Serah Spencer adalah seorang Ratu yang terkhianati oleh tunangannya sendiri, Raja Louis dari kerajaan Mathilda.
Awalnya ia mengira dengan status pertunangannya akan membawa ketenangan juga kedamaian untuk rakyat dan kerajaannya di Regina yang sedang menjadi wilayah perebutan. Namun, setelah mengetahui rencana Louis yang licik, Serah memutuskan untuk tak tinggal diam.
Dia akan membalas Louis dan berdiri sendiri demi kerajaannya. Namun, sebelum itu ia harus lolos dari genggaman Louis.
Apakah Serah akan berhasil kembali ke kerajaannya sendiri yang sedang menjadi wilayah konflik antar Raja Louis dan Raja Grenseal? Sementara kedua Raja itu mulai jatuh cinta kepada Serah.
Apa yang akan dilakukannya nanti untuk melawan Louis sekaligus melindungi kekuasaannya sebagai Negeri yang bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28 : Rencana yang berjalan mulus
Cristine bersama gadis-gadis lain berjalan menuju ke ruangan kamarnya serah. Seperti biasa mereka datang membawakan sarapan, juga mempersiapkan segala kebutuhan untuk sang calon Ratu Mathilda.
"Hari ini akan ada perburuan, aku ingin kalian semua ikut denganku," ujar Serah langsung menyinggung soal kegiatan yang memang sering dilakukan oleh Louis setiap sebulan sekali menjelang akhir bulan.
Gadis-gadis itu tersenyum tampak antusias, ini adalah momen pertama bagi mereka ikut dalam acara berburu yang diadakan oleh istana.
"Kami sangat berterimakasih atas kebaikan anda," ucap gadis-gadis itu sambil membungkuk bersamaan kecuali Helena. Dia tak peduli dengan semua itu. Sikapnya angkuh dan arogan. Ia hanya berdiri saja di sana sambil melihat teman-temannya.
"Lady Helena, apa kau tidak merasa senang?" Ujar Brigatte yang menyadari sikap cuek Helena.
"Memangnya kau ingin aku seperti apa, Lady Brigatte?" Balas Helena dengan gaya menantang.
"Ratu sudah mengundang kita untuk ikut dalam momen berharga istana, seharusnya kau berterimakasih atas kemuliaan yang diberikan," balas Anastasia yang menganggap Helena seperti tak tau terimakasih.
"Maaf saja ya, tapi aku sudah lebih dulu diundang," jawab Helena dengan sikap yang menyebalkan. Ia melipat tangan di dada dan memberikan pandangan yang meremehkan kepada Anastasia dan gadis-gadis lain.
Sikap Helena hampir membuat semua gadis hilang kesabaran. Mereka nyaris saja bertengkar kalau bukan karena Serah yang tiba-tiba berbicara dan bertanya pada Helena.
"Oh ya? Anda sudah diundang terlebih dahulu?" Ucap Serah pura-pura penasaran, padahal semua ini sudah ia rencanakan dan prediksi, sementara Cristine hanya mengamati dan baru mulai mengerti kalau ini adalah maksud dari Serah sebelumnya.
"Kalian pasti akan iri kalau aku yang bicara." Helena mendongak tinggi, seakan dia sudah menjadi pemenang.
"Aku yakin undangan itu pasti dari kalangan bangsawan lain atau ksatria, tak jauh lebih penting dari Ratu Serah sendiri," balas Brigatte dengan cepat.
"Kalian salah!" Helena tersenyum sombong. "Undangan itu dari Raja Louis sendiri, bahkan aku diundang jadi tamu kehormatannya dan menyiapkan kereta khusus untukku!" Ucapnya dengan penuh percaya diri.
Mereka semua saling berpandangan bingung dan tampak tak percaya dengan pernyataan gadis itu.
Helena menjadi gusar karena sikap gadis-gadis lain yang seolah seperti meragukan ucapannya.
"Kenapa kalian seperti itu? Apa kalian tidak percaya denganku?" Ucapnya dengan wajah kesal.
"Lady Helena, anda sepertinya terlalu bermimpi!" Timpal Brigatte sambil tertawa kecil dan melirik ke arah gadis lain yang ikutan menertawai.
"Grrrr...." Helena tampak geram, memandangi mereka dengan penuh amarah. "Akan aku tunjukkan sesuatu kalau kalian tidak percaya!" Helena berjalan dengan langkah yang keras berjalan ke arah jendela besar yang ada di ruangan kamar Serah menuju balkon lalu membukanya tanpa permisi.
Jendela itu dibuka kasar, membentang kedua sisinya dengan keras lalu Helena berjalan keluar dan berdiri di balkonnya. Entah apa yang ia lakukan tapi badannya condong ke depan seperti sedang melihat sesuatu. Tak lama ia pun berbalik.
"Kemari dan lihatlah sendiri," ucapnya penuh dengan keyakinan diri memanggil gadis-gadis itu kepadanya.
Brigatte adalah orang pertama yang datang karena dia yang paling penasaran ingin membuktikan kebenarannya. Tak lama gadis yang lain ikut menyusul. Hanya Cristine yang tak bergeming bersama dengan Serah.
"Yang mulia..., apa kertas yang anda berikan untuk Helena adalah..., undangan...?" Cristine berbisik pelan dan menatap Serah penuh kebingungan.
Serah tak menjawab, ia hanya tersenyum dengan binar mata yang menyorot tajam sambil memandang ke arah luar balkon membuat Cristine semakin keheranan.
"Maaf, Yang mulia saya tidak mengerti akan semua ini...," ucap Cristine secara jujur.
"Lebih baik anda menikmati alurnya saja, Lady Cristine," balas Serah tanpa sebuah jawaban. "Kau akan tau disaat yang tepat," ucapnya kemudian sambil menoleh ke samping, menatap ke arah Cristine. Tak lama kemudian Serah pun berjalan mendekati Balkon, dengan Cristine yang mengikuti dengan penuh tanda-tanya dalam hati.
"Lihat yang di sana itu." Helena menunjuk sebuah kereta kuda indah yang ada di taman kerajaan. "Kereta itu adalah milikku sebagai tamu kehormatan!" Ujarnya dengan pamer.
"Kau bermimpi, Lady Helena!" Sambar Brigatte yang meragukan gadis itu. "Tak mungkin kereta itu untuk menjemputmu! Itu pasti kereta milik Putri Serah, karena dia yang pantas menaikinya." Kata-kata wanita bergelar Earl itu begitu tajam dan menusuk. Dengan cepat ia menyanggah semua ucapan Helena yang semakin membuat gadis termuda itu dipenuhi amarah.
"Kalau tak percaya siang nanti aku akan menaiki kereta itu!" Ujarnya langsung tanpa keraguan.
Semua orang terkejut sekaligus khawatir. Mereka berpikir Helena sudah benar-benar di luar kendali. Apakah dia waras? Nyalinya sangat tinggi sekali, bagaimana kalau ia salah menduga saja? Ah, entah apa hukuman yang akan diberikan oleh Louis sekalipun Helena adalah orang istimewa nya Louis.
"Lady Helena, sebaiknya anda tidak gegabah." Mary yang paling pendiam dan anak dari seorang Duke akhirnya berbicara dan menasehati.
"Tenang saja, apa yang aku ucapkan itu adalah benar jadi tak perlu khawatir karena kereta itu memang khusus dari Raja Louis untukku." Helena bicara dengan sangat yakin tanpa memikirkan hal lain.
Kemudian ia berjalan dari balkon dengan langkah dan gaya yang angkuh sambil berkata, "lebih baik kalian persiapkan diri kalau nanti aku akan menjadi Ratu kalian."
Helena berjalan melewati Serah yang sejak tadi hanya mengamati Helena dari kejauhan tanpa bicara. Helena tersenyum dengan berani kepada Serah.
"Yang mulia," ucapnya singkat dan hanya membungkuk sedikit lalu kembali berjalan hingga ia keluar dari ruangan.
Para gadis segera berkomentar melihat tingkah dan sikap Helena.
"Apa yang dia pikirkan? Berharap menjadi Ratu?"
"Otaknya mungkin sudah tak waras karena obsesinya menjadi Ratu!"
"Bagaimana kalau dia salah prediksi? Hukuman apa yang akan diberikan Raja Louis?"
Gadis-gadis itu berbicara mengutarakan pendapatnya masing-masing.
"Louis tak mungkin memberi hukuman berat pada Helena, karena Louis masih bergantung pada koneksi ayahnya, Esmerus," ujar Serah yang sepertinya dia sudah bisa memprediksi bagaimana reaksi Louis sekalipun Helena melakukan kesalahan, dan itu lah yang memang sengaja ingin dipancing oleh Serah untuk menimbulkan rumor dan membuat keduanya terlihat sebagai sepasang kekasih gelap.
"Sudah, jangan terlalu dibicarakan," ucap Serah menengahi pembicaraan gadis-gadis itu. "Benar atau tidaknya, kita bisa melihatnya nanti, apakah kereta itu memang disediakan khusus baginya dari Raja Louis atau tidak?" Lanjutnya yang menanggapi persoalan semacam ini dengan sikap yang santai, bahkan terkesan dingin.
"Sekarang persiapkan perlengkapan mandi ku, dan nanti siang kalian jangan lupa untuk tidak memakai terlalu banyak perhiasan dan pakaian yang lebih sederhana dengan warna yang tak mencolok, karena itu kode etik di sana," ujarnya menjelaskan tatanan cara mengenai pakaian yang harus mereka kenakan nantinya.
"Baik, Yang mulia," balas gadis-gadis itu dengan patuh.
Lalu, di sisi lain, seekor kuda hitam tampak berlari kencang menembus lereng perbukitan dan bebatuan di sepanjang pagi. Kuda itu tampak gagah dan berkilau di bawah cahaya matahari yang menembus kaki bukit. Sementara sang pengendara tampak tegap menikmati setiap irama langkah kuda yang telah ia percayai untuk mengantar perjalanannya.
"Lebih cepat Swarzh!" Ucapnya sembari memacu langkah si kuda agar lebih cepat lagi. "Kita tak boleh membuat Ratu Serah menunggu, kau mengerti 'kan?" Ia menggunakan satu tangannya menepuk-nepuk pelan sisi kuda sementara tangan lainnya memegang kendali.
Sosoknya bagai angin yang siap datang menerjang Mathilda. Jubah hijaunya berkibar oleh angin seperti badai, akan ada sebuah peristiwa yang tak akan pernah dibayangkan oleh Louis.
ato lewat hutan, tinggalkan sj dia😁
serah akan sukarela menyerahkan louis pdmu
jgn ampe louis jd sm serah, gk rela qu
jadi tumbal Louis buat muja kerang ajaib