NovelToon NovelToon
Takdirku Bersma Sikembar

Takdirku Bersma Sikembar

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Nikah Kontrak
Popularitas:240
Nilai: 5
Nama Author: yas23

Alya, seorang mahasiswi berusia 21 tahun yang tengah menempuh pendidikan di Universitas ternama di semarang. Tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah begitu drastis, di usia yang seharusnya di penuhi mimpi dan kebebasan. Dia justru harus menerima kenyataan menjadi ibu sambung bagi dua anak kembar berusia enam tahun, lebih mengejutkan lagi. Anak-anak itu adalah buah hati seorang CEO muda yang berstatus duda, tanpa pengalaman menjadi seorang ibu. Alya di hadapkan pada tanggung jawab besar yang perlahan menguji kesabaran, ketulusan dan perasaannya sendiri. Mampukah dia mengisi ruang kosong di hati si kembar yang merindukan sosok ibu, dan di tengah kebersamaan yang tak terduga. Akankah perasaan asing itu tumbuh menjadi benih cinta antara Alya dan sang papa si kembar, atau justru berakhir sebagai luka yang tak terusap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

          Romeo dan Alya sama-sama menggaruk tengkuk mereka yang sebenarnya tak gatal. Kebingungan jelas terpancar mengapa si kembar terus saja menyinggung soal adik, seolah topik itu tak pernah lepas dari pikiran mereka.

          “Serena, Papa kan sudah pernah bilang,“kalau kalian ingin punya adik, kalian harus belajar menunggu dan bersabar, ya.” ujar Romeo.

          “Kalau begitu… bolehkah kami minta adik laki-laki?Yang tampan dan menggemaskan. ” tanya Serena polos. 

          “Bisa,asal kalian mau bersabar dan mengerti, ya.” jawab Romeo sambil menatap si kembar dengan serius namun lembut.

         “Mengerti Pa.” jawab keduanya serempak dengan anggukan kecil.

          Pagi itu terasa janggal bagi Romeo dan Alya. Ada kecanggungan yang menggantung di antara mereka, sulit diabaikan. Berbanding terbalik dengan si kembar yang justru tampak begitu ceria, tersenyum bahagia tanpa beban entah apa yang membuat suasana hati mereka secerah itu.

          “Tuan,hari ini aku harus ke kampus. Bolehkah aku tidak menjemput mereka? Ada beberapa mata kuliah yang harus segera kuselesaikan.” ucap Alya pelan setelah melihat si kembar berjalan menuju mobil. 

          Entah mengapa, bagi Alya, meminta izin itu terasa begitu menakutkan. Ia khawatir jika melangkah pergi tanpa persetujuan Romeo, akan ada konsekuensi yang harus ia hadapi.

          “Dengan siapa?” tanya Romeo singkat, menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahnya.

          “Maksud Tuan…?” cicit Alya pelan, nada suaranya ragu seiring tatapannya terangkat menatap Romeo.

          “Dengan siapa kau berangkat ke kampus?” tanya Romeo tenang, namun sorot matanya menyiratkan keingintahuan yang tak bisa disembunyikan.

          “Sendirian.” jawab Alya singkat, suaranya pelan namun tegas.

          “Tak perlu. Aku saja yang mengantarmu.” putus Romeo tegas, tak memberi ruang untuk penolakan.

          Sejak mengetahui ada seorang pria di kampus yang tampaknya menaruh perhatian pada Alya, entah mengapa perasaan Romeo berubah. Ada rasa tak rela yang pelan-pelan tumbuh bahkan terkadang ia merasa tak nyaman membiarkan Alya berada jauh darinya.

          “Jangan, Tuan. Aku tak ingin merepotkan Anda.” tolak Alya halus, nada suaranya penuh kehati-hatian.

          “Alasanmu terdengar terlalu biasa,atau jangan-jangan kau berniat pergi bersama pria lain diam-diam? Kau menyembunyikan sesuatu dariku.” ujar Romeo dingin sambil memicingkan mata.

          “Jangan berkata sembarangan,aku tidak serendah yang Tuan pikirkan.” bantah Alya tegas.

          “Ikut denganku, atau jangan pergi sama sekali.” putus Romeo dingin. Setelah itu ia melangkah pergi, meninggalkan Alya yang terpaku di tempatnya, tak sempat berkata apa pun.

          “Kenapa sekarang dia yang merasa berhak mengatur hidup pribadiku?” gumam Alya kesal, jemarinya mengepal menahan emosi.

          Alya akhirnya menyusul Romeo yang sudah lebih dulu berada di mobil. Hari itu, si kembar diantar ke sekolah oleh Pak Bima, tanpa ditemani Alya maupun Romeo, meninggalkan suasana yang terasa berbeda dari biasanya.

          “Alya… boleh aku bertanya sesuatu?” ucap Romeo di sela keheningan, suaranya terdengar pelan saat ia tetap fokus mengemudikan mobil.

          “Katakan saja.” jawab Alya singkat, suaranya datar namun tertahan.

          “Apa sebenarnya hubunganmu dengan pria yang kemarin berdiri di sampingmu itu?” tanya Romeo pelan, keragu-raguan jelas terdengar dalam suaranya.

          “Oh, tidak ada apa-apa. Dia hanya teman,memangnya kenapa, Tuan?” jawab Alya tenang, lalu menoleh singkat. 

          “Kau yakin hubungan kalian sebatas teman?Tidak ada ikatan lain di antara kalian?” selidik Romeo lagi, nada suaranya terdengar datar namun sarat kecurigaan.

          “Hm, memangnya kenapa?Apa dia sampai menimbulkan masalah dengan Anda, Tuan?” tanya Alya tanpa sadar, suaranya terdengar ringan.

         “Tidak ada apa-apa,aku hanya… kurang menyukai jika kau terlalu dekat dan sering berinteraksi dengannya.” jawab Romeo singkat tanpa menoleh.

          “Aku tidak pernah bersikap berlebihan atau menjalin kedekatan khusus dengan pria mana pun sepanjang hidupku, Tuan.” bantah Alya tegas, ketidaksukaannya jelas terdengar dari nada suaranya.

         “Syukurlah,aku tidak ingin ada orang yang nantinya berbicara buruk tentang diriku.” ujar Romeo santai.

          “Terserah.” putus Alya dingin sambil mengalihkan pandangannya, enggan lagi menatap Romeo.

          Keduanya kembali terdiam, membiarkan keheningan menemani perjalanan menuju kampus Alya. Setibanya di sana, pandangan Romeo kembali tertuju pada sosok pria yang sempat ia tanyakan sebelumnya tak lain adalah Zaki. Entah mengapa, ada perasaan tak nyaman yang menyelinap di dada Romeo; instingnya mengatakan bahwa pria itu tampaknya menyimpan ketertarikan pada Alya.

          Sebenarnya Romeo tak merasa keberatan. Namun kini posisinya berbeda ia dan Alya terikat dalam sebuah hubungan khusus. Ikatan pernikahan yang menuntut batasan, di mana Alya, sebagai istrinya, seharusnya menjaga jarak dan sikapnya terhadap pria lain.

         “Ingat satu hal,jangan terlalu dekat dengan pria itu, Alya.” ujar Romeo tegas.

          “Apakah Tuan sedang cemburu?Jangan bersikap berlebihan, Tuan. Bukankah dalam perjanjian kita sudah jelas kita tidak saling mencampuri kehidupan pribadi satu sama lain?” sindir Alya halus, sudut bibirnya terangkat tipis.

          “Jangan pernah berkhayal aku akan cemburu padamu,mereka semua sudah tahu kau milikku. Jadi kalau kau masih nekat mendekati pria lain, bersiaplah dicap murahan.” ucap Romeo datar, tanpa sedikit pun emosi. 

          Alya lupa bahwa sehari sebelumnya Romeo telah menunjukkan sikap posesifnya secara tersirat, tepat di depan Zaki dan teman-temannya yang kerap menjadikannya sasaran ejekan.

          Tak sanggup lagi menahan kesal, Alya keluar dari mobil tanpa menoleh sedikit pun. Di balik kemudi, Romeo tertawa kecil senyum culas terpatri di wajahnya, puas melihat reaksi Alya atas ucapannya sendiri.

          “Satria, kirim dua orang pengawal. Awasi Alya dari jarak jaruh,aku tidak mau ada satu pun tindakannya yang nantinya mencoreng namaku.” perintah Romeo lewat sambungan telepon. 

          “Baik, Rom. Orang-orang itu akan bergerak pagi ini.” Meski hatinya dipenuhi tanda tanya melihat sikap Romeo yang kian posesif, ia justru semakin yakin tanpa disadari, Romeo mulai menaruh perasaan pada Alya.

          Begitu urusannya dengan Satria selesai dan bayangan Alya lenyap dari pandangan, Romeo memilih pergi begitu saja, seolah kehadiran perempuan itu tak lagi berarti.

          **********

          “Alya.”

          Begitu menoleh, Alya melihat Luna berlari ke arahnya dengan wajah cerah. Meski pertemuan terakhir mereka masih terasa begitu dekat, Alya menyadari betapa ia telah merindukan sahabatnya itu.

          “Barusan lo diantar suami lo, ya?” tanya Luna dengan nada agak meninggi, matanya menyipit penuh selidik.

   

          “Pelan dikit, dong. Kalau ada yang denger gimana?” keluh Alya, jelas terlihat tak suka.

          Luna refleks menutup mulutnya, baru tersadar bahwa mereka sedang berada di area kampus yang ramai, bukan tempat untuk berbicara sembarangan.

          “Tadi beneran dia yang nganter lo?” Luna bertanya lagi, alisnya terangkat.

          “Dia tadi ngeyel pengin nganter gue,Kenapa lo nanya begitu?” sahut Alya singkat.

          “Tadi Zaki ngeliat lo turun dari mobil Romeo,terus gue kepergok denger dia bilang ke Raka kalau hatinya hancur.” bisik Luna antusias. 

          “Romeo kemarin terang-terangan manggil gue sayang di depan dia dan yang lain,terus buat apa Zaki sampai patah hati? Aneh.” Alya benar-benar tak paham, kenapa Zaki bisa merasa sehancur itu.

          “Ya jelas aja, dia suka sama lo,masa lo nggak nyadar sih?” balas Luna kesal bercampur gemas.

          “Jangan lebay deh,dia nggak mungkin suka sama gue.” bantah Alya.

          “Dia suka sama lo dari dulu,tapi ya gitu, kalah cepat. Sekarang lo udah ada yang punya.” kata Luna sinis.

          Alya memilih tak terlalu memusingkan ucapan Luna. Meski ia menyadari sikap Zaki kerap menunjukkan ketertarikan, rasanya berlebihan jika disebut patah hati. Jika memang perasaan itu ada sejak lama, mengapa Zaki tak pernah sekali pun mengungkapkannya. 

         Keduanya segera melangkah menuju ruang kelas. Begitu sampai, Alya kembali merasakan tatapan tajam dari empat gadis yang kemarin menghujaninya dengan hinaan. Sorot mata mereka tak berubah sedikit pun seolah ancaman Romeo tak pernah berarti apa-apa. Dengan wajah penuh permusuhan, mereka pun menghampiri Alya tanpa ragu.

          “Akting lo kemarin keren banget, ya. Sampai pura-pura pingsan segala.” sindir Zahra dengan senyum mengejek.

          “Terus?Iri sama gue?” sahut Alya acuh.

          “Hebat  ya cara lo jual diri,nggak semua orang sepinter itu.” sindir Zahra tanpa rasa bersalah.

          “Jangan sembarangan ngomong!Gue bukan perempuan hina seperti yang lo pikirin.” bentak Alya menahan amarah.

          “Gagal bersaing sama sahabat gue, ya?Udah ngerasa paling cantik, tapi cowok ganteng dan tajir aja nggak dapet. Kasihan.” sindir Luna tajam.

          Diliputi rasa kesal, Zahra akhirnya berbalik pergi bersama para pengikutnya. Ia tahu, kali ini dirinya benar-benar kalah telak dari Alya. Perkataan Luna barusan menghantam tepat sasaran dan pahitnya, semua itu memang ada benarnya.

          Menatap punggung Zahra yang menjauh bersama teman-temannya, Alya mengembuskan napas panjang dengan kasar, berusaha meredam emosi yang masih bergejolak di dadanya.

          “Kalau bisa, udah gue segel tuh mulut.” dengus Luna kesal.

          “Ya udahlah, biarin aja, gue juga udah kebal.” jawab Alya datar.

          Zaki muncul begitu saja, berdiri di hadapan Alya. Pandangannya penuh makna, menujukkan rasa yang sejak lama ia simpan untuk wanita itu.

          “Alya, gue pingin ngobrol sama lo sebentar.” kata Zaki sambil menatapnya.

          “Baiklah… kita ngobrol. Ada apa, Zaki?” ucap Alya pelan, menatap Zaki.

          “Jadi cowok yang nganterin lo tadi itu suami lo, ya?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!