Kehancuran yang Ia rasakan, membuat Ilham Adi Prawira, kabur dan mengasingkan diri di sebuah hotel selama beberapa minggu.
Putra pertama dari Prawira grup yang berusia berusia 27 tahun itu, mengalami patah hati yang cukup parah. Ketika sang wanita yang Ia cintai, justru memilih sang Papa sebagai calon suaminya.
Di hotel itu, Ia mengalami sebuah insiden. Seorang pelayan, bernama Khalila. Ia salah memberikan pesanan, hingga berakibat fatal untuk mereka berdua.
Karena kejadian malam itu, dengan semua rasa bersalahnya, Iam mencari wanita itu dan memberikan tanggung jawab untuknya.
"Tak perduli bagaimanapun kau menolak. Aku, akan tetap menikahimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesalahan semalam, tapi dosa seumur hidup
Pagi sekali, Iam sudah menjemput Khalila. Bahkan, Khalila masih mengenakan dasternya dan membantu sang Ibu membuka tokonya.
"Kok, belum siap-siap?" tanya Iam, dengan setangkai mawar di tangannya.
"Bantu Ibu dulu, Mas. Mas ngga bilang, kalau sepagi ini."
"Yaudah, kamu mandi. Biar aku bantuin Ibu buka toko." jawab Iam.
Lila mengangguk, lalu masuk dan meninggalkan mereka berdua di luar. Bu Marni masih diam. Antara masih sungkan dan belum dapat menerima keadaan dirinya saat ini. Terlebih lagi, harus menerima apa yang di katakan orang padanya.
" Bu, sini Iam bantu." tawarnya, lalu mengangkat beberapa kardus air mineral dan yang lain secara bergantian.
"Iam, duduk." pinta Bu Marni, pada calon menantu dadakannya itu.
"Ya, Bu, ada apa?" tanya Iam dengan ramah dan lembut.
"Yakin, mau menikahi Lila?"
"Sangat yakin, Bu. Bahkan, saya rela melakukan apa saja demi bisa menikah dengan Lila."
"Bahkan, kalian tak saling kenal. Pertemuan, hubungan pun.... Hanya karena kecelakaan semalam 'kan?" tanya nya lagi.
"Hanya kecelakaan semalam, memang. Tapi, dosa saya seumur hidup. Saya sadar itu. Apalagi, jika Lila ternyata hamil setelah itu. Maka itu adalah darah daging saya." ucap Iam dengan begitu yakin.
Sebuah ucapan, yang membuat hati Bu Marni luluh. Iam adalah pria yang bertanggung jawab, bahkan ketika Lila mengatakan jika itu adalah kesalahannya sendiri.
" Baiklah.... Nanti Ibu akan telepon Bapak Lila, untuk dirumah dan menyambut kalian. Tapi, jangan ucap mengenai kecelakaan ini padanya. Bisa di peras kamu nanti sama dia."
"Siap, Bu."
"Diperas? Diperas bagaimana? Uangku? Apakah, Bapak Lila seberengsek itu?" fikir Iam.
Tak lama kemudian, Lila keluar dari rumahnya. Dengan celana jeans, dan kemeja coklatnya yang begitu serasi. Riasan pun natural, sesuai dengan usia dan parasnya yang memang sudah menawan.
" Cantiknya...." puji Iam, dengan memberikan bunga mawar yang Ia pegang daritadi.
"Buat Lila?"
"Masa buat Ibu? Kalau Ibu, dikasihnya bunga Bank. Baru cocok." jawab Iam dengan santai.
Bu Marni akhirnya dapat tersenyum, melihat Iam yang begitu perduli dengan Lila.
"Cinta, mungkin akan tumbuh karena terbiasa. Semoga, Iam bisa menyayangi Lila dengan tulus." batin Bu Marni.
"Ayo..." ajak Iam, mengadahkan tangannya menyambut Lila.
Lila membalas, dan mereka bergandengan masuk ke mobil bersama.
"Rumah Mas, dimana?" tanya Lila.
"Di perumahan Seruni. Rumah Papi, dan Adikku tinggal disana."
"Wah, itu perumahan orang kaya? Mas kaya?" tanya Lila, yang mulai mengorek info tentang calon suaminya itu.
"Perusahaan milik Papi dan Almarhumah Mami. Aku, hanya membantu menjalankan. Dan, sudah lebih dari seminggu, aku bahkan tak menginjak kantor."
"Tapi, tak mungkin di pecat. Kan, Bosnya." jawab Lila. Dan hanya mendapat senyum dari Iam.
Tak lupa, menceritakan tentang Aulia. Adik semata wayangnya yang paling Ia sayang. Gadis yang manja, tapi memiliki sifat mandiri yang tinggi. Haya saja, Ia masih begitu malas untuk menceritakan sosok Dona pada Lila. Bukan karena takut cemburu, hanya tak ingin Ia beranggapan, hanya sebagai pelampiasan nya saja.
Iam menghentikan mobilnya, di sebuah rumah mewah dengan halaman yang cukup luas. Ia membukakan pintu, dan menggandeng tangannya untuk masuk ke dalam.
"Ayo, kok malah diem." ajak Iam.
"Ini rumah, apa istana?" tanya Lila terkagum-kagum.
"Istana kita. Nanti, tinggal disini aja, ya? Tapi kalau udah ngga betah, baru cari rumah baru buat kita." bujuk Iam.
"Iya, Mas." jawab Lila. Yang dengan hati berdebar, melangkahkan kakinya masuk ke rumah itu.