NovelToon NovelToon
Aku Istrimu Bukan Dia

Aku Istrimu Bukan Dia

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Nikahmuda / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Romansa
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Jing_Jing22

Arunika hanyalah seorang mahasiswi biasa yang dunianya seketika runtuh saat kedua orang tuanya menjodohkannya dengan seorang dosen di kampusnya. Abimana Permana—pria dengan tatapan sedingin es dan sikap datar yang selama ini begitu ia segani.
​Sebuah perjodohan paksa mengharuskan Arunika terikat dalam belenggu pernikahan dengan pria itu. Alih-alih menemukan kebahagiaan, ia justru terjebak dalam teka-teki hati sang suami yang sulit ditembus. Akankah kehidupan Arunika membaik setelah menyandang status sebagai istri, ataukah pernikahan ini justru menjadi luka baru yang tak berkesudahan?
​Ikuti kisah perjuangan hati dan martabat dalam... "Aku Istrimu, Bukan Dia."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Claudia terus berlari meninggalkan gedung pernikahan dengan air mata yang membanjiri wajahnya. Riasannya yang mahal kini luntur, hancur berkeping-keping sama seperti harga dirinya. Suara sorak-sorai tamu yang menggoda kemesraan palsu Abimana dan Arunika tadi masih terngiang di telinganya, menusuk-nusuk jantungnya seperti ribuan jarum.

​"Tega kamu, Abimana! Tega kamu melakukan ini padaku di depan semua orang!" isaknya sambil masuk ke dalam mobil.

​Ia memukul kemudi dengan frustrasi. Amarahnya kini beralih sepenuhnya pada sosok Arunika. "Aku tidak akan membiarkan wanita itu mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku. Kamu pikir kamu sudah menang karena berhasil menikahinya? Belum, Arunika. Belum."

​Sementara itu, di pelaminan, Abimana menarik diri dengan segera begitu Claudia menghilang dari pandangan. Ia melepaskan tautan tangannya dari jemari Arunika seolah-olah baru saja menyentuh bara api. Napasnya masih menderu kencang, campuran antara adrenalin dan rasa bersalah yang mencekik.

​"Puas?" desis Abimana, menatap Arunika dengan kebencian yang berkilat. "Kamu benar-benar wanita yang mengerikan. Kamu menikmati penderitaan orang lain hanya untuk memuaskan egomu."

​Arunika kembali berdiri tegak, merapikan sedikit kebaya kristalnya yang tidak berantakan sama sekali. Ia kembali memasang senyum porselennya saat melihat serombongan tamu lain mendekat untuk bersalaman.

​"Aku tidak menikmati penderitaannya, Mas. Aku hanya sedang menikmati cara suamiku melindungiku—atau lebih tepatnya, melindungi dirinya sendiri." sahut Arunika tanpa beban. "Jangan lupa, tadi itu kamu yang mencium keningku dengan sangat... penuh penghayatan."

​Abimana terdiam, rahangnya mengeras. Ia ingin sekali memaki, namun ia harus kembali bersalaman dengan tamu yang sudah tiba di depannya.

​Acara resepsi yang panjang itu akhirnya berakhir. Ketika jam menunjukkan pukul sepuluh malam, kedua mempelai diantar menuju kediaman baru yang sudah disiapkan oleh keluarga Permana—sebuah apartemen mewah yang akan menjadi saksi bisu hari-hari pertama pernikahan mereka.

​Begitu pintu apartemen tertutup rapat dan mereka hanya berdua di ruang tengah yang sunyi, suasana mendadak berubah mencekam. Abimana melepas blangkon dan beskapnya dengan kasar, melemparkannya ke atas sofa.

​"Dengar, Arunika." Abimana berbalik, menunjuk wajah istrinya dengan tatapan mengintimidasi. "Pernikahan ini sah di mata hukum dan agama, tapi jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu. Di rumah ini, kita adalah orang asing. Jangan campuri urusanku, dan aku tidak akan peduli dengan apa pun yang kamu lakukan."

​Arunika perlahan melepas kerudung transparannya, menatap Abimana dengan ketenangan yang menjengkelkan bagi pria itu. "Oh, jadi ini aturan mainnya? Baiklah. Tapi ingat satu hal, Mas Abi..."

​Arunika melangkah mendekat, mengabaikan jarak yang sengaja dibuat Abimana. "Jangan sampai kamu sendiri yang melanggar aturan itu. Karena ketika kamu mulai butuh kehadiranku, aku tidak akan memberikan diriku dengan mudah."

​Arunika kemudian berbalik masuk ke arah kamar pengantin yang sudah dihias dengan taburan bunga mawar, meninggalkan Abimana yang berdiri mematung di tengah ruangan yang terasa sangat luas dan hampa.

​Arunika menutup pintu kamar dengan bunyi klik yang tegas. Ia menyandarkan tubuhnya di balik pintu, melepaskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di dada. Matanya menatap hamparan tempat tidur yang dipenuhi kelopak mawar merah—sebuah dekorasi romantis yang kini terasa sangat ironis.

​"Dia pikir dia siapa, beraninya memperlakukanku seperti itu?" gerutu Arunika dengan suara rendah, matanya berkilat penuh kekesalan.

​Sambil melepaskan anting dan perhiasannya satu per satu, ia menatap bayangannya di cermin. Bibirnya menyunggingkan senyum miring yang menantang. "Awas saja jika kamu sudah mulai tertarik denganku, Mas. Aku akan memastikan kamu berlutut untuk mendapatkan perhatianku, dan saat itu terjadi, giliranku yang akan bersikap 'asing' padamu."

​Arunika tidak membiarkan dirinya terhanyut dalam kesedihan. Ia segera membersihkan diri, mengganti kebaya pengantinnya yang berat dengan baju tidur sutra berwarna hitam yang elegan namun tertutup. Ia tahu, malam ini ia harus tidur di ranjang ini sendirian, atau mungkin bersama pria kaku itu jika dia punya cukup nyali untuk masuk.

​Sementara itu, di ruang tengah, Abimana duduk di sofa dengan kepala tertunduk. Ia meraih ponselnya, melihat puluhan panggilan tak terjawab dan pesan penuh amarah dari Claudia.

​[Abi! Kamu jahat! Kamu benar-benar menciumnya di depan mataku! Aku benci kamu!]

​Abimana melempar ponselnya ke ujung sofa. Ia merasa terjebak. Di satu sisi, ia merasa berhutang penjelasan pada Claudia, namun di sisi lain, ucapan Arunika tadi terus terngiang di kepalanya. Sesuatu tentang ketenangan dan kepercayaan diri Arunika mulai mengusik ketenangannya.

​"Wanita itu... dia benar-benar berbeda dari mahasiswa yang aku kenal." gumam Abimana frustrasi.

​Malam semakin larut. Abimana akhirnya memutuskan untuk masuk ke kamar, bukan karena ingin mendekati Arunika, melainkan karena rasa lelah yang luar biasa. Ia mengira akan menemukan Arunika yang menangis atau sedang menunggunya dengan wajah memelas.

​Namun, dugaannya salah total.

​Begitu ia membuka pintu, ia mendapati Arunika sudah berbaring dengan tenang di sisi kiri tempat tidur, asyik membaca sebuah buku tebal dengan kacamata yang kembali bertengger di hidungnya. Ia bahkan tidak menoleh saat Abimana masuk.

​"Ambil bantalmu dan selimut tambahan di lemari kalau kamu mau tidur di sofa." ucap Arunika tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya. "Tapi kalau mau tidur di sini, batasi dirimu. Aku tidak suka ada orang yang melewati garis tengah ranjang ini."

​Abimana terpaku di ambang pintu. "Ini rumahku juga, Arunika. Kamu tidak berhak mengusirku ke sofa."

​Arunika akhirnya menutup bukunya, menatap Abimana dengan pandangan datar. "Aku tidak mengusir, Mas. Aku hanya menawarkan kenyamanan. Karena aku tahu, tidur seranjang dengan 'orang asing' pasti akan sangat menyiksamu, bukan?"

​Skakmat. Abimana hanya bisa mendengus kesal, menyambar bantalnya, dan beranjak menuju sofa di pojok kamar dengan perasaan kalah yang semakin menumpuk.

​"Kenapa aku yang malah merasa jadi tamu di sini?" gerutu Abimana pelan, namun cukup keras untuk didengar.

​Ia menatap punggung Arunika yang kini kembali fokus pada bukunya, seolah kehadiran Abimana di kamar itu tak lebih penting dari sebuah lampu tidur.

​Arunika tidak menoleh, tapi ujung bibirnya sedikit terangkat. "Mungkin karena Mas Abi sendiri yang membuat batasan itu. Mas yang bilang kita 'orang asing', kan? Jadi, jangan heran kalau aku memperlakukan Mas sesuai aturan yang Mas buat sendiri."

​Abimana melempar bantalnya ke sofa kecil di sudut kamar dengan kesal. Ia merasa aneh. Seharusnya ia merasa bebas karena Arunika tidak menuntut haknya sebagai istri, tapi melihat Arunika yang begitu acuh justru melukai harga dirinya sebagai laki-laki. Ia terbiasa dipuja, terbiasa menjadi pusat perhatian, baik di kampus maupun oleh Claudia. Namun di depan Arunika, ia merasa tidak kasat mata.

​"Aku mau mandi." ucap Abimana ketus, berharap mendapat reaksi.

​"Silakan. Handuk cadangan ada di lemari bawah." jawab Arunika tanpa mengalihkan pandangan dari halaman bukunya.

​Brak!

​Abimana melangkah masuk ke kamar mandi dan membanting pintunya sedikit keras. Di bawah kucuran air shower, ia terus memikirkan bagaimana caranya mengembalikan kendali. Ia tidak suka merasa terintimidasi di wilayahnya sendiri.

​Sementara itu, di atas ranjang, Arunika sebenarnya tidak benar-benar membaca. Matanya menatap barisan kata yang sama berulang kali. Jantungnya masih berdegup kencang. Ia hanya sedang berakting, mencoba melindungi hatinya agar tidak hancur lebih dalam lagi.

​Jangan sampai kalah, Nika. Kalau kamu lemah sedikit saja, dia akan menginjakmu selamanya, batin Arunika menguatkan dirinya sendiri.

​Satu jam kemudian, Abimana keluar dengan pakaian santai. Ia melihat Arunika sudah mematikan lampu utama dan hanya menyisakan lampu meja di sisinya. Gadis itu sudah memejamkan mata, membelakanginya, benar-benar menutup akses untuk komunikasi apa pun.

​Abimana merebahkan tubuhnya di sofa yang terasa sempit bagi tubuh tingginya. Kakinya menggantung, tulang punggungnya terasa kaku. Ia menatap punggung Arunika dari kejauhan dengan perasaan campur aduk.

​"Besok pagi aku akan mengajar jam delapan." ucap Abimana memecah kesunyian.

​"Aku juga ada kelas." sahut Arunika dengan suara parau khas orang yang hendak tidur. "Aku akan berangkat sendiri naik taksi. Mas tidak perlu repot."

​"Tapi Mama akan curiga kalau kita tidak berangkat bareng dari apartemen ini!"

​"Kalau begitu, Mas bangun lebih pagi untuk menjemputku di lobi. Tapi kalau Mas lebih memilih menjemput Claudia, aku tidak keberatan mengarang alasan untuk Mama."

​Abimana bungkam. Ia menarik selimutnya dengan kasar sampai menutupi kepala. Tidur di sofa di malam pertama pernikahannya, sambil didebat oleh istrinya sendiri, benar-benar di luar bayangannya.

1
🇮🇩 NaYaNiKa 🇵🇸
Ini dia kisah yang paling greget. Semoga gak jadi bego kek kisah Sheila & Vano ya.
Semangaaaaaat.... 💪💪💪
🇮🇩 F A i 🇵🇸
Utk apa...? Utk dihancurkan LG...? 🤧🤧🤧
🇮🇩 F A i 🇵🇸
Maaaasss...???? Oh No Maaaasss... Please Just Go straight To Hell, Maaaaasss....!!! 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Si anak setan bnr2.... 🤧🤧🤧
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Kurang apa di Arun coba. LG sakit hati banget pun masih ngurusi Pak Dosen yg Gobloknya ngalahin boneka angin. Hadeeeuuuuh...
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Baru sadar...? TalaaaaT...!!! 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Diiiiiiiih... Dasar anak setan. ,😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Heleh2... Dramamu Bim2. 😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Biarin ajaaaaa... Menyesal jg gak guna.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Berharap pada manusia itu menyakitkan.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Perempuan hina kalo dah putus asa bnr2 gak ngotak. 🤧🤧🤧
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Bener..!!! Jgn mau diinjak2!!!
🇮🇩 F E E 🇵🇸
CaKeeeeeP... 💪💪💪
🇮🇩 F E E 🇵🇸
GaK SaLaH TuH...? Lo KaLi, Arun mah Gak. 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Cantik kaaaaaan... 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Ciiiiiih... Kesian beneeeeer. Ngarep laki2 pengecut.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Tuuuuuh... Dgr Tuh Bim2.. Anak orang tuh. Bukan anak setan mo dimasukin ke neraka. Eeeeeaaaaa... 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Bukan Permata lagi Pak. Tapi Berlian Hitam yg menyilaukan. 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Hancurkan dia berkeping2... Gaaaaasssss kan Arun.💪💪💪
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Perempuan kalo bathinnya SDH tersakiti, bisa LBH tajam dari SiLeT. 😏😏😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!