Kisah ini tidak menawarkan jawaban tentang apakah Great Reset benar-benar dirancang oleh elite global. Yang dihadirkan justru sesuatu yang lebih mengganggu: bagaimana bahasa, teknologi, dan kebijakan modern membentuk kepatuhan tanpa paksaan, membuat pilihan terasa semakin sempit, dan menjadikan penyesuaian sebagai satu-satunya cara untuk tetap dianggap “normal”.
Kita yang Tidak Pernah Diundang bukan dongeng tentang konspirasi besar, melainkan tentang manusia-manusia biasa yang hidup di dalamnya… tanpa sadar, tanpa persetujuan, dan tanpa kepastian apakah kesadaran akan menyelamatkan atau justru menyulitkan.
Sebuah kontemplasi gelap-reflektif tentang sistem yang tidak memaksa, dunia yang terlalu tertib, dan pertanyaan sederhana yang terus menghantui:
…jika semuanya sudah diputuskan, apa arti menjadi manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tempat Netral
Tidak ada satu pun dari mereka yang secara eksplisit mengusulkan tempat.
Itu disengaja, meski tidak pernah dibicarakan. Kata “tempat” terlalu cepat memunculkan konsekuensi. Lokasi berarti jarak, jarak berarti jejak. Dan jejak selalu punya kebiasaan buruk, ia jarang hilang sepenuhnya.
Percakapan di grup Random bergerak memutar selama dua hari berikutnya. Tidak lagi membahas apa yang terjadi, tapi bagaimana mereka menyiasati waktu. Ari menyebut minggu depan longgar. Yanto bilang ia bisa menyesuaikan rute. Wawan menimbang jadwal kafe. Doli berhitung hari cuti tanpa menyebut kata cuti. Wijaya berhati-hati, seperti biasa. Kusuma hanya membaca, menunggu celah yang tidak memaksanya menjelaskan.
Akhirnya, tanpa ada yang mengklaim sebagai pengambil keputusan, satu kota muncul berulang kali. Bukan kota asal siapa pun. Bukan kota tujuan utama. Kota transit. Kota yang dilewati, bukan didatangi.
Surabaya.
Pilihan itu terasa aman karena terlalu biasa. Terlalu administratif. Tidak punya aura simbolik seperti Yogyakarta, tidak terlalu jauh seperti Papua, tidak terlalu padat makna seperti Jakarta. Surabaya adalah kota yang bisa dijadikan alasan tanpa harus menjelaskan motif.
“Gue ada urusan ke sana,” tulis Wijaya, netral.
“Aku lewat,” jawab Kusuma.
Yang lain tidak menolak.
Tidak ada tanggal yang ditetapkan secara resmi. Hanya rentang waktu. Hanya kata “kalau jadi”. Tapi setiap orang mulai menyesuaikan hidupnya diam-diam, seolah pertemuan itu sudah masuk ke kalender batin mereka.
Ari berangkat paling awal.
Ia naik kereta pagi dari Yogyakarta, memilih gerbong yang tidak terlalu penuh. Ia membawa ransel kecil, laptop, buku catatan, dan satu jaket tipis. Tidak ada yang istimewa. Justru itu yang ia butuhkan. Perjalanan ini tidak boleh terasa seperti ziarah atau misi. Ia ingin tetap menjadi orang biasa yang berpindah kota karena alasan yang bisa diterima siapa pun.
Di dalam kereta, ia membuka laptop, lalu menutupnya kembali. Ia tidak menulis. Ia hanya menatap jendela, membiarkan lanskap bergeser pelan. Sawah. Bangunan. Jalan kecil. Semua bergerak tanpa meminta tafsir.
Ia teringat percakapan terakhir dengan dirinya sendiri, malam sebelum berangkat. Tentang apakah pertemuan ini akan mengubah cara ia menulis. Tentang apakah kehadiran fisik orang lain akan membuat kata-katanya kehilangan jarak yang selama ini ia jaga.
Ia belum punya jawabannya.
Yanto berangkat dengan cara berbeda.
Ia menunda kepastian sampai hari terakhir. Seperti biasa, ia tidak ingin terikat pada rencana sebelum benar-benar “harus”. Ia menutup satu tur, menolak tawaran tambahan, lalu naik bus malam. Ia duduk dekat jendela, memutar musik pelan, membiarkan pikirannya bekerja tanpa arah pasti.
Di kepalanya, pertanyaan-pertanyaan lama muncul kembali. Tentang apa arti berkumpul. Tentang apakah pertemuan ini akan membuat mereka lebih jelas, atau justru lebih rentan. Yanto tidak takut pada konflik. Ia takut pada kesepakatan setengah hati.
Ia memejamkan mata, membiarkan bus melaju.
Wawan hampir membatalkan keberangkatan.
Ia berdiri di kafenya yang sepi, menatap meja-meja yang sudah ia susun rapi. Ada rasa bersalah yang muncul, meninggalkan ruang kecil yang ia bangun dengan susah payah. Ada juga rasa takut yang tidak bisa ia jelaskan pada siapa pun. Takut bahwa pertemuan ini akan menuntut sesuatu darinya yang belum siap ia lepaskan.
Ia akhirnya menitipkan kafe pada seorang karyawan kepercayaan. Alasannya sederhana. Urusan keluarga. Tidak bohong. Tidak sepenuhnya benar. Tapi cukup.
Dalam perjalanan menuju bandara, ia membaca ulang pesan-pesan di grup. Tidak ada paksaan. Tidak ada tuntutan. Justru itu yang membuatnya berangkat. Ia ingin memastikan bahwa rasa ragu yang ia simpan bukan tanda ketidaksetiaan, melainkan tanda bahwa ia masih peduli.
Doli tidak memberi tahu siapa pun di kantornya.
Ia mengatur jadwal dengan rapi, menutup celah, memastikan tidak ada tenggat yang terbengkalai. Ia terbiasa melakukan hal itu. Yang berbeda kali ini adalah motifnya. Ia bukan pergi untuk menulis, bukan untuk mencari bahan, bukan untuk rapat. Ia pergi untuk hadir, dan itu membuatnya sedikit gelisah.
Di kereta, ia membuka catatan lamanya, lalu menutupnya lagi. Untuk pertama kalinya, ia tidak ingin mendokumentasikan apa yang akan terjadi. Ia ingin melihat apakah sesuatu bisa bertahan tanpa segera diubah menjadi teks.
Wijaya datang paling akhir.
Bukan karena terlambat, tapi karena ia menunggu sampai semua urusannya selesai. Ia tidak ingin membawa setengah perhatian ke pertemuan ini. Ia membawa tas kecil, map tipis, dan kebiasaan lamanya untuk datang dengan persiapan meski tidak tahu apa yang akan dibahas.
Dalam perjalanan, ia memikirkan satu hal berulang kali. Bahwa pertemuan ini tidak tercatat di arsip mana pun. Tidak ada undangan. Tidak ada notulen. Tidak ada struktur. Sebagai pustakawan, itu membuatnya tidak nyaman. Sebagai manusia, itu terasa perlu.
Kusuma tiba tanpa pengumuman.
Ia sudah berada di Surabaya sejak beberapa hari sebelumnya. Menunggu kabar yang tidak datang. Mengisi waktu dengan bergerak tanpa tujuan. Ketika membaca pesan bahwa yang lain mulai tiba, ia hanya menyesuaikan jadwalnya. Tidak ada keberangkatan. Tidak ada kepulangan. Ia sudah berada di ruang antara.
Tempat pertemuan akhirnya dipilih secara nyaris kebetulan.
Sebuah warung kopi kecil, bukan jaringan besar, bukan tempat sunyi, bukan juga ruang privat. Meja kayu. Kursi tidak seragam. Suara lalu lintas masuk dari luar. Tidak ada ruangan khusus. Tidak ada reservasi atas nama siapa pun.
Tempat netral, dalam arti paling harfiah.
Ari datang lebih dulu. Ia memilih meja di sudut, bukan untuk bersembunyi, tapi untuk mengamati. Ia memesan kopi, menaruh ransel di lantai, lalu duduk dengan tangan terlipat. Dadanya terasa penuh, bukan oleh antusiasme, tapi oleh kesadaran bahwa sesuatu akan berubah begitu mereka semua duduk di meja yang sama.
Yanto datang berikutnya. Mereka saling mengangguk, lalu tersenyum kecil. Tidak ada pelukan. Tidak ada basa-basi panjang. Mereka memesan minuman masing-masing, duduk berhadapan, dan membiarkan keheningan bekerja.
Wawan tiba dengan langkah ragu. Ia menoleh sebentar ke luar, seolah mencari alasan untuk berbalik, lalu masuk. Senyumnya tipis, tapi matanya jujur. Ia duduk setelah disapa, menghela napas pelan.
Doli datang tanpa suara. Ia menarik kursi, duduk, dan meletakkan ponselnya di meja tanpa membukanya. Ia melihat sekeliling, memastikan tidak ada yang terlalu memperhatikan. Lalu ia mengangguk pada Ari, Yanto, dan Wawan.
Wijaya masuk beberapa menit kemudian. Ia menyapa singkat, duduk, dan langsung menyesuaikan posisi kursinya agar semua terlihat. Kebiasaan lama. Membaca ruang.
Kusuma datang paling akhir, seperti biasa. Ia berdiri sejenak di pintu, memandang meja itu, lalu melangkah masuk. Helm ditaruh di lantai. Jaket digantung di sandaran kursi. Ia duduk tanpa kata.
Enam orang. Satu meja. Tidak ada yang langsung bicara.
Suara mesin kopi terdengar. Gelas diletakkan. Seorang pelayan lewat, mencatat pesanan tambahan. Dunia di luar meja itu tetap berjalan.
Ari akhirnya membuka suara, pelan.
“Gue seneng kita bisa duduk bareng,” katanya. “Tanpa harus sepakat soal apa pun.”
Yang lain mengangguk.
Tidak ada yang membantah. Tidak ada yang menambahkan. Keputusan kecil itu, duduk bersama tanpa agenda, akhirnya terwujud. Dan justru karena itu, ketakutan mulai terasa lebih nyata. Karena sekarang, mereka tidak lagi bersembunyi di balik layar.
Mereka hadir.
Dan kehadiran, bahkan tanpa kata, selalu membawa risiko.
Beberapa menit pertama berlalu tanpa arah.
Mereka duduk mengitari meja kayu itu dengan gelas masing-masing, menunggu seseorang mengisi ruang dengan kalimat yang pantas. Pelayan datang dan pergi. Sendok beradu dengan cangkir. Di luar, klakson terdengar putus-putus. Semua berlangsung normal, terlalu normal untuk sebuah pertemuan yang sejak awal mereka hindari untuk diberi makna.
Ari memandang wajah-wajah di depannya satu per satu. Tidak ada yang tampak siap memulai. Ia sendiri tidak yakin apa yang ingin ia dengar. Selama ini, percakapan mereka hidup di layar. Di sana, jeda bisa ditutup dengan diam. Di sini, diam terasa lebih panjang.
“Tempatnya enak,” kata Wawan akhirnya, pelan, seperti menguji permukaan air. “Nggak berisik.”
Yanto mengangguk. “Netral.”
Doli tersenyum tipis. “Netral itu relatif.”
Kalimat itu tidak dilanjutkan. Mereka kembali terdiam. Wijaya merapikan posisi gelasnya, menyusunnya sejajar dengan tepi meja. Kebiasaan kecil yang memberi rasa tertib di tengah ketidakpastian.
“Gue nggak tahu mulai dari mana,” kata Ari kemudian. “Dan mungkin itu nggak masalah.”
“Masalahnya justru kalau kita tahu mulai dari mana,” sahut Yanto. “Biasanya berarti kita udah siap menutup kemungkinan lain.”
Wawan menghela napas. “Gue datang ke sini bukan buat nutup apa-apa. Tapi jujur aja, gue juga nggak siap buka semuanya.”
Doli mengangguk pelan. “Itu wajar.”
Kata wajar terdengar seperti pengaman. Seperti kesepakatan diam-diam untuk tidak melangkah terlalu jauh. Ari menangkap itu. Ia juga merasakan dorongan untuk membiarkannya begitu saja. Duduk, minum kopi, berbagi kalimat aman, lalu pulang dengan perasaan telah melakukan sesuatu.
Namun sesuatu di dadanya menolak ketenangan itu.
Wijaya menoleh ke Kusuma yang sejak tadi lebih banyak diam. “Kamu gimana?” tanyanya, tidak mendesak.
Kusuma mengangkat bahu. “Sama.”
“Sama yang mana?” tanya Yanto.
“Sama-sama nunggu,” jawab Kusuma singkat.
Kalimat itu jatuh datar. Tidak dramatis. Tapi cukup untuk mengubah suhu meja.
Wawan mencondongkan badan sedikit. “Nunggu apa, Sum?”
Kusuma memandang gelasnya. Kopinya sudah dingin. “Apa aja,” katanya. “Kabar. Keputusan. Sistem.”
Doli menatapnya lebih serius sekarang. “Masih belum ada perkembangan?”
Kusuma menggeleng. “Masih ditinjau.”
Wijaya menarik napas pelan. “Sudah berapa hari?”
“Enam,” jawab Kusuma. Ia menyebut angka itu tanpa emosi, seperti menyebut cuaca.
Ari merasakan sesuatu mengencang di tenggorokannya. Enam hari. Ia membayangkan enam hari tanpa menulis, tanpa merasa ditunggu oleh kalimat. Itu saja sudah membuatnya gelisah. Lalu ia mengingat bahwa bagi Kusuma, enam hari berarti lebih dari itu.
“Dan selama itu…” Wawan berhenti sejenak. “Kamu nggak kerja sama sekali?”
Kusuma mengangguk. “Nggak bisa.”
Tidak ada yang langsung merespons. Suara mesin kopi kembali terdengar. Pelayan menanyakan apakah mereka ingin menambah pesanan. Ari menggeleng. Yang lain mengikuti.
“Gue coba ngurus,” lanjut Kusuma, masih menatap meja. “Isi formulir. Datang ke kantor. Nelpon. Jawabannya selalu sama.”
“Apa?” tanya Yanto.
“Disuruh nunggu.”
Kata itu mengendap di antara mereka. Menunggu. Kata yang terdengar pasif, tapi memakan banyak hal di dalamnya.
Doli membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Ia terbiasa memberi analisis, menarik garis sebab akibat. Tapi kali ini, semua penjelasan terasa tidak pada tempatnya.
“Yang paling aneh,” lanjut Kusuma, “bukan nggak ada uang. Itu bisa dicari. Yang aneh itu bangun pagi, badan siap jalan, tapi nggak ada tempat buat pergi.”
Ia berhenti sejenak. Menelan ludah.
“Rasanya kayak… lo masih ada, tapi nggak dihitung.”
Kalimat itu tidak diucapkan dengan suara tinggi. Justru karena itu, ia memukul lebih dalam.
Wawan menunduk. Tangannya saling menggenggam. Ia memikirkan kafe kecilnya, izin-izin, laporan, tanda tangan. Ia memikirkan betapa banyak hal yang selama ini ia terima sebagai bagian dari keteraturan. Dan kini, keteraturan itu menelan orang di depannya.
“Gue kira,” kata Wawan pelan, “kalau kita nurut, hal-hal kayak gini nggak kejadian.”
Yanto menoleh cepat, lalu menahan diri. “Kadang kejadian justru karena kita nurut.”
Wawan mengangkat kepala. “Maksud lo?”
Yanto menggeleng. “Nanti.”
Ketegangan kecil muncul, lalu mereda. Tidak ada yang ingin memperbesar. Ari memperhatikan wajah Kusuma. Tidak ada kemarahan di sana. Yang ada kelelahan yang belum menemukan arah.
Wijaya akhirnya bicara. “Yang bikin sulit,” katanya, “karena nggak ada satu pun dari ini yang bisa kita bantah pakai data.”
Doli mengangguk. “Dan nggak ada yang bisa kita terima sebagai kebetulan murni.”
Kusuma tersenyum tipis. “Gue nggak nyari penjelasan besar,” katanya. “Gue cuma pengen tau, kalau ini kejadian ke gue, apa ke kalian juga ada versi lain dari nunggu itu.”
Kalimat itu membuka sesuatu yang selama ini mereka tahan.
Wijaya berbicara tentang arsip yang dipotong konteks. Yanto tentang narasi yang dibatasi. Wawan tentang dokumen yang tertahan tanpa alasan jelas. Ari tentang tulisan yang mulai dibaca dengan kecurigaan. Doli tentang catatan yang tiba-tiba menarik perhatian yang tidak ia undang.
Tidak ada yang mengangkat suara. Tidak ada yang saling menyela. Mereka hanya menyadari satu demi satu bahwa pengalaman mereka tidak identik, tapi serupa dalam pola.
Dan kesadaran itu tidak membawa kelegaan. Ia membawa beban.
“Jadi,” kata Ari akhirnya, “kita ngapain sekarang?”
Pertanyaan itu menggantung. Tidak ada yang siap menjawab.
“Kalau kita sepakat ini bukan kebetulan,” kata Doli, “langkah berikutnya selalu berisiko.”
“Kalau kita anggap kebetulan,” sahut Yanto, “kita bohong sama diri sendiri.”
Wawan mengusap wajahnya. “Gue belum siap ambil sikap.”
“Gue juga,” kata Wijaya.
Kusuma mengangguk. “Gue cuma siap jujur soal apa yang gue alamin.”
Keheningan kembali turun. Tapi kali ini berbeda. Bukan keheningan aman yang bisa diisi basa-basi. Ini keheningan yang menuntut keputusan, atau setidaknya pengakuan bahwa keputusan belum bisa diambil.
Ari merasakan dorongan untuk merangkum, menutup dengan kalimat indah. Ia menahannya.
“Gue nggak mau kita maksa diri jadi berani,” katanya akhirnya. “Tapi gue juga nggak mau kita pura-pura pertemuan ini nggak ngaruh.”
Yang lain mengangguk.
Tidak ada kesepakatan tertulis. Tidak ada rencana konkret. Hanya satu hal yang mereka pahami bersama. Duduk di meja yang sama ternyata lebih berat dari yang mereka kira. Dan setelah ini, pulang ke hidup masing-masing tidak akan terasa sama.
Mereka membayar, berdiri satu per satu. Tidak ada foto bersama. Tidak ada janji pertemuan berikutnya. Hanya anggukan dan kontak mata yang lebih lama dari biasanya.
Di luar, Surabaya bergerak seperti biasa. Orang-orang berlalu lalang tanpa tahu bahwa di sebuah warung kopi kecil, enam orang baru saja menyadari sesuatu yang tidak bisa mereka kembalikan ke dalam layar.
Bahwa rasa takut mereka sah.
Bahwa pengalaman mereka saling berkelindan.
Dan bahwa langkah kecil yang baru saja mereka ambil, duduk bersama tanpa agenda, sudah cukup untuk membuat mundur menjadi pilihan yang tidak lagi netral.
Mereka berpisah dengan arah berbeda, membawa pulang keheningan yang sama, dan satu pertanyaan yang belum terjawab.
Bukan tentang apa yang akan mereka lakukan.
Melainkan tentang berapa lama mereka masih bisa berpura-pura tidak melakukan apa-apa.