Inilah kisah cinta Rudi dan Vina yang berliku. Pasangan kekasih yang sudah lima tahun menjalani jalinan, tiba-tiba dipisahkan oleh sebuah insiden yang menimpa Vina dan menjadi aib bagi keluarga besarnya.
Setelah tiga tahun, Vina kembali ke keluarganya di sebuah kampung nelayan di pesisir selatan Provinsi Lampung. Alangkah terkejutnya dia ketika mendapati Rudi telah sangat berubah, yaitu menjadi pemuda yang alim dan sehari-hari mengajar anak-anak mengaji. Bisa disebut bahwa Rudi telah menjadi seorang ustaz baru.
Perubahan mantan kekasihnya itu membuat cinta lama Vina kepada Rudi kembali tumbuh.
Namun, tidak seperti tiga tahun yang lalu bahwa Rudi adalah miliknya seorang, tetapi kini ada beberapa wanita yang telah dekat dengan Rudi. Misalnya, Kulsum putri Ustaz Barzanzi, Bulan si pengusaha muda nan kaya, dan Alexa janda muda.
Namun, Vina merasa bahwa Rudi adalah miliknya dan dia harus memilikinya kembali.
Temukan intrik-intrik cinta yang seru di novel "Rudi adalah Cintaku".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAC 11: Pelukan Dua Sahabat
*Rudi adalah Cintaku (RAC)*
“Siang ini juga, Bapak akan bawa kamu ke rumah bibimu di Jakarta!” tegas Haji Suharja.
“Paaak,” sebut Vina mengiba.
“Kamu enggak bisa menolak, Vina. Kalau kamu ada di sini, setiap orang melihat mukamu, maka muka kami otomatis ikut tercoreng. Kamu harus hilang dari desa ini!” tandas Suharja.
Semua mendengar keputusan final Suharja. Vina hanya bisa pasrah. Pastinya dia tidak akan memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Rudi, kekasihnya. Apalagi barusan Rudi pergi dengan membawa kemarahan dan kehancuran hati.
Sunirah pun hanya diam mendengar keputusan suaminya. Dalam kondisi seperti itu, suaminya tidak mungkin untuk dibantah.
Akhirnya, Vina pun masuk kembali ke kamarnya. Dia ditemani oleh ibu dan bibinya.
“Ji, saya sudah boleh pulang?” tanya Aziz dengan nada hati-hati.
Suharja hanya mengangguk tanpa memandang kepada Aziz.
Aziz lalu berdiri dan pamitnya, “Saya pamit, Ji, Pak RT.”
Aziz lalu menghampiri Daeng Tanri yang masih bertahan.
“Puang Haji, saya mau cari Rudi,” kata Aziz kepada Daeng Tanri.
“Bujuk Rudi pulang,” kata Daeng Tanri.
Aziz segera keluar. Tidak lupa dia mencari laptopnya yang sempat dia letakkan di kursi teras. Ternyata alat kerjanya itu masih ada di sana. Buru-buru Aziz mengambil laptopnya lalu langsung ngacir pergi tanpa mempedulikan siapa pun.
Aziz cemas kepada Rudi. Dia sebagai sahabatnya, bisa menduga apa yang biasa Rudi lakukan jika sedang dilanda amarah atau kesedihan yang tidak bisa dia luapkan.
“Bang, bisa gak saya ketemu Vina?” tanya Junita kepada Obba yang ada di teras.
“Enggak bisa. Vina enggak boleh ketemu siapa-siapa. Siang dia mau dibawa ke Jakarta,” jawab Obba.
Junita hanya memencongkan bibir bergincu merahnya dan menghempaskan napas berat seberat kapas. Ia lalu berbalik dengan membawa rasa kecewa dan iba kepada sahabatnya.
“Maafkan saya, Vin. Gara-gara saya yang menyuruh kamu ketemu Dendi, kamu jadi kena bala seperti ini.” Seperti itulah suara hati Junita. Ia pergi dengan membawa kotak kado hp milik Rudi.
Sementara itu, Daeng Tanri memilih bertahan di rumah itu. Dia ingin berbincang dengan Suharja sebagai rekan sesama Juragan Lelang. Siapa tahu obrolan mereka bisa melunakkan perasaan Suharja.
Sementara itu, Aziz mampir sejenak ke rumahnya untuk menaruh laptop dan mengambil sepeda motor. Rumahnya lebih dekat dari rumah Vina dibandingkan rumah Rudi ke rumah Vina.
Aziz langsung pergi ke rumah Rudi yang tidak jauh. Namun, ketika tiba di rumah batu Daeng Tanri, Aziz hanya menemukan Kamsiah, ibu Rudi.
“Kenapa Rudi marah begitu, Ziz?” tanya Kamsiah sebelum Aziz bersuara.
“Sakit hatinya sama Vina, Daeng,” jawab Aziz. “Terus ke mana Rudi, Daeng?”
“Pergi naik motor. Saya tanya, tapi tidak dijawab,” kata Kamsiah.
“Saya pergi cari, Daeng. Assalamu ‘alaikum!” kata Aziz.
“Wa ‘alaikum salam. Hati-hati, Ziz,” pesan Kamsiah.
“Iya,” sahut Aziz sambil membalikkan sepeda motornya.
Aziz melesat di jalan desa yang sudah berbentuk coran. Laju motornya agak tergesa-gesa. Dia tidak menuju ke jalan raya, tetapi pergi langsung ke pantai yang sebenarnya tidak begitu jauh. Jalan kaki pun tidak akan lama jika hanya pergi ke pantai.
Angin laut tidak begitu kencang karena hari masih terbilang pagi. Di pantai yang sebagian besar telah di bangun tanggul, Aziz mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok Rudi. Dia ingat bahwa tadi Rudi mengenakan switer rajut warna kuning muda dan pet copet kuning. Jika pun Rudi posisinya jauh, Aziz pasti bisa mengenalinya.
Saat itu laut sedang surut, jadi ada area pasir pantai yang tidak terjamah oleh ombak yang tanpa henti menggapai pantai.
Meski tidak melihat keberadaan Rudi dan sepeda motornya, tetapi Aziz menemukan jejak ban sepeda motor di pasir pantai.
Aziz memutuskan untuk turun dari tanggul ke pasir pantai. Memang, ada jalan untuk sepeda motor bisa turun ke pasir pantai. Ia menduga bahwa itu adalah jejak ban sepeda motor Rudi.
Aziz menjalankan sepeda motornya di pasir yang agak lunak, membuat jejak garis yang memanjang. Aziz mengikuti jejak menuju ke ujung selatan pantai.
Setelah cukup jauh, akhirnya jejak ban sepeda motor itu berakhir pada sebuah sepeda motor tangki besar berwarna biru gelap. Itu adalah sepeda motor milik Rudi. Namun, Rudi tidak terlihat di pantai atau di tanggul.
“Jangan-jangan Rudi bunuh diri di laut,” ucap Aziz yang terkejut sendiri dengan dugaannya.
Dia memerhatikan wilayah air laut dengan seksama.
Di air laut ada beberapa perahu milik nelayan yang ditambatkan dekat dengan bibir pantai. Perahu itu kosong dari manusia. Selain itu, ada bagang jirigen yang sedang menepi ke pantai. Jika bagang menepi ke pantai, itu artinya ada bagian yang perlu diperbaiki.
Di bagang yang merupakan rangkaian kayu nibung dan bambu-bambu panjang, tidak seorang pun manusia dan seekor pun hewan yang terlihat.
Jarak bagang dengan bibir pantai yang tanpa kumis sekitar seratus meter.
Namun, tiba-tiba Aziz mendelik saat melihat sosok berbaju kuning muncul berenang dan meraih bagian bawah bambu bagang.
Itu adalah Rudi yang berenang dengan baju dan celana lengkap.
“Rudiii!” teriak Aziz kencang.
Terlihat Rudi bergerak naik ke atas bagang hingga titian bambu paling atas. Sebenarnya Rudi mendengar panggilan sahabatnya itu, tetapi dia abai.
“Rudiii! Jangan bunuh diriii!” teriak Aziz. “Awas kalau kamu bunuh diri, saya kubur kamu!”
Ingin rasanya angin dan air laut tertawa mendengar teriakan akhir Aziz, tetapi apalah daya, takdir mereka berkata lain.
“Benar-benar anak congek,” rutuk Aziz.
Jika demikian sikap Rudi, percuma dia teriak-teriak di pantai itu. Dia harus mendatangi Rudi di bagang. Untuk sampai di bagang, Aziz harus berenang.
“Demi sahabat,” ucap Aziz.
Dengan terburu-buru, seperti sedang malam pertama, Aziz melucuti baju dan celana levisnya. Sehingga dia tinggal memakai ****** model kolor. Ia meninggalkan pakaiannya lengkap dengan hp dan dompetnya di atas motor.
Setelah itu, Aziz pergi memasukkan langkahnya ke air laut. Setelah berjalan semakin menjauhi pantai dan ketinggian air mencapai perut, Aziz lalu berenang. Tenang saja, Aziz tidak akan tenggelam atau hanyut. Sebagai lelaki desa nelayan, adalah aib kalau tidak bisa berenang. Sejak usia SD, Aziz dan teman-temannya sudah bisa berenang di laut.
Jbur!
Dari ketinggian, Rudi terlihat melompat ke air lalu tidak muncul-muncul.
“Rudiii!” teriak Aziz sambil berhenti berenang. Setelah itu dia berenang cepat agar segera sampai ke posisi Rudi.
Setelah setengah menit, Rudi kembali muncul di kaki bagang. Ia kembali naik.
“Rudi, berhenti!” teriak Aziz lagi.
Rudi sangat jelas mendengar teriakan Aziz, tetapi dia pura-pura mendengar tetapi tidak menengok. Sikap Rudi itu semakin membuat Aziz kesal bukan-bukan.
Rudi kembali naik ke atas, bukan ke bawah. Dalam kondisi kuyup, dia kembali berdiri di titian batang bambu di pinggir bagang.
“Aaa …!” teriak Rudi sekencang-kencangnya meluapkan kemarahan dan kesedihannya.
Aziz yang sudah berada tidak jauh di bawah Rudi, bisa melihat bahwa sahabatnya itu menangis. Aziz memang tidak bisa melihat air mata di wajah basah Rudi, tetapi dia bisa membedakan ekspresi menangis dan tertawa.
Rudi lalu melompat lagi ke air.
Jbur!
Aziz cepat berenang untuk mendapati sahabatnya. Sejenak dia berhenti untuk menunggu Rudi timbul ke permukaan.
Dan ketika Rudi timbul ke permukaan, Aziz cepat berenang mendapatkan sahabatnya.
“Kena kamu!” seru Aziz sambil memeluk tubuh sahabatnya.
Rudi memberontak.
“Apa-apaan kamu, Aziz? Kamu tidak pakai baju memeluk saya. Kamu mau perkosa saya?” teriak Rudi.
“Kamu jangan bunuh diri!” kata Aziz yang tidak mau melepaskan pelukannya kepada Rudi.
“Siapa yang mau bunuh diri? Saya lagi nangis!” teriak Rudi pula.
“Syukurlah,” ucap Aziz sambil melepaskan pelukannya.
“Vinaku, Ziiiz!” ratap Rudi Handrak tiba-tiba sambil menangis lalu balas memeluk Aziz.
Kedua sahabat itu saling berpelukan di dalam kesedihan. (RH)