"Menikah muda adalah jalan ninjaku!"
Bagi Keyla, gadis cantik kelas 3 SMA yang keras kepala dan hobi tebar pesona, cita-citanya bukan menjadi dokter atau pengusaha, melainkan menjadi istri di usia muda. Namun, belum ada satu pun pria seumurannya yang mampu meluluhkan hatinya yang pemilih.
Sampai sore itu, hujan turun di sebuah halte bus. Di sana, ia bertemu dengan Arlan. Pria berusia 28 tahun dengan setelan jas mahal, tatapan mata setajam silet, dan aura dingin yang sanggup membekukan sekitarnya. Arlan adalah definisi nyata dari kematangan dan kemewahan yang selama ini Keyla cari. Hanya dengan sekali lirik, Keyla resmi menjatuhkan pilihannya. Om Duda ini harus jadi miliknya.
Keyla memulai aksi pengejaran yang agresif sekaligus menggemaskan, yang membuat Arlan pusing tujuh keliling.
Lantas, mampukah Keyla meluluhkan hati pria yang sudah menutup rapat pintu cintanya? Atau justru Keyla yang akan terjebak dalam gelapnya rahasia sang duda kaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kimmy Yummy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 23
Di perjalanan pulang menuju rumah Keyla, suasana didalam mobil mendadak hening. Arlan diam, Keyla pun sama. Sampai akhirnya Keyla melirik sedikit, menatap ekspresi wajah Arlan yang nampak kembali dingin.
"Om masih marah?" tanya Keyla pelan.
Arlan menghela napas panjang, lalu melirik Keyla sekilas. "Aku tidak marah lagi, Keyla. Aku hanya... lelah. Lelah dengan caramu yang selalu nekat mengambil risiko."
"Kan aku udah bilang, aku cuma mau bantu Om. Aku nggak suka liat Om dituduh yang nggak-nggak sama Tante Siska dan Papa," Keyla meraih lengan kiri Arlan, menyandarkan kepalanya di bahu pria itu meskipun Arlan sedang menyetir.
Arlan tidak menolak. Sentuhan lembut Keyla selalu punya cara untuk meruntuhkan dinding esnya. "Lain kali, bicarakan denganku. Jangan membuat kesepakatan gila dengan pria seperti Vino. Kamu tidak tau apa yang bisa dilakukan pria yang merasa punya hak atas seorang wanita."
"Iya, janji. Tapi tadi Om keren banget pas narik tangan aku," Keyla terkekeh kecil, mencoba mencairkan suasana. "Om kayak pangeran berkuda hitam yang dateng nyelametin tuan putri dari naga kampus."
Arlan tersenyum tipis, "Naga kampus? Dia lebih mirip hama bagiku."
Mobil Arlan berhenti di lampu merah yang cukup lama. Arlan mematikan musik di dasbor, membuat suasana mendadak menjadi sangat sunyi dan intim. Ia menoleh ke arah Keyla, menatap gaun merah satin yang membalut tubuh gadis itu. Warna merah itu membuat kulit Keyla tampak sangat cerah di kegelapan malam.
"Kamu terlihat sangat cantik malam ini, Keyla. Itu yang membuatku sangat marah. Aku benci berbagi pemandangan ini dengan orang lain." kata Arlan.
Keyla terpaku. Ia bisa merasakan intensitas tatapan Arlan yang berpindah dari matanya ke bibirnya.
"Om..."
Arlan tidak menjawab. Ia justru mendekat, tangan kirinya beralih dari bahu Keyla ke tengkuk gadis itu, menariknya perlahan namun pasti. Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa senti.
"Kamu benar-benar ingin tau seberapa besar aku tidak ingin kehilanganmu?" bisik Arlan tepat di depan bibir Keyla.
Untuk pertama kalinya di tengah keributan, Arlan benar-benar menyerah pada instingnya. Ia memejamkan mata dan terus mendekat. Bibir mereka hampir saja bersentuhan—hanya butuh satu hembusan napas lagi untuk melewati batas yang selama ini mereka jaga dengan alasan moral dan usia. Keyla sudah memejamkan mata, tangannya meremas kemeja Arlan, siap untuk merasakan sentuhan yang paling ia dambakan. Namun, saat bibir keduanya sudah hampir benar-benar menempel, tiba-tiba...
Tiiiin Tiiiin!
Suara klakson nyaring dari mobil di belakang mereka memecah keheningan itu dengan kasar.
Arlan tersentak dan segera menarik dirinya kembali. Ia berdehem, mencoba mengatur napasnya yang tidak beraturan sambil kembali menginjak gas. Wajahnya yang biasanya pucat kini tampak sedikit bersemu merah di bagian telinga.
"Sial," umpat Arlan pelan.
Keyla menyentuh bibirnya sendiri, seolah merasa linglung. "Om... tadi itu..."
"Lupakan, Keyla," potong Arlan cepat, suaranya kembali kaku meskipun matanya masih memancarkan kegelisahan. "Kita hampir sampai rumahmu. Siapkan dirimu, Papamu sepertinya sudah mendapat kiriman video dari Siska."
Keyla mendengus kecewa, namun ia juga sadar bahwa situasi mereka sedang di ujung tanduk. Benar saja, saat mobil memasuki halaman rumah, lampu ruang tamu menyala sangat terang. Di balik jendela besar, Baskoro berdiri dengan tangan terlipat, wajahnya tampak sangat tidak bersahabat.
Arlan mematikan mesin mobil, tapi ia tidak segera keluar. Ia menatap Keyla sekali lagi. "Apapun yang terjadi di dalam nanti, tetaplah di belakangku. Jangan memprovokasi Papamu lagi."
"Om bakal tetep belain aku, kan?"
Arlan meraih tangan Keyla, lalu mengecupnya. "Aku akan memastikan tidak ada yang bisa memisahkan kita lagi. Termasuk Papamu."
Mereka keluar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah. Baru saja pintu terbuka, suara bariton Pak Baskoro sudah menggelegar.
"Arlan! Keyla! Masuk dan jelaskan padaku, kenapa video premanisme di hotel itu bisa sampai ke tanganku dalam waktu kurang dari satu jam?!" Baskoro melemparkan ponselnya ke atas meja kopi, menampilkan cuplikan Arlan yang sedang mengintimidasi Vino.
Keyla melirik Arlan, pria itu tetap tenang. Ia melangkah maju, menempatkan dirinya sedikit di depan Keyla sebagai perisai. "Maaf, Pak Baskoro. Tapi pria di video itu memang pantas mendapatkan lebih dari sekadar peringatan."