Elara Vance mengira hidupnya di London akan tenang setelah lulus kuliah seni. Namun, satu kesepakatan rahasia ayahnya menyeret Elara ke dunia Julian Moretti—pengusaha muda dengan pengaruh luar biasa yang gerak-geriknya selalu dipenuhi misteri. Demi melindungi keluarganya, Elara setuju untuk masuk ke dalam sebuah pernikahan kontrak.
Julian itu dingin dan penuh kendali, namun ia memiliki satu aturan: tidak boleh ada yang menyentuh Elara selain dirinya. Di balik kemewahan mansion Moretti, Elara harus mencari tahu siapa pria itu sebenarnya, sambil menyembunyikan cincin rahasia di jarinya yang menjadi tanda bahwa ia adalah milik sang penguasa bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: TANDA TANGAN DI ATAS KERTAS MAHONI
Hujan baru saja membasahi jalanan London saat Elara Vance melangkah keluar dari apartemennya dengan terburu-buru. Pagi itu, segalanya terasa salah. Ayahnya, yang biasanya selalu membuatkan kopi meski dengan sisa uang recehan terakhir mereka, menghilang tanpa jejak sejak semalam.
Satu-satunya yang tertinggal adalah sebuah pesan singkat di atas meja makan: “Pergilah ke alamat ini, Elara. Hanya dia yang bisa menolong kita.”
Alamat itu merujuk pada sebuah gedung pencakar langit di pusat distrik finansial, tempat di mana uang dan kekuasaan diputar seperti roda nasib. Elara tidak punya banyak waktu untuk bertanya-tanya. Ia hanya membawa tas selempangnya yang berisi peralatan lukis dan keberanian yang tersisa.
Saat tiba di lobi gedung yang megah itu, Elara disambut oleh dua pria berjas abu-abu yang tampak sangat profesional. Mereka tidak terlihat seperti preman penagih utang yang kasar, melainkan asisten dari kalangan elit.
"Nona Elara Vance? Tuan Moretti sudah menunggu Anda di atas," ucap salah satunya sambil membukakan pintu lift khusus.
Elara menelan ludah. Nama Moretti sudah tidak asing lagi di telinganya. Di berita bisnis, Julian Moretti dikenal sebagai pengusaha muda yang jenius dan dingin. Namun di jalanan, nama itu dibisikkan dengan nada penuh hormat sekaligus rasa takut. Mereka menyebutnya "Penguasa Tak Terlihat".
Lift berdenting terbuka di lantai paling atas. Elara dibawa masuk ke sebuah ruangan kantor yang luasnya mungkin tiga kali lipat dari apartemen kecilnya. Di tengah ruangan, duduklah pria itu di balik meja kerja mahoni yang besar. Julian Moretti sedang menatap sebuah layar tablet, namun ia langsung mendongak saat Elara masuk.
"Duduklah, Elara. Kau terlihat butuh napas panjang," ucap Julian.
Suaranya datar, namun ada nada perintah yang halus. Ia tidak membentak, justru ia menekan tombol di interkomnya dan meminta asistennya membawakan secangkir teh chamomile hangat. Sebuah gestur kecil yang membuat Elara sedikit terkejut. Pria ini tidak terlihat seperti ingin menerkamnya saat ini juga.
"Di mana ayahku?" tanya Elara langsung, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar.
Julian menutup tabletnya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi kulit yang mewah.
"Ayahmu sedang berada di tempat yang aman. Dia melakukan beberapa kesalahan dalam pengelolaan investasi yang melibatkan pihak-pihak yang... kurang toleran terhadap kegagalan. Saat ini, aku telah mengambil alih semua tanggung jawab atas namanya."
Elara mengepalkan tangannya di bawah meja. "Kenapa? Anda tidak mungkin melakukan ini tanpa alasan. Apa yang Anda inginkan sebagai gantinya? Uang? Kami tidak punya apa-apa."
Julian bangkit dari kursinya. Ia berjalan menuju jendela kaca besar yang memperlihatkan pemandangan kota London di bawah guyuran hujan. "Aku tidak butuh uangmu, Elara. Aku punya lebih dari cukup."
Ia berbalik, menatap Elara dengan pandangan yang tenang namun intens. "Aku butuh stabilitas citra. Dewan direksi dan beberapa rekan bisnisku menuntut agar aku memiliki kehidupan keluarga yang stabil demi kelancaran ekspansi bisnis baru di Eropa. Aku butuh seorang istri yang tidak berasal dari dunia mereka, seseorang yang jujur dan tidak memiliki ambisi tersembunyi."
"Dan Anda memilihku karena utang ayahku?" Elara tertawa getir, meski matanya mulai berkaca-kaca karena rasa bingung.
Julian melangkah mendekat, berhenti tepat di depan kursi Elara. Ia merunduk sedikit, meletakkan tangannya di atas meja, memberikan kesan dominasi tanpa menyentuh Elara sama sekali.
"Aku memberimu sebuah penawaran, bukan paksaan murni. Jika kau setuju, aku akan menjamin keselamatan ayahmu sepenuhnya. Seluruh masalah hukumnya akan lenyap.
Kamu akan tinggal di mansionku, memiliki akses ke apa pun yang kau butuhkan, dan tetap bisa melanjutkan kuliah senimu. Setelah satu tahun, kita bisa membicarakan pembatalan kontrak ini."
Julian menjeda kalimatnya, memberikan Elara ruang untuk berpikir. "Aku tidak memaksamu untuk menjawab detik ini juga, Elara. Tapi waktu kita tidak banyak sebelum pihak lain mulai bergerak mencari ayahmu. Aku hanya menawarkan perlindungan yang paling aman."
Elara menatap secangkir teh yang baru saja diletakkan asisten Julian di meja. Uapnya mengepul, memberikan aroma menenangkan. Pikirannya berperang hebat. Di satu sisi, ini adalah bentuk penjara yang baru. Di sisi lain, Julian menawarkan sesuatu yang sangat ia butuhkan: keamanan.
Aku akan bertahan, batin Elara dalam hati. Setidaknya sampai aku menemukan cara untuk membebaskan Ayah dan diriku sendiri.
"Jika aku setuju," Elara memulai dengan suara yang lebih stabil, "apa syaratnya untukku? Selain menjadi 'istri' di depan publik?"
Julian menatapnya dengan ketertarikan yang tidak ditutup-tupi. "Hanya satu hal. Kejujuran. Jangan pernah berbohong padaku, dan jangan pernah melepas cincin yang akan kuberikan padamu. Selebihnya, kau bebas melakukan apa pun di dalam lingkup perlindunganku."
Elara menarik napas dalam, mencoba menenangkan degup jantungnya yang liar. "Baiklah. Aku terima kesepakatan ini."
Julian mengangguk kecil, hampir tidak terlihat sebuah senyum tipis di sudut bibirnya—bukan senyum kemenangan yang jahat, melainkan senyum puas yang terkendali. Ia lalu meraih jas cadangan yang tersampir di kursinya dan berjalan mendekati Elara.
"Pakai ini," ucap Julian sambil menyampirkan jas hitamnya ke bahu Elara. "Kau kedinginan karena hujan tadi. Aku tidak ingin calon istriku jatuh sakit di hari pertama kesepakatan kita."
Sentuhan jas itu terasa hangat, dan aroma kayu cendana dari Julian menyelimuti Elara. Pria itu membuka pintu kantornya dan memberi isyarat agar Elara berjalan lebih dulu.
"Mari. Sopirku akan mengantarmu mengambil barang-barangmu di apartemen. Mulai malam ini, tempatmu adalah di mansion Moretti."
Saat Elara berjalan melewati Julian, ia merasakan tatapan pria itu yang mengikuti setiap langkahnya. Ada sesuatu dalam cara Julian menjaganya yang terasa... berbeda. Bukan seperti seorang sandera, melainkan seperti sesuatu yang sangat berharga yang baru saja ia temukan. Elara tahu, hidupnya di balik pintu mansion itu tidak akan pernah sama lagi, dan ia harus siap untuk menghadapi badai yang tersembunyi di balik ketenangan Julian Moretti.