Siapa sangka peristiwa yang terjadi selama dua minggu, membuat hidup Salsa berubah total. Dorongan yang kuat untuk mengungkap tabir kematian seorang gadis yang menyangkut dosen Salsa. Ia punya beban moril untuk mengungkap kasus ini, agar citra pendidikan tetap terjaga dan tidak ada korban lainnya.
Bersama Syailendra, Salsa berhasil mengungkap kematian Karina hingga memperoleh ketenangan di dunia lain.
Happy Reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HAMPIR KETAHUAN
Salsa hanya mengangguk, tak berniat menanggapi, dan ingin mengambil motor saja lalu cus pergi. "Permisi," ucap Salsa, tapi stang motornya dipegang oleh Syailendra.
"Kayaknya lo menghindar banget, padahal tempo hari lo mencari gue di lab?" tanya Syailendra to the point. Salsa memejamkan mata, menebak pasti urusannya panjang ini.
"Ouh, saat itu aku hanya mau tanya tentang Pak Amar saja, kata salah seorang mahasiswa Kak Syailendra asisten beliau dan tahu jadwal beliau," ujar Salsa sesuai fakta.
Syailendra mengerutkan dahi, bingung juga kenapa anak jurusan Kimia mencari Pak Amar. "Ngapain cari Pak Amar?"
"Ada urusan pribadi, Kak. Hem permisi," ucap Salsa kembali pamit, Syailendra tak perlu tahu detail. Apalagi Karin sekarang sudah berusaha mencari sendiri, entah nanti Salsa akan membantu apa untuk si hantu itu.
Sebenarnya Syailendra belum puas, namun sudah dua kali Salsa pamit, ia tak mau kalau gadis itu ge-er, seakan Syailendra mengejarnya. Salsa kembali mengangguk hormat sebelum menstarter motornya.
"Untuk kali ini gue biarkan lo pergi, tapi tidak lain kali," ujar Syailendra. Apalagi dia mau mendengar versi Salsa soal Sandrina, tak enak juga pada gadis itu. Salsa gak pernah kenal Syailendra malah didamprat sama mak lampir.
Karin sendiri masih asyik menunggu Pak Amar di depan ruangannya, heran saja kok sampai beberapa hari beliau tak datang ke ruangan, apa mungkin selesai mengajar langsung pulang, atau bagaimana sih. Sepi juga di lorong ini, para penghuni entah ke mana. Karin pun turun mencari sosok Pak Amar di lantai dua jurusan, hasilnya pun nihil. Sepertinya hari ini gagal lagi, Karin pun memutuskan pulang ke rumah Salsa.
Begitu di lantai satu ia mendengar mahasiswa mengomel, ditambah temannya seakan mengompori. Karin penasaran karena menyebut dosen ganteng tapi sok sibuk, Karin menganggap mereka sedang membicarakan Amar.
"Lagian dosen kok gak stand by di kampus, harusnya kalau ada tugas bimbingan skripsi itu stand by. Di chat gak dibales, ditunggu di jurusan ternyata langsung ke kelas, tuh dosen maunya apa sih!" protes mahasiswa tersebut.
"Lama-lama kalau aku kesal, biar aku laporkan ke jurusan saja!" lanjut yang lain.
"Yang gampang dapat bimbingan cuma Syailendra, soalnya doi yang kebanyakan bantu dia urusan mengajar!"
"Saling memanfaatkan berarti ya, Pak Amar butuh orang pintar buat handle kelasnya, si Syailendra butuh bimbingan skripsi biar cepat lulus," timpal yang lain membuat mereka semakin tak suka.
"Jadi tadi ke kampus?" gumam Karin, ia pun berencana mengubah tempat tunggunya besok, parkir dosen.
Karin kembali ke rumah Salsa, gadis itu ternyata baru selesai mandi, "Tumben gak tidur?" sindir Karin, Salsa hanya melengos.
"Sal, banyak orang yang gak suka sama Pak Amar kayaknya," Karin menceritakan apa yang ia dengar tadi.
"Wajarlah, beliau masih muda, tapi gak pernah ada di kampus," ujar Salsa sembari menyisir rambut.
"Kok kamu tahu?" tanya Karin, apa mungkin Salsa mendengar banyak hal tapi tidak diceritakan ke dirinya.
Salsa menghela nafas pelan, "Ya gimana ya, Karin. Kalau dosen, kan lebih banyak stay di jurusan. Tentu beliau juga mendapat tugas bimbingan skripsi, nyatanya Syailendra saja sering berkeliaran bukan kerja di lab garap penelitian malah di kantin, nongkrong!" ceplos Salsa, menganalisis kinerja Pak Amar. Ya memang kalau bimbingan kan gak harus tiap hari, hanya saja melihat Syailendra kok sepertinya garap skripsi senyantai itu.
"Besok aku mau nongkrong di parkiran dosen, mau lihat beliau datang ke kampus atau tidak!"
Salsa mengangguk saja. "Kamu bisa cari sendiri kan? Aku gak mau terlihat sering berkeliaran di jurusan itu, nanti dilabrak lagi sama Sandrina," ujar Salsa gak mau punya masalah sama siapa pun.
"Tapi besokkan rabu, Sal. Jadwalnya Mas Amar ke ruangan," Karin masih ingat dengan info dari Mbak Kunti.
"Tapi besok aku kuliah sampai jam 4, Karin. Di atas jam 4 yakin, beliau masih di situ?" Karin juga tak tahu, tapi ia berharap Salsa membantunya.
Ternyata alam berpihak pada Karin, kuliah Salsa sesi sore ditiadakan diganti jumat setelah jumatan, karena dosen sesi sore sedang menunggu istrinya melahirkan. Dengan berat hati, Salsa pun menuruti keinginan Karin untuk naik ke lantai 3 di jurusan tersebut.
Salsa menyiapkan mental, setelah sholat ashar dia masuk ke jurusan itu, suasana sudah sepi, mana hujan lagi. "Gak usah takut, kan kamu sama hantu juga!" ujar Karin santai, Salsa mendengus sebal. Keduanya menaiki tangga, menuju lantai 3 jelas tidak ada mahasiswa kecuali ada yang berkepentingan di lab.
Benar apa kata Mbak Kunti, lampu ruangan Pak Amar menyala, Karin sudah kegirangan sampai menyentuh tangan Salsa. Saat Salsa mendekat, terdengar percakapan dua orang di dalam sana, tentu Salsa tak berani mengetuk, biarlah menunggu saja.
"Ngapain?" Salsa yang deg-deg an kaget saat seseorang menegurnya.
"Ya Allah," ucap Salsa kaget, ternyata Syailendra yang menegurnya. "Itu, itu mau ketemu Pak Amar," ujar Salsa terbata. Namun Syailendra langsung menarik tangan Salsa, ia mendengar suara seseorang memutar kunci.
Mulut Salsa langsung dibungkam, keduanya berhadapan dengan jarak yang sangat dekat, tatapan mata Salsa dan Syailendra saling tertaut. Keduanya bersembunyi di balik tembok di depan lab. Ternyata dugaan Syailendra benar, Pak Amar keluar ruangan, dan yang membuat Syailendra kaget, Sandrina ikut keluar dari ruangan itu.
"Mereka ngapain?" tanya Salsa mendadak berpikir kotor, keduanya mengamati di balik tembok, saat keduanya keluar ruangan, tapi Sandra tak memakai blazernya, justru keluar ruangan hanya pakai tank top, dan dipakai saat keduanya turun tangga. Salsa sampai lupa tujuannya untuk bertemu Pak Amar karena melihat pemandangan itu.
"Pacar kakak," ujar Salsa sembari menatap Syailendra.
"Bukan!" ucap Syailendra, kemudian mengajak Salsa keluar dari persembunyian, baru lah Salsa ingat urusannya, karena melihat Karin duduk sembari menundukkan kepala.
"Tuh kan aku gak bisa bertemu Pak Amar gara-gara Kakak!" omel Salsa, sengaja mengeraskan suara agar Karin mendengar, dan tidak menganggap dirinya tak mau membantu.
"Ck, justru gue menyelamatkan lo," ujar Syailendra kesal, yang tahu sekali kelemahan dosen tersebut. Salsa pun hanya melihat, lalu beranjak pergi, niatnya mengejar Pak Amar, nyatanya tangannya dicekal oleh Syailendra.
"Aku penasaran kenapa kamu ngotot bertemu dengan Pak Amar, ikut aku!" ujar Syailendra masih memegang tangan Salsa, namun Salsa menariknya pelan.
"Jalan duluan saja, aku jalan di belakang Kakak," ujar Salsa, dan Syailendra setuju. Ia memilih jalan berjarak, sekaligus mengajak Karin untuk mendengar penjelasan Syailendra tentang Pak Amar.
Di luar masih terdengar rintikan hujan, namun keduanya tetap memaksa menuju parkiran, Syailendra melajukan motornya menuju cafe depan kampus, dan Salsa mengikuti.