Dyon Syahputra, anak yatim piatu yang hidup dari kerja serabutan, harus menghadapi perundungan sadis di SMA Negeri 7. Ketika ia jatuh cinta pada Ismi Nur Anisah—gadis dari keluarga kaya—cinta mereka ditolak mentah-mentah. Keluarga Ismi menganggap Dyon sampah yang tidak pantas untuk putri mereka. Di tengah penolakan brutal, pengkhianatan sahabat, dan kekerasan tanpa henti dari Arman, Edward, dan Sulaiman, Dyon harus memilih: menyerah pada takdir kejam atau bangkit dari nol membuktikan cinta sejati bisa mengalahkan segalanya.
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: PREMAN MENYERANG
#
Seminggu berlalu sejak sore itu di taman. Dyon sama Ismi makin deket—tapi mereka nggak pernah ngomong soal perasaan. Cuma... ada. Saling peduli. Saling dengerin.
Dan itu cukup buat Dyon. Cukup buat bikin dia bangun pagi dengan sedikit senyum—meskipun rusuk masih nyeri, meskipun perut keroncongan.
Hari ini Kamis. Dyon kerja kuli bangunan lagi—upahnya Rp 60.000 kalau bertahan sampai maghrib. Proyek di pinggir kota, ngebangunan rumah dua lantai buat orang kaya.
Dia angkat batu bata, aduk semen, beresin puing-puing. Tangan melepuh kena semen yang panas—kulitnya ngelupas, merah, perih. Tapi dia tahan. Paksa. Uang ini penting—buat bayar listrik gubuk yang udah nunggak tiga bulan.
Maghrib. Pak mandor kasih upah—enam lembar sepuluh ribuan. Dyon terima dengan tangan gemetar—capek banget. Seluruh tubuh pegel. Punggung rasanya mau copot.
"Makasih, Pak," kata Dyon sambil sedikit membungkuk.
Pak mandor—bapak-bapak gondrong, kulitnya gosong—cuma angguk. "Besok dateng lagi. Masih ada kerjaan."
Dyon angguk. Masukin uang ke saku celana—dalam banget, takut jatuh.
Jalan kaki pulang. Jalanan gelap—lampu jalan banyak yang mati. Cuma ada cahaya bulan sabit yang redup. Dingin. Dyon cuma pakai kaos lusuh sama celana jeans compang-camping. Nggak ada jaket. Kedinginan.
Masuk gang sempit menuju gubuk. Gang ini sepi—kanan kiri rumah-rumah penduduk yang udah tutup pintu, lampu di dalam redup. Jalan setapak cuma selebar satu meter, kanan kiri selokan yang bau busuk.
Dyon jalan pelan. Kaki pegel. Pengen cepet-cepet sampai gubuk, tidur, istirahat.
Tiba-tiba...
Ada suara.
Bunyi motor mati—srek. Terus bunyi langkah kaki. Banyak.
Dyon berhenti. Nengok belakang.
Lima orang.
Cowok-cowok gede. Badannya kekar. Pakai jaket kulit hitam. Ada yang pegang balok kayu. Ada yang pegang rantai besi.
Preman.
Jantung Dyon langsung dag-dig-dug keras. Tangannya ngepal—bersiap.
"Eh, itu dia," kata salah satu preman—cowok paling gede, rambutnya cepak, ada bekas luka di pipi kanan. "Dyon Syahputra kan?"
Dyon mundur satu langkah. "Siapa... siapa kalian?"
Preman cepak ketawa—kasar. "Lo nggak perlu tau siapa kita. Yang penting... lo tau kenapa kita di sini."
Preman yang lain mulai ngelilingin Dyon—kayak serigala ngelilingin mangsa. Ada yang main-main rantai besi—bunyi gemerincing nyaring di keheningan malam.
"Kami... kami disuruh seseorang," kata preman lain—kurus tinggi, mata sipit kayak tikus. "Disuruh kasih lo pelajaran."
Dyon langsung tau. Edward.
"Dengerin," Dyon coba tenang—meskipun suaranya gemetar. "Gue... gue nggak tau kalian dikasih berapa. Tapi gue... gue bisa bayar. Gue punya uang—"
"UANG LO BERAPA?!" preman cepak teriak. "ENAM PULUH RIBU?! KITA DIBAYAR LIMA JUTA SAMA ORANG ITU!"
Lima juta.
Dyon membeku. Lima juta... itu uang gede. Gede banget. Dia... dia nggak mungkin bisa bayar segitu.
"Jadi lo tau sekarang kan?" preman cepak nyengir—gigi depannya ompong. "Lo nggak ada harga di mata kita. Kecuali... buat dipukulin."
Dyon mau lari—tapi terlambat.
Preman kurus tinggi nendang dari belakang—kena lutut. Dyon jatuh. Dengkul nyenggol aspal—lecet, berdarah.
"JANGAN LARI, BAJINGAN!" preman yang lain—pendek gendut, tangan penuh tato—nendang perut Dyon. Keras.
"AKHH!" Dyon terlipat. Rusuk patahnya yang baru mulai sembuh—retak lagi. Nyeri luar biasa.
Balok kayu turun—nabrak punggung Dyon. Bunyi gedebuk keras. Dyon teriak—suara nyaring ngegema di gang sepi.
Tapi nggak ada yang keluar. Nggak ada yang nolong.
Orang-orang di rumah... mereka denger. Tapi mereka tutup pintu lebih rapat. Matiin lampu. Pura-pura tidur.
Takut kena masalah.
Dyon coba bangkit—tangan ngedorong aspal, kakinya ngedorong tanah. Dia harus lari. Harus—
Rantai besi melilit lehernya dari belakang. Tarik keras. Dyon tercekik—napas nggak masuk, matanya melotot.
"Mau kemana lo?" preman yang pegang rantai—cowok berjenggot, napasnya bau arak—berbisik di telinga Dyon. "Permainan baru mulai."
Rantai ditarik makin kencang. Dyon coba lepas—tangan ngorek-ngorek rantai, tapi sia-sia. Napasnya makin sesak. Matanya berkunang-kunang.
Tendangan keras ke rusuk kanan. Kiri. Depan. Belakang.
Mereka ngeroyok—lima lawan satu.
Balok kayu nabrak kepala Dyon—bunyi keras, berdarah. Darah ngalir ke mata—perih, bikin pandangan kabur.
Tangan kanan Dyon ditarik—diputer paksa. Bunyi kriyet. Tulang retak.
"AAAAHHH!" Dyon teriak—keras, suara pecah.
"BERISIK!" preman gendut injak mulut Dyon—keras, sepatu boot kotor nyenggol gigi. Gigi depan Dyon patah—bunyi krek kecil, darah muncrat.
Rantai dilepas. Dyon jatuh ke aspal—batuk-batuk hebat, darah keluar dari mulut.
"Eh, lempar dia ke selokan," perintah preman cepak sambil ketawa.
Dua preman angkat Dyon—kasar, nggak peduli dia teriak kesakitan. Lempar ke selokan di samping gang.
Byurr.
Dyon jatuh ke air selokan yang kotor—bau busuk, kental, item. Air masuk mulut—rasa busuk bikin dia muntah. Tapi yang keluar cuma darah.
Preman-preman itu berdiri di pinggir selokan—nonton Dyon yang tergeletak. Ketawa-ketawa—keras, kejam.
"Ini pesan dari bos," kata preman cepak sambil ludah—kena muka Dyon. "Jangan dekati Ismi lagi. Atau next time... kita nggak cuma mukul. Kita bunuh."
Mereka pergi. Motor dinyalain—bunyi mesin gede, knalpot berisik. Terus pergi—ninggalin Dyon sendirian di selokan.
Dyon nggak bisa gerak.
Seluruh tubuhnya sakit. Tangan kanan nggak bisa diangkat—tulangnya retak, bengkak gede. Rusuk patah lagi—nafas kayak ditusuk pisau tiap kali masuk. Kepala pusing—darah ngalir dari luka di pelipis, nyampur sama air selokan.
Gigi depan patah—lidah ngeraba, terasa tajam, berdarah.
Dia tergeletak di air selokan—dingin, kotor, bau. Langit malam gelap di atas—nggak ada bintang. Cuma hitam.
Air mata keluar—nyampur sama darah, nyampur sama air selokan.
"Ya Allah..." suaranya serak—hampir nggak kedengaran. "Ya Allah... kumohon..."
Nggak ada jawaban.
Cuma suara anjing menggonggong jauh. Cuma suara angin dingin yang bikin tubuhnya menggigil.
"Kenapa... kenapa aku... kenapa aku harus... hidup kayak gini?" Dyon nangis—keras, kayak anak kecil. "Kenapa... kenapa dunia... sejahat ini?"
Tangannya yang masih bisa gerak—tangan kiri—ngepal aspal kotor. Kuku nusuk tanah.
"Mama... Papa..." bisiknya. "Dyon... Dyon capek. Dyon pengen... pengen pulang. Ke kalian. Di surga. Dimana... dimana nggak ada... nggak ada yang nyakitin Dyon lagi."
Tapi... di tengah tangisannya...
Di tengah rasa sakit yang luar biasa...
Dia ingat.
Ingat senyum Ismi.
Ingat suara lembut Ismi: *"Aku nggak akan pergi, Dyon. Aku janji."*
Ingat tangan hangat Ismi yang pegang tangannya di taman.
*Ismi...*
Kalau dia mati sekarang... Ismi gimana?
Kalau dia menyerah... siapa yang bakal lindungin Ismi dari Edward?
"Nggak... nggak bisa..." Dyon bisik—meskipun napasnya sesak. "Aku... aku nggak bisa... menyerah."
Dia coba bangkit. Tangan kiri ngedorong aspal—basah, licin. Kakinya nendang air selokan—coba berdiri.
Jatuh lagi.
Coba lagi.
Jatuh.
Lagi.
Lagi.
Sampai akhirnya... dia berhasil duduk. Punggung bersandar di dinding gang yang kotor. Nafasnya ngos-ngosan—tiap napas nyeri.
Dia lihat tangannya yang berdarah. Lihat seragamnya yang basah, kotor, robek di beberapa tempat.
Lihat dirinya sendiri—hancur.
Tapi masih hidup.
*Mereka bilang hidup itu keras.*
Dia senyum pahit—meskipun gigi depannya patah, senyumnya jadi aneh.
*Tapi nggak ada yang bilang kalau hidup bisa sebrutal ini.*
Mata merem. Buka. Merem lagi.
*Tapi aku... aku masih hidup.*
*Berarti... berarti masih ada harapan.*
---
**BERSAMBUNG**
**HOOK:** *Dan di titik terendah ini—di selokan kotor ini—aku bersumpah. Aku akan bangkit. Aku akan kuat. Dan suatu hari... aku akan balas semua ini.*