Sebuah insiden kecelakaan pesawat mengakibatkan Elara menjadi salah satu korbannya.
Gadis berusia 24 tahun itu tidak ditemukan dalam keadaan masih bernyawa, maupun jasad. Alhasil, Elara pun dinyatakan hilang.
Pada kenyataannya, Elara hidup, dia terdampar di sebuah hutan hingga mempertemukannya dengan sosok pria pendaki gunung, Shane Gladwin.
Shane merawat Elara dalam keadaan sulit dan mereka saling jatuh cinta satu sama lain.
Akan tetapi, saat kembali pada kehidupan awal, Elara menemukan fakta baru yang membuat Elara harus menyadari posisinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chyntia R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Percaya padaku
"Dingin?"
Shane menanyakan gadis yang sedang menggosok-gosok kedua telapak tangan didalam tenda mereka.
Elara mengangguk. "Ya, malam ini lebih dingin dari biasanya," akuinya.
"Mungkin musim dingin akan datang sebentar lagi," ujar Shane sembari mengendikkan bahunya. "Kita harus segera keluar dari hutan ini sebelum musim dingin tiba. Aku tidak tau apa jadinya jika kita masih disini," sambungnya terdengar putus asa.
"Shane, maafkan aku ya."
"Untuk?"
"Karena aku, kau jadi terjebak lebih lama di hutan ini."
Shane tersenyum tipis, "Ku pikir kau mau meminta maaf karena telah membuatku jatuh cinta padamu," ujarnya menggoda.
"Selalu saja merayuku," keluh Elara berlagak jengah.
Shane tertawa, ia menggenggam jemari Elara. "I love you, Lara," ungkapnya.
Elara berkedip gelisah, seperti apapun ia menghindar agar tidak jatuh dalam pesona pria dihadapannya ini, nyatanya ia memang harus terperosok ke dalam sebuah rasa yang lebih dalam bernama cinta.
"I love you, Shane."
Tangan Shane terulur, memegang sisi wajah Elara dan mendekatkan bibirnya didepan bibir gadis itu. Nafasnya menderu pelan, Elara dapat merasakan udara hangat yang berasal dari embusan pria itu. Shane menatap ke dalam manik mata Elara yang bening, hal serupa pun Elara lakukan, ia bahkan tergelincir di netra kehijauan milik pria itu.
Shane menyatukan bibir mereka, melesakkan lidahnya ke rongga mulut Elara dan disambut oleh gadis amatiran itu. Elara mencoba membalas perlakuan Shane dengan serupa. Nyatanya ia tidak bisa mengimbangi pria itu, Elara kalah nafas, ia merasa kehabisan oksigen dan Shane seakan mengerti kebutuhan gadis itu.
Shane melepas ciumannya, memberikan Elara ruang dan beberapa waktu agar bisa memasok oksigen lebih banyak. Hanya sekejap kesempatan itu, sebab Shane kembali melumaat bibir gadisnya dengan lebih intens padahal tadinya tidak demikian, tapi merasai balasan Elara membuat Shane ketagihan. Bibir gadis itu serta sentuhannya yang pasif justru membuat Shane merasa candu.
"Lara ..." Shane menatap sayu pada gadis itu dan dibalas dengan sorot yang sama oleh Elara.
Tangan Shane dengan handal menelusup masuk ke balik baju kebesaran yang Elara kenakan, membelai perut rata gadis itu, membuat Elara memejamkan matanya karena menikmati sentuhan Shane yang membuat naluri kegadisannya tergelitik ingin merasai lebih.
Sayangnya, Shane menghentikan kegiatannya saat merasakan sesuatu yang kasar diperut Elara.
"Kenapa, Shane?" tanya Elara bingung saat Shane justru menatapnya dengan tatapan penuh tanya.
Tadinya Shane hanya membelai perut Elara tanpa mengalihkan atensinya dari wajah gadis itu, tapi sekarang ia berfokus untuk melihat pada perut rata gadisnya.
"Lara, kenapa kau tidak mengatakan padaku soal luka yang ada di perutmu ini?" Shane menyentuh luka yang mengering disana dengan sangat hati-hati, pria itu memasang wajah penuh penyesalan seolah dia telah melukai Elara.
"Iya, disana juga ada lukanya. Aku tidak mungkin memamerkan luka di perutku dengan sengaja, kan?"
"Ya, kau benar," kata Shane mengiyakan.
"Apa kau jijik padaku setelah melihatnya?"
"Sayang, tentu tidak begitu. Lagipula lukanya sudah kering. Aku hanya takut sentuhanku akan menyakitimu." Tanpa ragu Shane menyibak lebih lebar baju Elara untuk melihat lebih jelas pada luka tersebut, ia meniup-niup luka itu disana.
"Akh, Shane!" erangg Elara.
Shane langsung menatap Elara kembali. "Apa sakit? Apa aku menyakitimu?" paniknya.
"Ehm, bukan itu tapi ..." Elara menggigitt bibirnya sendiri, sentuhan dan embusan nafas Shane yang mengenai kulit perutnya membuat kulit Elara meremangg, tidak pernah ada pria yang menyentuhnya sejauh itu. Hanya Shane jadi wajar jika itu membuat syaraf-syaraf pada tubuhnya merespon dengan sedikit berlebihan.
Shane memahami maksud Elara, bukannya menjauhkan wajahnya dari perut rata gadis itu, Shane malah mengecupnya perlahan.
"Shane, ah ... jangan lakukan itu, lukanya terlihat menjijikkan," katanya.
"Aku tidak peduli. Bagiku ini cantik."
Shane kembali mencium bibir Elara diikuti dengan tangannya yang terus bekerja meloloskan kaos oversize yang Elara kenakan.
Bisa-bisanya Elara tidak memprotes apa yang Shane lakukan. Cinta semu yang tadinya mau Elara pungkiri, nyatanya benar-benar melarutkannya dan tidak bisa menolak setiap sentuhan yang Shane berikan padanya malam ini.
Malam dingin itu berubah menjadi malam yang panas diantara mereka berdua.
...***...
Pagi harinya, Elara terbangun dengan posisi berada dalam dekapan hangat Shane yang bertelanjangg dada. Pun dirinya yang dalam keadaan serupa. Mereka sama-sama polos seperti bayi yang baru lahir, untungnya Shane sempat menutupi tubuh keduanya dengan selembar selimut tipis yang dibawa oleh pria itu setiap berkemah.
"Shane ..." Elara menepuk pelan pipi sang pria, berharap Shane bangun dari tidurnya.
"Kenapa, Sayang? Mau lagi?" racau Shane yang masih memejamkan matanya, dapat diartikan jika pria itu sedang mengigau.
Elara tertawa pelan. Shane memang hebat sekali semalam, dan mereka melakukannya lebih dari sekali. Tapi untuk melakukannya lagi, Elara pikir itu tidak mungkin mengingat tubuhnya remuk redam ditambah lagi tempat yang tidak nyaman. Kendati demikian, Elara tidak menyesal melajukan one night stand dengan pria yang kini memenuhi hatinya tersebut.
"Shane, matahari sudah meninggi. Aku mau mandi, tubuhku lengket sekali."
Shane menggeliat kemudian benar-benar sadar dari tidurnya.
"Ah, Lara ..." Shane menangkup wajah Elara dan ingin menghujani gadis itu dengan ciumannya, sudah terbayang diotaknya kejadian semalam yang membuatnya semakin mencintai gadis itu dan merasa jika Elara adalah miliknya.
"Shane!" Elara menggeleng-gelengkan kepala sebagai isyarat penolakan akan niat pria itu yang sudah dapat dibacanya. "Jangan lagi, aku ... mau ... mandi!" tegasnya.
Shane melenguhh panjang, tampak frustrasi.
"Badanku sakit semua, Shane. Kau tau tenda kita ini bukan bed yang empuk untuk melakukan hal itu berulang kali."
Shane akhirnya tersenyum kecil. Meski kecewa akan penolakan Elara tapi ia amat memahami perkataan Elara yang jujur. Alas tidur mereka memang tidak nyaman untuk bercintaa.
"Baiklah. Kita akan melakukannya lagi di bed yang empuk nanti," ujar Shane seolah membuat janji pada Elara.
Elara terkikik. "Aku tidak janji, Shane," katanya tenang sembari memunguti pakaiannya yang terserak disekitar posisinya.
"Apa maksudmu? Saat kita menikah, kita akan terus melakukannya, kau milikku, Lara," tegas Shane.
Elara tersenyum kecil. "Ya, saat ini aku milikmu, tapi setelah kita keluar dari hutan ini, kita akan kembali pada kehidupan awal yang belum tentu bisa menyatukan kita. Bagaimana bisa kau bicara soal pernikahan, Shane?" katanya realistis.
"Jadi kau merasa begitu? Jika seperti itu, kenapa kau mau melakukannya denganku? Apa kau tidak mau aku bertanggung jawab atas apa yang kita perbuat tadi malam? Aku tau itu yang pertama kalinya bagimu, Lara!"
Elara tak menyahut, ia memakai pakaiannya dan keluar dari tenda meninggalkan Shane.
"Lara, jawab aku! Kenapa kau mau melakukannya denganku disaat kau tidak yakin dengan kebersamaan kita selepas keluar dari hutan ini?" tuntut Shane, dia menyibak sedikit pintu tenda untuk mendapatkan jawaban dari bibir Elara-nya.
"Aku melakukannya denganmu karena aku benar-benar sudah jatuh cinta padamu, Shane."
Shane dengan cepat meraih celana pendeknya dan keluar menyusul Elara didepan tenda.
"Aku juga mencintaimu. Jadi, jangan meragukan apapun. Kita akan tetap bersama setelah ini," ungkap Shane sambil mendekap tubuh Elara dari belakang.
"Semoga saja, Shane. Aku cuma tidak mau berharap besar padamu."
"No! Berharap lah padaku. Aku akan mewujudkan harapanmu itu. Memangnya apa yang kau harapkan, hmm?"
"Aku mau terus bersamamu, jika itu bisa."
"Tentu saja bisa! Tapi ku mohon, setelah nanti kita berhasil keluar dari hutan ini, jangan pernah percaya pada perkataan orang lain. Percayalah hanya kepadaku."
Elara mengangguk dalam posisinya dan Shane mengecup rambut Elara berulang kali.
...Bersambung ......
mksud dari gk pernah bisada hamil anak Shane itu gmna??jgn bilang klo rahimnya jg diambil Thor?? please jgn sampek..kasian Elara.nya..
dan sebagai wanita baik2 penting punya harga diri,agar tak sembaranfan membuka paha utk laki2 yg bukan suami..error semua tokohnya
yg baca juga sewot
hahaja🤣🤣🤣