Apa?!! Menikahi Musuhku? Apa itu mungkin?... Namaku adalah Demian Wulfric, yaitu raja dari kerajaan Endom, kerajaan terkuat di belahan bumi Eropa. Aku disebut sebagai raja dari kayangan, karena parasku yang sangat rupawan dan sifatku yang sangat dingin.
Selama hidupku, aku menanggung amarah yang amat dalam kepada musuh yang telah membunuh orang tuaku dan memporak-porandakan rakyat serta kerajaanku.
Namun, takdir berkata lain, aku terpaksa harus menikahi putri dari musuhku, yaitu putri dari kerajaan Alamore yang bernama Putri Aurora Delacour. Ia adalah putri yang sangat cantik jelita yang memiliki 'Mutiara Abadi' di dalam tubuhnya. Mutiara yang membuatku sangat bergantung kepadanya dan aku harus menahan rasa cinta yang mendalam kepadanya, hanya karena masa lalu yang sangat menyakitkan di antara kami.
Bagaimana kisah perjalanan cinta kami selanjutnya? Jangan lewatkan kisah kami ya...
Jangan lupa like, komen & dukung cerita ini dengan 5 Vote yaah...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ekouchi Aya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Api Cemburu ( Part 1)
"Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Aurora berdiri menghadap Pangeran Brian.
Pangeran Brian pun tercengang melihat kecantikan Aurora.
"Siapa wanita ini? dia cantik sekali, wajahnya bagai rembulan di malam hari," terlintas dalam hati Pangeran Brian.
"Maaf, namaku Brian," terang Pangeran Brian kepada mereka berdua.
"Saya Mia, dan di samping saya Putri Aurora," jelas Mia yang begitu senang akan kedatangan Pangeran Brian.
"Apakah dewi yang mereka sebut adalah kau?" tanya Pangeran Brian secara tiba-tiba.
"Saya bukan dewi," jawab Aurora sambil tersenyum.
"Menurutku kau memang seorang dewi," ujar Pangeran Brian sedikit menggoda.
"Saya hanya wanita biasa, bukan dewi seperti yang orang-orang bicarakan," jelas Aurora menambahi.
"Ya tentu, saya hanya bergurau saja," sahut Pangeran Brian sambil tersenyum.
Mereka mulai mengobrol dan mengenal satu sama lain, sampai pelayan datang hendak memberi tahu Pangeran Brian untuk segera menuju ruang makan istana.
"Pangeran, sekarang waktunya makan malam, Anda telah ditunggu oleh raja di ruang makan istana," lapor pelayan pada Pangeran Brian.
"Baik, aku akan segera ke sana," jawab Pangeran Brian.
"Pangeran???" bisik Mia ke arah telinga Aurora.
"Husshhtttt" sahut Aurora melarang Mia untuk berbicara terlalu keras.
"Jika tidak keberatan, apakah kau mau makan malam bersama kami?" Pangeran Brian menawarkan Aurora untuk makan malam bersama.
"Oh tidak, terimakasih kami sudah kenyang" tolak Aurora dengan lembut.
"Ayolah, kita bisa mengobrol bersama dengan anggota kerajaan yang lain," ajak Pangeran Brian lagi.
"Ikut saja putri, tak apa, biar saya yang menjaga paviliun," saut Mia sambil mendorong tubuh Aurora untuk segera ikut.
Aurora pun menyetujui ajakan Pangeran Brian untuk makan bersama di istana.
*****
"Kai, apa kau sudah menyuruh pelayan untuk menjemput Pangeran Brian?" tanyaku sembari menunggu.
"Sudah, Yang Mulia," jawab Kai yang duduk di sebelahku.
Agenda malam ini adalah makan malam untuk menyambut kedatangan Pangeran Brian. Aku, paman, Kai dan Ken telah siap di ruang makan. Tidak kusangka malam itu Brian membawa serta Aurora untuk makan malam bersama kami.
"Apakah kalian semua sudah lama menunggu saya?" tanya Pangeran Brian tiba bersama Aurora.
"Selamat malam, Yang Mulia." Aurora menyapaku di ruang makan.
Aku hanya menganggukkan kepala padanya seakan tak keberatan jika ia ikut serta untuk makan bersama kami.
"Dari mana saja kau ?" tanya pamanku sedikit kesal.
"Maaf Ayah, aku tadi berkeliling istana dan bertemu dengan seorang Dewi" Sambil tersenyum, Pangeran Brian mempersilahkan Aurora duduk di sampingnya.
"Terima kasih," kata Aurora merasa canggung.
Aurora terlihat tidak nyaman karena pertama kali baginya makan bersama dengan keluarga kerajaan.
"Baiklah karena semua sudah berkumpul, kata bisa mulai makan," tuturku menyuruh mereka semua untuk mulai makan.
"Ayah, sahabat Ayah yang mana yang menitipkan Aurora kemari?" tanya Pangeran Brian memulai obralan.
"Kau tak kenal dia, karena kau tak pernah bertemu dengannya," jelas paman mencari alasan.
"Baiklah, lain kali bawa aku menemuinya," pinta Pangeran Brian pada ayahnya.
"Untuk apa?" tanya paman kembali.
"Mungkin suatu saat kita bisa menjadi sanak keluarga," kata Pangeran Brian membuatku tiba-tiba tersedak.
"Uhuuukk" Aku tersedak.
"Apa Anda baik-baik saja, Yang Mulia?" tanya Kai memberikan segelas air putih.
"Tidak papa, terima kasih," timpalku sambil mengelap sisa makanan di mulutku.
"Aurora, makanlah yang banyak, kau mau aku ambilkan steak ini?" Pangeran Brian menawari Aurora makanan.
"Tidak perlu, terima kasih." Aurora menatapku dengan tatapan salah tingkah.
"Sebentar." Pangeran Brian mengambil saputangannya dan membersihkan sisa makanan yang tersisa di bibir Aurora.
"Apa apaan mereka?" terlintas dalam hatiku
karena jengkel dengan perlakuan Pangeran Brian pada Aurora.
"Terima kasih, tidak perlu repot-repot," kata Aurora menatapku lagi.
Karena perlakuan Pangeran Brian kepada Aurora, membuat paman tak enak hati padaku.
"Aurora, apakah kau sudah mempunyai kekasih?" Pertanyaan Pangeran Brian yang menyebabkan kami semua terdiam.
"Cukup Brian, tidak seharusnya kau menanyakan hal-hal privasi kepada Aurora di depan umum," kata paman mewakili isi hatiku.
"Maafkan aku Aurora, kau tak perlu menjawabnya," kata Pangeran Brian menyesali pertanyaannya.
Selama makan malam, aku hanya terdiam tanpa kata. Tak lama kemudian kami pun menyudahi agenda makan bersama.
"Aurora, biar ku antar kau sampai ke paviliun." Pangeran Brian menawarkan diri.
"Tidak perlu Pangeran," jawab Aurora menolaknya.
"Jangan panggil aku dengan sebutan Pangeran, panggil saja aku, Brian," tutur pangeran Brian. Aurora membalasnya dengan senyuman.
"Kenapa mereka terlihat dekat sekali?" tanyaku pada Kai dan Ken pengamati Aurora dari kejauhan.
"Apakah Anda cemburu Yang Mulia?" tanya Kai polos.
"Jika Anda tidak nyaman dengan perlakuan Pangeran Brian kepada Putri Aurora, saya akan peringatkan mereka Yang Mulia," saut Ken hendak mendatangi mereka berdua.
"Jangan!,"
"Kalian pikir aku cemburu?" tanyaku tak mengerti apa yang kurasakan.
"Dari apa yang kami perhatikan terhadap Anda, sepertinya tebakan kami benar Yang Mulia," kata Kai.
"Kukatakan pada Kalian, aku tak pernah cemburu pada siapapun, kalian mengerti?" jelasku pada mereka berdua.
"Tampak jelas di wajah Anda, Yang Mulia," kata Ken tanpa memperdulikan perasaanku.
"Aahh aku tak peduli," sahutku langsung kembali ke kamar.
*****
Di pagi yang cerah di aula kerajaan, aku mengadakan rapat dengan para mentri kerajaan. Mereka menyampaikan beberapa kabar gembira.
"Yang Mulia, suatu berkah bagi kerajaan kita, bahwa pekerja tambang telah menemukan sumber minyak yang jumlahnya sangat melimpah Yang Mulia," jelas menteri sumber daya alam
"Benarkah? itu kabar baik untuk rakyat kita," kataku penuh semangat.
"Jumlah pemasukan negara juga meningkat Yang Mulia," jelas menteri keuangan.
"Yang Mulia, sepertinya kerajaan kita akan menjadi kerajaan yang sangat makmur," kata menteri yang lain.
"Semoga kebaikan akan terus menyertai kerajaan Endom."
Harapanku tercapai, kedatangan Aurora di kerajaan Endom membawa kemajuan dan kemakmuran bagi kerajaan. Mungkin karena efek dari keajaiban mutiara abadi itu.
Tapi, meski banyak kabar baik berdatangan, perasaanku tetap tidak berubah. Perasaan penuh dendam selalu muncul setiap kumelihat wajah Aurora. Apa yang menimpa pada orang tua ku dua puluh lima tahun lalu tak bisa kulupakan begitu saja. Meski nyatanya kerajaanku sudah menjadi kerajaan terhebat di belahan bumi ini. Apa mungkin kuharus berusaha mengubah perasaanku dan melupakan dendamku ini?.
Mungkin, tanpa sadar aku sudah sedikit menerima Aurora sebagai bagian dari kerajaan Endom. Akan tetapi aku masih belum mengerti letak di mana posisi Aurora dalam hatiku. Terkadang aku sangat membencinya setengah mati, terkadang aku sangat menghawatirkannya, atau aku sengaja tak memperdulikannya.
*****
Malam hari begitu dingin, angin berhembus tanpa henti, cahaya bulan pun ikut serta menghiasi indahnya malam.
"Sepertinya musim kemarau telah tiba, angin mulai berhembus kencang." Aku berkata pada diriku hendak menutup pintu cendela kamar yang terbuka lebar.
Ketika kuhendak menutup cendela, tak sengaja kulihat Aurora dan Pangeran Brian sedang duduk di kursi taman kerajaan sambil bersenda gurau.
"Apa yang meraka lakukan malam malam seperti ini?" tanyaku sambil menatapi wajah Aurora dari kejauhan yang terlihat sangat menikmati suasana.
BERSAMBUNG...
seorang raja ko sifatnya seperti itu menyebalkan