Jemi adalah seorang gadis yang tertutup dan sulit membuka dirinya untuk orang lain. Kepergian ibunya serta kekerasan dari ayahnya membuat Jemi depresi hingga suatu hari, seorang pengacara datang menemui Jemi. Dia memberikan Jemi kalung Opal berwarna ungu cerah. Siapa sangka kalung Opal itu bisa membawa Jemi ke ruang ajaib yang bisa membuatnya berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Ruang itu pun berkembang menjadi sebuah tempat yang diimpikan Jemi.
Ikuti terus kisah Jemima Shadow, yuk!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irish_kookie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pencarian
Malam itu, hujan turun pelan di luar jendela rumah Catherine Wood.
Jemima berdiri di ambang kamar tamu yang disiapkan khusus untuknya, kamar luas dengan langit-langit tinggi dan aroma kayu tua yang menenangkan.
Catherine duduk di kursi dekat perapian kecil, selendang tipis melingkari bahunya.
Matanya tajam tapi hangat menatap Jemima seolah sedang menimbang sesuatu yang tak kasatmata.
Setelah cicitnya itu mengatakan kalau kemungkinan dia mengetahui pasangan kalung opal, Catherine mengajak Jemima untuk mendekat.
"Kau yakin kau tau di mana pasangan kalung ini, Jemi?" tanya Catherine pelan, nyaris berbisik.
Jemima mengangguk. "Sepertinya. Karena, saat aku datang terakhir kali ke sana, aku bertemu seseorang."
Catherine mengerutkan keningnya. Tangannya mengetuk tongkat, tanda dia sedang berpikir keras. "Hmmm, apa yang dia lihat di sana?"
"Apa yang dia lihat dengan apa yang aku lihat itu berbeda, Nek." Jemima pun menceritakan pertemuannya dengan Kai di ruang ajaib itu.
Dia juga bercerita pada Catherine tentang bagaimana Kai bisa sampai di ruangan yang misterius itu.
Seusai bercerita, kening Catherine kembali berkerut. "Hmm, tapi temanmu itu tidak bercerita apa yang membawa dia sampai ke ruangan itu?"
Jemima menggeleng. "Aku juga tidak melihat dia memakai kal-, ...,"
Kedua mata Jemima tiba-tiba membulat. Wajahnya seketika cerah seperti mendapatkan sebuah ide yang cemerlang. "Dia memakai kalung, Nek! Tapi, aku tidak tau apa kalung yang dia pakai itu pasangan dari kalung opal ini."
"Bisakah kau membantu Nenek memastikan apakah kalung yang dia pakai itu adalah kalung pasangan kalungmu, Jemi?" tanya nenek Catherine sambil menggenggam tangan cicit satu-satunya itu.
Seribu pertanyaan bergema di kepala Jemima saat itu tanpa bisa dia tahan. "Nek, kenapa Nenek ingin sekali menemukan pasangan kalung opal ini?"
Catherine tidak langsung menjawab pertanyaan cicitnya itu. Dia mengembuskan napas panjang seolah memikirkan kata-kata tepat untuk menjawab pertanyaan Jemima.
"Aku sudah tua, Jemi. Aku merindukan sahabat lamaku dan yang paling penting, aku merindukan cucuku satu-satunya," kata Catherine. Suaranya terdengar lelah.
Jemima berpikir ini seperti sebuah teka-teki yang sulit dipecahkan. "Cucu Nenek? Apakah itu berarti ibuku?"
Catherine mengangguk. "Ya, Lili Wood."
"Kau belum pernah melihat ibumu, kan?" tanya Catherine lagi. Kali ini, matanya seakan menahan jatuhnya cairan bening yang sudah berkumpul di pelupuk mata tuanya.
Jemima memejamkan kedua matanya. Dia berusaha mengingat bagaimana wajah ibunya, tetapi bayangan itu selalu kabur digantikan oleh kata-kata tajam Leon.
"Kata ayah, ibuku kabur bersama pria lain sejak aku kecil dan di rumah kami tidak ada satupun foto ibu," kata Jemima.
Lagi-lagi Catherine mengembuskan napasnya. Dia menoleh ke arah Jemima dan tersenyum lelah.
Ya, senyum wanita berusia 80an tahun itu terlihat lelah. Kerutan di wajahnya terlihat lebih jelas dan mata yang tadi berbinar, kini redup.
"Ayahmu itu keterlaluan, Jemi! Dia hanya melihat apa yang ingin dia lihat! Dia hanya mendengar apa yang ingin dia dengar dan dia hanya berpikir apa yang ingin dia pikirkan! Laki-laki jahat itu!" Catherine berkata dengan geram.
Seluruh kebencian Catherine terhadap Leon dapat dirasakan oleh Jemima.
Gadis itu tak tahu apa yang terjadi, tetapi dia dapat menyimpulkan kalau ibunya menghilang karena ulah Leon, ayahnya.
"Kalau aku boleh tau, apa hubungan ibu dengan kalung ini?" tanya Jemima dengan hati-hati.
Catherine menggeleng. "Aku belum bisa menceritakan ini kepadamu, Jemi. Karena aku juga hanya bisa menebak apa yang terjadi dan jika tebakanku ini benar, kau akan menemukan semua jawaban dari pertanyaanmu itu saat kau sudah menemukan pasangan kalung opalmu."
Jemima terdiam. Ini bukan tugas yang mudah dan satu pertanyaan besar kini muncul di kepalanya. "Nek, kenapa aku?"
"Karena kau keturunan Opelis, Jemi, sama seperti ibumu," kata Catherine sambil tersenyum. "Sudah malam, sekarang tidurlah! Besok aku akan meminta Adrian untuk mengantarmu."
Keesokan paginya, Adrian mengantarnya ke tempat kerja dengan mobil hitam mengilap.
Kota masih basah oleh sisa hujan malam, dan Jemima menatap keluar jendela tanpa benar-benar melihat apa pun.
“Kau kelihatan pucat,” ujar Adrian sambil meliriknya singkat. “Rumah nenek buyut memang terasa berat bagi sebagian orang.”
“Nenek memintaku untuk melakukan sesuatu,” jawab Jemima jujur.
Jemima mengingat kata-kata Catherine pagi itu. "Jemi, takdir ibumu dan kau ada di tanganmu, Sayang. Kabari aku begitu kau sudah mendapatkan kalung pasangan itu."
Adrian tidak bertanya lebih jauh tentang tugas yang harus dilakukan oleh Jemima dan dia juga tidak menawarkan bantuan apa pun untuk gadis itu.
Tak lama, mobil berhenti, dan Jemima turun dengan satu keputusan yang sudah mengendap sejak semalam.
Dia harus menemui Kai untuk bertanya kepadanya tentang kalung yang mungkin dipakai pemuda itu saat berpindah tempat.
Kai sedang berdiri di dekat area parkir karyawan ketika Jemima melihatnya. Kalung Opal kecil di lehernya berkilau samar tertangkap cahaya pagi.
Jantung Jemima berdegup lebih cepat. Dia bertanya dalam hati. "Apakah itu kalungnya?"
“Kai,” panggil Jemima.
Kai menoleh, senyum kecil muncul di wajahnya. “Kau menginap di tempat nenekmu? Aku melihat pria tampan yang kemarin mengantarmu sampai depan restoran."
Jemima mengangguk cepat, lalu dia menengok ke kiri dan ke kanan, dan setelah itu, dia menarik tangan Kai untuk masuk ke dalam ruang ganti karyawan.
"Ada apa, sih? Kenapa wajahmu menyeramkan seperti itu? Apa kau baik-baik saja?" tanya Kai penasaran.
Jemima melepaskan tangan Kai, tetapi dia masih celingukan untuk memastikan tidak ada orang lain yang mencuri dengar percakapan mereka.
"Oke, bisakah kau ceritakan padaku apa yang membawamu ke ruang ajaib itu?" desak Jemima.
Tentu saja Kai terheran-heran dengan pertanyaan Jemima yang terlalu tiba-tiba itu.
Apalagi kejadian yang dialaminya sudah beberapa waktu yang lalu. Kai pun menggelengkan kepalanya. "Aku tidak ingat, Jemi. Aku berani bersumpah di hadapanmu saat ini."
"Ck! Kau harus mengingatnya, Kai. Karena ini penting dan ada hubungannya dengan hidupku ke depannya," kata Jemima setengah menangis.
Misteri masa lalu ibunya, takdir yang akan membawa hidup Jemima, dan siapa yang akan menjadi pasangannya di masa depan nanti.
Semua pertanyaan itu seolah mendesak Jemima untuk bergerak cepat. Maka dari itu, dia sangat kesal saat Kai melupakan tentang bagaimana dia masuk ke ruang ajaib.
Dengan putus asa, Jemima pun menceritakan kepada Kai tentang pertemuannya dengan Catherine dan apa yang diminta oleh nenek buyutnya itu.
Kai mengerenyit dan dia melepaskan sesuatu dari lehernya. "Apakah maksudmu kalung ini?"
Pemuda itu menyerahkan kalung dengan liontin berbentuk oval berwarna perak kepada Jemima.
Dengan kecepatan jantung yang sudah melewati ambang batas, Jemima mengambil kalung itu dan membuka liontin oval peraknya.
"Kosong. Apa memang seharusnya seperti itu?" tanya Kai.
Jemima menggeleng, lalu dia melepaskan kalung opal miliknya dan memasukkan liontin oval ungu itu ke dalam tempat kosong di kalung milik Kai.
Tiba-tiba saja, Jemima merasakan sensasi aneh saat kedua kalung itu bersatu.
Kedua kalung itu seolah saling tarik menarik satu sama lain, tetapi begitu mereka bersatu entah bagaimana, kalung oval perak Kai tidak bisa menutup.
Jemima mencobanya berkali-kali, tetapi tetap saja tidak bisa. "Bukan ini. Tapi, kalung ini pemberian nenek tetanggamu, kan? Dan kalung ini yang kemungkinan membawamu ke ruang ajaib itu, kan?"
Kai mengangguk. "Ya. Berarti, kalungku bukan pasangannya?"
"Entahlah! Seharusnya kau pasanganku!" Jemima melontarkan kata itu tanpa dipikirkan.
Efek kuat dari kalimat itu, wajah Kai merah merona.
Pemuda itu merasakan hangat dan panas sekaligus dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Suasana pun menjadi canggung di antara mereka dan untungnya Ashley menghampiri mereka dengan wajah memberengut kesal.
"Oh, jadi kalian sekarang berpacaran?" tanya Ashley dengan suara keras dan nada menyindir.
"Hah?" Baik Kai dan Jemima saling menatap Ashley dengan pandangan tak percaya. "Apa maksudmu?"
***