Deanada Kharisma, hampir 3 tahun menjalani kehidupan remaja diantara toxic circle. Memiliki teman yang toxic, menindas, bertindak sesukanya, dan melakukan diskriminasi.
Namun siapa sangka di balik itu, sebenarnya ia menyimpan rahasia bahkan dari teman-temannya sendiri, hingga Tuhan mempertemukannya dengan Rifaldi yang merupakan pemuda broken home sekaligus begundal sekolah dan naasnya adalah musuh bebuyutannya di sekolah.
Bagaimana Tuhan membolak-balikan perasaan keduanya disaat faktanya Dea adalah seorang korban victim blaming?
Conquer me ~》Taklukan aku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34🩷 Thunderbolt
Dea mengeratkan pegangannya di jaket lelaki itu saat angin malam mulai berani menusuk, terlebih Dea menggunakan rok pendek yang jelas ikut terangkat kala ia naik motor begini.
Jadi, terpaksa Dea memangkas jarak dan memeluk si pengendara sebab angin malam ini cukup menyerang dada dan sekujur kulitnya.
Beberapa belas menit Dea harus bergelut melawan dinginnya malam dan angin jalanan, laju motor mulai memelan. Memasuki jalanan yang lebih kecil dengan pepohonan besar di setiap pinggiran jalannya menutupi cahaya rembulan untuk masuk secara terang-terangan.
Area perumahan pinggir jalan, bahkan sempat melewati kompleks abdi negara dimana rumah-rumah para petinggi berjejer gagah. Dea tau, ini masih berada di tengah kota bersama dengan rumah-rumah peristirahatan BUMN turut dilaluinya.
"Ini kita mau kemana?" tanya nya mulai menghafal jalanan. Berjaga-jaga jika nanti ia harus pulang sendiri. Alih-alih menjawab ia diam saja hingga motor berbelok ke arah lebih dalam jalanan dengan palang yang masih terangkat. Dea sempat melirik ke belakang dimana motor lain ikut mengikuti.
Rumah itu bangunan satu lantai, dengan beberapa pohon pucuk merah yang mengisi halaman berpaving blok, pagar besinya hanya sebatas pinggang, dan Dea dapat melihat keramaian sejak dari beberapa meter sebelum sampai. Ramai anak muda, tepatnya remaja tanggung seperti dirinya. Bahkan beberapa bergender perempuan.
Entah rumah apa, namun...Spanduk dengan logo geer motor dan kilat di dalam segi enam berwarna merah dan hitam jelas menempel di dinding bagian sampingnya.
Banyak motor pula yang terparkir di halamannya, dan beberapa pemiliknya keluar dari dalam seperti tengah bersiap untuk pergi.
"Good luck bro." Mereka tampak berjabat tangan. Lalu beberapa motor keluar dari dalamnya dengan jaket yang sama.
...Thunderbolt Brotherhood...
Kini ia dapatkan jawaban dari pertanyaannya tadi. Seseorang masih melebarkan pagar ketika rombongan motor Dea masuk, memancing atensi mereka untuk melihat, dan jujur Dea langsung mengalihkan pandangannya merasa dilucuti.
Motor berhenti dan mesin dimatikan. Dea menoleh mengedarkan pandangan ke arah para pemotor barusan, dimana mereka mulai membuka slayer satu persatu, benar dugaannya sebab.
"De...sorry si Willy gue tonjok." kekehnya seperti tak ada rasa bersalah lalu melengos masuk ke dalam bersama yang lain meninggalkan Dea yang masih di luar bersama----Rifal menurunkan slayernya tepat di bawah dagu, menyugar dan mengacak rapi kembali rambut yang sempat tergulung angin.
"Turun." Pinta Rifal, Dea masih menatap Rifal di atas motor, enggan untuk turun.
"Mau turun sendiri apa kugendong?" Rifal memajukan wajahnya dengan tangan yang sudah bertumpu di jok motor.
"Cara kamu ngga lucu."
Rifal hanya menyunggingkan senyum miring, "terus yang menurut kamu lucu yang kaya apa? Aku sambil bawa-bawa boneka beruang?"
"Turun." pinta Rifal lagi, memancing Dea untuk menggeleng.
"Atau mau kucipok lagi? Kali ini sampai engap." bisik Rifal kini tersenyum mendekat kembali, wajah dengan make up korean look itu menggertakan giginya di depan hidung Rifal membuat pemuda ini tertawa.
Dea turun dari jok, lantas Rifal membawanya masuk ke dalam, melewati teras rumah, saling menyapa dengan penghuni teras yang melihat Dea usil, dua orang itu tengah bergitar-gitar ria.
Ada siraman lampu lebih hangat di dalam, sofa berlater L yang dihuni beberapa orang termasuk ada 3 orang gadis dan praktis pandangan mereka jatuh pada Dea, yang kemudian mengeratkan genggaman di tangan Rifal saat sorot mata salah satunya terlihat berbeda padanya, lebih terkesan mendelik tak suka dan jutek. Ia bahkan langsung beranjak dan pindah posisi duduk di sisi lain.
Vian, ia duduk di karpet sambil bermain Playstation bersama tiga orang lain.
"Duduk."
"Siapa nih, Fal?"
"Gantinya Hana?" tambahnya lagi membuat Dea menatap Rifal clueless.
Rifal mendengus sumbang, "tunggu sebentar, aku ke warung dulu ya. Ian, titip bentar..."
Vian mengacungkan jempolnya, "oke."
Sepeninggal Rifal, gadis yang rambutnya pendek dan terlihat jutek tadi tak gugur tak angin menunjukan sikap tak suka dan so menguasai tempat.
"Jadi ini, cewek yang diuber-uber Rifal sampe bela-belain bawa 5 orang thunderboy buat cosplay jadi begal?" lantas pandangannya begitu meneliti dari atas hingga bawah dan sebaliknya membuat Dea tak nyaman, ya ampun!
"Ngga lebih baik dari Hana. Jauh...kayanya menye-menye juga." Ujarnya menyebalkan, Dea langsung mendaratkan pandangannya pada gadis itu, "maksud Lo apa? Gue ngga kenal Lo ataupun siapa tadi yang Lo sebutin ya!" Dea berdiri dari tempatnya lantas Vian langsung menaruh stik PS yang dipegang dan melerai, "wey..wey gadis-gadis sorry nih...Tri...Lo bisa diem ngga? Jaga omongan, ngga usah nyebelin?" Vian memperingati gadis itu.
Mood Dea semakin turun, dibegal abis itu dibawa kesini cuma buat dimaki orang. Apa-apaan nih?! Ia duduk kembali dan bersidekap tangan di dadanya. Beberapa kali ponselnya berbunyi dan bergetar tanda panggilan masuk dan notifikasi pesan. Namun Dea tak mengindahkan itu, membiarkannya begitu saja.
Rifal kembali setelah sepuluh menit berlalu, "sorry lama ya?" dan satu kresek hitam ukuran sedang kini mendarat di pangkuan Dea.
"Wah anjirrr beli jajanan ngga ngajak!" Vian sewot tak terima.
"Belii..." Rifal merogoh sakunya dan melempar lembaran biru pada Vian.
Hahaha! "Thanks Fal!" Vian segera beranjak dari duduknya. Sementara ketiga gadis itu ikut berlalu masuk lebih dalam dan cukup membuat Dea penasaran di dalam sana ada apa.
Sadar dengan rasa penasaran Dea, Rifal hanya tersenyum, "di dalem ada ruang tengah, terus kamar tidur kamar mandi. Tenang aja, ada bi Yuyun, ngga cuma anak-anak muda aja. Ada kang Jajang juga."
Dan tak lama dua orang kembali ikut duduk sambil membawa sepiring singkong goreng di meja. Apakah ini semacam markas anak-anak yang kurang makan?
"Mau di luar?" tawar Rifal ketika disini ia tak bisa mendapatkan keheningan, ditambah para penghuni teras mulai masuk saat Tri berseru, "ada yang mau singkong ngga?!"
Tanpa menunggu jawabannya Rifal membawa Dea ke teras, membawa serta kresek yang ternyata berisi makanan ringan dan minuman.
"Soda plus cocktailnya diganti teh kotak rasa buah aja, sama buavita..." kekeh Rifal melihat Dea ngubek-ngubek isian kresek, ada keripik, ciki, coklat, dan perkuean.
"Kalo harus ke minimarket jauh." Ucap Rifal lagi.
Dea mengangkat buavita, "bela-belain begal, ngancam pake alat, gebrak-gebrak kap mobil, ngeroyok Gibran sama Willy cuma dikasih buavita...apel?" tanya Dea menggebuk-gebuk Rifal cukup kesal.
Tak taukah pemuda ini sudah membuat teman-teman dan dirinya sampai jantungan tadi? Bahkan Inggrid dan Kirana sampai menangis dibuatnya sebab takut.
Dea menusuk sedotan di lubangnya dan menyedot minuman jus buah itu, "kalo tiba-tiba asmaku kambuh tadi, gimana?! Si alan." umpat Dea menaruh buavita di meja membuat Rifal terkekeh, "bawa inhaler kan?"
Vian sudah kembali, dan melemparkan sesuatu pada Rifal, "tangkap Fal!" pintanya melempar minuman soda kaleng, lalu melengos lurus masuk ke dalam.
Hap! Dan Rifal menaruh itu di meja.
"De," tatapnya, "yang kamu bilang bukan siapa-siapa. Jadi pacarku yah.." pintanya.
.
.
.
.
emang gak akan pernah bisa romantis 😌
atau ini termasuk salah satu hukuman apa kamunya gak nyadar Dea cuma pake rokpen