Hidup Arga yang sempurna bersama istrinya, Nabila, hancur seketika saat mantan kekasihnya, Siska, kembali sebagai istri pemilik perusahaannya.
Siska yang ambisius menawarkan satu syarat gila. "Jadilah pemuas nafsuku, atau kariermu tamat!"
Arga menolak mentah-mentah demi kesetiaannya. Namun, murka sang Nyonya Besar tak terbendung. Dalam semalam, Siska memutarbalikkan fakta dan memfitnah Arga atas tuduhan pelecehan seksual.
Di bawah bayang-bayang penjara dan cemoohan publik, mampukah Arga bertahan? Ataukah Nabila, sang istri sah, sanggup membongkar kelicikan Siska dan menyelamatkan suaminya dari kehancuran?
Kita simak kisah kelanjutannya di Novel => Jebakan Sang CEO Wanita.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 11
Dinding sel tahanan itu terasa seperti es yang merambat masuk ke dalam tulang. Bau pesing, debu, dan keputusasaan menyatu di udara yang sempit. Arga Mandala, pria yang beberapa jam lalu masih menjadi Manajer Operasional kebanggaan Airborne Group, kini meringkuk di sudut ruangan remang-remang itu.
Borgol memang sudah dilepaskan, namun pergelangan tangannya masih menyisakan bekas kemerahan yang perih, tak sebanding dengan rasa perih yang mengoyak jantungnya.
Ia menatap langit-langit sel yang berjamur. Bayangan wajah Pak Roy yang murka dan jeritan fitnah Siska terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Namun, di tengah kepungan rasa sakit itu, sebuah ingatan yang jauh lebih tua merayap naik. Ingatan yang selama sepuluh tahun ini ia kunci rapat-rapat di dalam peti besi sanubarinya.
Pikiran Arga melayang, menembus waktu, kembali ke sepuluh tahun yang lalu.
Flashback On
Jakarta, sepuluh tahun silam, terasa jauh lebih ramah di mata Arga. Ia hanyalah seorang mahasiswa tingkat akhir fakultas teknik yang hidup dari kiriman uang bulanan yang pas-pasan. Namun, Arga merasa seperti pria paling kaya di dunia karena ia memiliki Siska.
Siska saat itu adalah bunga kampus. Kecantikannya alami, belum tersentuh oleh kosmetik jutaan rupiah atau operasi estetika. Mereka adalah pasangan yang membuat iri siapa pun. Arga yang selalu juara kelas dan Siska yang menjadi primadona di fakultas ekonomi.
"Mas, lihat ini," ucap Siska suatu sore di kamar kost Arga yang sempit namun rapi. Ia menunjukkan sebuah brosur beasiswa penuh ke London School of Economics. "Jika aku mendapatkan ini, duniaku akan berubah. Aku tidak akan lagi menjadi gadis dari pinggiran kota yang dihina karena sepatunya sudah jebol."
Arga tersenyum, mengelus rambut Siska dengan kasih sayang yang murni. "Aku akan mendukungmu, Siska. Aku akan belajar lebih giat agar cepat lulus dan menyusulmu ke sana. Kita akan menaklukkan London bersama."
Siska memeluk Arga erat. Di kamar kost berukuran tiga kali empat itu, mereka sering menghabiskan malam dengan bermimpi tentang masa depan. Di bawah temaram lampu neon yang berkedip, mereka tidak butuh kemewahan. Hanya ada cinta, ambisi, dan janji-janji yang diucapkan dengan gairah muda.
Hingga suatu pagi, segalanya berubah.
Arga baru saja kembali dari warung membawa dua bungkus nasi uduk saat ia mendapati Siska duduk di tepi tempat tidur dengan wajah pucat pasi. Tangannya gemetar hebat. Di atas meja kayu kecil yang biasa digunakan Arga untuk menggambar cetak biru, tergeletak sebuah benda plastik kecil.
Dua garis merah. Tegas. Nyata.
Dunia seakan berhenti berputar bagi Arga. Namun, bukannya ketakutan, sebuah gelombang kehangatan yang asing justru menjalar di dadanya. Ada kehidupan di dalam sana. Darah dagingnya. Buah dari cinta yang mereka agungkan.
"Siska..." Arga berlutut di depan kekasihnya, menggenggam tangannya yang sedingin es. "Jangan takut. Aku di sini."
"Mas... apa yang akan kita lakukan?" suara Siska nyaris tidak terdengar. Matanya yang biasanya penuh ambisi kini terlihat kosong. "Kuliahku... beasiswaku... orang tuaku..."
"Kita akan menikah, Siska," ucap Arga dengan keyakinan yang meluap. "Aku akan berhenti kuliah jika perlu. Aku akan bekerja di proyek konstruksi mana saja, jadi kuli pun aku mau asal bisa menghidupimu dan bayi ini. Kita tidak butuh London untuk bahagia. Kita punya ini. Kita punya keluarga kecil kita sendiri."
Arga membayangkan sebuah rumah kecil dengan halaman, suara tangis bayi, dan Siska yang menyambutnya pulang kerja. Baginya, janin itu adalah anugerah, sebuah tanda bahwa sudah saatnya ia menjadi pria dewasa yang bertanggung jawab.
Namun, ia tidak melihat kilat di mata Siska. Bukan kilat haru, melainkan kilat kemarahan yang tertahan.
"Menikah?" desis Siska. Ia menarik tangannya dari genggaman Arga. "Lalu hidup susah seperti orang tuaku? Tinggal di gang sempit dan menghitung setiap rupiah hanya untuk membeli susu? Itu maksudmu, Arga?"
"Kita akan berjuang bersama, Siska! Aku punya kemampuan, aku..."
"Kemampuanmu tidak akan memberiku tas mewah atau mobil pribadi dalam waktu satu tahun!" Siska berdiri, suaranya naik satu oktav. "Bayi ini... bayi ini adalah kesalahan. Dia adalah belenggu yang akan mengikatku di lumpur ini selamanya!"
Arga terpaku. Ia tidak percaya wanita yang dipujanya bisa menyebut calon anak mereka sebagai 'kesalahan'. "Dia bukan kesalahan, Siska. Dia adalah anak kita."
"Bagi kau, mungkin iya. Tapi bagiku, dia adalah kematian bagi mimpiku ke London," Siska menatap Arga dengan sorot mata yang mendadak asing. Dingin. Tajam. Tak tersentuh.
Siska menyambar tasnya dan berlari keluar dari kamar kost, meninggalkan Arga yang berdiri mematung di tengah ruangan yang tiba-tiba terasa sangat menyesakkan. Arga berpikir Siska hanya butuh waktu untuk menenangkan diri. Ia berpikir hormon kehamilan sedang mengacaukan logika kekasihnya.
Ia tidak tahu, bahwa hari itu adalah awal dari kematian nurani Siska.
Flashback Off
- Kembali ke Sel Tahanan
Arga terbangun dari lamunannya saat seorang penjaga sipir memukulkan tongkatnya ke jeruji besi. Prang!
"Makan! Jangan melamun terus," bentak sipir itu sambil mendorong nampan plastik berisi nasi keras dan sayur hambar melalui celah bawah jeruji.
Arga tidak menyentuh makanan itu. Rasa mual kembali menyerangnya. Bukan karena aroma makanannya, tapi karena ia menyadari satu hal yang mengerikan. Siska yang ada di dalam ingatannya sepuluh tahun lalu, dan Siska yang menjebaknya sore tadi di kantor, adalah orang yang sama.
Sepuluh tahun berlalu, namun ambisi wanita itu tetap tidak memiliki batas. Dulu, Siska mengorbankan darah dagingnya demi sebuah beasiswa. Sekarang, ia mengorbankan kehormatan Arga demi sebuah obsesi gila untuk memiliki apa yang tidak bisa ia dapatkan dengan uang.
"Nabila..." Arga membisikkan nama istrinya.
Bayangan Nabila yang lembut, yang menyembuhkannya dari luka masa lalu, kini menjadi satu-satunya alasan Arga untuk tetap waras. Ia merasa sangat berdosa karena telah menyembunyikan masa lalu berdarah ini dari Nabila. Ia pikir dengan mengubur memori itu, ia bisa melindungi Nabila. Ternyata, ia justru memberi celah bagi Siska untuk merobek hidup mereka.
Dalam kegelapan sel, Arga menutup matanya rapat-rapat. Air mata akhirnya jatuh di pipinya. Ia bukan menangis karena takut dipenjara. Ia menangis karena menyadari bahwa luka lama yang ia pikir sudah sembuh, sebenarnya masih menganga, berdarah, dan kini sedang meracuni setiap jengkal kebahagiaan yang ia bangun bersama Nabila.
"Aku akan bertahan," bisik Arga pada sunyinya malam. "Demi Nabila. Demi kebenaran yang kau bunuh sepuluh tahun lalu, Siska."
Ingatannya kembali terseret ke hari-hari setelah Siska meninggalkan kostnya. Hari-hari penuh pencarian yang berakhir pada sebuah kenyataan yang menghancurkan seluruh dunianya, sebuah rahasia yang akan terungkap suatu saat nanti.
...----------------...
Next Episode....
semoga Arga bisa melawan dan menghadapi Siska si wanita gatal demi rumah tangga nya dgn Nabila 🥰