Alicia Valero adalah ratu properti Madrid yang tak tersentuh—hingga ia mencium aroma pengkhianatan di balik kemeja suaminya, Santiago. Alih-alih meratap, Alicia memilih jalur yang lebih panas: balas dendam total. Ia akan merebut kerajaan Solera Luxury Homes dan menghancurkan Santiago.
Namun, demi memenangkan perang ini, Alicia harus bersekutu dengan iblis: Rafael Montenegro.
Rafael, pesaing suaminya yang kejam dan memikat, adalah bayangan gelap yang selalu mengincar kehancuran Solera. Ia memiliki tatapan yang menjanjikan dosa dan sentuhan yang bisa membakar segalanya.
Alicia Valero kini menari di antara dewan direksi yang kejam dan pelukan rahasia yang terlarang. Persekutuan berbahaya ini bukan hanya tentang bisnis, tetapi tentang gairah yang menyala di atas tumpukan pengkhianatan.
Dalam permainan kekuasaan, siapa yang akan menjadi korban? Apakah Alicia bisa mengendalikan serigala itu, ataukah ia akan menjadi mangsa berikutnya dalam kehancuran yang paling manis dan mematikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chrisytells, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11 : Keseimbangan Kekejaman dan Kilau Cincin
Alicia Valero memasuki ruang rapat yang kini bersih dari loyalis Santiago. Udara pagi itu dingin, tetapi Alicia memancarkan panas yang terpendam. Cincin warisan Montenegro berkilauan di jari manisnya, berlawanan dengan jas bisnis abu-abu yang ia kenakan—simbol nyata dari dualitas yang ia hadapi.
Hari ini, Alicia memimpin rapat pertama untuk merestrukturisasi total Solera dan mengintegrasikan divisi utama dengan Montenegro Group. Di hadapannya, duduk para eksekutif baru yang takut, dan Rafael Montenegro, yang hadir bukan sebagai mitra, melainkan sebagai pengawas dan klaim atas dirinya.
“Kita harus cepat dan efisien,” ujar Alicia, suaranya tajam, memotong ketegangan di ruangan. “Divisi Keuangan, saya ingin laporan lengkap mengenai potensi kerugian dari investigasi luar yang dipicu oleh Santiago. Saya butuh damage control segera.”
Kepala Keuangan baru, Tuan Ramos, tampak gugup. “Nyonya Valero, kerugian reputasi lebih besar daripada finansial. Kabar burung tentang dugaan utang Montenegro Group dan pemerasan terhadap Isabel sudah menyebar. Bahkan pertunangan mendadak Anda pun dianggap sebagai taktik Publik Relation panik.”
Cincin di jari Alicia berdenyut. Ia bisa merasakan tatapan sinis dari beberapa eksekutif yang masih menilai dirinya berdasarkan drama tabloid murahan.
“Saya tidak peduli dengan rumor, Tuan Ramos,” balas Alicia, menatapnya lurus. “Yang saya pedulikan adalah fakta. Dan faktanya, Montenegro Group adalah mitra kami yang membawa modal terbesar dalam sejarah perusahaan ini. Jika Anda tidak bisa memisahkan drama dari profit, Anda akan menjadi kerugian berikutnya yang harus saya singkirkan.”
Rafael, yang diam selama ini, melipat tangannya. Ia tahu, Alicia harus memimpin dengan tangan besi hari ini.
“Perkenalkan deadline yang tidak realistis untuk setiap divisi. Saya ingin mereka takut. Ketakutan melahirkan efisiensi,” bisik Rafael pelan, hanya didengar Alicia.
Alicia menghela napas, merasakan dorongan Rafael di balik kekejamannya. Ia harus menjadi CEO yang kejam, tetapi di bawah tekanan Rafael, kekejaman itu terasa seperti topeng yang semakin berat.
“Mulai hari ini,” kata Alicia, suaranya naik. “Setiap laporan akan ditinjau dua kali. Saya ingin detail yang setajam berlian ini.” Ia mengangkat tangannya, sengaja memamerkan cincin Montenegro. “Dan untuk Tuan Ramos, segera buat draf gugatan pencemaran nama baik terhadap Isabel Valero. Kita akan membungkam drama itu dengan ancaman hukum nyata.”
Ramos mengangguk cepat, rasa takut menguasai dirinya.
Rapat berlangsung selama dua jam. Alicia brutal, efisien, dan tanpa ampun—ia adalah ratu es yang telah diasah oleh pengkhianatan. Tetapi ia terus merasakan dualitas yang mengganggu. Setiap kali ia mengeluarkan keputusan kejam, ia merasakan tatapan penuh gairah Rafael, seolah kekejaman bisnis itu adalah foreplay mereka.
Begitu pintu ruang rapat ditutup, Alicia langsung merosot. Ia melepas cincin itu dan meletakkannya di atas meja.
“Berhasil. Empat orang hampir menangis, dan Ramos akan bekerja lembur sampai dia mati,” ucap Alicia menghela napas lelah.
Rafael datang menghampirinya, meraih pergelangan tangan Alicia, dan menariknya mendekat. “Kau sukses. Kau adalah CEO yang kejam. Apa masalahnya?”
“Masalahnya adalah aku tidak yakin apakah kekejaman ini milikku atau milikmu, Rafael,” balas Alicia, tatapannya lelah. “Aku memimpin rapat, tetapi aku merasa seperti boneka yang hanya menampilkan kebrutalan yang kau inginkan. Kau memintaku untuk kejam, dan setiap kali aku kejam, matamu berkilat. Kau melihat wanita yang kau inginkan, bukan mitra yang kau hormati.”
Rafael mencengkeram rahangnya dengan lembut, memaksa Alicia menatap matanya. “Aku melihat kekuatan, Alicia. Kekuatan itu milikmu. Kau tidak perlu berpura-pura. Kau menggunakan kekejaman itu untuk menghancurkan Santiago, yang membuatmu merasa dikhianati. Dan aku menghormatimu karena hal itu.”
“Tapi aku tidak ingin menjadi monster berdarah dingin hanya untuk memuaskan egomu!” teriak Alicia, air mata frustrasi menggenang di matanya. “Aku tidak ingin menjadi kebalikan dari Santiago, yang hanya bersembunyi di balik moralitas palsu!”
Rafael menariknya ke dalam pelukan. Sentuhannya kali ini tidak dominan, tetapi menenangkan sebagai pria yang melindungi seorang wanita. “Kau bukan monster, Alicia. Kau adalah wanita yang bertahan hidup. Kekejaman ini adalah perisaimu. Dan aku tidak memaksamu untuk kejam. Aku hanya memintamu untuk menerima siapa dirimu sebenarnya.”
“Siapa diriku, Rafael? Aku tidak tahu lagi, siapa aku sebenarnya?” bisik Alicia, bersandar pada kekuatan Rafael.
“Kau adalah wanita yang menggunakan cincin warisan sebagai ancaman. Wanita yang mencintai laba, tetapi juga mencintai gairah. Kau adalah keseimbangan yang kejam. Dan aku, aku adalah satu-satunya yang melihat dan menerima kedua sisi itu.”
Rafael mengambil cincin itu, mengangkat tangan Alicia, dan meletakkannya kembali. “Pakai ini. Cincin ini bukan hanya relasi publik. Ini adalah janji bahwa di luar ruangan ini, aku adalah perisai yang akan membuatmu tetap kejam. Di ruangan ini, aku adalah kekasih yang akan membuatmu tetap manusia.”
“Dan kau tidak akan meninggalkanku seperti Santiago?” tanya Alicia, suaranya sangat kecil, menunjukkan kerentanan yang jarang ia tunjukkan.
“Aku tidak akan pernah meninggalkan kendali,” balas Rafael, mencium telapak tangannya. “Dan kau adalah kendaliku yang paling berharga. Kau pantas menempatkan posisi Nyonya Montenegro.”
Sore harinya, Alicia dan Rafael harus menghadiri acara amal penting di Balai Kota—sebuah acara yang tidak bisa mereka hindari, terutama setelah drama Yayasan. Ini adalah Tarian Publik pertama mereka sejak pengumuman pertunangan.
Alicia kembali mengenakan gaun yang menunjukkan kekuasaan, dan cincin Montenegro berkilau di setiap gerakan. Mereka memasuki ruangan, dan seluruh perhatian segera tertuju pada mereka.
Mereka menyambut para tamu, menunjukkan keintiman yang terukur—tidak berlebihan, tetapi cukup untuk menegaskan bahwa mereka adalah pasangan yang stabil dan serius. Setiap tatapan, setiap pujian, adalah palu yang memukul Isabel dan Santiago.
Di sudut ruangan, Alicia melihatnya. Santiago. Ia tidak sendiri; ia ditemani oleh Don Mateo, mantan anggota dewan yang baru dipecat. Santiago tampak lebih baik dari kemarin, tetapi matanya penuh kebencian dan kehati-hatian.
Santiago melihat cincin di jari Alicia. Cincin yang seharusnya menjadi miliknya. Cincin itu adalah pengakuan bahwa Alicia telah bergerak maju dengan musuh terbesarnya.
Santiago, didorong oleh amarah yang meluap, mendekati mereka. Don Mateo berusaha menahannya, tetapi gagal.
“Selamat atas pertunangan palsu Anda, Alicia,” sapa Santiago, suaranya dipenuhi racun.
Alicia berbalik, tersenyum dingin. “Santiago. Terima kasih. Aku senang kau masih sempat keluar dari apartemenmu yang suram. Aku khawatir Don Mateo adalah satu-satunya temanmu yang tersisa.”
“Jangan sok suci! Kau tahu pertunangan ini hanya taktik untuk menutupi kebohonganmu terhadap Isabel dan Yayasan!” seru Santiago.
Rafael melangkah maju, menghalangi pandangan Santiago ke Alicia. “Mundurlah, Santiago. Kami sedang sibuk membangun fondasi. Jangan menjadi gangguan yang tidak relevan.”
“Aku tidak relevan? Aku yang memulai dan membangun Solera! Aku yang mengenalnya lebih baik darimu, Rafael! Dia adalah wanita yang dingin dan penuh perhitungan. Dia tidak akan pernah mencintai siapapun, termasuk kau Tuan Montenegro! Dia hanya wanita liar mencintai kekuasaan!” tuduh Santiago.
Alicia mencondongkan tubuh ke depan, melangkahi Rafael. Ia menatap Santiago, matanya berkilat.
“Kau benar, Santiago. Aku mencintai kekuasaan. Aku liar dan tak terkendali. Dan kau mengajariku bahwa kekuasaan hanya bisa diamankan dengan kesetiaan mutlak dan rasa hormat,” kata Alicia, suaranya lembut, tetapi mematikan.
Ia mengangkat tangannya, memperlihatkan cincin Montenegro.
“Kau memberiku pengkhianatan dan kebohongan. Rafael memberiku cincin ini dan kendali penuh atas kerajaannya. Rafael menghormati kekejamanku, sementara kau hanya merengek tentang kedinginanku. Sekarang, tebak siapa yang memberiku lebih banyak power? Aku sudah menjadi CEO, Santiago. Dan sekarang, aku menjadi calon Istri Montenegro. Aku memiliki segalanya yang pernah kau impikan, dan aku menggunakannya untuk melupakanmu.”
Pukulan itu telak. Santiago gemetar, wajahnya pucat. Ia melihat api di mata Alicia—api yang tidak pernah ia rasakan saat mereka bersama.
Don Mateo, yang melihat kehancuran Santiago, segera menariknya menjauh.
Saat Santiago diseret keluar dari acara amal itu, Alicia merasakan kepuasan yang luar biasa. Ia berhasil menjadi CEO yang kejam dan wanita yang kejam dalam satu gerakan.
Kembali ke suite Ritz, Alicia dan Rafael melepas pakaian formal mereka. Cincin itu tetap di jari Alicia.
“Kau sangat kejam padanya. Itu nyaris membuatku cemburu,” bisik Rafael, mencium bahu Alicia.
“Aku tidak kejam, aku hanya jujur,” balas Alicia. “Aku memberinya kebenaran: dia digantikan oleh pria yang lebih kuat dan lebih ambisius. Sekarang, aku butuh bukti lain, Rafael.”
“Bukti apa?”
“Buktikan padaku bahwa aku tidak hanya memakai cincinmu, tetapi juga memilikimu sepenuhnya. Aku ingin kendali di ranjang ini. Aku ingin memastikan bahwa kekejaman yang kumiliki, tidak akan membuatku kesepian.”
Rafael mengangkatnya, matanya menyala. “Ambil kendali, mi reina. Buktikan padaku bahwa cincin ini hanyalah permulaan.”
Malam itu, gairah mereka adalah negosiasi terpanas. Alicia menuntut dominasi, dan Rafael memberikannya, tahu bahwa hanya dengan mengizinkan Alicia memimpin, ia dapat mengikatnya lebih dalam. Ia membiarkan Alicia menentukan aturan, tempo, dan klimaks. Alicia menggunakan gairah itu untuk memvalidasi dirinya—bahwa ia bisa menjadi kejam di kantor, tetapi penuh hasrat di ranjang.
Di tengah kelelahan, Alicia memeluk Rafael. Ia merasakan keseimbangan yang ia cari. Ia adalah CEO yang kejam, tetapi ia juga wanita yang dicintai oleh predator yang setara.
“Aku harus melacak kelemahan finansialmu dan memburu Eduardo besok,” bisik Alicia, meskipun ia hampir tertidur.
“Aku tahu. Tapi malam ini, kau hanya tunanganku,” jawab Rafael, mencium cincin di jari Alicia. “Dan tunanganku mendapatkan semua yang menjadi haknya.”