NovelToon NovelToon
A Love That Grows

A Love That Grows

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Nikahmuda / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:775
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Yura, 23 tahun, adalah seorang wanita cerdas, cantik, dan tulus. Setelah kehilangan ayahnya yang selalu menjadi inspirasinya, Yura memutuskan untuk mewujudkan mimpi lama mereka membuka toko kue Prancis yang pernah ayahnya impikan.
Namun, langkahnya tak semulus yang ia kira. Di dunia bisnis, ia bertemu Arkan, CEO tajir, dingin, dan terlalu posesif. Pria yang selama ini menutup hati dari semua wanita tiba-tiba tertarik pada Yura bukan karena bisnis, tapi karena ketulusan dan keberanian yang jarang ia temui.
Pertemuan pertama mereka di restoran biasa berubah menjadi serangkaian kejadian tak terduga: mulai dari pertolongan Yura pada orang tua dan ibu hamil, hingga pertemuan bisnis yang membuat batas profesional mereka teruji.
Bisnis, mimpi, dan rasa kehilangan bercampur menjadi satu, ketika Yura harus memilih antara menjaga mimpinya, menghadapi masa lalunya, dan… menghadapi seorang pria yang mulai terlalu ingin memilikinya.
Apakah Yura akan menyerah pada bisnis dan mimpi ayahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 Di Antara Kilau dan Diam

Begitu memasuki gedung megah itu, Yura sejenak terdiam.

Lampu kristal menggantung tinggi di langit-langit, memantulkan cahaya ke segala arah. Meja-meja panjang dipenuhi hidangan mewah finger food tersusun rapi, dessert berkilau, minuman berwarna bening hingga keemasan tersaji dalam gelas kristal.

Orang-orang berjas hitam dan gaun elegan bercampur dalam percakapan yang terdengar ringan, namun sarat kepentingan.

Yura melangkah pelan, menyesuaikan diri.

Ia mengambil segelas air mineral, menenangkan napas. Matanya menyapu ruangan, mencari celah, mencari momen.

Inilah dunia yang harus ia hadapi malam ini.

Tiba-tiba

Brak.

Suara piring jatuh memecah keheningan elegan.

Seorang pelayan tampak membeku di tempat. Makanan berserakan di lantai marmer mengilap. Wajahnya pucat, tangannya gemetar.

Beberapa tamu menoleh.

Ada yang mengernyit.

Ada yang melangkah menjauh.

Tidak ada yang membantu.

Seolah kejadian itu tidak pantas disentuh di tempat semewah ini.

Yura berhenti.

Tanpa berpikir panjang, ia menurunkan gelas di tangannya dan melangkah mendekat.

“Gak apa-apa,” ucapnya lembut pada pelayan itu sambil berjongkok. “Pelan-pelan.”

Ia mengambil tisu, mulai membereskan makanan yang tumpah. Tangannya kotor, tapi ia tidak peduli.

Pelayan itu menatapnya kaget.

“Mbak… biar saya saja”

“Bantu bareng lebih cepat,” jawab Yura sambil tersenyum kecil.

Beberapa tamu melirik heran. Ada yang berbisik pelan. Tapi Yura tetap fokus.

Di sudut ruangan

Arkan menghentikan langkahnya.

Segelas minuman masih di tangannya, tapi perhatiannya teralih.

Ia menatap sosok perempuan yang berjongkok di lantai marmer itu. Gaunnya elegan, gerakannya tenang, tanpa ragu. Tidak ada gengsi. Tidak ada kepura-puraan.

Adegan itu terasa… tidak pada tempatnya.

Dan justru karena itulah, Arkan tidak bisa mengalihkan pandangannya.

Dia lagi.

Perempuan itu.

Bukan karena ia ingin terlihat baik.

Bukan karena ingin diperhatikan.

Ia melakukannya karena memang begitu caranya bersikap.

Arkan menyipitkan mata.

Di ruangan penuh topeng dan ambisi,

seseorang baru saja mengingatkannya

bahwa ketulusan masih ada.

Dan untuk pertama kalinya malam itu,

Arkan benar-benar memperhatikan Yura.

Arkan mengalihkan pandangannya perlahan.

Namun kali ini, bukan karena kehilangan minat

melainkan karena sesuatu di dalam dirinya baru saja terusik.

“Cari tahu,” ucapnya singkat pada asistennya yang berdiri di samping.

Asisten itu menoleh. “Tentang siapa, Pak?”

“Perempuan itu,” jawab Arkan tanpa menoleh kembali. “Yang membantu pelayan.”

Nada suaranya datar, tapi matanya masih sempat melirik sekali lagi ke arah Yura sebelum berbalik.

“Nama. Perusahaan. Alasannya ada di sini,” lanjutnya. “Saya mau tahu.”

“Baik, Pak.”

Arkan melangkah pergi menuju sebuah ruangan khusus yang telah disiapkan untuknya. Pintu besar terbuka, meredam hiruk-pikuk acara di luar. Di dalam, suasana jauh lebih tenang meja rapat kecil, sofa kulit, dan jendela kaca besar menghadap kota malam. Ia berdiri di dekat jendela, menatap lampu-lampu kota.

Tidak banyak orang yang bisa menarik perhatiannya akhir-akhir ini.

Dan entah mengapa, perempuan itu melakukannya dengan cara yang paling tidak ia duga.

Di sisi lain, Yura berdiri sambil tersenyum kecil.

Makanan yang tumpah tadi sudah bersih. Lantai kembali mengilap seperti semula. Pelayan itu menghela napas lega.

“Terima kasih banyak, Mbak,” ucapnya tulus. “Kalau bukan karena Mbak, saya pasti dimarahi.”

Yura menggeleng pelan.

“Gak apa-apa. Semua orang bisa salah,” jawabnya lembut. “Yang penting beres.”

Pelayan itu menunduk hormat sebelum kembali ke tugasnya.

Yura berdiri, merapikan gaunnya yang sedikit kusut di bagian bawah. Ia tidak sadar bahwa beberapa pasang mata sempat memperhatikannya bukan dengan kagum, tapi dengan heran.

Di tempat semewah ini,

ketulusan terasa aneh.

Yura mengambil napas pelan, lalu kembali melangkah ke tengah keramaian tanpa tahu bahwa seseorang di balik pintu ruangan khusus sedang mulai menaruh minat padanya. Dan malam itu, pertemuan mereka belum selesai.

Di dalam ruangan khusus itu, Arkan duduk di sofa kulit berwarna gelap.

Segelas minuman berada di tangannya, belum tersentuh. Matanya menatap kosong ke arah jendela, seolah pikirannya masih tertinggal di luar pada satu adegan kecil yang tak seharusnya berarti apa-apa.

Ketukan pelan terdengar.

Pintu terbuka.

“Pak Arkan,” ucap asistennya sambil melangkah masuk. “Saya sudah dapat informasinya.”

Arkan menoleh.

Asisten itu menyerahkan sebuah tablet.

Arkan menerimanya, lalu menunduk membaca.

Nama: Yura

Usia: 23 tahun

Perusahaan: Company Ritel

Posisi: Manajer

Kehadiran di acara: Perwakilan proyek kerja sama

Alis Arkan sedikit terangkat.

“Manajer?” gumamnya pelan.

Ia menggeser layar, membaca lebih detail. Riwayat singkat. Pencapaian. Usia yang terlalu muda untuk posisi itu.

Bibir Arkan melengkung tipis.

Senyum yang jarang muncul.

Bukan karena tertarik pada jabatan atau latar belakang, melainkan karena kontras yang ia temukan.

Perempuan muda. Posisi tinggi.

Tapi bersedia berjongkok di lantai

demi membantu seorang pelayan.

“Menarik,” ucapnya singkat.

Asisten itu berdiri diam, menunggu instruksi.

Arkan menurunkan tablet, lalu menyesap minumannya perlahan.

“Pastikan dia ikut sesi pertemuan malam ini,” katanya tenang. “Yang resmi.”

“Baik, Pak.”

Pintu kembali tertutup.

Arkan bersandar, menatap langit malam di balik kaca.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama,

sebuah pertemuan bisnis terasa… personal.

Dan Arkan tersenyum lagi bukan karena angka,

melainkan karena seseorang bernama Yura.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!