil yang menghadap ke depan.
Aku dan Elena memilih kursi di dekat jendela, barisan kedua dari depan.
"Ini tidak ada aturan penempatan, kan?"
"Duduk saja dulu."
Kami pun duduk bersebelahan.
Satu per satu pasangan mulai berdatangan. Sebagian besar tidak kami kenal, tapi entah kenapa... kebanyakan menatapku dengan intens.
Tatapan dari para gadis datang lebih dominan, aku memerhatikan ekspresi mereka yang beragam.
Ada yang terlihat begitu terpaku denganku, padahal dia sudah memiliki pasangan. Bahkan, ada juga para lelaki yang ikut menatapku, tapi mereka menunjukkan tatapan risih. Seperti kesal akan kehadiranku.
"Elena, kenapa ada banyak mata yang mengarah ke sini?"
"Kau serius menanyakan itu?"
"Aku tidak berbuat salah, kan? Atau mereka tahu kalau aku ini peringkat S?"
Aku menenggelamkan wajahku di meja, berharap mereka kehilangan minat.
"Naruse-kun, kau tidak pernah bercermin?"
"Maksudmu ngaca?"
"Ya, aku ada bilang kalau kau itu tampan. Dan itu salah satu alasanku merasa tidak layak untukmu."
"Kau mengungkitnya lagi?"
Aku kembali mengangkat kepalaku, dan tatapan mereka tak kunjung berhenti. Malahan, ada beberapa gadis yang menatap Elena dengan tatapan risih.
"Bukan itu inti—"
Dia tiba-tiba terdiam. Matanya memandang ke sisi lain.
"Inti apa?"
"..."
Mengikuti pandangan Elena, tatapanku otomatis mengarah ke pintu masuk.
Kami berhenti bicara saat melihat dua orang memasuki ruangan. Langkahnya ringan, ekspresinya tajam.
Sera Nanashi. Ternyata kami sekelas. Penampilannya masih sama seperti saat di Mall.
Di sampingnya, seorang laki-laki besar berjalan dengan postur tegap. Rupanya mereka masih bersama.
Kehadiran mereka membuat yang lainnya berhenti menatapku dan juga Elena. Ini hal yang bagus, karena rasanya cukup merepotkan jika terus-terusan ditatap.
Aku tidak tahu siapa yang lebih dulu menatap. Tapi begitu tatapan kami bertemu, gadis itu langsung mengalihkan pandangannya dan berjalan cepat-cepat.
Sementara itu, Elena duduk tegak. Wajahnya datar, tapi matanya tak berkedip.
"Kau tidak apa-apa?"
Dia tidak menjawab. Tapi dari tangannya yang mengepal di atas paha, aku tahu dia sedang menahan sesuatu.
Tak lama setelahnya, ada satu sosok lagi yang menyusul kedatangan mereka.
Seorang pria paruh baya muncul dari balik pintu samping. Dia mengenakan kemeja yang desainnya jauh lebih elegan. Kacamatanya tipis, dan ekspresinya lumayan tegas.
"Selamat pagi semuanya."
Dia langsung menyapa begitu masuk. Suaranya dalam. Cukup untuk membuat seisi kelas diam.
"Aku adalah pengajar utama untuk Kelas B. Namaku Yagami Torako. Panggil saja Yagami-sensei!"
Kami semua terpaku, dan kurasa banyak yang mencatat namanya secara mental.
"Kalian semua sudah melewati proses awal yang tidak mudah. Misi, kerja sama, konflik, penyesuaian... dan itu baru permulaan. Mulai hari ini, semuanya akan jadi lebih menantang."
Dia menyentuh panel di meja guru, dan grafik muncul di layar hologram besar setelahnya. Layar itu menampilkan nama-nama pasangan dan jumlah poin mereka.
[Peringkat Poin Pasangan:
Sera Nanashi & Satoshi Akanji — 401 Poin]
Aku baru membaca sebentar, tapi malah melihat nama mereka berada di posisi pertama. 401 Poin Pasangan. Tidak buruk.
[10. Elena Miyazaki & Naruse Takashi — 346 Poin]
Kami berada di peringkat sepuluh. Begitu mataku melihatnya, Elena tampak puas. Mungkin karena kami tidak mencolok.
Sementara itu, Yagami-sensei tersenyum lalu menatap ke arah mereka.
"Selamat atas peringkat pertama kalian! Tolong pertahankan!"
"Baik!"
Mereka menjawab kompak. Dan aku bisa menebak gadis itu akan berekspresi seperti apa dari dalam.
Mereka begitu mencolok di hari pertama. Itu hal yang bagus karena banyak tatapan yang kini mengarah ke mereka.
"Seperti yang kalian ketahui, poin bukan hanya soal ketepatan. Tapi juga tentang kualitas interaksi, komunikasi, dan keterbukaan. Sekolah ini tidak hanya mencetak robot yang pandai menghitung, tapi manusia yang mampu hidup bermasyarakat."
Barusan Yagami-sensei bilang robot, kan? Entah kenapa, menurutku itu agak kasar.
Tidak, lupakan saja.
"Satu hal yang perlu kalian pahami, kelas ini bukan hanya tempat belajar. Tapi tempat kalian diuji, dilihat, dan dinilai. Mulai hari ini, setiap interaksi bisa memengaruhi posisi kalian."
Tiba-tiba semuanya jadi semakin sunyi. Bukan karena takut, tapi karena beratnya makna ucapan itu.
Elena melirikku sejenak, lalu menatap ke depan lagi.
"Selamat datang di awal yang sesungguhnya. Selamat belajar, dan selamat mengenal satu sama lain dengan lebih dalam."
Yagami-sensei tersenyum lebih lebar, menyambut kedatangan kami.
"Dan terakhir, jangan lupa untuk tetap bermasyarakat!"
Sambutannya tidak buruk, tapi tetap saja itu membuat yang lainnya tertekan. Bahkan Elena sekalipun, wajahnya begitu tegang saat menatap Yagami-sensei.
"Untuk tugas pertama. Di hari pembuka yang indah ini, kalian akan melakukan perkenalan diri sebagai pasangan. Pikirkan semuanya sendiri, dan kalian bebas ingin memperkenalkan diri seperti apa."
Akhirnya datang juga. Tugas pertama kami sebagai murid yang bersekolah.
"Waktunya lima menit dari sekarang!"