NovelToon NovelToon
Tekad Gadis Desa

Tekad Gadis Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Teen Angst
Popularitas:165
Nilai: 5
Nama Author:

Shelly Anindya, putri dari seorang petani yang bernama Andi atama dan Arisya ningshi sang ibunya. Gadis desa yang memiliki tekad yang bulat untuk menempuh pendidikan di kota demi mengubah nasib di keluarganya. Kehidupan keluarganya selalu menjadi hinaan orang-orang karena kemiskinan. Bagaimana perjalanan Shelly dalam merubah perekonomian keluarganya?, ikuti kisah perjalanannya dalam cerita ini…!

22. TGD.22

Hubungan antara Shelly dan Arkan kini telah melewati fase perkenalan yang canggung dan memasuki tahap yang lebih dalam—sebuah fase di mana cinta tidak lagi diungkapkan melalui bunga, melainkan melalui komitmen untuk menyelaraskan dua visi hidup yang berbeda. Namun, perjalanan menuju pelaminan bagi seorang "Dewi Padi" dan "Arsitek Kota" ternyata menyimpan riak-riaknya tersendiri.

---

Meskipun Arkan sudah mendapatkan restu dan mulai betah di desa, perbedaan cara pandang mereka sesekali memicu diskusi panjang. Suatu sore di kantor koperasi, Arkan menunjukkan sebuah katalog perabotan rumah tangga modern yang ia pesan dari Jakarta.

"Shel, aku pikir untuk rumah kita nanti, kita pakai konsep *open space* dengan furnitur minimalis. Biar kesan modernnya kuat, jadi meskipun di pinggir sawah, dalamnya terasa seperti apartemen berkelas," ujar Arkan bersemangat.

Shelly menghentikan aktivitasnya menimbang sampel gabah. Ia melihat katalog itu, lalu menatap Arkan dengan lembut. "Mas, konsepnya bagus. Tapi apa kamu nggak mikir? Kalau rumahnya terlalu tertutup kaca dan minimalis begitu, apa petani-petani di sini bakal berani mampir buat diskusi malam-malam?"

Arkan mengerutkan kening. "Lho, kan itu rumah pribadi kita, Shel. Tempat kita istirahat. Kalau mau diskusi kan bisa di balai desa atau kantor koperasi."

"Di desa ini, rumah seorang pemimpin itu adalah rumah warga juga, Mas," jawab Shelly pelan namun tegas. "Kalau rumah kita kelihatan terlalu mewah dan eksklusif, akan ada jarak antara aku dan mereka. Aku ingin rumah yang punya teras lebar, tempat Pak Kardi bisa duduk tanpa merasa harus melepas sandal botnya yang kotor. Aku ingin rumah yang 'bernafas' dengan udara desa, bukan yang mengurung diri dengan AC."

Arkan terdiam. Ia baru menyadari bahwa menikahi Shelly berarti juga "menikahi" tanggung jawab sosialnya. "Maaf, Shel. Aku terlalu pakai kacamata arsitek kotaku. Aku lupa kalau di sini, dinding rumah bukan cuma pembatas, tapi jembatan."

Diskusi itu berakhir dengan Arkan yang merobek desain lamanya dan mulai menggambar ulang sebuah rumah yang memadukan estetika modern dengan filosofi "rumah singgah" bagi warga desa.

---

Kesibukan Arkan sebagai pengawas proyek kabupaten terkadang membuatnya harus meninggalkan desa selama beberapa hari untuk rapat di provinsi. Di saat yang sama, Shelly sedang menghadapi masa krisis karena serangan jamur pada bibit padi di salah satu blok.

Suatu malam, Arkan menelepon dari hotel di kota provinsi.

"Shel, aku baru selesai rapat. Capek banget. Kamu lagi apa?" tanya Arkan.

"Aku masih di gudang, Mas. Lagi sortir bibit yang masih bisa diselamatkan. Mungkin aku bakal menginap di sini malam ini sama Ibu-Ibu kelompok tani," suara Shelly terdengar serak dan lelah.

"Shel, ini sudah jam sebelas malam. Kamu itu perempuan, jangan terlalu diforsir. Kan ada Abangmu atau Danu yang bisa jaga gudang," suara Arkan meninggi karena khawatir.

"Mas, mereka sudah kerja seharian. Ini tanggung jawabku. Kalau bibit ini gagal, lima puluh petani nggak bisa tanam bulan depan. Aku nggak bisa tidur tenang kalau ini belum selesai," balas Shelly dengan nada yang mulai meninggi pula.

"Aku tahu kamu bertanggung jawab, tapi tolong pikirkan kesehatanmu. Aku di sini kepikiran terus, nggak bisa fokus kerja!"

"Kalau Mas cuma telepon buat nambah beban pikiranku dengan rasa khawatir yang berlebihan, lebih baik kita tutup saja teleponnya. Aku lagi sibuk, Mas."

*Klik.* Telepon tertutup.

Itu adalah pertengkaran pertama mereka. Selama tiga hari, mereka tidak saling berkirim pesan. Shelly merasa Arkan tidak memahami urgensi pekerjaannya, sementara Arkan merasa Shelly terlalu keras kepala dan mengabaikan dirinya sendiri.

---

Tiga hari kemudian, Arkan kembali ke desa. Ia tidak langsung menuju kantor koperasi, melainkan ke sawah tempat Shelly biasa berada. Ia menemukan Shelly sedang duduk sendirian di gubuk, menatap hamparan sawah dengan mata sembab. Bibitnya berhasil diselamatkan, tapi ia merasa kosong.

Arkan berjalan pelan, lalu duduk di sampingnya. Ia tidak membawa kata-kata pembelaan. Ia membawa sebotol jamu kunyit asam dingin buatan Ibu Shelly.

"Ibu bilang kamu belum makan dari pagi," ucap Arkan lirih.

Shelly menoleh, lalu air matanya tumpah begitu saja. "Mas... aku minta maaf. Aku cuma takut mengecewakan petani-petani itu."

Arkan menarik Shelly ke dalam pelukannya. "Aku yang minta maaf, Shel. Aku terlalu egois ingin kamu jadi 'perempuan biasa' yang duduk manis menunggu tunangannya pulang. Aku lupa kalau yang membuatku jatuh cinta padamu adalah keberanianmu memikul beban orang banyak. Tapi tolong, kasih aku ruang buat ikut mikul beban itu. Jangan dipikul sendiri."

Shelly mengangguk dalam dekapan Arkan. Di sana, di tengah kesunyian sawah, mereka belajar bahwa cinta bukan hanya soal kecocokan, tapi soal kelapangan hati untuk saling memaafkan dan memahami ritme hidup masing-masing.

---

Enam bulan menjelang hari pernikahan, Arkan memberikan sebuah kejutan. Ia mengajak Shelly ke sebuah lahan kosong di pinggiran desa yang menghadap ke arah gunung. Di sana, sudah berdiri pondasi sebuah bangunan.

"Ini desain finalnya," Arkan menyerahkan sebuah maket kayu kecil. "Terasnya lebar, tanpa pagar. Ada ruang tamu terbuka yang menyatu dengan taman obat. Dan di belakang, ada laboratorium kecil yang kamu impikan."

Shelly menutup mulutnya dengan tangan, terharu. "Mas... ini indah sekali."

"Aku menamainya 'Omah Tandur'," ujar Arkan. "Tempat di mana kita menanam cinta dan masa depan. Aku sudah bicara sama Bapak, pembangunan ini akan melibatkan tukang-tukang dari desa kita sendiri. Biar mereka merasa rumah ini adalah bagian dari mereka juga."

Persiapan pernikahan pun dimulai. Namun, Shelly menegaskan satu hal: ia tidak ingin pesta mewah di gedung. Ia ingin pesta rakyat.

"Aku mau kita menikah di tengah sawah yang sudah dipanen, Mas," usul Shelly suatu malam saat mereka sedang menyortir undangan. "Kita gelar tikar, makanannya semua hasil bumi desa kita. Nasi tumpeng dari beras organik kita, sayur mayur dari kebun warga, dan musiknya cukup gamelan desa."

Arkan tersenyum. "Ide gila, tapi aku suka. Aku akan urus tata lampunya. Aku akan buat sawah itu bercahaya seperti di film-film, tapi tetap terasa sangat desa."

---

Masalah muncul ketika Bu Ratna, Ibu Arkan, melihat daftar undangan. Beliau ingin mengundang kolega-kolega bisnisnya dari Jakarta.

"Arkan, bagaimana mungkin kolega Papa kamu suruh makan lesehan di tengah sawah? Nanti kalau ada ulat bagaimana? Kalau becek bagaimana?" keluh Bu Ratna lewat panggilan video.

Arkan melirik Shelly yang sedang duduk di sampingnya. Shelly hanya tersenyum tipis, memberikan kode agar Arkan yang menjelaskan.

"Ma," Arkan bicara dengan sangat hati-hati. "Ini adalah cara kami menghormati tanah yang sudah menghidupi Shelly dan keluarganya. Kalau teman-teman Papa dan Mama datang, mereka akan melihat kemewahan yang tidak bisa dibeli dengan uang di Jakarta: ketulusan warga desa dan udara yang paling segar di dunia. Arkan jamin, ini akan jadi pernikahan paling berkesan yang pernah mereka datangi."

Setelah perdebatan panjang, akhirnya Bu Ratna setuju, asalkan Arkan menyediakan area khusus yang sedikit lebih nyaman untuk para tamu senior. Shelly pun setuju, ia menghargai kompromi tersebut.

---

Malam sebelum hari pernikahan, suasana di rumah Shelly sangat ramai. Seluruh Ibu-ibu desa datang membantu memasak. Suara tawa dan denting piring terdengar hingga larut malam. Shelly duduk di dalam kamar, menjalani ritual dipingit.

Ibu masuk ke kamar, membawakan segelas air putih. Beliau duduk di tepi tempat tidur, menatap putrinya yang kini tampak sangat dewasa.

"Nduk," suara Ibu bergetar. "Besok kamu sudah jadi istri orang. Tugasmu bukan cuma buat desa lagi, tapi buat suamimu. Mas Arkan itu orang baik, dia sudah mau mengalah banyak buat kamu. Tolong, jaga hatinya sebagaimana dia menjaga mimpimu."

Shelly menggenggam tangan Ibunya. "Iya, Bu. Shelly nggak akan lupa. Shelly bersyukur Mas Arkan mau menerima Shelly apa adanya, lengkap dengan lumpur-lumpur di kaki Shelly."

Di mess proyek, Arkan juga sedang berbincang dengan Bapak Shelly yang datang berkunjung. Bapak membawa sebuah keris tua yang dibungkus kain beludru.

"Nak Arkan, ini titipan dari kakek Shelly. Bapak nggak punya harta buat dikasih ke kamu. Tapi Bapak kasih restu penuh. Tolong, kalau nanti kalian sudah di kota atau di mana pun, jangan biarkan Shelly kehilangan cahayanya. Dia itu seperti padi, kalau kurang air dia layu, kalau kebanyakan air dia busuk. Kamu harus jadi irigasi yang pas buat dia."

Arkan menerima keris itu dengan khidmat. "Saya janji, Pak. Saya akan jaga Shelly lebih dari saya menjaga nyawa saya sendiri."

---

Hari pernikahan tiba. Sawah blok tengah yang baru saja dipanen telah disulap menjadi area yang sangat magis. Arkan benar-benar jenius; ia menggunakan ribuan lampu gantung kecil yang digantung di tiang-tiang bambu, menciptakan kesan seperti ribuan kunang-kunang di malam hari (meskipun acara dimulai sejak siang).

Shelly tampil sangat cantik dengan kebaya kutubaru berwarna hijau botol dan kain jarik motif sidomukti. Riasannya natural, menonjolkan kecantikan aslinya sebagai gadis desa. Arkan gagah dengan beskap senada dan keris di pinggangnya.

Saat ijab kabul diucapkan di depan penghulu di sebuah panggung kayu sederhana di tengah sawah, suasana sangat hening. Hanya suara angin yang menggesek daun kelapa yang terdengar.

"Sah!" teriak para saksi.

"Alhamdulillah!" suara warga desa bergemuruh, lebih kencang dari suara musik manapun.

Pesta rakyat dimulai. Para tamu dari Jakarta—termasuk Bu Ratna yang awalnya ragu—tampak terpukau. Mereka melepas sepatu mahal mereka dan menggantinya dengan sandal jepit yang disediakan panitia, lalu duduk lesehan di atas tikar pandan. Mereka menikmati nasi berkat yang dibungkus daun jati dengan lahap.

"Ternyata begini ya, Arkan," bisik Bu Ratna saat Arkan dan Shelly menghampiri meja tamu VIP. "Mama baru sadar, selama ini Mama hidup di kotak beton yang sombong. Di sini, Mama merasa... lebih manusia."

Shelly tersenyum haru mendengar pengakuan itu.

---

Malam harinya, setelah pesta usai dan tamu mulai pulang, Shelly dan Arkan berdiri di pematang sawah, menatap rumah baru mereka, "Omah Tandur", yang lampunya mulai menyala.

"Capek, Shel?" tanya Arkan sambil merangkul bahu istrinya.

"Capek banget, Mas. Tapi ini hari paling bahagia dalam hidupku."

"Mulai besok, perjalanan kita yang sebenarnya dimulai," ujar Arkan. "Aku bukan lagi pengawas proyek di sini, aku adalah warga desa ini. Aku sudah siapkan papan nama buat kantor kita di depan rumah nanti."

"Kantor apa, Mas?"

"Arkan & Shelly: Arsitektur dan Pertanian Berkelanjutan."

Shelly tertawa kecil, menyandarkan kepalanya di bahu Arkan. Perjalanan asmara mereka yang lambat, penuh drama perbedaan kelas, dan ujian prinsip, kini telah mencapai akarnya. Mereka tidak lagi hanya dua orang yang jatuh cinta, tapi dua jiwa yang sepakat untuk membangun sebuah ekosistem kehidupan yang lebih baik.

Di bawah langit desa yang penuh bintang, Shelly Anindya, S.P. dan Arkan, S.T. melangkah menuju rumah mereka. Sebuah awal dari cerita baru, di mana teknologi dan tradisi, kota dan desa, serta cinta dan pengabdian, melebur menjadi satu kekuatan yang akan terus menumbuhkan kehidupan di atas tanah pusaka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!