Nayara, gadis panti yang dianggap debu, terjebak di High Tower sebagai istri politisi Arkananta. Di sana, ia dihina habis-habisan oleh para elit. Namun, sebuah rahasia batin mengikat mereka: Luka Berbagi. Setiap kali Nayara tersakiti, Arkan merasakan perih yang sama di nadinya. Di tengah gempuran santet dan intrik takhta Empire Group, sanggupkah mereka bertahan saat tasbih di tangan Nayara mulai retak dan jam perak Arkan berhenti berdetak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Sovereign Mode
Lantai marmer High Tower yang biasanya memantulkan cahaya lampu kristal dengan sempurna, kini tampak kusam di bawah pendar lampu darurat yang berkedip-kedip. Aroma ozon yang tajam—sisa dari lonjakan arus pendek yang disengaja—memenuhi udara, mencekik paru-paru siapa pun yang berani melintas di sayap timur. Arkananta berdiri di tengah pusat kendali sistem bangunan, jemarinya tidak menyentuh panel layar sentuh, melainkan melayang beberapa milimeter di atas permukaan kaca yang kini retak halus.
"Tuan, sistem kelistrikan di sayap hunian Erlangga telah sepenuhnya terisolasi. Namun, massa yang dimobilisasi melalui media sosial mulai merangsek masuk ke area lobi utama," lapor Bayu. Suaranya terdengar melalui interkom, dibarengi suara gaduh dari kejauhan.
Arkan tidak langsung menjawab. Ia bisa merasakan detak jantung High Tower melalui telapak tangannya. Bangunan ini bukan sekadar beton dan baja; baginya, ini adalah perpanjangan dari otoritas yang baru saja ia ambil alih. "Biarkan mereka berteriak di bawah sana, Bayu. Kebisingan adalah senjata bagi mereka yang tidak memiliki kekuatan nyata. Pastikan saja tidak ada satu pun frekuensi liar yang menembus kamar perawatan Nayara."
"Bagaimana dengan dewan keluarga yang menuntut penjelasan atas pemutusan akses logistik mereka secara sepihak?" tanya Bayu lagi.
"Katakan pada mereka, oksigen di gedung ini sekarang adalah komoditas politik, bukan hak lahir. Siapa pun yang masih berdiri di barisan Erlangga berarti memilih untuk berhenti bernapas dalam ekosistem Empire Group," ucap Arkananta. Suaranya rendah, namun bergema dengan getaran yang membuat lampu-lampu di sekelilingnya berdengung hebat.
Di kamarnya yang gelap, Nayara menggenggam tasbih kayu yang retak itu dengan erat. Ia tidak bisa melihat bagaimana cahaya di luar kamarnya meredup, namun ia merasakan getaran di lantai yang seirama dengan denyut nadinya sendiri. Melalui ikatan luka yang mereka bagi, ia tahu Arkan sedang memikul kemarahan yang bisa menghanguskan seluruh menara ini.
"Arkan... suhunya turun lagi," bisik Nayara pada kesunyian ruangan. Ia menarik selimutnya, merasakan uap dingin keluar dari mulutnya sendiri. "Anda sedang memaksakan diri untuk menjadi monster bagi mereka, bukan?"
Seolah mendengar bisikan itu, di pusat kendali, otot pipi Arkananta berkedut. Ia merasakan sensasi dingin yang sama di ulu hatinya—sebuah tanda bahwa Nayara sedang berusaha menarik sebagian dari beban emosionalnya. Arkan segera melakukan pernapasan manual, memaksa paru-parunya bekerja di bawah tekanan gravitasi energi hampa yang mulai membocorkan suhu dingin ekstrem ke sekitarnya.
Langkah kaki yang terburu-buru terdengar dari lorong luar. Erlangga muncul dengan wajah merah padam, dikawal oleh beberapa pengacara yang tampak pucat. "Arkan! Hentikan kegilaan ini sekarang juga! Kau tidak punya hak untuk memutus aliran data dan logistik ke kantor wakil direktur!"
Arkan membalikkan badan dengan perlahan. Bayangannya memanjang secara tidak alami di atas lantai, menelan cahaya lampu darurat hingga sosoknya tampak seperti lubang hitam di tengah ruangan. "Hak saya tertulis pada setiap inci kabel yang mengalirkan energi ke ruangan Anda, Erlangga. Sejak Anda menginjak kue jahe dari panti itu semalam, Anda telah kehilangan kualifikasi untuk menikmati fasilitas di bawah naungan nama besar keluarga ini."
"Kau gila! Hanya karena masalah makanan sampah itu kau menyabotase operasional perusahaan raksasa?" teriak Erlangga, suaranya melengking karena frustrasi. "Dewan keluarga akan mencopotmu malam ini juga!"
"Dewan keluarga sedang sibuk mencoba menyalakan kembali server mereka yang saya kunci," balas Arkan tenang. Ia melangkah maju, dan setiap langkahnya diikuti oleh suara retakan kecil pada ubin marmer yang ia injak. "Anda ingin bermain dengan massa dan opini publik? Silakan. Tapi ingatlah, di High Tower, sayalah yang menentukan siapa yang boleh melihat cahaya dan siapa yang harus menetap dalam kegelapan."
Erlangga mundur satu langkah, tangannya meraba-raba perangkat komunikasinya yang hanya menampilkan layar hitam statis. "Kau menggunakan sihir hitam... ini tidak logis!"
"Ini bukan sihir, Erlangga. Ini adalah konsekuensi dari martabat yang kau remehkan," ucap Arkananta tepat di depan wajah pria itu. Suhu di antara mereka anjlok hingga titik beku. "Setiap kali kau mencoba mendekati kamar istriku, tekanan udara di sekitarmu akan berkurang sepuluh persen. Pilihannya sederhana: mundur dan tetap hidup, atau maju dan mati karena hampa udara."
Salah satu pengacara di belakang Erlangga jatuh terduduk, memegangi lehernya seolah sedang tercekik. Arkan tidak menyentuh mereka secara fisik, namun manifestasi otoritasnya menciptakan efek psikis yang melumpuhkan sistem saraf lawan.
"Bayu, aktifkan Sovereign Mode pada seluruh pintu akses keluar," perintah Arkan tanpa mengalihkan pandangan dari mata Erlangga yang kini dipenuhi ketakutan. "Tidak ada yang boleh keluar dari gedung ini sampai saya mendapatkan permintaan maaf tertulis dan pemulihan nama baik Nayara dipublikasikan di seluruh kanal berita."
"Baik, Tuan. Mengunci seluruh gerbang elektromagnetik sekarang," sahut Bayu dari pusat kendali keamanan.
Suara dentuman keras terdengar saat gerbang baja di lantai bawah menutup secara serentak. Suasana di lobi yang tadi gaduh oleh demonstran bayaran Erlangga mendadak sunyi senyap. Mereka terjebak di dalam benteng yang kini sepenuhnya dikendalikan oleh satu orang yang selama ini mereka anggap sebagai anak buangan yang lemah.
Nayara, di tempat tidurnya, merasakan getaran terakhir dari penguncian tersebut. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan tasbih di tangannya yang bergetar. "Arkan, jangan biarkan kebencian ini menelan sisa kemanusiaan Anda. Ingatlah bau tanah basah di panti... ingatlah hangatnya teh di meja kayu kita."
Di tengah kekuasaannya yang mutlak, Arkananta terdiam sejenak. Ia menyentuh sapu tangan kasar milik Nayara di dalam sakunya. Tekstur kain itu adalah satu-satunya hal yang mencegahnya untuk tidak meremukkan seluruh ruangan ini menjadi debu.
Erlangga mendengus, mencoba menutupi rasa ngeri yang mulai merayap di sumsum tulangnya. Ia bisa merasakan tekanan udara yang makin memadat, seolah-olah ruangan ini sedang diisolasi dari dunia luar oleh kehendak Arkananta. "Radius oksigen? Kau pikir kau siapa, Arkan? Kau hanya beruntung memiliki sepotong logam di jari istrimu. Tanpa restu Nyonya Besar, kau tetaplah debu yang bisa disapu kapan saja!"
Arkan tidak membalas hinaan itu dengan teriakan. Ia justru berdiri dengan keanggunan seorang predator yang sudah mengunci mangsanya. "Bayu, apakah unit pembersihan batin sudah mengamankan data dari kamera cadangan di langit-langit?"
Bayu, yang sejak tadi berdiri dalam posisi siaga, mengangguk singkat. "Sudah, Tuan. Meskipun kamera utama dihancurkan, sensor tekanan dan perekam audio independen di bawah lantai marmer tetap aktif. Seluruh tindakan Tuan Erlangga, termasuk perusakan properti dan intimidasi terhadap pemegang saham pengendali, telah tercatat secara real-time."
Wajah Erlangga memucat seketika. Ia menoleh ke arah kamera yang tadi ia hancurkan, lalu beralih ke lantai yang ia injak. "Kau... kau menjebakku?"
"Aku tidak perlu menjebak seseorang yang sudah terbiasa menjatuhkan dirinya sendiri ke dalam lumpur," sahut Arkananta. Ia melangkah satu kali lagi, memangkas jarak hingga ia bisa melihat pantulan ketakutan di mata Erlangga. "Setiap butir kue jahe yang kau injak adalah martabat yang kau remehkan. Dan di gedung ini, menghina martabat Permaisuri berarti menyatakan perang terhadap seluruh sistem keamanan High Tower."
"Arkan, sudah cukup," suara Nayara terdengar lirih namun tegas dari atas tempat tidur. Ia meraba-raba udara, dan Arkan segera menangkap tangannya, meremasnya dengan kelembutan yang sangat kontras dengan aura dingin yang ia pancarkan pada Erlangga. "Jangan biarkan kemarahan Anda mengotori tangan Anda lebih jauh. Biarkan dia pergi dengan kehinaannya sendiri."
Arkan menatap istrinya, lalu kembali menatap Erlangga. "Kau dengar itu? Istriku masih memiliki belas kasihan untuk orang sepertimu. Tapi jangan salah paham, Erlangga. Belas kasihannya adalah satu-satunya alasan mengapa kau masih bisa berjalan keluar dari sini dengan kaki yang utuh."
Erlangga meludah ke samping, meskipun tangannya sedikit gemetar saat ia merapikan jasnya yang mahal. "Kita lihat saja di sidang dewan besok. Aku akan memastikan seluruh keluarga besar tahu bahwa kau telah berubah menjadi monster demi wanita buta ini!"
Dengan langkah tergesa-gesa yang tidak lagi berwibawa, Erlangga meninggalkan ruangan. Suara sepatunya yang menjauh terdengar seperti pelarian seorang pengecut. Setelah pintu tertutup, suhu di ruangan itu perlahan-lahan mulai kembali normal. Arkananta mengembuskan napas panjang, sebuah napas manual yang berat, melepaskan ketegangan saraf yang hampir mencapai titik didih.
Ia kembali berlutut di lantai, memunguti sisa-sisa remahan kue jahe yang telah hancur. Bayu mencoba membantu, namun Arkan mengangkat tangannya, memberi isyarat agar ia melakukannya sendiri.
"Maafkan saya, Nayara. Saya gagal menjaga ketenangan Anda pagi ini," bisik Arkananta. Ia menatap telapak tangannya yang kini kotor oleh remahan kue yang bercampur debu lantai marmer.
Nayara melepaskan kain kasa di kepalanya sedikit, meskipun matanya masih tertutup rapat. "Kue itu bisa diganti, Arkan. Tapi keteguhan Anda barusan menunjukkan bahwa Anda sudah siap menjadi Komandan yang sesungguhnya. Saya bisa merasakannya—getaran tulang besi Anda tidak lagi liar, tapi sudah terarah."
Arkan bangkit, mendekati Nayara, dan mengecup kening istrinya dengan khidmat. Rasa pahit yang tadi memenuhi pangkal lidahnya perlahan memudar, digantikan oleh tekad yang membaja. Ia tahu bahwa perang sesungguhnya baru saja dimulai, dan remahan kue yang hancur di lantai itu akan menjadi pengingat abadi bahwa tidak akan ada lagi penghinaan yang dibiarkan tanpa balasan.
Di luar jendela, langit Astinapura mulai tertutup awan mendung yang berat, seolah alam sedang mempersiapkan diri untuk badai yang akan datang. Arkananta berdiri tegak di samping tempat tidur, menatap ke arah pintu yang rusak, siap menyambut siapapun yang berani mengusik kedamaian di dalam kamar steril itu.