Di kantor, Cyan Liani (28 tahun) seorang atasan perempuan yang tegas, rapih, kaku, dan jutek. Netizen biasanya manggil pake julukan lain yang lebih variatif kayak; “Singa Ngamuk”, “Atasan Dingin” , “Ibu Galak”, dan “Perawan Tua”.
Sementara Magenta Kusuma (25 tahun) adalah anggota tim Cyan yang paling sering bikin suasana rapat jadi kacau. Pria ceroboh yang doyan ngeluarin celotehan humor, bikin seisi ruangan ketawa dan terhibur.
Hubungan mereka yang kayak dua kutub magnet itu nggak mungkin dimulai dari ketertarikan, melainkan dari kesialan-kesialan kecil yang mampir. Diskusi sering berakhir debat, sindiran dibalas sindiran, bertengkar adalah hal umum.
Kehidupan semerawut itu tambah parah ketika keluarga ngedorong Cyan ke pinggir jurang, antara dijodohkan atau memilih sendiri.
Terdesak dikejar deadline perjodohan. Cyan milih jalan yang paling nggak masuk akal. Yaitu nerima tawaran konyol Magenta yang selalu bertengkar tiap hari sama dia, untuk pura-pura jadi calon suaminya.
Cover Ilustrasi by ig rida_graphic
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
“Tolong nanti sisa berkas jangan ditumpuk di sini, ya, Mas. Mau minta tolong dirapiin juga sekalian, biar Mas nya nggak bolak-balik,” ucap Cyan sesampainya di ruang rapat.
“Siap, Bu Cyan. Nanti siang Ibu mau makan apa biar saya belikan?”
“Enggak usah deh mas. Nanti saya mau ke kafe aja sekalian ngopi. Sarapannya tawarin yang lain gih siapa tau mau,” jawab wanita itu.
“Baik, Ibu, saya izin pamit. Nanti kasih tau saya aja kalau udah siap saya bersihin ya Bu.”
Usai OB itu pergi meninggalkan ruangan, Cyan meletakkan barang-barangnya di meja kerja. Meja bulat memanjang sudah terisi, layar presentasi menyala, dan hampir semua orang datang tepat waktu. Beberapa membawa kopi, sebagian lagi sibuk membuka laptop, menunggu rapat dimulai.
Cyan duduk di ujung meja dengan punggung tegak, tatapannya menyapu ruangan sekali lagi. Ia melirik jam di pergelangan tangan, lalu mengangguk singkat, seolah paham apa yang akan ia lakukan hari ini.
“Selamat pagi semuanya. Mari kita mulai rapat evaluasi mingguan. Harap disimak dan jangan ada yang memotong pembicaraan saya.”
Belum sempat ia melanjutkan ke agenda berikutnya, pintu ruang rapat terbuka cukup keras untuk menarik perhatian semua orang.
Magenta berdiri di sana.
Blazernya sudah terpakai, tapi jelas dikenakan dengan tergesa. Rambutnya sedikit berantakan, satu helai jatuh ke dahi, dan laptop ia pegang dengan satu tangan. Napasnya belum stabil karena dikejar zombie lift, tapi ekspresinya masih terbilang tenang untuk seseorang yang terlambat. Ia berhenti sejenak, menatap ruangan, lalu fokusnya jatuh pada Cyan.
“Kamu terlambat lagi, Magenta. Jam rapat su ....”
“Inget tone marah ngurang 30%, Bu Cyan,” potong Magenta.
Beberapa orang langsung melempar pandang. Ada yang mengernyit, menoleh pelan ke arah Magenta, mencoba memahami maksud kalimat singkat itu.
Cyan menatap Magenta tajam, lalu menarik napas yang sudah ia atur agar tidak terlalu panjang, kemudian menghembuskannya perlahan.
“Duduk, Genta. Kita lanjutkan rapat.”
Magenta mengangguk, kemudian melangkah ke kursinya, duduk dengan tenang, membuka laptop, lalu menatap layar seakan tidak pernah terjadi apa-apa.
Rapat kembali berjalan, tapi bisik-bisik pelan masih muncul di beberapa sudut meja.
“Tone marah 30%? Maksudnya gimana?”
“Apa-apaan dah ini?”
“Dih padahal gue pengen liat si mas Maag diganyang sama Bu Cyan njir…”
“Kok Bu Cyan gak marah? Tumben banget.”
“Iya lagi, biasanya bakal ada drama-drama pendek. Jangan-jangan ....”
“Dih, gak mungkin. Gue yakin cewek kayak Bu Cyan punya standarisasi memilih pasangan. Ya, kali sama Mas Maag yang lebih pendek, plenger, hobi telat pula.”
Cyan mendengarnya, tapi ia memilih untuk pura-pura tidak tahu. Matanya tetap tertuju ke layar, mencoba profesional.
“Agenda pertama, progres dari tim desain.”
Begitu Cyan selesai membagi giliran bicara, giliran Magenta pun tiba. Ia berdiri, berjalan ke layar proyektor dengan langkah santai, lalu menatap seluruh tim satu per satu. Seketika suasana rapat terlalu ringan untuk dikatakan evaluasi mingguan. Lebih ke acara pertemuan biasa selama ada Magenta di sana.
“Selamat pagi semua! Secara pribadi, saya paling menikmati sesi brainstorming, karena di situ kita bisa menyampaikan ide-ide secara bebas dan kreatif. Berbeda dengan penyusunan email yang harus formal atau laporan angka yang menuntut ketelitian kita.”
Beberapa orang menahan senyum, sedangkan Cyan malah menelan napas.
“Magenta, ingat tujuan rapat. Kita harus evaluasi progres, bukan stand-up comedy. Tolong bedakan situasinya. Ini penting demi kemajuan perusahaan kita,” tegur Cyan mulai terpancing emosi.
“Siap, Bu Cyantik, tapi jangan salahkan saya kalau suasana jadi lebih hidup. Kita baru saja latihan kompak di luar jam kerja, ‘kan?”
Cyan menahan mata untuk tidak melotot. Saat ini, latihan di kafe kemarin terasa seperti sedang berputar-putar di tengah rapat. Sialan, bisa-bisanya membahas hal itu lagi. Meski tidak ada yang menyaksikan, tetap saja Cyan takut orang-orang membahasnya sebagai gosip kantoran.
Magenta mulai memaparkan slide, menunjuk grafik dengan pointer, tapi gesturnya sengaja dibuat lebih dramatis. Ia memperlambat langkah saat bergeser ke sisi lain layar, memastikan beberapa orang melihatnya dengan jelas, termasuk Cyan.
“Tim kita sudah menyelesaikan enam proyek dalam tiga minggu terakhir, tapi ada satu hal yang penting, yaitu koordinasi antar tim. Saya rasa, kalau kita bisa lebih cepat berkomunikasi, hasilnya bisa lebih maksimal.”
Cyan menatapnya tajam, menahan suara batin yang ingin menegur. Magenta menoleh menatap Cyan dan mengedip sejenak. Hanya sepersekian detik, tapi cukup untuk membuat Cyan tersedak liur sendiri.
“Baik, coba kita dengar dari tim lain. Mulai dari tim media sosial.”
Saat Alya menjelaskan progresnya, Magenta mencondongkan tubuh ke depan, sedikit mendesah dramatis di tengah presentasi.
“Maaf, Mbak Alya, tapi saya rasa kalau kita memadukan ide dari tim kita, hasilnya bisa lebih wow. Bukan begitu, Bu Cyan?”
“Iya, Magenta. Itu masuk akal, tapi kali ini fokus pada progres masing-masing tim dulu. Hal lain bisa dipikirkan nanti,” jawab Cyan menghela napas panjang. Tahu bahwa maksud ucapan Magenta barusan adalah jebakan.
Magenta tersenyum, kembali menatap tim dan Alya melanjutkan presentasinya.
“Kalau menurut saya, Bu Cyan, tim ini kerjanya sudah bagus, tapi kita bisa jauh lebih kompak, ‘kan?” Ia mengungkit lagi.
“Magenta,” tegur wanita itu habis kesabaran.
“Tapi serius, Bu Cyan. Kita ‘kan baru latihan kemarin. Latihan komunikasi, latihan kekompakan, jadi wajar aja kalau saya jadi semangat hari ini,” ucap Magenta berbisik.
Cyan yang salah tingkah menegakkan punggung lagi, menatap lurus ke depan. Berusaha menjaga raut wajahnya agar terlihat biasa saja meski degup jantung tak bisa dibohongi. Beberapa orang terlihat menahan tawa mereka. Meski sambil menulis catatan, tetapi matanya tertarik ke Magenta.
Cyan mengambil alih momentum rapat, mengalihkan fokus.
“Oke, lanjut ke evaluasi tim digital marketing. Magenta, tolong kamu catat semua hasilnya dan berikan ke saya hari ini juga.”
“Siap, Bu Cyan.” Magenta duduk, tapi masih menoleh ke arah Cyan.
Selama rapat berlangsung, Magenta beberapa kali menginterupsi dengan komentar singkat atau memuji anggota tim lain sambil menatap Cyan sesekali. Setiap kali Cyan menatap balik, Magenta merasakan ikatan sempurna yang tidak terlihat, hanya bisa dirasakan keduanya.
Cyan merasakan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia menekankan pundaknya, menulis catatan, tapi pikirannya terus melayang pada tatapan dan senyum Magenta.
Rapat selesai tepat pukul sebelas. Semua orang keluar satu per satu usai membereskan barang mereka. Sementara Cyan segera menutup laptop dan berdiri, menghela napas sejenak karena sejak tadi dadanya sesak.
Magenta menutup slide, tersenyum ke arah Cyan.
“Sudah selesai, Bu Cyan. Semua sudah sesuai rencana, ‘kan?”
“Magenta. Jangan pikir kamu bisa bikin ulah terus-terusan.”
“Ulah? Saya hanya ingin memastikan semua tim tetap bersemangat dan memastikan kekompakan kita, Bu Cyan,” katanya.
Cyan menelan ludah, mengelus dada sendiri karena detak jantungnya yang tiba-tiba terasa lebih cepat. Memang benar Magenta terlalu berisik untuk seorang karyawan yang memiliki atasan galak. Namun, karena sifatnya yang ‘plenger’ itulah membuat suasana di kantor lebih hangat dan berwarna. Lambat laun, Cyan menyadari bahwa ia seharusnya marah, tetapi justru sebaliknya. Ia terlalu menerima dan memaklumi, jelas bukan karena sekadar status mereka di pekerjaan.
“Syan? Hei? Bengongin apa, Bu?” tegur Magenta melambaikan tangan di depan wajah Cyan.
“Eh? Ah? Hm?”
“Aduh, mentang-mentang saya ganteng, rajin menabung, dan berbakti kepada orang tua, segitunya banget Ibu ngeliatin saya.”
“YA TUHAN MAGENTA! AWAS KAMU YA!”
“Eits… kayaknya jangan-jangan Bu Bos keinget ciuman kita yang di Bandung ya?”
jadi senyum" sendiri kan keinget ciuman di bandung🤣