Ketika teman baiknya pergi ke Korea untuk menjadi seorang idol, Sena mengantarkan kepergiannya dengan senang hati. Menjadi penyanyi adalah impian Andy sejak kecil, maka melepasnya untuk menggapai mimpi adalah sebuah keputusan terbaik yang bisa Sena ambil.
Setelah kepergian Andy ke Korea, mereka kehilangan kontak sepenuhnya. Sependek pengetahuannya, persiapan menjadi idol berarti merelakan waktunya banyak tersita untuk berlatih banyak hal. Jadi hari-hari Sena lalui tanpa rasa keberatan. Malah, tak lupa selalu diselipkannya doa untuk teman baiknya, semoga kelak berhasil debut dan menggapai cita-citanya.
Namun siapa sangka, kerelaan hati Sena itu pada akhirnya membawa jalannya sendiri untuk kembali bertemu dengan Andy sang teman baik. Di pertemuan setelah sekian lama, akankah Sena menemukan Andy masihlah sama dengan Andy yang dikenalnya sejak masa kanak-kanak?
Masihkah mereka menjadi perfect partner bagi satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nowitsrain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Come Over
Ketika Sena terbangun keesokan paginya, efek alkohol yang ditenggaknya semalam masih jelas terasa. Kepalanya terasa berat, perutnya mual, dan tubuhnya lemas. Dia memilih untuk berlama-lama di atas tempat tidur, menolak beranjak karena belum punya cukup tenaga untuk bangun.
Mala, si kucing pintar kesayangannya, entah bagaimana berhasil membuka pintu kamarnya. Ia melompat ke atas tempat tidur dan meringkuk di sana, membenamkan tubuh gembrotnya ke atas selimut tebal belas Sena kenakan semalam. Sena mengulurkan tangannya, mengelus tubuh Mala dan perlahan merasakan kehangatan dari bulu-bulu tebal kucing oranye itu berpindah ke telapak tangannya.
Setelah menghabiskan cukup banyak waktu berdiam diri mengumpulkan kesadaran, Sena akhirnya duduk dan mengucek matanya perlahan. Ia menghela napas rendah, lalu berhati-hati menurunkan kakinya dari kasur. Melewati kamar Hana, ia melihat gadis itu masih tertidur, bahkan lebih lelap daripada dirinya. Sena lewat begitu saja, membiarkan Hana tidur lebih lama.
Hal pertama yang Sena lakukan setelah ada di lantai bawah adalah menenggak air putih, lalu minuman pereda pengar yang selalu siap di kulkas menyusul masuk ke dalam perut. Ia lalu duduk di meja makan, menopang wajahnya dengan kedua tangan. Sebenarnya, efek mabuk yang kali ini tidak seberapa parah jika dibandingkan dengan pengalamannya yang lain, hanya saja Sena tetap tidak menyukai ketidaknyamanan di tubuhnya sekarang ini. Meski begitu, rasa tidak nyaman ini masih sepadan menurutnya, karena setidaknya dia telah melewati malam yang menyenangkan bersama teman-temannya yang berharga.
Sudah lama sejak terakhir kali mereka berkumpul bersama. Mengambil jurusan yang berbeda hanyalah satu hal, pekerjaan dan kehidupan pribadi yang mereka jalani adalah hal lain yang kerap jadi penghalang untuk berkumpul bersama seperti malam tadi. Tapi untungnya, mereka masih selalu bisa mencari celah waktu untuk bertemu.
Di tengah lamunan, Sena baru ingat soal ponselnya yang dia abaikan semalaman. Jadi dia kembali ke kamar dan mencari keberadaan benda itu, yang rupanya ditinggalkannya di bawah bantal. Sena naik ke kasur, seraya mengetuk layar ponselnya dua kali. Dayanya masih tersisa 40 persen, dengan begitu banyak notifikasi muncul memenuhi layar. Di antaranya adalah notifikasi grup, berisi pesan yang memastikan mereka pulang dengan selamat. Ada juga pesan dari ibunya, menanyakan tentang sebuah produk kecantikan yang pernah mereka bicarakan lewat panggilan telepon, belum lama ini. Selain itu, ada satu DM Instagram dari Andy.
Sena benar-benar tidak memperhatikan ponselnya semalam. Setelah sempat mengunggah story berisi foto minuman, Sena menyimpan ponselnya dan tidak menyentuhnya lagi sama sekali. Pesan yang Andy kirimkan untuk menanggapi story yang diunggahnya itu, lantas hanya diberi tanda hati. Merasa sudah cukup terlambat untuk membalas, sebab pembahasannya sudah tidak relevan lagi.
Namun, tidak lama setelah tanda hati muncul di bawah pesan yang Andy kirimkan, ponselnya malah berdering. Andy menelepon.
"Halo?" sapanya lesu. Ia mendengar Andy tertawa kecil di seberang.
"Malam yang berat, huh?"
"Bukan," sahutnya. "Pagi yang berat."
"Oh," kata Andy, terdengar mengerti. "Kau oke?"
"Ya. Oke. Hanya sedikit pusing sekarang."
"Hmmm ... baiklah," kata Andy, lalu secepat kilat ia mengganti topik pembicaraan. "Omong-omong, apa kau mau datang ke asrama kami malam ini? Kami free setelah pukul 7, dan berencana untuk bersantai sambil menonton film bersama."
Sena berpikir sebentar, butuh waktu yang lebih lama untuk mencerna tawaran Andy, sebelum akhirnya menganggukkan kepala. "Tapi, bagaimana caranya aku masuk?" tanyanya.
"Aku akan mengirimkan alamatnya kepadamu. Begitu tiba, kau bisa menelepon dan aku akan menjemputmu di lobi. Kita bisa naik bersama."
"Baiklah. Aku akan meneleponmu lagi saat tiba nanti."
"Oke," balasnya. "Oh, jangan lupa pakai masker, dan topi kalau perlu. Mungkin saja akan ada fans yang berkeliaran di sekitar asrama."
"Yang seperti itu tidak layak disebut fans," cetus Sena. Mana ada fans yang sengaja berkeliaran di sekitaran asrama tempat idola mereka tinggal? Daripada fans, yang begitu lebih pantas disebut orang gila.
Andy terkekeh pelan mendengar Sena mengomel. "Ya, kau benar," ucapnya setuju. "Kalau begitu, sampai nanti, ya."
"Iya."
Sena melepaskan ponselnya dari genggaman begitu telepon ditutup. Kembali, dia merebahkan tubuhnya. Mungkin dia akan beristirahat sedikit lebih lama, supaya bisa punya tenaga untuk datang ke asrama Andy beberapa jam ke depan.
...****************...
Sena memakai masker dan topi sebelum turun dari mobil, saat ia melihat sekelompok gadis berkerumun di depan bangunan asrama. Kamera ponsel dengan case wajah idol di tangan mereka menyala, siap mengabadikan momen emas yang bisa didapat dalam sekejap mata. Saat melewati mereka, Sena mengamati dengan hati-hati, memastikan tidak ada satu di antaranya yang curiga akan kehadirannya dan dengan lancang mengambil gambar. Setelah cukup jauh, barulah dia menelepon Andy untuk memberitahu bahwa dia sudah sampai.
Untungnya, Sena bisa mencapai lobi dengan selamat. Tidak terlalu lama sejak kedatangannya, lift terbuka, dan Andy ada di dalamnya. Ia mengenakan masker dan topi. Sebelum ada yang menyadari keberadaanya, Andy bergeser agar Sena bisa masuk ke dalam lift.
"Hai," sapanya, sehabis membuka topi dan masker.
"Hai," balas Andy. "Maaf soal keramaian di depan tadi. Kau tidak mengalami sesuatu yang buruk saat melewati mereka, kan?"
"Bukan masalah. Kau tidak perlu khawatir."
"Oke," balas Andy lalu tersenyum. Mereka kemudian keluar dari lift, menuju unit apartemen yang disediakan untuk menjadi asrama bagi Andy dan teman satu grupnya.
Andy memasukkan kode di pintu, lalu mereka masuk. Sepatu dilepas, diletakkan di rak dekat pintu. Sena kemudian dibawa menuju ruang tamu, tempat di mana seorang pria dengan rambut cokelat agak gondrong, duduk di sendirian di sofa. Pria itu menoleh saat mendengar suara langkah, dan langsung berdiri dengan senyum terkembang saat menemukan eksistensi Andy dan Sena.
Pria itu cukup tinggi dan memiliki tatapan yang dalam, membuat Sena merasa terintimidasi. Namun, saat ia mengulurkan tangan dan menyapanya dengan ramah, ketakutan Sena seketika lenyap.
"Andy bilang kau akan berkunjung hari ini. Senang akhirnya bisa melihatmu secara langsung. Perkenalkan, aku Yushi."
"Senang bertemu denganmu, Yushi," kata Sena seraya menjabat tangan pria berkebangsaan Jepang itu. "Aku Sena."
"Oke," kata Andy, memecah kontak antara keduanya. "Apa kau sudah makan, Sena?"
Sena menggelengkan kepala. Dia sama sekali tidak berselera makan. Jadi pikirnya, dia akan makan setelah perutnya benar-benar lapar saja.
"Nah, mana boleh melewatkan makan. Aku beli gyoza, ayo kita makan." Andy menarik lengannya, mengajaknya menuju meja makan. Sena menurut saja, bahkan saat Andy menarikkan kursi dan menyuruhnya duduk. Andy duduk di sebelahnya, sedangkan Yushi bergabung dan duduk di seberang Andy.
"Makanlah," kata Andy, meletakkan gyoza ke piring kecil di hadapan Sena.
"Terima kasih," balas Sena, memakan dumpling di piringnya perlahan.
Andy dan Yushi juga ikut makan. Mereka bertiga tiba-tiba saja berbagi makanan di satu meja, padahal baru beberapa menit berlalu sejak Sena dan Yushi saling bertemu.
Memikirkan hal itu, Sena jadi tersenyum sendiri. Aneh juga dirinya bisa mengenal teman-teman Andy satu persatu, padahal ia hanya orang biasa dan mereka adalah idola.
"Sena,"
"Ya?"
"Apa kepalamu masih sakit?"
Bersambung....