"Lin Suyin mewarisi gelang giok dari neneknya—sebuah portal menuju dimensi ajaib tempat waktu berjalan 10x lebih cepat dan semua tanaman tumbuh sempurna. Tapi keajaiban ini membawa bahaya: ada yang memburu gelang tersebut. Bersama Xiao Zhen, CEO misterius dengan rahasia masa lalu, Suyin harus melindungi ruang ajaibnya sambil mengungkap konspirasi kuno yang menghubungkan keluarganya dengan dunia kultivator."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Kedatangan Klan Xiao
Senin siang, Suyin baru selesai delivery ke Bu Lina dan Mas Arief ketika ponselnya bergetar dengan pesan dari Xiao Zhen.
"Lima anggota Klan sudah tiba. Pulang secepat mungkin. Kita perlu briefing bersama."
Suyin langsung meminta sopir untuk kembali ke villa. Di perjalanan, dia menatap keluar jendela sambil memikirkan apa yang akan terjadi siang ini.
Lima kultivator Klan Xiao. Orang-orang yang hidupnya penuh dengan pertarungan dan kekuatan spiritual. Suyin penasaran sekaligus sedikit gugup—bagaimana reaksi mereka melihat dia, wanita desainer interior biasa yang baru belajar kultivasi beberapa hari?
Mobil memasuki gerbang villa. Suyin turun dan langsung menuju ruang utama.
Di sana, duduk lima orang yang langsung membuat Suyin tersadar bahwa "anggota Klan Xiao" bukan orang sembarangan.
Mereka tampak biasa secara fisik—usia antara dua puluhan sampai empat puluhan, berpakaian kasual. Tapi aura yang mereka pancarkan sama sekali tidak biasa. Tenang, terkontrol, tapi ada kekuatan di balik ketenangan itu—seperti permukaan laut yang tenang menyembunyikan arus kuat di bawahnya.
Xiao Zhen berdiri di depan mereka, memperkenalkan Suyin saat dia masuk.
"Ini Lin Suyin. Pemilik Ruang Dimensi Giok yang akan kita lindungi di acara reuni keluarga Lin lima hari lagi." Xiao Zhen beralih ke lima orang itu. "Suyin, kenalkan tim kita."
Seorang pria bertubuh besar dengan wajah tenang melangkah maju. "Wei Hao. Aku ahli formasi pelindung dan pertahanan." Suaranya seperti gemuruh pelan.
Seorang wanita berambut pendek dengan mata tajam. "Chen Ling. Spesialis pengintaian dan deteksi energi spiritual." Singkat dan langsung.
Pria bertubuh ramping dengan senyum santai. "Liu Peng. Aku bisa menyamar dan infiltrasi. Jangan khawatir, aku sudah terbiasa berpura-pura jadi pelayan." Winking ke Suyin.
Wanita berambut panjang dengan wajah anggun. "Zhao Mei. Ahli ramuan dan pengobatan kultivator." Suaranya lembut tapi matanya serius.
Pria paling muda—tampaknya awal dua puluhan—yang berdiri paling belakang. "Zhang Wei. Aku lebih kuat dari kelihatannya." Polos tapi percaya diri.
Suyin mengangguk ke masing-masing, berusaha tidak terlihat intimidasi meski sebenarnya sedikit terkesan. "Senang berkenalan dengan kalian semua."
"Duduk," perintah Xiao Zhen, dan semua orang langsung mengambil tempat di ruang tamu yang sudah ditata untuk briefing—peta, foto-foto lokasi, dan beberapa dokumen tersebar di meja besar.
Xiao Zhen mulai menjelaskan situasinya—tentang Organisasi Bayangan, tentang acara reuni keluarga Lin, tentang ancaman yang sudah diterima Suyin dan Meifeng. Dia berbicara dengan jelas dan terstruktur, seperti seorang jenderal yang merencanakan operasi.
Wei Hao langsung mengambil peta lokasi reuni. "Rumah keluarga besar Lin di Menteng. Area cukup luas—ada halaman depan, ruang utama, taman belakang, dan beberapa ruangan tambahan." Dia menunjuk beberapa titik. "Titik rawan di sini, sini, dan sini. Pintu masuk samping yang bisa digunakan untuk masuk diam-diam, area taman yang terlalu terbuka, dan koridor panjang menuju kamar-kamar."
"Aku akan pasang formasi pelindung di seluruh perimeter," lanjut Wei Hao. "Tidak akan terlalu kuat sampai terlihat atau terasa oleh tamu biasa, tapi cukup untuk memperlambat kultivator yang mencoba masuk tanpa izin."
Chen Ling mengambil alih. "Aku akan hadir sebagai tamu di dalam. Posisiku akan di area yang paling bisa memantau semua pintu masuk. Kalau ada kultivator Organisasi Bayangan yang masuk ke perimeter, aku yang pertama tahu."
"Liu Peng menyamar sebagai pelayan," lanjut Xiao Zhen. "Zhao Mei sebagai tamu undangan dari pihak jauh—dia akan memastikan kalau ada yang terluka, ditangani segera. Zhang Wei di luar area sebagai cadangan bersama aku."
"Kamu?" Suyin menoleh ke Xiao Zhen. "Kamu tidak masuk ke dalam?"
"Aku akan di dalam bersamamu sepanjang waktu. Zhang Wei dan satu orang lagi di luar sebagai lapis pertahanan kedua kalau ada yang berhasil menembus perimeter."
Chen Ling menatap Suyin dengan tatapan menilai. "Level kultivasi kamu sekarang di mana?"
Suyin merasa sedikit tidak nyaman dievaluasi seperti itu. "Baru beberapa hari. Bisa bentuk barrier dasar dan langkah kilat. Belum banyak."
"Terlalu sedikit untuk situasi ini," ucap Chen Ling terus terang—bukan kejam, tapi faktual.
"Chen Ling," tegur Xiao Zhen dengan nada peringatan.
"Aku cuma bilang fakta," Chen Ling mengangkat bahu. "Tapi—" dia menatap Suyin lagi, kali ini dengan sedikit respek—"untuk beberapa hari latihan, itu tidak buruk. Kultivasimu meningkat cepat sekali."
"Dia punya potensi bawaan yang kuat," kata Xiao Zhen. "Dan dengan lima hari latihan intensif lagi, dia setidaknya bisa melindungi diri dari serangan tingkat rendah."
Wei Hao mengangguk pelan. "Kalau begitu kita perlu memaksimalkan latihan lima hari ini. Aku bisa bantu. Ada beberapa teknik pertahanan dasar yang bisa dipelajari dalam waktu singkat—biasanya butuh sebulan, tapi dengan bimbingan intensif dan bakat yang tepat, mungkin bisa lima hari."
"Aku juga bisa bantu dengan ramuan penguat Qi," tambah Zhao Mei sambil membuka tas kecil. Dia mengeluarkan beberapa botol kecil berisi cairan berwarna berbeda. "Ramuan ini akan mempercepat sirkulasi Qi dalam tubuh. Efeknya sementara, tapi selama acara itu berlangsung, Qi kamu akan lebih stabil dan kuat."
Suyin menatap botol-botol itu. "Aman?"
"Aku yang membuatnya. Tentu aman." Zhao Mei tersenyum tipis. "Minumlah satu botol hijau malam sebelum acara dan satu lagi pagi hari acara itu. Jangan lebih dari itu."
"Terima kasih." Suyin mengambil botol-botol yang diberikan Zhao Mei.
Briefing berlanjut selama hampir dua jam—detail demi detail dibahas, skenario kemungkinan dipertimbangkan, rencana cadangan disiapkan. Suyin mendengarkan semuanya dengan serius, mencatat hal-hal penting di ponsel.
Semakin lama dia mendengarkan, semakin dia menyadari betapa seriusnya ancaman yang sedang dihadapi. Ini bukan main-main.
Tapi alih-alih takut, Suyin justru merasa lebih siap. Ada tujuh orang termasuk dirinya yang akan berjuang di pihaknya. Dia tidak sendirian.
Setelah briefing selesai, lima anggota Klan Xiao menerima kamar masing-masing di villa untuk menginap sampai acara reuni.
Saat semua orang bubar, Suyin duduk sendirian di sofa, menatap catatan di ponselnya. Begitu banyak informasi yang harus dicerna.
"Bagaimana perasaanmu?" Suyin menoleh—Xiao Zhen berdiri di sampingnya.
"Realistis," jawab Suyin jujur. "Aku tahu ini berbahaya. Tapi aku juga tahu kita sudah mempersiapkan sebaik mungkin."
Xiao Zhen duduk di sebelah Suyin. "Ada yang mengganggu pikiranmu?"
Suyin terdiam sebentar. "Keluargaku di sana. Paman, bibi, sepupu-sepupu jauh yang tidak tahu apa-apa. Kalau terjadi apa-apa kepada mereka karena aku..."
"Tidak akan terjadi," ucap Xiao Zhen dengan keyakinan. "Itu yang kita pastikan dengan semua persiapan ini."
"Kamu tidak bisa menjamin itu."
"Tidak seratus persen. Tapi aku bisa jamin bahwa aku akan lakukan segalanya agar mereka aman." Xiao Zhen menatap Suyin. "Percaya padaku?"
Suyin menatap mata cokelat gelap itu—mata yang sudah banyak menyaksikan hal-hal yang Suyin bahkan tidak bisa bayangkan. Mata yang menyimpan luka tapi juga kekuatan yang luar biasa.
"Percaya," ucap Suyin.
Dan dia benar-benar percaya.
Sore itu, latihan dimulai lagi—tapi kali ini dengan tambahan Wei Hao sebagai instruktur teknik pertahanan.
Pria besar itu ternyata guru yang sangat baik—sabar dan metodis dalam menjelaskan.
"Barrier spiritual yang kamu bentuk sudah cukup kuat untuk pemula," kata Wei Hao setelah Suyin mendemonstrasikan kemampuannya. "Tapi ada kelemahannya—terlalu bergantung pada konsentrasi. Kalau kamu kaget atau terganggu, barrier langsung jebol."
"Bagaimana cara memperbaikinya?"
"Latihan sampai barrier menjadi refleks, bukan pilihan sadar." Wei Hao mengambil posisi. "Aku akan menyerangmu dari berbagai arah secara tiba-tiba. Tugasmu adalah mempertahankan barrier meski terkejut. Siap?"
Sebelum Suyin sempat menjawab, Wei Hao sudah bergerak—muncul tiba-tiba di sebelah kanan Suyin dan menyerang.
Suyin refleks mengaktifkan barrier—tapi terlambat. Serangan Wei Hao—yang sudah ditahan kekuatannya—tetap menembus dan mendorong Suyin mundur beberapa langkah.
"Kurang cepat. Lagi."
Mereka berlatih berulang kali—Wei Hao menyerang dari berbagai arah dan timing yang tidak terprediksi. Suyin terjatuh, bangkit, terjatuh lagi.
Di satu sisi lapangan, Xiao Zhen berdiri mengamati dengan tangan menyilang. Setiap kali Suyin jatuh, alisnya berkerut—tapi dia tidak mengintervensi. Dia tahu Wei Hao tahu batas kemampuan Suyin.
Setelah lima puluh kali percobaan, akhirnya barrier Suyin mulai aktif lebih cepat. Bukan sempurna, tapi ada progres yang jelas.
"Lebih baik," Wei Hao mengangguk. "Lima hari lagi dengan intensitas seperti ini, barrier-mu akan jauh lebih handal."
Suyin duduk di rumput, napas tersengal-sengal, seluruh badan terasa sakit.
Liu Peng—pria ramping yang santai—menghampiri dengan botol air. "Ini. Kamu butuh ini."
"Terima kasih." Suyin minum dengan rakus.
"Kamu tangguh ya," ucap Liu Peng santai sambil duduk di sebelah Suyin. "Tadi jatuh hampir tiga puluh kali dan tidak minta berhenti sekali pun."
"Tidak punya pilihan lain."
"Ada pilihan lain. Kamu bisa minta berhenti kapanpun. Tapi kamu tidak melakukannya." Liu Peng tersenyum. "Klan Xiao melindungi banyak orang. Tapi jarang sekali yang dilindungi seperjuang ini untuk melindungi dirinya sendiri."
Kata-kata itu menyentuh hati Suyin. "Aku tidak mau bergantung sepenuhnya pada orang lain. Apapun yang terjadi."
"Sifat yang baik." Liu Peng berdiri, melirik ke arah Xiao Zhen yang masih berdiri jauh. "Omong-omong, Tuan Muda Xiao tadi menahanku tiga kali untuk menghentikan latihan dan memeriksa kondisimu. Tapi ditahan sama Wei Hao yang bilang kamu butuh pengalaman jatuh dan bangkit sendiri."
Suyin melirik Xiao Zhen. Pria itu masih berdiri di tempat yang sama, tapi kini matanya bertemu dengan mata Suyin dari kejauhan.
Ada kekhawatiran di mata itu—yang cepat disembunyikan begitu Xiao Zhen sadar Suyin memperhatikan. Dia berbalik, berjalan masuk ke dalam villa.
Suyin menahan senyum.
Perasaan yang seharusnya tidak dimiliki seorang pelindung, pikir Suyin mengingat kata-kata Xiao Zhen.
Tapi Suyin senang dia memilikinya.
Malam itu, setelah makan malam bersama yang untuk pertama kalinya ramai dengan tujuh orang, Suyin naik ke kamarnya lebih awal dari biasa.
Dia perlu masuk ke ruang dimensi—sudah dua hari tidak sempat menyiram tanaman dengan benar.
WUSH!
Di dalam, semua tanaman masih baik-baik saja—Pohon Kehidupan ternyata sudah memberikan semacam "perlindungan" ke seluruh tanaman di sekitarnya, menjaga kelembapan tanah meski tidak disiram.
"Terima kasih," ucap Suyin ke pohon.
"Aku menjaga apa yang juga kamu jaga. Itu wajar."
Suyin duduk di dekat mata air, minum air ajaib, membiarkan ketenangan ruang dimensi meresap.
"Lima hari lagi," bisiknya.
"Bagaimana persiapannya?"
"Lebih baik dari yang kukira. Ada tujuh orang di pihakku." Suyin menyentuh liontin pemberian Xiao Zhen yang masih tergantung di lehernya. "Tapi tetap saja ada rasa takut."
"Rasa takut itu sehat. Yang berbahaya adalah kalau rasa takut mengalahkan tekadmu."
"Tekadku tidak akan goyah." Suyin menggenggam gelang giok. "Ini milikku. Warisan nenek. Tidak akan kubiarkan siapapun mengambilnya."
"Aku tahu. Dan aku akan membantumu sepenuhnya." Pohon Kehidupan berhenti sejenak. "Suyin, ada yang perlu kamu tahu sebelum acara itu."
"Apa?"
"Progress Level 2 hampir selesai. Kamu tinggal butuh tujuh puluh kilogram hasil panen lagi dan tiga belas jenis tanaman baru. Dengan panen yang sudah kamu simpan di gudang, kamu mungkin sudah sangat dekat."
Suyin bangkit, berlari ke gudang penyimpanan—memeriksa timbangan total. Hampir sembilan ratus tiga puluh kilogram!
"Tinggal tujuh puluh kilogram!" serunya girang.
"Dan untuk jenis tanaman—kamu punya delapan puluh tujuh jenis sekarang. Tinggal tiga belas lagi."
"Aku masih punya benih yang belum ditanam!" Suyin berlari ke area penyimpanan benih, mencari-cari. "Ini—paprika kuning, selada air, kenikir, pete, jengkol—"
"Hati-hati, jangan terburu-buru. Tanam dengan benar."
Suyin tertawa kecil. "Kamu benar. Tapi aku excited!"
Dengan telaten, Suyin menanam tiga belas jenis benih terakhir yang dibutuhkan—menggunakan sisa area tanah kosong yang masih ada. Tangannya bergerak cepat tapi hati-hati, memastikan setiap benih tertanam dengan kedalaman dan jarak yang benar.
Setelah selesai, dia menyiram semua tanaman baru dengan air dari mata air.
"Sekarang tinggal tunggu panen untuk penuhi sisa tujuh puluh kilogram," ucap Suyin sambil membersihkan tangannya.
"Dengan kecepatan tumbuh di sini, dua hari lagi di waktu luar semua ini sudah bisa dipanen."
"Berarti tiga hari sebelum acara reuni, aku bisa upgrade ke Level 2." Suyin berdiri, menatap seluruh ruang dimensi yang sekarang hampir penuh dengan tanaman. "Hadiah spesialnya itu apa sebenarnya?"
"Sabar. Kamu akan tahu segera."
Suyin menghela napas dramatis. "Kamu sama misterius-nya dengan Xiao Zhen."
"Aku belajar dari aura-aura yang masuk ke ruang ini." Ada nada bercanda dalam suara pohon—sesuatu yang membuat Suyin tertawa.
Malam itu, sebelum tidur, Suyin meneliti botol-botol ramuan dari Zhao Mei. Botol hijau untuk malam sebelum acara dan pagi harinya. Cairan di dalamnya berwarna hijau jernih dan wangi seperti mint.
Dia meletakkan botol-botol itu di meja samping tempat tidur, lalu berbaring menatap langit-langit.
Lima hari lagi.
Latihan intensif, persiapan matang, tim yang solid, dan seseorang yang tidak akan meninggalkannya apapun yang terjadi.
Suyin menyentuh liontin di lehernya—pemberian Xiao Zhen.
Entah apakah Xiao Zhen tahu bahwa benda kecil itu bukan hanya terasa hangat karena energi spiritual di dalamnya, tapi juga karena siapa yang memberikannya.
Mungkin suatu hari nanti dia akan bilang itu.
Tapi sekarang, dia perlu tidur yang cukup.
Besok latihan dimulai lagi—lebih keras, lebih intensif.
Dan Suyin siap.