NovelToon NovelToon
My Dangerous Assistant

My Dangerous Assistant

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita perkasa / Menyembunyikan Identitas / Gangster
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

"Tugasmu sederhana: seduh kopi hitamku tepat pukul tujuh pagi, dan pastikan aku tidak mati hari ini."

Bagi Adinda Elizabeth (23), William Bagaskara adalah tiket keluar dari kemiskinan. Pria itu arogan, dingin, dan menyebalkan. Namun, Adinda tahu bagaimana cara mematahkan leher lawan secepat ia menyeduh kopi.

Bagi William (28), Adinda adalah anomali. Seorang gadis kecil yang berani menatap matanya tanpa rasa takut, sekaligus satu-satunya orang yang rela berdarah demi melindunginya.

Di tengah intrik bisnis yang kejam dan teror yang mengintai, sebuah kontrak kerja berubah menjadi pertaruhan hati. Bisakah sang CEO angkuh luluh pada gadis yang dibayarnya untuk terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perintah Terakhir William

Cahaya matahari sore yang keemasan menembus tirai jendela Rumah Sakit Medistra, menyinari debu-debu halus yang melayang di udara.

Adinda Elizabeth membuka matanya perlahan. Kepalanya masih terasa berat, seolah diisi timah panas. Tubuhnya kaku. Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa haus yang mencekik dan nyeri tumpul di sekujur punggungnya.

"Jangan bergerak dulu," suara tenang Dokter Johan terdengar.

Adinda menoleh lemah. Dokter itu sedang memeriksa infus di tangannya. Di sudut ruangan, Pak Harto berdiri dengan wajah lega yang tak bisa disembunyikan.

"Berapa lama..." suara Adinda parau, seperti gesekan kertas pasir.

"Tiga hari," jawab Harto mendekat. "Kamu tidur selama tiga hari, Nona. Kami hampir mengira kamu tidak akan bangun."

Adinda mencoba memproses informasi itu. Tiga hari. Ingatannya berputar kembali ke jalan tol. Tembakan. Hantaman besi di punggungnya. Wajah panik William.

"Pak William?" tanya Adinda, matanya liar mencari sosok bosnya di ruangan itu. Ruangan itu kosong selain mereka bertiga.

Harto dan Dokter Johan bertukar pandang sekilas.

"Pak William ada di kantor," jawab Harto, nadanya sedikit kaku. "Dia... dia memberikan instruksi ketat agar kamu dirawat sampai pulih total. Semua biaya sudah ditanggung. Ruangan VVIP ini dipesan untuk sebulan penuh jika perlu."

Adinda mengangguk pelan. Ada rasa kecewa yang menusuk dadanya. Ia berharap William ada di sini. Namun, ia segera menepis perasaan itu. Dia CEO, Adinda. Dia punya kerajaan bisnis untuk dijalankan. Kamu cuma pegawai yang kebetulan masuk rumah sakit.

"Kapan saya bisa keluar?" tanya Adinda, mencoba duduk meski Dokter Johan melarang. "Saya harus kembali bekerja. Jadwal Bapak pasti berantakan tanpa saya."

"Kamu tidak akan kembali bekerja, Adinda."

Suara itu bukan milik Harto ataupun Johan.

Pintu kamar terbuka. William Bagaskara masuk.

Penampilannya sempurna seperti biasa. Rambut disisir rapi ke belakang, setelan jas navy Italia yang licin, dan sepatu mengkilap. Namun, wajahnya dingin. Sangat dingin. Seperti patung es yang dipahat indah namun tak bernyawa. Hanya kantung matanya yang gelap yang menunjukkan bahwa ia mungkin tidak tidur sejak kejadian itu.

William memberi isyarat pada Harto dan Dokter Johan. "Tinggalkan kami."

Kedua pria itu mengangguk dan keluar, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di antara bos dan asistennya.

Adinda mencoba tersenyum, meski sudut bibirnya masih sakit. "Selamat sore, Pak. Maaf saya merepotkan. Saya dengar saya tidur tiga hari? Saya janji akan mengejar ketertinggalan pekerjaan secepatnya."

William tidak membalas senyuman itu. Ia tidak mendekat ke ranjang untuk memegang tangan Adinda atau menanyakan kabar. Ia berdiri di kaki tempat tidur, menjaga jarak aman.

"Bagaimana perasaanmu?" tanya William datar.

"Sudah lebih baik. Punggung saya masih nyeri, tapi tangan dan kaki saya masih berfungsi. Saya rasa dalam dua hari saya bisa—"

"Berhenti," potong William.

Ia merogoh saku jas dalamnya, mengeluarkan sebuah amplop tebal berwarna putih dengan logo Bagaskara Corp. Ia meletakkannya di meja makan lipat di ujung ranjang.

"Itu adalah pesangonmu," kata William. Suaranya stabil, tanpa emosi, meski tangannya terkepal di samping tubuhnya. "Setara dengan gaji lima tahun di muka, ditambah bonus kinerja, dan sertifikat kepemilikan penuh atas unit apartemen yang kau tempati sekarang. Ada juga dokumen beasiswa penuh di universitas mana pun yang kau pilih."

Jantung Adinda berhenti berdetak sesaat. Ia menatap amplop itu, lalu menatap William dengan bingung. "Maksud Bapak apa?"

"Kau dipecat, Adinda."

Dua kata itu menghantam Adinda lebih keras daripada tongkat besi preman di jalan tol. Ruangan terasa berputar.

"Dipecat?" Adinda tertawa kecil, tawa yang bingung dan tidak percaya. "Karena saya gagal melindungi Bapak? Karena mobil Bapak rusak? Saya bisa ganti rugi potong gaji, Pak. Jangan pecat saya."

"Kau tidak gagal," William memasukkan kedua tangannya ke saku celana, menyembunyikan getaran di jarinya. "Kau justru terlalu berhasil. Itu masalahnya."

"Saya tidak mengerti logika Bapak."

"Logikanya sederhana," William menatap mata Adinda tajam, dan untuk pertama kalinya, topeng dinginnya retak. Ada kepedihan mendalam di sana. "Lihat dirimu, Adinda. Lihat perban di kepalamu. Lihat alat bantu napas itu. Tiga hari lalu kau hampir mati di pelukan saya."

William melangkah maju satu langkah, suaranya mulai bergetar.

"Saya mempekerjakanmu karena saya butuh asisten yang tangguh. Tapi saya tidak menyangka kau akan senekat itu. Saya tidak bisa... saya tidak bisa melihatmu berdarah lagi demi saya. Setiap kali melihatmu terluka, rasanya seperti ada peluru yang menembus dada saya sendiri."

Adinda terdiam. Ia melihat ketulusan yang menyakitkan di mata William. Pria ini tidak memecatnya karena marah, tapi karena takut. Takut kehilangan.

"Itu risiko pekerjaan, Pak," jawab Adinda pelan. "Saya sudah tahu risikonya sejak awal. Saya yang memilih untuk keluar dari mobil itu."

"Dan tugas saya adalah meminimalkan risiko," balas William cepat. "Kau baru 23 tahun, Adinda. Kau punya masa depan. Kau berhak hidup normal. Kau berhak kuliah, bekerja di kantor yang aman, punya pacar yang mengajakmu nonton bioskop, bukan makan sate sambil mengawasi pembunuh bayaran."

William menunjuk amplop di meja.

"Ambil uang itu. Ambil apartemen itu. Itu bukan sogokan. Itu modal untukmu memulai hidup baru. Hidup di mana kau tidak perlu tidur dengan pisau di bawah bantal."

Mata Adinda memanas. Air mata perlahan menggenang di pelupuk matanya.

"Tapi saya ingin di sini," bisik Adinda, suaranya pecah. "Saya ingin melindungi Bapak. Saya merasa... berguna di samping Bapak."

"Kau sudah berguna. Sangat berguna," William tersenyum sedih. "Tapi selama kau berada di sisi William Bagaskara, kau akan selalu menjadi target. Dan saya tidak akan memaafkan diri saya sendiri jika terjadi sesuatu padamu lagi. Saya ingin kau selamat, Adinda. Lebih dari saya ingin kau ada di dekat saya."

Adinda menatap wajah lelah bosnya. Ia melihat pria yang mencintainya cukup dalam hingga rela melepaskannya. Jika Adinda bersikeras menolak, ia hanya akan menambah beban rasa bersalah di hati William. William tidak akan pernah tenang bekerja jika Adinda masih menjadi tameng hidupnya.

Perlahan, dengan tangan gemetar, Adinda meraih amplop putih di meja itu. Amplop itu terasa berat. Berat bukan karena uang di dalamnya, tapi karena beratnya perpisahan yang harus ia terima.

"Bapak yakin ini yang terbaik?" tanya Adinda, air mata menetes di pipinya.

William mengangguk kaku, meski matanya sendiri mulai merah. "Ini yang terbaik. Untuk kamu. Dan untuk kewarasan saya."

Adinda memeluk amplop itu ke dadanya. Ia menunduk, menerima nasibnya dengan berat hati. Ia tidak bisa melawan keinginan orang yang ia lindungi, apalagi jika keinginan itu adalah demi kebaikan dirinya sendiri.

"Baik, Pak," ucap Adinda lirih. "Saya terima... sebagai perintah terakhir Bapak."

William menghela napas panjang, seolah beban ribuan ton baru saja diangkat dari pundaknya, meski digantikan oleh lubang besar di hatinya.

"Terima kasih, Adinda. Terima kasih sudah mengerti."

William berbalik badan. Ia harus pergi sekarang. Jika ia tinggal satu menit lagi, ia pasti akan luluh. Ia pasti akan memeluk gadis itu, merobek amplop itu, dan membiarkan Adinda tetap dalam bahaya bersamanya. Dan William tidak boleh egois.

"William," panggil Adinda lembut, melanggar aturan panggilan untuk terakhir kalinya.

William berhenti di ambang pintu, tangannya mencengkeram gagang pintu erat-erat. Ia tidak menoleh.

"Jaga diri Bapak baik-baik," kata Adinda sambil terisak pelan. "Jangan lupa makan. Jangan terlalu banyak minum kopi. Dan... tolong cari asisten baru yang tidak sebodoh saya."

Bahu William berguncang. Ia memejamkan mata, menahan air matanya sendiri.

"Tidak akan ada," bisik William parau. "Tidak akan pernah ada asisten seperti kamu."

Tanpa menoleh lagi, William membuka pintu dan melangkah keluar, meninggalkan Adinda sendirian di ruang VVIP yang dingin.

Klik.

Pintu tertutup.

Di dalam kamar, tangis Adinda pecah. Ia mendekap amplop pemberian William erat-erat, seolah itu adalah pengganti pelukan yang tak sempat ia dapatkan. Ia tahu William benar. Ia tahu ini demi keselamatannya. Tapi rasanya... rasanya sakit sekali, seolah hatinya ikut dicabut bersamaan dengan perginya sang CEO dari ruangan itu.

Malam itu, di tengah kemewahan rumah sakit dan jaminan masa depan yang cerah di tangannya, Adinda Elizabeth merasa menjadi orang paling kesepian di dunia.

1
Dede Dedeh
lanjutttt......
Nurhartiningsih
lanjuuut...dikit amat up nya
gina altira
jd sedihhh,, cinta yang tulus dan berbesar hati
gina altira
galak tapi ngangenin ya,🤭
Nurhartiningsih
lanjuuut....mkin penasaran
Nurhartiningsih
kereeeennn aku suka.. aku suka
Nurhartiningsih
ah knp banyak bawang disini??
Nurhartiningsih
ya ampun... sesulit apa hidupmu dindaa
Nurhartiningsih
ah suka deh sama cerita yg ceweknya badas
Nurhartiningsih
kereeeen....ah knp baru Nemu nih novel
Raditya Gibran
aku menanti episode selanjutnya bestii
terimakasih
Fenti Fe
Ceritanya mulai menarik, gaya bahasa dan tulisannya rapi. Semangat Author...
PENULIS ISTIMEWA: Terima kasih qha qha.. 😍
total 1 replies
Kavina
Kalo novel ini di bwt movie nya pasti seru abiss, thank ya Thor dh UP byk 😘😘💪💪
PENULIS ISTIMEWA: 😍😍 Kak Kavina bisa aja deh.. 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!