Namanya Bunga, gadis remaja yang hidup bergelimang harta dengan apa yang dia dapatkan. Jika kalian mengira Bunga salah satu anak dari orang kaya raya atau pesohor di tanah air, maka itu salah besar. Bunga gadis cantik yang masih duduk di bangku SMA dengan segudang cerita malamnya.
Cantik dan sexy itu yang tersemat jika kalian melihat seorang Bunga. Gadis yang selalu menjadi incaran teman-teman sekolahnya. Namun tidak satupun yang bisa dekat dengannya, Bunga teralalu cuek dan penutup. Sampai pada akhirnya Bian datang dan membawa sejuta cerita untuknya, merubah Bunga secara perlahan, namun ditengah-tengah hubungan mereka masalah cukup serius datang dan membuat keduanya sama-sama saling membenci namun masih menyimpan rasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertama Untukmu Tapi kesekian Untuk-ku
Pagi harinya, Bunga dikejutkan dengan nuanasa kamar yang jelas berbeda dengan kamarnya. Tetapi desain ruangan tersebut hampir sama dengan ruangan apartemennya.
Bunga duduk di ranjang, kepalanya masih sedikit pusing karena sisa mabuk semalam. Pikirannya tertuju dimana terakhir kalinya dia sedang berjoget di klub malam yang ia kunjungi, itu terakhir kali yang dapat Bunga ingat, selanjutnya Bunga tidak ingat lagi, dia harus berusaha keras untuk ingat, atau menunggu sampai pusing di kepalanya hilang.
Ceklek
Pintu kamar terbuka. Bunga sempat terkejut melihat Bian yang masuk. Seketika Bunga tahu dia sedang berada di apartemen Bian.
"Udah bangun lo?" tanya Bian melirik Bunga sekilas.
Cowok itu membawakan air hangat untuk Bunga. Juga roti yang sudah diberi selai.
Bunga sempat mengernyit bingung dengan apa yang dilakukan oleh Bian saat ini. "Tadi malam-"
"Gue yang bawa lo pergi dari tempat itu," potong Bian membuat Bunga mengangguk.
"Sorry gue nggak ingat," jawab Bunga membuat Bian menatap Bunga datar.
"Ini." Bian menaruh nampan tersebut di atas nakas. Lalu kembali memperhatikan Bunga yang kini tengah menyibakan selimut yang sedari tadi masih menutup tubuhnya. Seketika membuat rahang Bian kembali mengeras. Bunga selalu seenaknya saja memperlihatkan bentuk tubuhnya yang sexy. Bahkan adanya Bian sama sekali tidak Bunga pedulikan.
"Lo nggak ada baju yang lebih pantas apa?" tanya Bian membuat Bunga menatap heran ke arah Bian.
"Kenapa?" tanya Bunga tanpa beban. Dia sama sekali tidak masalah dengan bajunya, nyaman dengan baju yang dikenakan olehnya, karena memang hampir semua baju Bunga itu berbahan minim atau sexy.
Baju semacam itu sehari-hari digunakan oleh Bunga.
"Bukannya cowok suka ya liat cewek yang pakai baju ginian?" tanya Bunga tidak munafik.
Hidup di dunia malam membuatnya tahu jika kebanyakan cowok memang menyukai fisik dari perempuan. Terbukti dari banyaknya Om-Om yang rela meninggalkan istrinya untuk bisa tidur dengannya.
Bian tidak menjawab. Karena apa yang dikatakan Bunga memang benar. Bian sendiri tidak menampik itu. Tetapi untuk Bunga, entah kenapa Bian merasa tidak suka. Bian tidak suka Bunga memperlihatkan bentuk tubuhnya yang sexy begitu saja.
Bunga tersenyum. Lalu berdiri dari duduknya. Mendekati Bian yang masih berdiam diri di tempatnya.
"Jangan bilang lo lebih tertarik sama co-"
"Stop!" potong Bian sudah tidak tahan.
Pasalnya Bunga dengan sengaja menggoda Bian dengan tubuh sexy yang dimilikinya.
Lagi-lagi Bunga tersenyum. Dia hanya sengaja memancing untuk mencari tahu jawaban.
"Thank untuk tadi malam," ucap Bunga berniat untuk pergi dari apartemen Bian.
"Dan makasih untuk ciuman itu," ucap Bian seketika membuat langkah Bunga terhenti.
Giliran Bian kini yang tersenyum miring. Melihat tubuh Bunga yang berdiam tidak lagi bergerak. Bian tahu gadis itu terkejut karena ucapannya.
Langkah Bian menghampiri Bunga, lalu berdiri tepat di depan Bunga dengan wajah datar tetapi tersirat akan makna dari sorot matanya.
"Makasih untuk ciumannya," ulang Bian sengaja. Dia ingin tahu reaksi Bunga selanjutnya.
Bunga mengepalkan tangannya kuat. Dia tahu karena mabuk sampai membuatnya melakukan hal diluar nalar terhadap Bian. Senakal apapun dirinya, pantang untuk Bunga sampai menggoda cowok seumura dengannya. Itu bukan tipe Bunga.
"Sorry," ucap Bunga berani menatap manik mata Bian.
Manik mata keduanya saling bertemu. Sorot tajam mata Bian yang entah kenapa selalu menenangkan untuk Bunga. Bian mempunyai sorot mata tajam yang seakan Bunga kenali.
Bian semakin mendekatkan dirinya dihadapan Bunga. "Ciuman pertama gue," ucap Bian dengan sorot mata tajam namun menenangkan untuk Bunga.
__________
Setelah pengakuan Bian tadi. Bunga kini terus kepikiran. Jika bagi Bunga itu sudah ciuman yang entah berapa kali Bunga tidak ingat lagi. Tapi untuk cowok seperti Bian, itu untuk yang pertama kalinya.
Ciuman pertama gue
"Argghh....!!! gue harus apa? ngembaliin ciuman pertamanya yang udah gue ambil?" heran Bunga.
Bunga memilih untuk berangkat sekolah. Lumayan dia tidak sengantuk seperti biasanya. Karena cek yang diberikan Om tadi malam menyelamatkannya.
Bunga turun dari mobil mewahnya. Dia melangkah maju untuk langsung menuju ke kelasnya.
Tepat di depan kelas Jian bersama kedua temannya sengaja menghadang kedatangannya.
"Hei Bunga!" sapa Jian membuat Bunga mengernyit bingung.
"Kesambet?" tanya Bunga seraya mendorong tubuh Sani agar dirinya bisa masuk ke dalam.
"Eh..songong banget lo! gue baikin malah nyolot!" kesal Jian dengan jawaban Bunga.
Bunga tidak lagi menanggapi, dia malas berurusan dengan Jian yang sebenarnya tidak ada apa-apanya dibanding dirinya. Bunga ini selalu bermasalah dengan orang dewasa. Istri Om yang sudah pernah tidur dengannya misalnya. Tetapi beruntung hal semacam itu belum pernah terjadi.
Bekerja dengan Mimi jelas saja aman tanpa gangguan dari orang luar.
Jika gadis semacam Jian itu jelas bukan level Bunga. Masih terlalu bocah bagi Bunga.
"Udah lah Ji nggak papa, nggak usah didengerin omongan si putri tidur. Mendingan lo sekarang pamer sama Seyna, tadi malan kan Bian ada dikonser kakak lo," usul Nida seketika membuat mata Jian membola.
"Bener-bener, Seyna harus tahu ini," jawab Jian antusias.
Sebelum pergi Jian melirik Bunga yang sudah duduk di bangkunya dengan ponsel di tangannya. Sebenarnya Jian selalu tidak suka melihat barang-barang mewah yang dikenakan oleh Bunga.
"Cabut gaes, lama-lama di sini ketularan kebo kita," ucap Jian meremehkan Bunga.
"Baru gitu aja udah seneng, gue yang ambil ciuman pertamanya aja nyesel," gumam Bunga seraya menggeleng.
Baru berapa saat kepergian Jian dan teman-temannya. Kedatangan Deni dan Rasel mengejutkan Bunga.
"Na!" panggil Deni seraya membawa beberapa kotak mini di tangannya.
"Apa?" tanya Bunga melihat beberapa kotak di tangan Deni.
"Buat ye, eike dititipi sama cogab-cogan kelas eike," jawab Deni membuat Bunga mengernyit.
"Dari Andre, Oki, sama Roni..itu geng Bian," jelas Rasel membuat Bunga bertambah bingung.
Dalam rangka apa cowok-cowok aneh itu memberikannya kotak atau hadiah? pikirnya. Lagian Bunga juga tidak begitu mengenal mereka sebatas tahu saja.
"Heran deh sama Bian, dese kok nggak nitipin kayak ginian ke ye juga ya?" heran Deni membuat Rasel memukul pelan bok*ng Deni. "Bian kan ada si putri manis Seyna."
"Auw Asel, sakit tadi malam si om mainnya garang tahu," jawab Deni dengan suara manjanya.
Bunga dan Rasel tertawa mendengar keluhan dari Deni.
"Makanya cepet operasi lo!" cibir Bunga dan diangguki oleh Deni. "Pinjemin duit dulu kek eike," keluh Deni lagi-lagi membuat Bunga dan Rasel tertawa.
"Isinya apaan sih?" tanya Bunga mulai penasaran.
"Mentok juga coklat Na, jangan ngarep hp apalagi apartemen deh sama anak-anak ingusan itu," jawab Rasel membuat tawa Bunga meledak.
"Ih..sembarang ye, gitu-gitu juga ganteng tahu, apa lagi si Bian, uhh..rasanya pengen eike goyang," jawab Deni membuat Bunga dan Rasel semakin tertawa.
Deni selalu saja asal berbicara, dengan segudang kehaluan untuk menjadi wanita seperti pada umumnya. Cowok lemah gemulai itu benar-benar sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Jiwa wanitanya sudah to the bone. hahaha