Di dunia yang penuh dengan keajaiban, di mana yang Abadi mampu membelah lautan dan menghancurkan gunung, di mana Akar Roh menjadi penentu antara yang fana dan yang Abadi, jiwa lain bangkit di tubuh manusia fana.
Dengan kitab harta karun yang ia peroleh, jiwa itu membawa tekad untuk bertahan di dunia yang kejam. Ia melangkah ke dunia kultivasi, menciptakan klan kultivasinya sendiri. Setiap langkah adalah perlawanan, setiap kemajuan dipenuhi berbagai rintangan dan cobaan.
Namun ia ditakdirkan untuk tidak menjadi biasa-biasa saja.
Ia ditakdirkan untuk mencapai sesuatu yang besar.
Saksikan bagaimana seorang manusia fana memulai jalan kebangkitan untuk klannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hdibibu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch.8 - Berburu (1)
“Uhh ya saya sudah di ambang terobosan menuju Pemurnian Qi,” jawab Yan Lei pelan.
“Pfftt..” Yan Wei, yang saat itu sedang meneguk teh hangat hampir tersedak. “Tunggu, kamu sudah mengaktifkan seluruh titik akupunturmu?” tanyanya tidak percaya.
Yan Lei hanya mengangguk pelan, tanpa ada niat untuk menjelaskan. Melihat itu, mereka bertiga menekan keterkejutan dalam hati mereka dan tidak bertanya lebih jauh.
Yan Sue dan Yan Jun kemudian turut menceritakan situasi Akar Roh mereka.
“Jadi...saudara ketiga, apa yang harus kita lakukan sekarang?” Yan Jun mempertanyakan hal yang paling mengganggunya. Mereka kini memulai jalan Abadi, hidup mereka praktis berubah. Menjalani hidup yang sama seperti sebelumnya tidak mungkin lagi.
Yan Lei terdiam. Merenung sesaat sebelum berkata, “untuk saat ini jangan beritahu siapa pun mengenai kebangkitan akar roh kalian,” ucapnya, “saya sendiri akan menjelajah dan melakukan kontak dengan kultivator lain setelah memasuki alam Pemurnian Qi.”
“Jika kita ingin berkembang lebih jauh, berhubungan dengan kultivator lain tidak bisa dihindari. Kita membutuhkan sumber daya untuk berkultivasi,” lanjutnya. “Terutama untuk Urat Nadi Spiritual. Itu adalah prioritas pertama.”
Mereka bertiga mengangguk serius. Mereka tahu bahwa Urat Nadi Spiritual sangat penting untuk kultivator.
Urat Nadi Spiritual mengandung energi spiritual yang sangat besar dan terletak jauh di perut bumi, dan terkadang, beberapa sulurnya kadang merambah jauh hingga ke permukaan, yang kemudian menciptakan lingkungan dengan kepadatan energi spiritual yang tinggi, yang pada akhirnya memenuhi kebutuhan para kultivator akan besarnya energi.
Hampir semua Urat Nadi Spiritual selalu muncul di gunung atau lembah, yang menjadi alasan mengapa para kultivator seolah berada jauh dari dunia manusia fana.
Mereka selalu menetap tepat di bawah Urat Nadi Spiritual, selalu berada di dalam jangkauan Urat Nadi Spiritual, sehingga menciptakan kesan seolah bersembunyi di antara gunung dan lembah.
“Tapi masih perlu menunggu waktu sebelum saya mencapai Pemurnian Qi,” sambung Yan Lei. “Jadi untuk saat ini, mari kita perbaiki kondisi hidup kita terlebih dahulu.”
Mendengar keinginan Yan Lei, Yan Wei mengangkat alisnya dengan penasaran. “Tapi bagaimana caranya?” tanyanya bingung.
"Satu-satunya harta dan sumber penghasilan kita hanyalah sepuluh mu lahan pertanian, dan bahkan jika kita menjualnya, itu tidak akan cukup.” (1 mu \= sekitar 660 meter persegi)
Yan Lei di sisi lain terkekeh pelan. “Apa kau lupa?” tanyanya pelan. “Kalian sekarang bukan lagi manusia biasa!”
Yan Wei dan Yan Sue masih bingung, namun Yan Jue langsung mengerti maksudnya. “Maksudmu berburu, kan?”
“Tepat,” angguk Yan Lei pelan. “Pegunungan di sekitar desa menyimpan banyak kekayaan., akan sia-sia jika kita tidak memaksimalkan potensi ini.”
Yan Sue di sisi lain ragu-ragu. “Tapi, kakak ketiga, pegunungan masih sangat berbahaya, terutama Beruang Merah dan Harimau Taring Empat yang masih sangat aktif di hutan.”
Yan Lei menggeleng pelan. “Saya tidak bilang besok,” ucapnya. “Tunggu sampai kalian membuka paling tidak sepuluh titik akupuntur. Kekuatan kalian seharusnya sudah setara dengan para ahli bela diri tingkat Bawaan saat itu.”
Mendengar penjelasannya, mereka langsung mengerti.
Dunia manusia fana memiliki sistem kekuatannya tersendiri. Meskipun sangat lemah dibanding Pemurnian Qi, mereka masih jauh lebih kuat dari manusia pada umumnya. Ada dua tingkatan total. Ahli bela diri tingkat Bawaan dan tingkat Master.
Ahli bela diri tingkat Bawaan merupakan sekelompok petarung dengan kekuatan yang mampu menghadapi belasan orang sekaligus. Tentu saja, menghadapi belasan orang bukan tentang kekuatan murni semata, tapi juga tentang keunggulan refleks, fleksibilitas tubuh dan indra yang tajam.
“Adapun saya,” ucap Yan Lei sedikit ragu-ragu, “seharusnya tidak ada yang bisa membahayakan nyawa saya di pegunungan meski sendirian.”
Dia tidak sedang sombong. Dengan kekuatannya saat ini, hanya Binatang Yao yang mampu membunuhnya.
Namun binatang Yao merupakan binatang spiritual yang kekuatannya setara dengan para kultivator, dan mereka hanya beraktivitas di lingkungan dengan kepadatan energi spiritual yang tinggi, yang jauh dari kehidupan manusia biasa.
Adapun Beruang Merah dan Harimau Taring Empat, ukuran mereka memang dua hingga tiga kali lebih besar dari ukuran normalnya, tetapi mereka masih tergolong binatang biasa. Mereka masih jauh dari kata cukup untuk membahayakannya.
Mereka bertiga tidak mengatakan apa-apa tentang hal itu. Kekuatan Yan Lei sudah mereka saksikan dengan sendirinya. Mereka lalu berbincang-bincang selama beberapa saat mengenai beberapa hal, sebelum masing-masing kembali melakukan aktivitas.
Yan Xie langsung menghilang. Bocah itu sudah berlari mencari teman-temannya, sementara Yan Wei dan Yan Jun menuju ladang. Salju yang menumpuk menunggu mereka untuk dibersihkan. Adapun Yan Sue, dia bertugas untuk membersihkan rumah dan menyiapkan makanan.
Yan Lei di sisi lain menuju gubuk kecil di halaman depan untuk mengambil sebuah tombak sepanjang dua meter, yang seluruh gagangnya terbuat dari kayu ulin yang keras dan ujungnya dilapisi oleh besi yang tajam.
Dia selalu terobsesi dengan tombak. Selama ini, ia selalu mengunjungi rumah paman-nya, yang berasal dari keluarga yang sama dengannya, Yan Feng, seorang pensiunan prajurit, untuk belajar teknik tombak.
Selama bertahun-tahun berlatih dengan tekun, pemahaman dan penguasan-nya sudah menyamai paman Yan Feng. Hanya fisiknya kala itu yang selalu membatasinya.
Namun kini, dengan peningkatan fisiknya, tombak seberat enam pon itu seringan rumput di tangannya. “Saya harus membuat tombak yang lebih berat,” gumamnya pelan.
Dia lalu mengambil parang dan beberapa tombak pendek dengan lapisan besi tajam di ujungnya; yang selalu ia gunakan sebagai lembing, dan mengikatnya di tubuhnya, lalu menuju dapur untuk membungkus beberapa ubi jalar,daging kering dan beberapa potong roti yang besar.
“Ini..kamu hampir lupa membawa air,” Yan Sue menyerahkan botol air kepada Yan Lei seraya menatapnya dengan khawatir. “Hati-hati di luar sana.”
“Jangan khawatir. Bahkan jika ada bahaya, saya pelari yang handal,” sahut Yan Lei dengan seringai.
Dia segera meninggalkan rumah. Di jalan, beberapa penduduk desa meliriknya dengan terkejut.
Siapa pun yang melihatnya akan tahu dia hendak berburu. Persenjataannya tidak seperti hendak menuju ladang.
Namun justru karena itu, beberapa meliriknya dengan bingung. Menjadi pemburu bukanlah perkara yang mudah, dan dengan keberadaan berbagai binatang mutasi, seperti Harimau Taring Empat atau Beruang Merah, resikonya pun semakin tinggi.
Bahkan para pemburu veteran di desa pun selalu pergi berkelompok, terkadang mencapai belasan untuk saling menjaga, karena bahkan ahli bela diri tingkat Bawaan pun akan lari jika bertemu dengan binatang seperti Harimau Taring Empat.
Hanya ahli bela diri Master yang berani menghadapinya, satu lawan satu, dengan peluang menang 50-50.
Salah satu penduduk yang mengenal Yan Lei, seorang pria berusia 30-an tahun, memanggilnya dengan curiga. “Lei’er, kau mau berburu seorang diri?”
“Ohh paman Chen Lu!” sahut Yan Lei dengan terkejut. “Ku dengar kau sedang jatuh sakit, sepertinya sudah baik-baik saja?”
Rencana saya update 2 chapter/hari.
Bagi kawan2 yang menyukai cerita ini, bantu like dan komen skuyy.
Dukungan kalian jadi motivasi buat Author.
Salam membaca, Salam dari dunia kultivasi. Gua tunggu lu pada di sana.