Kisah seorang dokter tentara berpangkat mayor yang jatuh hati kepada seorang apoteker di rumah sakit tempat mereka bekerja waktu pertama kali sang gadis datang wawancara. Mayor Jonathan Benjamin nama sang dokter, dia memiliki seorang anak perempuan usia enam tahun. Bertemu dengan Sophia Abigail seorang apoteker yang sudah memiliki seorang pacar yang adalah CEO David Alexander. Bagaimana kisah mereka???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mertua
Pukul tujuh lewat tiga puluh menit. Sophia Abigail tiba di pemungkiman apartemen mewah tempat David Alexander tinggal. Bunyi bell apartemen berbunyi. David membuka pintu Sofi sudah ada di depan pintu.
"Sofi.... Anak mami. I miss you." Maminya David yang masih terlihat cantik meskipun sudah berusia enam puluh tahun. Menyambut Sofi dengan memeluknya.
"Sayang, ayo makan temani papi." Sofi langsung duduk di meja makan. Disana sudah ada David bersama Max asistennya.
"Mami senang Sofi mau bergabung di perusahaan." Sofi tersenyum.
"Papi sih berpikir sepertinya pernikahan kalian harus di percepat." Sofi langsung terdiam. Sendoknya tiba - tiba jatuh.
"Sayang kenapa??? Kamu sakit???"
"Tidak mami, kelelahan saja." Papinya David yang melihat perubahan muka Sophia. Langsung menunda rencananya. Dia berpikir untuk tidak mau memaksa anak dari sahabatnya. Namun ada satu hal yang menganjal di hati papinya David. Dia yakin bahwa ada sesuatu.
"Vid, Sofi bukan anak yang pembangkang, dia tidak mungkin menampilkan muka tidak sukanya kepada papi, kalau kamu tidak berbuat salah."
"Papi, tidak dengar kah. Tadi Sofi katakan dia kelelahan."
"Iya mami yakin bahwa dia pasti kelelahan."
Orangtua David sedang berbicara dengannya di ruang tamu, ketika semua sudah pulang. Atas permintaan kedua orang tua David, Sophia pulang di antar oleh Max karena sudah malam dan mereka melihat Sofi yang kelelahan. Dan sekarang dia sudah ada di dalam apartemennya.
"Selamat malam, Sofi." Pesan dari dokter Nathan membuatnya tersenyum. Langsung pesan itu dibalas dan berakhir hampir setegah jam mereka vidio call.
"Kenapa ya, aku kok merasa nyaman bersama dia?? Berbeda sekali, jika aku bertemu dengan David calon suamiku." Malam ini Sofi susah tidur, dilema yang sedang di hadapinya tentang perasaannya ini.
Ternyata pagi hari, Sofi di jemput oleh Nathan, mereka janjian untuk beribadah bersama. Hari ini hanya Nathan dan Sofi, selesai beribadah mereka makan siang bersama. Dan Sofi diantar kembali oleh Nathan pulang.
Di apartemen tempat Sofi tinggal sudah ada mamanya David. Dia melihat Sofi pulang diantar oleh seorang laki - laki.
"Masuk Fi, Have a nice daya ya."
"Terima kasih dokter." Sofi begitu kaget, karena di lobi dia melihat calon mertuanya ada disana. Sofi tahu, beliau pasti melihat.
"Selamat siang anak mami."
"Selamat siang mami Olive." Sofi langsung memeluk maminya David.
"Kamu sibuk hari ini??"
"Tidak mami."
"Mami mau ajak kamu jalan - jalan. Mami rindu dengan mamimu. Bisa temani mami."
"Bisa Mi. Sofi ganti baju dulu ya mami. Mami Olive tersenyum.
Sekarang mereka sudah berada di sebuah mall besar. Memang Sofi menemani maminya David jalan - jalan dan berbelanja. Setiap toko yang di masuk adalah toko - toko branded dan pasti barang yang dibeli mami, buatnya dan Sofi. Mereka berakhir di sebuah restoran, makan malam.
"Papi sibuk dan David. Makanya mama ajak kamu sayang. Kamu bahagia hari ini."
"Iya mami." Olive calon mertuanya Sofi memandang Sofi dengan mata dan hatinya.
"Apapun yang terjadi kamu tetap anak perempuan mami. Hanya kamu sayang. Pasti kamu berat ya menghadapi kelakuan David??" Sophia tersenyum.
"Tidak mami."
"David terlalu lama hidup di eropa, gaya hidupnya hampir sama dengan orang - orang disana. Tetapi mami dan papi senang kamu mau bergabung dengan perusahaan. Bagaimana Apotek kamu??"
"Perkembangannya bagus mami. Puji Tuhan bisa Sofi bagi waktu dengan yang di perusahaan."
"Bagus mami senang dengarnya. David buat kamu kecewa kan sayang??" Sofi terdiam. Olive memegang tangan Sofi sangat lembut. "Maafkan David sayang. Mami berharap, kalian masih bisa bersama - sama." Sofi melihat mami Olive dengan tatapannya yang sudah berlinang air mata.
"Sofi tidak janji mami, tetapi mas David punya hubungan dengan sekretarisnya dulu." olive maminya David langsung memeluk Sofi dan dia pun menangis dalam pelukannya.
"Maafkan mami sayang."
Di apartemen David. Papinya sangat marah. Setelah maminya menyampaikan berita yang dia dengar dari Sophia Abigail calon menantunya, setelah di konfirmasi kepada Max asisten dari David sendiri.
"Kenapa tidak berubah, mas?? Kamu mau apa. Kan papi sudah katakan Theresia itu bukan wanita baik - baik. Kalau dari dulu dia baik sudah papi kawin kan kalian."
"Muka mami mau taruh di mana Mas, mami malu kalau orangtua Sofi tahu."
"Maafkan David mami, papi."
"Sekarang kamu mau apa, papi mau tahu??"
"Aku tetap akan menikahi Sofi papi."
"Jangan memaksa jika dia tidak mau. Carilah cewek yang lain, asal tidak wanita - wanita yang hidup di club malam."
"Bagaimana pertunangannya?? David mencintai Sofi papi??"
"Kalau kamu cinta, kamu tidak menyakiti."
"Soal pertunangan urusan papi dan mami."
"Beri David kesempatan??"
Malam ini, David tidak bisa tidur nyenyak. Pikirannya masih tertuju kepada sosok Sophia Abigail Stevanus. Anak dari sahabat papinya. Sedari kecil, mereka selalu bersama. Meskipun jarak umur mereka dibilang berbeda enam tahun, sekarang usia David Alexander dua puluh delapan tahun.
Sedari kecil David sudah terbiasa menjaga Sofi, waktu mereka di jodohkan mereka tidak tahu, apakah mereka benar - benar mencintai. David merasa bahwa Sofi itu hanya sebagai adik baginya. Mereka terpisah karena David kuliah di Inggris sedangkan Sofi tetap memilih Indonesia dan universitas negeri di Jakarta menjadi pilihannya. Gaya hidup David dan Sofi tentu berbeda.
David baru sadar, bahwa dia mencintai sosok seorang Sophia Abigail yang dulu dia hanya menganggap sebagai adik. Karena kedekatan dari kecil. Dia menyesali perbuatannya, yang telah menyakiti hati Sofi.
Karena ada pendiri Xander Company, maka hari ini ada pertemuan khusus dengan pimpinan - pimpinan departeman, COO dan CEO. Pukul sepuluh pagi. Sofi sangat cantik pagi ini, dandanannya hanya makeup natural, dipadu dengan dress berwarna coklat tua dan blazer berwarna coklat muda dia tampil menawan.
"Selamat pagi semua."
"Selamat pagi bu Sofi."
"Apakah ruangan pertemuan dengan pendiri sudah siap??"
"Sudah bu."
"Oke terima kasih." Sofi tersenyum, dan masuk ke dalam life pimpinan menuju lantai sepuluh dimana ruangan kerjanya sebagai COO Xander Company.
Selesai pertemuan, Sofi mendapat pesan dari Briel, memberitahukan bahwa mamanya ada di opname di rumah sakit. Yang biasanya dia pulang kerja pukul empat sore. Setelah merampungkan tugasnya jam tiga dia meminta ijin pulang duluan.
Diruang rumah sakit tempat orangtua Mayor Jonathan Benjamin di rawat tampak terlihat Briel bersama opanya menjaga dan merawat orang terkasih mereka.
"Eeehhh kakak. Masuk." Sofi tersenyum dia masuk menjenguk orangtua dari dokter Nathan dengan membawa buah dan beberapa cemilan serta kue buat Briel dan opanya.
"Nak Sofi tahu dari siapa??"
"Briel yang hubungi kakak oma, habis papi tudak bisa di hubungi."
"Kan papi lagi tugas di bersama kesatuannya, kegiatan bakti sosial. Mohon maaf nak Sofi, Briel membuat nak Sofi repot."
"Tidak mengapa om. Tante keadaanya bagaimana sekarang??"
Sofi menemani Briel dan opanya menjaga, oma yang dia sayangi. Pukul sembilan malam, Nathan baru tiba di rumah sakit tempat mamanya dirawat. Di ruangan dia melihat, Sofi sudah tidur bersama Briel ditempat tidur untuk orang jaga. Nathan tersenyum. Dia melihat mamanya perempuan yang sangat dia cintai, langsung diberi ciuman.
"Sudah dari sore nak Sofi disini." Nathan hanya mengangguk.
Kemudian dia memesan satu kasur khusus buat papanya beristirahat. Namun mamanya meminta papa tidur bersamanya ditempat tidur pasien. Nathan tersenyum melihat kemesraan kedua orangtuanya.