Mereka datang ke desa untuk KKN dengan niat mengabdi.
Yang tak mereka sangka, kepulangan mereka justru membawa trauma.
Setiap suara malam dianggap teror, setiap bayangan jadi horor, padahal tak satu pun hantu benar-benar ada. Semua kekacauan terjadi karena ketakutan, kepanikan, dan imajinasi para mahasiswa itu sendiri.
Sebuah kisah horor komedi tentang KKN yang gagal menakutkan hantu,
karena manusianya sudah panik duluan.
Datang untuk mengabdi, pulangnya trauma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.5
Bagian dalam posko gelap. Bukan gelap total, masih ada cahaya matahari yang menyelinap lewat celah jendela, tapi cukup untuk membuat bayangan memanjang aneh di lantai kayu. Bayangan itu tidak diam. Ia memanjang, memendek, bergeser pelan mengikuti perubahan sudut cahaya. Kadang terlihat seperti kaki tambahan. Kadang seperti tangan yang tidak seharusnya ada. Mata manusia memang pandai menipu diri sendiri ketika suasana mendukung.
Aroma lembap menyergap. Bau kayu tua, debu, dan sesuatu yang tidak bisa diidentifikasi. Bukan bau busuk atau bau harum, hanya bau kayu yang sudah lama. Seperti aroma rumah yang menyimpan terlalu banyak cerita tapi tidak pernah dibuka lagi.
“Wah,” kata Ani pelan, matanya berbinar. “Ini tempatnya dapet banget.”
Nada suaranya justru penuh antusias, seperti seseorang yang baru menemukan spot foto estetik.
“Dapet apa?” tanya Palui.
“Dapet trauma.”
Jawaban itu datang cepat, tanpa ragu, dan membuat beberapa orang refleks tertawa pendek, tawa yang lebih mirip hembusan napas panik daripada ekspresi bahagia.
Mereka masuk satu per satu. Tidak ada yang langsung melangkah jauh. Semua berhenti sejenak di ambang pintu, seperti menunggu rumah itu memberi izin. Lalu, satu demi satu, kaki mulai menginjak lantai. Langkah kaki di lantai kayu menghasilkan bunyi kriet… kriet… yang terlalu nyaring. Setiap suara terasa seperti pengumuman, ada orang hidup di sini sekarang.
Setiap kriet seolah menjawab keberadaan mereka. Seolah lantai itu berkata, aku tahu kamu datang. Ruang tamu posko luas, tapi kosong. Tidak ada sofa. Tidak ada meja. Hanya tikar tipis di sudut ruangan, digulung rapi seperti sudah lama tidak disentuh. Dindingnya dihiasi paku-paku kosong, seolah dulu pernah ada sesuatu yang sengaja dilepas. Tidak ada foto. Tidak ada kalender. Tidak ada jam dinding. Tidak ada tanda waktu pernah berjalan di sini.
“Kenapa rumah ini kosong banget?” tanya Susi, wajahnya menunjukkan konflik batin antara estetika dan realita.
Ia berputar pelan, mengamati sudut-sudut ruangan. Di kepalanya, rumah ini sebenarnya cocok jadi lokasi pemotretan, kalau saja tidak terasa seperti tempat orang lupa bernapas.
“Biar kita bisa ngisi,” jawab Paijo optimistis.
Nada suaranya tulus, khas Paijo yang selalu melihat segala sesuatu dari sisi paling terang bahkan di tempat yang pencahayaannya minim.
“Ngisi apa?” sahut Bodat. “Kesurupan?”
Paijo terdiam. Senyumnya masih ada, tapi kini sedikit ragu, seperti seseorang yang baru sadar kalimat barusan mungkin bukan motivasi yang tepat. Juned mengangkat kamera lagi, lalu berhenti. Ia mengerutkan kening. Tangannya yang biasanya lincah kini diam. Ia menatap layar ponselnya lebih lama dari yang seharusnya.
“Aneh,” gumamnya.
Satu kata itu cukup membuat beberapa kepala langsung menoleh.
“Apa?” tanya Moren.
“Di kamera… ruangan ini lebih gelap dari aslinya.”
Nada Juned tidak dramatis. Justru itu yang membuatnya terasa lebih mengganggu.
Semua menoleh, Juned memutar layar. Benar saja, di layar ponsel, sudut-sudut ruangan terlihat lebih pekat, bayangannya lebih tebal, seolah ada lapisan gelap tambahan yang tidak ditangkap mata langsung. Perbedaan itu jelas. Terlalu jelas untuk diabaikan.
“Filter?” tanya Udin cepat.
Ia bergerak mendekat, berusaha mencari penjelasan yang paling masuk akal.
“Filter mati.”
“Brightness?”
“Max.”
Sunyi turun lagi, Bukan sunyi mendadak. Tapi sunyi yang jatuh perlahan, seperti debu yang mengendap setelah pintu lama dibuka. Beberapa orang menelan ludah. Ada yang pura-pura sibuk merapikan tas. Ada yang berpindah tempat tanpa tujuan jelas.
“Udah, udah,” kata Udin cepat. “Kita bagi tugas dulu. Biar rame.”
Kalimat itu terdengar seperti mantra pengusir setan versi mahasiswa. Tidak ada doa panjang. Tidak ada ritual. Hanya logika sederhana, tempat rame lebih aman daripada tempat sunyi. Mereka menyebar, Gerakan itu terasa melegakan. Suara langkah, suara tas dibuka, suara napas, semuanya membantu mengusir kesan bahwa rumah ini sedang mengamati mereka.
Anang langsung menuju bagian belakang rumah, tempat dapur berada. Dapurnya sederhana: tungku tanah, meja kayu, dan rak kosong. Tapi mata Anang berbinar seperti menemukan harta karun. Baginya, dapur adalah pusat kehidupan. Selama masih ada ruang untuk masak, semuanya bisa dinegosiasikan.
“Ini bisa,” katanya yakin. “Asal gas ada.”
Nada suaranya penuh keyakinan, seperti chef yang sedang diwawancara di acara kuliner.
“Kalau nggak ada?” tanya Surya.
“Kita doain.”
Jawaban itu membuat Surya terdiam beberapa detik, mempertimbangkan apakah doa cukup kuat untuk menggantikan kompor.
Palui mengikuti Anang, bukan untuk membantu, tapi untuk memastikan tidak ada pengeluaran tidak terduga. Ia membuka lemari, mengecek sudut-sudut dapur, lalu menghela napas.
“Syukurlah,” katanya.
Nadanya terdengar seperti seseorang yang baru lolos dari audit mendadak.
“Nggak ada apa-apa.”
“Kenapa itu syukur?” tanya Aluh.
“Karena berarti belum ada yang harus kita ganti.”
Logika Palui sederhana, apa pun yang rusak adalah tanggung jawab. Dan tanggung jawab biasanya berujung pada patungan.
Di ruang tengah, Ithay duduk di lantai dan mulai memetik gitar lagi. Ia memilih duduk dekat cahaya, meski tetap saja bayangannya memanjang aneh di belakangnya. Nada gitar menggema aneh di ruangan kosong. Tidak fals, tapi terdengar terlalu luas, seolah rumah itu ikut memantulkan suara dengan caranya sendiri.
🎶 “Posko tua, hati was-was~” 🎶
Lirik itu baru setengah jalan ketika dua suara memotongnya bersamaan.
“JANGAN NYANYI,” kata Surya dan Bodat bersamaan dengan Sinkron, kompak, tanpa latihan.
Ithay berhenti, lalu tertawa.
“Oke, oke. Tapi sumpah, akustiknya bagus.”
Ia menepuk-nepuk lantai, seolah sedang menilai kualitas ruangan untuk konser kecil. Juleha menata tikar, merapikannya sambil terus berzikir pelan. Tangannya bergerak hati-hati, seakan setiap lipatan tikar harus rapi agar tidak mengundang apa pun yang tidak diinginkan. Setiap kali lantai berbunyi, alisnya sedikit mengernyit, tapi bibirnya tidak berhenti bergerak. Zikirnya lirih, hampir menyatu dengan suara napasnya sendiri. Moren mencoba mencari colokan listrik. Ia berjalan menyusuri dinding, menyingkirkan sarang laba-laba kecil, lalu menemukan satu stopkontak tua di dinding.
“YES,” katanya kecil.
Nada suaranya seperti menemukan oase. Ia mencolokkan charger. Lampu di ponselnya tidak menyala. Ia mencabut dan mencoba lagi, tetapi tidak ada reaksi. Ia meniup ujung charger, refleks klasik manusia modern ketika teknologi tidak bekerja.
“Listriknya mati?” tanya Udin.
“Bukan,” jawab Moren ragu. “Kayaknya… stopkontaknya yang nggak niat.”
Kalimat itu terdengar aneh, tapi entah kenapa terasa pas. Stopkontak itu memang terlihat seperti benda yang sudah menyerah pada fungsinya sendiri.
Di kamar belakang, Wati sudah merebahkan diri di sudut ruangan yang paling gelap. Ia melipat tangan di dada, menghela napas panjang, lalu tersenyum puas.
“Empuk,” katanya sambil memejamkan mata.
Beberapa kepala langsung menoleh cepat.
“ITU LANTAI,” bentak Susi.
Wati membuka satu mata, lalu menutupnya lagi.
“Berarti aku cocok jadi karpet.”
Tidak ada yang tertawa keras. Tapi beberapa orang menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis.
Sunyi mulai bekerja. Bukan sunyi yang langsung menakutkan. Tapi sunyi yang menyusup pelan, membuat pikiran punya ruang untuk berkelana. Setiap bunyi kecil terdengar terlalu jelas. Setiap bayangan terasa punya niat.
Kayu berderak bukan lagi sekadar kayu. Angin yang menyentuh celah jendela terdengar seperti bisikan. Bahkan napas sendiri terasa terlalu keras. Namun di tengah itu semua, suara-suara receh, keluhan, candaan, gumaman, menjadi benteng terakhir. Karena selama masih bisa bercanda, berarti mereka masih manusia. Dan selama masih manusia, mereka belum kalah oleh sunyi.
...🍃🍃🍃...
BERSAMBUNG....