Namaku Valerie. Hidupku adalah sebuah kompetisi yang sudah ditentukan kekalahannya bahkan sebelum dimulai. Di rumah ini, aku hanyalah bayangan dari Kakakku yang seorang dokter muda sukses. Orang tuaku menganggapku investasi gagal; mereka mengirim Kakak ke sekolah elit, sementara aku cukup di sekolah pinggiran karena dianggap hanya membuang-buang uang.
Muak menjadi sampah di mata mereka, aku memilih pergi. Aku terjun ke dunia malam, bergaul dengan mereka yang juga merasa terbuang. Meski aku dikelilingi botol minuman dan asap rokok, aku masih punya satu prinsip: aku tidak akan membiarkan diriku hancur sepenuhnya. Aku tetap menjaga harga diriku di tengah liarnya jalanan.
Namun, kebebasan ternyata berasa hambar sampai malam itu tiba. Di sebuah kelab yang bising, aku bertemu dengan Revan, adik angkat Ibu yang sudah bertahun-tahun menghilang untuk mengejar karier dosennya. Saat orang tuaku bahkan tidak sudi mencariku,pria yang terpaut sepuluh tahun dariku inilah yang justru menarikku keluar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: MODEL TAK TERDUGA
Karin mendengus kesal saat motor ojek yang ditumpanginya terjebak lampu merah, sementara sedan hitam mewah milik Revan sudah melesat jauh dan menghilang di antara hiruk-pikuk kemacetan Jakarta.
"Argh! Kehilangan jejak!" gerutu Karin sambil memukul pundak tukang ojeknya pelan. "Ya sudah, Mas, balik lagi saja ke kampus. Tapi besok... awas saja kau Valerie, aku akan memasang radar di seluruh gedung fakultas ini!"
Karin belum berani menyimpulkan segalanya. Di kepalanya, ada perang batin antara rasa tidak percaya bahwa sahabatnya yang polos terlibat skandal, dengan fakta bahwa Pak Revan, si dosen paling anti-sosial mendadak menjadi sopir pribadi untuk satu mahasiswi.
Keesokan Harinya – Di Dalam Kelas Hukum Perdata
Sesuai hukuman yang dijatuhkan, Valerie kembali duduk di baris paling depan. Kali ini, ia mengenakan sweater tipis berwarna krem yang membuatnya tampak lebih segar. Revan masuk tepat waktu, namun atmosfer hari ini terasa berbeda. Tidak ada amarah seperti kemarin, hanya ada ketenangan yang sangat dalam.
Revan mulai menjelaskan tentang Wanprestasi. Ia berjalan mondar-mandir di depan kelas, menjelaskan setiap poin dengan artikulasi yang sempurna. Valerie tanpa sadar terpaku. Ia menopang dagunya dengan tangan, matanya tidak beralih dari sosok pria yang sedang berbicara itu.
Ada pesona yang mematikan saat Revan sedang berada dalam elemennya. Cara pria itu membetulkan letak kacamata dengan jari telunjuknya, atau cara ia sedikit melonggarkan kemeja di bagian leher saat suasana mulai hangat, membuat jantung Valerie berdesir. Bagi dunia, dia adalah dosen yang kejam. Namun bagi Valerie, pria itu adalah pelindung yang selalu ada untuknya.
"Val, kau melamun?" bisik Karin menyenggol lengannya.
Valerie tersentak. "Hah? Tidak, aku sedang... menyerap materi."
"Menyerap materi atau menyerap ketampanan orang itu?" sindir Karin sambil mencatat sesuatu yang bukan materi kuliah di bukunya. Penyelidikan Hari ke-2: Valerie menatap target selama 15 menit tanpa berkedip.
Tiba-tiba, pulpen Valerie menggelinding dan jatuh ke bawah meja. Dengan refleks, Valerie membungkuk untuk mengambilnya. Tanpa ia sadari, kepalanya hampir saja membentur sudut meja kayu yang cukup tajam.
Revan, yang bahkan tidak berhenti bicara tentang Pasal 1243, secara spontan melangkah maju. Tanpa menoleh ke bawah, ia meletakkan telapak tangannya tepat di ujung meja yang tajam itu, menjadi bantalan empuk saat Valerie mengangkat kepalanya kembali.
Duk.
Kepala Valerie membentur punggung tangan Revan yang hangat dan keras, bukan kayu meja. Valerie membeku di bawah meja sejenak, lalu perlahan bangkit dengan wajah merah padam. Revan langsung menarik tangannya kembali dan melanjutkan penjelasan seolah-olah tidak terjadi apa pun. Hanya Valerie yang menyadari bahwa pria itu baru saja menyelamatkannya dari memar.
Tak lama kemudian, suhu di dalam kelas terasa agak gerah karena matahari siang yang menyengat melalui jendela besar. Valerie mengipasi lehernya dengan tangan, beberapa helai rambutnya yang halus menempel di pelipis karena keringat.
Revan yang sedang menulis di papan tulis mendadak berhenti. Tanpa diminta, ia berjalan menuju panel kontrol suhu di dekat pintu dan menekan tombol hingga bunyi bip terdengar tiga kali. Suasana kelas mendadak berubah sejuk dalam hitungan detik.
"Terlalu panas untuk berpikir jernih," ucap Revan datar pada seluruh kelas, padahal matanya sempat melirik sekilas pada Valerie untuk memastikan gadis itu tidak lagi merasa kepanasan.
Karin mencoret bukunya lagi dengan cepat. Penyelidikan Hari ke-2: Target memiliki insting protektif tingkat tinggi. AC diturunkan tepat saat Valerie berkeringat. Mencurigakan.
Jam Istirahat – Kantin Fakultas
"Val, menurutmu Pak Revan itu orangnya seperti apa kalau di luar kampus?" tanya Karin tiba-tiba sambil mengaduk jus jeruknya.
Valerie hampir tersedak. "Kenapa tanya begitu?"
"Ya, maksudku, dia itu kelihatannya sangat peduli pada detail, ya? Tadi saja dia tahu kalau AC-nya panas. Apa menurutmu dia tipe pria yang... perhatian pada istrinya nanti? Atau dia tipe yang akan menyiapkan air mineral dingin saat istrinya baru masuk mobil?" Karin memberikan pertanyaan jebakan, matanya mengawasi ekspresi Valerie.
Valerie terdiam, teringat kejadian kemarin di mobil saat Revan memberinya air mineral. "Mungkin... dia hanya profesional, Karin. Dia kan pengacara, instingnya kuat melihat ketidaknyamanan orang lain."
"Oh, begitu ya? Tapi tadi tangannya... kau sadar tidak kalau dia melindungimu dari pojok meja?"
"Benarkah? Aku... aku tidak merasakannya. Mungkin dia hanya ingin bersandar di meja," elak Valerie, mencoba mengontrol detak jantungnya.
Karin tersenyum misterius. Potongan puzzle di kepalanya mulai menyatu, namun gambarnya masih terlalu gila untuk ia percayai sepenuhnya.
"Kau tahu, Val? Jika aku tidak tahu dia itu 'Iblis', aku akan berpikir dia sedang jatuh cinta padamu. Tapi itu mustahil, kan? Dosen paling kaku se-Fakultas Hukum jatuh cinta pada mahasiswi Seni yang duduk di depan?" Karin tertawa, namun matanya tetap tajam. "Kecuali jika mereka punya rahasia yang tidak bisa diceritakan pada dunia."
Valerie hanya bisa tertawa kaku, berharap Karin tidak bisa mendengar suara jantungnya yang berdebar kencang.
Berita tentang Julian yang menjadi model anatomi di kelas Seni menyebar secepat api di musim kemarau. Bagi para mahasiswi, ini adalah berkah; bagi Karin, ini adalah bahan gosip baru; namun bagi Valerie, ini adalah awal dari bencana yang bisa dirasakan auranya bahkan dari gedung seberang.
Di kelas Seni sesi menggambar anatomi, suasana riuh rendah. Julian berdiri di podium kecil, sudah menanggalkan blazernya dan hanya mengenakan kaos v-neck putih yang pas di tubuhnya, menonjolkan proporsi tubuhnya yang atletis hasil latihan di Italia.
"Karena model kita hari ini berhalangan hadir, dan saya sedang punya waktu luang sebelum rapat senat, kenapa tidak?" ucap Julian dengan cengiran khasnya. Matanya sejak tadi tidak lepas dari Valerie yang duduk di baris tengah, memegang pensil sketsa dengan tangan gemetar.
"Pak Julian, tolong posisinya lebih tegak sedikit!" seru salah satu mahasiswi dengan wajah bersemu merah.
Julian terkekeh, ia menoleh ke arah Valerie dan mengedipkan sebelah mata. "Bagaimana, Valerie? Apa pencahayaannya sudah pas untukmu?"
Valerie hanya bisa menunduk, pura-pura fokus pada kertasnya. "I-iya, Pak. Sudah bagus."
Karin, yang duduk di sebelah Valerie, menyenggol lengannya. "Val, lihat! Pak Julian itu benar-benar tipe pria idaman. Spontan, ceria, dan tidak pelit berbagi ketampanan. Beda sekali dengan 'Seseorang' yang kalau lewat saja bisa membuat bunga layu karena kedinginan."
Valerie tidak menjawab. Namun, tiba-tiba bulu kuduknya meremang. Ia menoleh ke arah jendela besar studio lukis yang menghadap langsung ke arah koridor gedung Fakultas Hukum di seberang taman.
Di sana, di lantai dua, berdiri sosok tinggi dengan setelan hitam sempurna. Revanza Malik sedang berdiri di balik kaca, bersedekap, menatap lurus ke arah studio Seni. Meskipun jarak mereka cukup jauh, Valerie bisa merasakan intensitas tatapan suaminya. Revan tidak sedang memantau riset; dia sedang menyaksikan "pencurian perhatian" yang dilakukan Julian terhadap istrinya.