NovelToon NovelToon
Chasing Her, Holding Him

Chasing Her, Holding Him

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / One Night Stand / Tamat
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Aku adalah saksi dari setiap cintamu yang patah, tanpa pernah bisa memberitahumu bahwa akulah satu-satunya cinta yang tak pernah beranjak."

Pricillia Carolyna Hutapea sudah hafal setiap detail hidup Danesha Vallois Telford
Mulai dari cara laki-laki itu tertawa hingga daftar wanita yang pernah singgah di hatinya.
Sebagai sahabat sejak kecil, tidak ada rahasia di antara mereka. Mereka berbagi ruang, mimpi, hingga meja kuliah yang sama. Namun, ada satu rahasia yang terkunci rapat di balik senyum tenang Pricillia, dia telah lama jatuh cinta pada sahabatnya sendiri.

Dunia Pricillia diuji ketika Danesha menemukan ambisi baru pada sosok Evangeline Geraldine Mantiri, primadona kampus yang sempurna. Pricillia kini harus berdiri di baris terdepan untuk membantu Danesha memenangkan hati wanita lain.

Di tengah tumpukan buku hukum dan rutinitas tidur bersama yang terasa semakin menyakitkan, Pricillia harus memilih, terus menjadi rumah tempat Danesha pulang dan bercerita tentang wanita lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Pagi itu, sinar matahari menembus celah gorden apartemen, menciptakan garis-garis emas di atas sprei yang berantakan. Amelie menggeliat, merasakan hangatnya selimut dan sisa-sisa aroma Alex yang masih tertinggal di bantalnya. Ia tersenyum kecil mengingat malam tadi, malam di mana ia akhirnya merasa utuh kembali.

Namun, saat ia melangkah ke kamar mandi dan menyalakan lampu, senyum itu seketika lenyap.

Amelie terpaku di depan cermin besar. Di sana, tepat di ceruk lehernya yang putih, terpampang sebuah tanda kemerahan yang sangat jelas, sebuah tanda merah dilehernya yang mencolok dan seolah berteriak bahwa ia telah ditandai.

"ALEXANDER LAMBERT!" teriak Amelie dari dalam kamar mandi, suaranya menggema ke seluruh ruangan.

Alex, yang saat itu sedang berada di kamar, sama sekali tidak terkejut. Ia justru sedang dengan santainya merapikan tempat tidur, menarik sprei hingga kencang kembali dengan gerakan yang sangat tenang.

"Alex! Kapan kau melakukan hal ini?!" Amelie keluar dari kamar mandi dengan wajah memerah, jemarinya menutupi tanda itu seolah-olah bisa menghapusnya. "Aku ada rapat penting siang ini, Alex! Bagaimana cara aku menutupinya?!"

Alex menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia berbalik, menatap Amelie dengan tatapan yang sangat mirip dengan Danesha saat sedang merasa puas. Sebuah terkekeh kecil lolos dari bibirnya saat ia melihat kekacauan di wajah wanita yang dicintainya itu.

"Entahlah, Sayang. Mungkin saat kamu sedang tidur sangat nyenyak di pelukanku?" jawab Alex dengan nada tanpa dosa. Ia berjalan mendekat, memperkecil jarak hingga Amelie terdesak ke pinggiran tempat tidur.

"Kamu gila! Ini sangat terlihat!" keluh Amelie, namun jantungnya justru berkhianat dengan berdetak lebih kencang.

Alex meraih tangan Amelie, menjauhkannya dari leher wanita itu agar ia bisa melihat karya nya dengan jelas. Ia mengusap tanda kemerahan itu dengan ibu jarinya, memberikan tatapan yang sangat posesif.

"Itu agar semua orang di firma hukum mu tahu bahwa Direktur mereka sudah ada yang punya," bisik Alex, suaranya serak khas bangun tidur. "Anggap saja itu pengganti karena semalam aku sudah bersabar dengan sangat baik mengikuti latihan pengendalian diri darimu."

Amelie mendengus kesal, meski sebenarnya ia merasa ada kehangatan aneh yang menjalar di dadanya. "Kamu benar-benar mirip Ayahmu. Licik."

"Dan kamu benar-benar mirip Ibuku," balas Alex sambil mengecup pucuk kepala Amelie. "Sangat pandai mengontrol ku, tapi tetap saja tidak bisa menolak hadiah dariku."

Alex kemudian melepaskan Amelie dan kembali merapikan bantal. "Pakai saja turtleneck atau syal, Amelie. Aku yakin Direktur yang cerdas sepertimu punya seribu cara untuk menutupi jejak ini."

Amelie hanya bisa menatap punggung Alex dengan perasaan campur aduk. Ia tahu, perjalanannya kembali bersama Alex tidak akan pernah membosankan.

Genetik Lambert memang tidak bisa dijinakkan sepenuhnya; mereka akan selalu mencari celah untuk menunjukkan siapa yang berkuasa.

Pagi yang seharusnya tenang di apartemen mewah itu tiba-tiba berubah menjadi hiruk-pikuk. Bel pintu berbunyi berkali-kali, dan saat Amelie membukanya, ia terbelalak melihat barisan pelayan berseragam rapi membawa koper-koper besar bermerek mahal ke dalam unitnya.

"Apa-apaan ini, Alex?!" Amelie berteriak, matanya menatap koper-koper itu seolah-olah itu adalah barang ilegal. "Apa kau berniat tinggal di apartemen ini bersamaku?"

Alex, yang masih santai dengan kemeja yang sedikit berantakan, berjalan mendekat dengan wajah tanpa dosa. "Ya, Sayang. Aku akan tinggal di sini bersamamu. Bukankah lebih efisien jika kita tidak perlu bolak-balik antar apartemen?"

Seketika, rasa horor menjalar di sekujur tubuh Amelie. Bayangan kejadian semalam, saat ia merasakan gairah Alex yang menegang di balik punggungnya, kembali berputar di kepalanya. Jika hanya menginap semalam saja ia sudah harus berjuang ekstra keras menahan badai Lambert, bagaimana jika pria itu tinggal di sini selamanya?

"Alex! Awas saja kalau kamu minta hal yang macam-macam!" Amelie menunjuk wajah Alex dengan jari gemetar, mencoba bersikap galak meski wajahnya memerah. "Aku tidak segan-segan mengusir mu kalau kamu tidak bisa menjaga tanganmu!"

Alex hanya terkekeh pelan, suara tawanya yang berat terdengar begitu seksi sekaligus menyebalkan. Bukannya takut, ia justru maju dan mencoba memeluk Amelie dari belakang. "Kita lihat saja nanti, Amelie. Siapa yang akan menyerah duluan."

"Iih! Menjauh dariku, Alexander!" Amelie segera berbalik dan lari menghindar, menyusuri lorong apartemennya menuju ruang tengah.

"Mau lari ke mana, Sayang? Tidak ada tempat bersembunyi di sini," goda Alex sambil mulai mengejarnya.

Langkah kaki mereka beradu di atas karpet mahal, diiringi suara tawa Alex dan teriakan protes Amelie yang lebih terdengar seperti candaan. Di tengah pengejaran itu, Amelie sempat berpikir bahwa meskipun ia merasa terancam secara fisik oleh kehadiran Alex, ia tidak bisa memungkiri bahwa apartemennya yang dingin kini terasa jauh lebih hidup.

Alex akhirnya berhasil menangkap pinggang Amelie di dekat sofa, menjatuhkan wanita itu ke tumpukan bantal sambil ikut merebahkan dirinya di sampingnya.

"Dapat," bisik Alex, napasnya memburu di telinga Amelie. "Kamu tidak akan bisa lari dariku lagi, Amelie. Lima tahun sudah cukup untuk membuatku belajar cara mengunci mangsaku agar tidak bisa kabur."

Amelie hanya bisa terengah-engah, menatap langit-langit apartemennya sambil merasakan jantungnya berdebar kencang. Ia tahu, hidupnya mulai hari ini tidak akan pernah tenang lagi, tapi entah mengapa, ia tidak ingin berada di tempat lain selain di sini, bersama pria berbahaya ini.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
Retno Isusiloningtyas
mdh2an happy ending
Retno Isusiloningtyas
mmm....
masih nyimak 🤣
Paon Nini
sinting
falea sezi
ngapain ngintil mulu g ada krjaan mending prgi sejauh nya lah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!