NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Dewi Dosa

Reinkarnasi Dewi Dosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Dikelilingi wanita cantik / Harem
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: Chizella

Genre: Fantasi-Wanita, Reinkarnasi, Petualangan, Aksi, Supernatural, Misteri, Kultivasi, Sihir.

[On Going]

Terbangun di hutan asing tanpa ingatan, Lin Xinyi hanya membawa satu hal bersamanya—suara misterius yang menanamkan pengetahuan sihir ke dalam pikirannya.

Di dunia di mana monster berkeliaran dan hukum kekuatan menentukan siapa yang hidup dan mati, ia dipaksa belajar bertahan sejak langkah pertama.

Siapakah sebenarnya Lin Xinyi?

Dan kenapa harus dia? Apakah dia adalah pembawa keberuntungan, atau pembawa bencana?

Ini adalah kisah reinkarnasi wanita yang tak sengaja menjadi dewi.

2 hari, 1 bab! Jum'at libur!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 11 — Sifat Kekanak-kanakan

Angin sepoi menyentuh kulit, membawa aroma alam yang segar. Dedaunan berbisik pelan, seakan menyampaikan rahasia yang tak bisa dimengerti manusia.

Xinyi perlahan membuka matanya. Hal pertama yang tertangkap pandangannya adalah hamparan rumput hijau, lalu sebuah pohon besar yang tampak tidak wajar, menjulang tinggi dengan batang tebal yang dipenuhi guratan aneh.

"Dimana aku?" tanyanya pelan.

Xinyi mengusap matanya, lalu mengalihkan pandangan ke bawah pohon.

Di sana terdapat dua orang wanita. Salah satunya berambut putih, tertidur bersandar pada batang pohon. Namun ada sesuatu yang janggal. Tubuh itu tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Meski dari kejauhan, Xinyi dapat merasakan bahwa wanita itu tidak bernapas.

Di sampingnya duduk seorang wanita berambut hitam. Matanya merah cerah, namun dipenuhi kesedihan yang dalam. Tak ada senyum, hanya penyesalan yang tertinggal di wajahnya.

Wanita itu perlahan menyentuh tangan wanita berambut putih.

"Sion..."

Xinyi yang menyaksikan dari kejauhan tiba-tiba merasakan nyeri menusuk di kepalanya. Seakan ia mengetahui sesuatu, namun ingatan itu masih terhalang kabut tebal.

"Siapa kalian," Xinyi bertanya sambil memegangi kepalanya.

Tak ada jawaban. Wanita berambut hitam itu bahkan tidak menoleh. Pandangannya tetap terpaku pada sosok berambut putih di hadapannya.

"Kenapa... malah jadi seperti ini..."

Xinyi terus memperhatikan mereka.

Ia langsung tahu bahwa kedua wanita itu memiliki energi abadi, hanya dengan melihat keberadaan mereka. Namun keduanya terasa tidak normal. Yang satu tidak memiliki Mana, sementara yang lain tidak memiliki energi kehidupan.

"Apa dia mati?"

Meski ragu, Xinyi tetap bertanya.

"Tidak..."

Wanita berambut hitam akhirnya menjawab, meski wajahnya tetap menghadap ke depan.

"Dia hanya... menyatu denganku. Hidup tapi mati, mati tapi hidup."

Kata menyatu membuat Xinyi terdiam. Ia tidak memahami maknanya, namun jantungnya berdenyut aneh.

"Tempat apa ini sebenarnya?" Xinyi kembali bertanya.

Wanita berambut hitam itu perlahan menoleh. Gerakannya lembut, hampir seperti aliran angin. Mata merahnya menatap langsung ke arah Xinyi.

Sekejap, tubuh Xinyi bergetar hebat. Seolah sesuatu di dalam dirinya bereaksi terhadap tatapan itu.

Tangan wanita itu terangkat, mengarah lurus ke depan.

"Kau terlalu lemah untuk berada di sini."

Xinyi berkedip.

"Pergi."

Tepat saat telapak tangan wanita itu menutup, dunia di hadapan Xinyi runtuh seketika.

Pemandangan di sekelilingnya retak seperti kaca yang dihantam dari pusatnya. Garis kehancuran menjalar cepat ke segala arah dalam sudut pandangnya.

Xinyi tak sempat berteriak.

Dalam satu tarikan napas, tempat berpijak itu menghilang.

Tanah, langit, dan cahaya runtuh bersamaan.

Tubuh Xinyi terlempar ke dalam kehampaan tanpa dasar. Tak ada arah, tak ada pegangan. Hanya kegelapan yang menelan keberadaannya, sementara suaranya sendiri tenggelam dalam sunyi yang tak berujung.

Ia jatuh.

"HUAAAAA!"

Xinyi tersentak bangun. Ia terduduk di atas ranjang empuk. Keringat mengalir di dahinya, napasnya tidak teratur.

Pandangan matanya berkeliling. Kamarnya. Rumah tempat ia tinggal bersama Xun'er.

Ruangan itu kecil dan sederhana. Cukup untuk sebuah ranjang, sebuah meja, dan jendela yang menghadap ke jalan tanah di luar.

"Hanya mimpi...?"

Xinyi memegangi wajahnya dengan tangan kiri. Kulitnya basah dan hangat.

"Apa-apaan itu tadi, rasanya sangat nyata. Aku merasa seperti akan mati saat terjatuh."

Ia lalu menyadari tangan kanannya menggenggam sesuatu. Perlahan ia mengangkat benda itu ke depan wajahnya.

"Kubus?"

Benda itu berbentuk kubus seperti kristal. Permukaannya kasar namun berkilau. Dari dalamnya terpancar energi kuat yang membuat udara di sekitarnya terasa berat.

"Sejak kapan aku memiliki ini."

Saat Xinyi masih menatap kubus itu, pintu kamarnya terbuka.

Xun'er berdiri di ambang pintu. Ia memandangi Xinyi sejenak, lalu berlari kecil mendekat.

Xun'er langsung naik ke atas ranjang, membuat kasur sedikit bergoyang. Ia melingkarkan kedua lengannya pada tubuh Xinyi yang masih duduk.

"Tu—tunggu. Ada apa, Xun'er?" tanya Xinyi yang terkejut karena dipeluk tiba-tiba.

"Syukurlah... kupikir kau sudah..."

Xinyi yang awalnya bingung tersenyum. Tangannya terangkat dan menepuk ringan kepala Xun'er.

"Ayolah, Xun'er. Kau seperti anak kecil saja."

"Diam, padahal biasanya kau yang seperti anak kecil. Bukankah tidak apa-apa jika terbalik sesekali," Xun'er mengucapkannya pelan. Namun Xinyi tetap mendengarnya dengan jelas.

Xinyi hanya tersenyum karena tak bisa membantahnya.

"Aku sangat khawatir. Kau terlalu gegabah, kau membuatku takut."

"Iya, iya. Aku juga tidak tau. Sejak terkena oleh petir pertama, seperti ada yang bangkit. Namun aku juga masih tidak mengingat apapun."

"Jangan lakukan itu lagi, ya."

"Aku tau itu."

Xinyi mengelus rambut putih Xun'er dengan lembut. Rambut itu terasa halus dan hangat di telapak tangannya, membuatnya enggan berhenti.

Tiga puluh menit berlalu dengan Xun'er yang masih memeluk Xinyi erat, seolah takut kehilangannya kapan saja. Xinyi tidak keberatan. Ia sendiri memang tidak memiliki rencana apa pun hari ini dan kehangatan pelukan itu membuat tubuhnya terasa lebih tenang.

Perlahan Xun'er mengubah posisinya. Ia berbaring di paha Xinyi, namun kedua lengannya masih melingkar di pinggang Xinyi karena wajahnya menghadap ke arah perutnya. Napasnya terdengar teratur, hangat, dan menenangkan.

"Hei, Xun'er."

"Hmm?"

"Sudah berapa lama aku tertidur?"

"Lima hari."

"Lima hari, yah... eh—HAHHHH!"

"Xinyi, berisik."

Xinyi langsung terdiam mendengar teguran itu.

"Lima hari, bisa-bisa aku tertidur selama itu..." kali ini suaranya jauh lebih pelan.

"Karena itulah juga, kupikir kau tidak akan bangun lagi... untunglah."

Xinyi benar-benar tidak menyangka dirinya tertidur selama itu. Namun anehnya, tubuhnya terasa ringan. Tidak ada rasa kaku atau nyeri seperti orang yang lama tidak bergerak.

Ia menutup matanya perlahan, membiarkan Mana mengalir ke seluruh tubuhnya.

"Tingkat 5?"

Aliran Mana terasa jauh lebih murni dan stabil. Selain itu, ada perubahan halus pada kekuatan fisiknya, meski ia belum sempat mengujinya secara langsung.

"Xun'er, bagaimana keadaan desa sekarang?"

Xun'er melepaskan pelukannya. Ia kemudian memutar tubuhnya hingga telentang, menatap wajah Xinyi dari bawah.

"Tetua Miju Xie mengurusnya, karena petaka telah dilewati maka kutukan untuk kami ditarik kembali. Kekuatan orang-orang desa juga sudah kembali normal."

"Itu kabar yang bagus."

"Ngomong-ngomong desa banyak berkembang dalam lima hari ini. Orang-orang mulai memperbaiki desa dengan sihir mereka kerena sudah mampu melakukannya. Bahkan anak-anak juga bisa ikut, semuanya bekerjasama membangun kembali desa ini jadi lebih baik."

"Lalu bagaimana denganmu? Tidak masalah kalau hanya bermalas-malasan di sini?"

"Tetua menyuruhku untuk menjagamu, jadi aku bisa diam di sini. Lagipula kau itu sudah dianggap sebagai Dewi untuk desa ini, jadi harus ada yang melindungimu."

"Aku? Dewi?"

"Ya. Kau sebagai pemimpin desa ini sekarang."

"Apaaa! Tidak, tidak mau!"

Xun'er terlihat bingung melihat reaksi berlebihan itu.

"Kenapa? Bukankah kau berjuang untuk itu."

"Tidak, sama sekali tidak! Aku hanya tidak mau kalian menganggapku ancaman. Tidak mau jadi dewi."

Xun'er tersenyum kecil, ekspresinya sedikit mengejek.

"Karena sudah terjadi, maka tidak bisa kau tolak, Xinyi."

"Tidak mau, tidak, tidak, tidak, tidak!" Xinyi mulai merengek seperti anak kecil yang keinginannya tidak dituruti.

"Hentikan itu, Xinyi. Bagaimana jika ada yang melihat!"

"Tidak perduli, tidak mau! Pokoknya tidak mau!"

Xun'er akhirnya bangkit karena Xinyi masih bertingkah kekanak-kanakan. Ia meraih telinga Xinyi dan menariknya pelan namun tegas.

"Aaa—aduhh sakit, Xun'er!"

"Sudah kubilang, diam dulu, Xinyi!"

"I—iyaa."

Xun'er menghela napas panjang, tampak lelah menghadapi sifat Xinyi yang perlahan kembali. Ia kemudian melepaskan telinga Xinyi.

"Jadilah Dewi, hanya kau saja harapan kami. Orang-orang desa mempercayaimu sekarang, jika kau menghilang maka siapa lagi yang bisa membantu kami. Siapa lagi yang bisa mereka percaya."

Xinyi menundukkan kepalanya. Kata-kata itu terasa berat. Ia mengerti, meski kutukan telah berakhir, desa ini tetap membutuhkan seseorang untuk memimpin dan melindungi mereka.

"Bagaimana dengan Tetua Miju Xie?" tanyanya.

"Banyak orang sudah mencapai tingkat 4 setelah terbebaskan. Jadi Tetua Miju Xie sudah tidak cocok untuk memimpin mereka. Yang tersisa hanya kau... Xinyi."

Xinyi perlahan mengangkat kepalanya dan menatap Xun'er.

"Baiklah... aku akan melakukannya. Tapi, kau harus ada di sisiku, untuk membantuku."

Bibir Xun'er kembali melengkung membentuk senyum lembut.

"Tentu saja, aku akan ada di sisimu. Melindungimu, menyayangimu, merawatmu. Semuanya akan kulakukan."

"Agak berlebihan, tapi oke."​

1
Kabuki
turut lega thor. akhirnya Xinyi berhasil ngalahin petaka petir ketiga 😭
Kabuki
aww co cwitt
Kabuki
ini klo di anime, lagu opening udh di stel nih🤭
Anindita Annazwa: bwahahaha😭 iya lagi
total 1 replies
Kabuki
ahh souka? agak kejam juga tetua Yuan xi. menyuruh orang luar yang tak tahu apa², untuk membebaskan kaum darah berdosa dari kutukan dengan ritual petaka petir/Frown/
Anindita Annazwa: karena dia di anggap sebagai 'orang itu' yg entah siapa🗿
total 1 replies
Kabuki
kecewa? buat apa penduduk asli kecewa terhadap orang luar? bukannya mereka cuma penasaran aja sama xinyi?😌
Anindita Annazwa: udh nyentuh petir ke 3 soalnya, satu2nya yg berhasil kesitu
total 1 replies
Kabuki
biasa gundule. dia imo jir
Kabuki
slurrppp ak jga mw😋
ユリ
sadis
ユリ
mengejutkan😱
ユリ
entah kenapa dia terlalu percaya diri
ユリ
terlalu op😱
元元
Masterpiece, dah gtu aj
元元
KOK BISA GINIII!
元元
bjirr, apa-apaan iniii
Panda
aku penasaran sama nama malingsheng ini deh kak

apa ada sejarah dengan nama itu?
Jing_Jing22
dia tangguh dan kuat kita lihat saja apa yang akan terjadi dengan xinyi, sementara takdir dia tidak bisa mati
Jing_Jing22
xinyi masih bisa bertahan saja itu sudah keajaiban untukmu
CACASTAR
petaka petir apa itu
CACASTAR: iya dah, apa kata Thor deh, saya nyimak baca cerita aja
total 3 replies
putri bungsu
seperti nya dia terlalu bersemangat untuk menguji kekuatan nya sendiri
Kabuki
ganbatte Xinyi! teruslah bertahan. karena tinggal satu Sambaran petir lagi/Determined//Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!