Jodoh dicari ✖️
Jodoh dijebak ✔️
Demi membatalkan perjodohan yang diatur Ayahnya, Ivy menjebak laki-laki di sebuah club malam untuk tidur dengannya. Apapun caranya, meski bagi orang lain di luar nalar, tetap ia lakukan karena tak ingin seperti kakaknya, yang menjadi korban perjodohan dan sekarang mengalami KDRT.
Saat acara penentuan tanggal pernikahan, dia letakkan testpack garis dua di atas meja yang langsung membuat semua orang syok. ivy berhasil membatalkan pernikahan tersebut sekaligus membuat Ayahnya malu. Namun rencana yang ia fikir berhasil tersebut, ternyata tak seratus persen berhasil, ia dipaksa menikah dengan ayah janin dalam kandungan yang ternyata anak konglomerat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
"Jadi ini rumah lo?" tanya Yasa saat mengantarkan Ivy pulang. Mengedarkan pandangan, menelisik rumah tingkat dua yang lumayan mewah tersebut. Letaknya di komplek perumahan elit, jadi kurang lebih, model bangunannya sama dengan yang lain.
"Bukan."
"Lah," Yasa menoleh pada Ivy, melongo. "Terus ngapain lo suruh gue berhenti disini?" berdecak kesal, merasa dikerjain.
"Rumah bokap gue maksudnya, bukan rumah gue," Ivy tertawa cekikikan. "Mau masuk?"
"Udah malem," Yasa menggeleng.
"Emang kenapa kalau udah malem? Si Inara saja, pacar bokap gue, sering sampai nginep disini," ia tersenyum getir. Saat ini pun, ia lihat mobil putih milik Inara terparkir manis di carport rumahnya. Kalau mobilnya ada, pemiliknya juga pasti ada di dalam. "Nanti, jangan syok ya kalau tahu soal kehidupan keluarga gue. Beda pokoknya, beda banget dengan keluarga cemara lo."
Melihat mata sendu Ivy, Yasa menatap iba, tak tahu harus berkomentar apa.
"Mama gue meninggal saat gue masih SD. Sebelum Mama meninggal, gue udah sering lihat bokap bawa perempuan ke rumah. Saat gue tanya, Mama bilang itu teman kerja bokap," Ivy tersenyum getir. "Saat gue dewasa, dan mulai mengerti, gue akhirnya tahu kalau wanita-wanita itu adalah simpenan bokap. Bukan simpenan juga sih, kan ditunjukin di depan Mama." Ia membuang pandangan ke arah lain, tak kuasa menahan air mata. Tangannya meremat jok mobil, dadanya serasa seperti disayat-sayat, tak bisa membayangkan betapa sakit hati Mamanya kala itu.
Yasa mengambil tisu, menyodorkan pada Ivy. Pantas saja Ivy tak percaya cinta, takut juga berumah tangga, ternyata ia tumbuh dalam keluarga yang tidak sehat hingga menimbulkan trauma.
Ivy menyeka air mata sambil menyusut hidung. "Sorry ya," ia menatap Yasa. "Bukan jual kesedihan Yas, tapi cuma ngasih tahu, biar lo gak syok nanti setelah kita nikah. Kata orang, nikah itu bukan hanya menyatukan dua orang, tapi dua keluarga. Jadi menurut gue, lo harus tahu soal keluarga gue."
Yasa mengangguk faham. Tak sedikitpun terbesit di benaknya kalau Ivy sedang menjual kesedihan atau buka-buka aib.
"Oh iya, lo kenal Inara gak?" Ivy tiba-tiba ingin membahas soal perempuan itu.
"Inara siapa?" Yasa malah balik tanya.
"Mantan kakak lo. Mantannya Nuh."
Yasa kembali mengingat-ingat nama mantan pacar Abangnya. Dari dulu, ia kurang minat ikut campur urusan Abangnya, tak pernah tahu apalagi ingin dikenalin dengan mereka. Namun pernah ada satu pacaranya yang viral, yang saat Abangnya live di rumah sakit. "Apa yang dulu pernah di live in sama Abang gue, di rumah sakit?"
"Yup, betul banget," sebagai mahasiswa dari kampus yang sama, Ivy tentu tahu sekali kasus itu. "Yang dulu kalau gak salah, ada bully saudara kalian gitu, punya foto toplessnya. Gue udah agak lupa sih."
"Ya betul, itu foto Alice."
"Ha, Alice yang tadi?" mata Ivy membulat sempurna.
Yasa mengangguk.
"Parah emang di Inara," pengen ngumpat, tapi takut dimarahi Yasa. "Dulu seingat gue, Nuh ada memperingati Inara dan teman-temannya buat gak ganggu bokap lo. Eh...sekarang malah ganti bokap gue sasarannya," ia tertawa ngakak. Lucu sekaligus miris. "Lo tahu, sekarang si Inara, jadi pacar bokap gue."
Seketika, Yasa syok.
"Syik syek syok kan elo?" Ivy tersenyum miring. "Rada stress emang kayaknya tuh cewek," memiringkan telunjuk di depan kening. "Demi hidup enak, rela jadi jalanggnya bokap gue. Gak mau hidup susah apalagi kerja keras, maunya cuma enak, modal selang kangan," menghela nafas panjang sambil geleng-geleng. Ia melihat jam, ternyata sudah hampir jam 11. "Ya udah gue masuk dulu, udah malem. Besok lo kuliah?" tanyanya dan langsung diangguki oleh Yasa. "Besok jemput gue di kantor ya, bukan kantor tadi, kantor bokap. Kita bahas soal prenup."
"Iya."
"Malem calon adek suami. Cepat tidur ya, biar besok gak kesiangan kuliahnya," Ivy iseng mengusap kepala Yasa.
"Ish!" Yasa menepis tangan Ivy di kepalanya sambil melotot.
Ivy tertawa cekikikan. "Berasa punya adek gue sekarang."
"Gak jelas! Buruan keluar dari mobil gue!"
"Jangan ngambekan, entar cepet tua. Ah, tapi gak papa sih, biar dikira kita sepantaran atau tuaan elo."
"Ogah!"
Ivy keluar, lalu melambaikan tangan.
"Assalamu'alaikum," ucap Yasa, nyindir Ivy yang pergi tanpa salam.
"Waalaikumsalam," sahut Ivy sambil senyum. Mana faham dia kalau salam Yasa, adalah sindiran halus.
Melihat mobil Inara, Ivy sudah sebel bawaannya. Itu baru mobilnya, apalagi orangnya. Semoga saja cewek itu ada di kamar bokap, biar gak ngeliat mukanya, males banget. Sayangnya, harapan Ivy tak terkabul, baru masuk, udah denger suara ketawa Inara. Sumpah, muak, pengen muntah.
"Dari mana jam segini baru pulang?" tanya Agung yang ada di sofa ruang keluarga bersama Inara.
Rasanya Ivy pengen ngelempar tas nya ke muka Inara yang sedang gelendotan pada Papanya. Sok manja, sok kecakepan.
"Darimana?" ulang Agung karena Ivy hanya bengong.
"Palingan keluyuran anak kamu itu, Sayang," Inara malah ngomporin.
"Ketemu Yasa," Ivy memutar bola matanya malas. Tumben nanya, batinnya, biasanya juga gak peduli. Ia menatap Inara tajam. "Lo itu punya rumah gak sih, kenapa disini mulu tiap hari? Sumpah, males banget liat muka lo!"
"Suka-suka gue dong, yang punya rumah aja ngizinin, kok elo yang sewot," Inara malah tersenyum mengejek. "Yang, kasih tahu dia," rengeknya sambil bergelayut manja di lengan Agung.
"Apaan?" feeling Ivy mulai gak enak.
Agung beranjak dari duduknya, melangkah mendekati Ivy, berdiri selangkah di depannya. "Papa dan Inara, mau nikah."
"WHAT!" Ivy langsung melotot.
hasilnya buat wewek gombel ,,, jangan mau Vi jadi rampok di tempat mertua mending usaha sendiri besarin tu skincare mu ya,,
berapa bulan sih?? aku 2 bulan aja udah sesak pake rok span kerja...terpaksa pake celana panjang aja
krn wkt ngidam mama makan nya pecel🤭