Seorang presdir tampan pemilik gedung raksasa yang bernama Samuel, rela membesarkan seorang anak yang imut, lucu dan menggemaskan yang bernama Kenzo itu sendirian, dia memang anak yang nakal dan bandel namun sebenarnya dia anak jenius, puluhan baby sister sudah mengundurkan diri karena tidak sanggup melayani bocah yang sering dipanggil Yoyo itu.
Sehingga suatu hari ada anak magang yang bernama Rinjani, karena kesalahannya dia terpaksa menjadi baby sister demi kelangsungan magangnya di perusahaan itu.
Hingga seiring berjalannya waktu tumbuh benih-benih cinta diantara mereka.
Akankah Kenzo setuju?
Akankah mereka bisa bahagia selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iska w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Bantal Guling Hidup
...Happy Reading...
Hidup tak selalu berjalan sesuai dengan keinginan, karena itu lah ada kalanya kita merasa kecewa dan sedih. Tak hanya itu, setiap masalah yang datang juga turut membuat kita dipusingkan mencari solusi. Namun dalam setiap kondisi sulit, mengingat moment yang telah dilalui bisa menjadi sebuah pendorong dan penyemangat dalam hidup kita.
Hargai semua momen bahagiamu, karena momen itulah yang membuat bantal bagus untuk usia tua.
Pagi itu Weni terkejut melihat kelakuan putra kebanggaannya, walau dalam hati dia merasakan sedikit bahagia melihat anaknya tidak lagi membenci seorang wanita karena pernah tersakiti dengan masa lalunya.
" SAAAAAMMMMM...!"
" JAAAAAANIIIIIIIIII...!"
" APA YANG KALIAN LAKUKAN..!"
Teriak Weni dengan lantang, bukan karena marah mereka berpelukan, tapi karena dia tidak ingin Yoyo melihat itu semua, dia bahkan tidak bisa membayangkan wajah cucunya tadi dan apa yang dipikirkan cucunya saat terbangun dari tidurnya tadi karena yang dilihatnya pemandangan seperti itu.
" Pak Sam..."
" Tante manggil kamu itu!" Jani berbicara perlahan, dengan nyawa masih seperempat dibadan.
" Aku masih ngantuk, biarkan aku tidur sebentar lagi dengan Yoyo ya?" Ucap Jani yang masih belom sadar, bahkan dia menggeratkan pelukannya, karena dia berfikir yang dia peluk itu adalah Yoyo.
" Yoyo.. kita tidur lagi ya?"
" Tubuh kamu hangat sekali dan masih wangi lho Yo?"
" Lain kali kakak beli juga parfum kayak gini ya!" Rinjani seperti orang yang sedang berhalusinasi, karena dia memang baru bisa tertidur beberapa jam yang lalu, jadi sekarang matanya masih terasa lengket dan sulit untuk terbuka.
" Kamu juga di panggil mama itu!" Jawab Samuel dengan ogah-ogahan.
" Aku juga masih ngantuk!" Apalagi posisinya terasa sangat nyaman sekali.
" Aku juga mau tidur lagi sama Yoyo!" Ucap Samuel yang mengoceh tanpa membuka matanya.
" Rambut kamu wangi Yo!" Samuel menghirup aroma yamg keluar dari rambut Rinjani.
" Kamu pakai sampo orang dewasa ya!" Samuel bahkan mencium berkali-kali rambut Rinjani dalam pelukannya.
" Rambutmu juga sudah panjang!" Samuel sedikit meraba rambut Rinjani juga.
" Nanti suruh kakak barumu itu nganterin potong rambut ya!" Samuel bahkan mengalungkan kakinya ditubuh Rinjani, menggangapnya sebagai bantal guling hidup.
" ASTAGA...!"
" Kena sawan dari mana mereka itu!" Weni hanya bisa menggelengkan kepalanya.
" WOOOIIIIII... BANGUN KALIAN!" Teriak Weni kembali makin gemas melihat mereka berdua yang tidak memperdulikan teriakannya dan malah mengeratkan pelukan masing-masing.
" Hahahahaha...!" Yoyo bahkan tertawa dengan renyahnya.
" Daddy...!"
" Yoyo ada disini, hihihi..." Yoyo mendengar umpatan mereka walau tidak melihat karena Weni masih menutupi kedua matanya.
" Yoyooo...!" Samuel mencoba melerai pelukan dan menatap orang didalam pelukannya, saat suara Yoyo terdengar jauh darinya.
" ASTAGAAAA...!"
" Kamu ngapain meluk-meluk saya!" Samuel langsung mendorong Rinjani dengan kuat, bahkan kepalanya membentur meja disamping tempat tidur.
" Awwww... argh, sakiiittt!" Rinjani memegang keningnya yang langsung benjol dan mengeluarkan darah sedikit.
" Saammm!"
" Jangan kasar begitu dong!" Weni langsung berjalan mendekat kearah mereka.
" Haaihh.."
" Habisnya dia tidur sambil meluk-meluk Sam mah!" Samuel bahkan mengibas-ngibaskan bajunya, seperti tidak rela jika ada air liur yang menempel dibajunya.
" Padahal tadi sebelum tidur aku sudah bilang, jangan cari kesempatan dalam kesempitan!"
" Ini malah ke enakan dia!" Samuel tidak merasa bersalah sama sekali, dia masih saja menuduh Rinjani yang menjadi pelaku utamanya, padahal dia dulu yang memeluk Rinjani tadi.
" Enak saja!" Rinjani juga tidak terima disalahkan begitu saja.
" Aku kira tadi bapak itu Yoyo!" Rinjani masih memegang keningnya yang terasa nyeri sekali.
" Pantesan wanginya beda!"
" Lagian juga bapak nganggep aku kayak bantal guling, aku mana bisa lihat kalau itu bapak!"
" Orang bapak ngekepin aku!" Rinjani tidak mau kalah begitu saja, karena dia juga tidak merasa bersalah sama sekali pikirnya.
" Sudahlah!"
" Kalian berdua sama saja!"
" Sama-sama keenakan tidur berpelukan juga!"
" Masih tidak mau mengaku saja!"
" Ngelesss saja bisanya kalian berdua!" Umpat Weni menatap jengah keduanya.
" Cepat kalian bangun!"
" Dan kamu Jani, kotak p3k ada didekat meja dapur!" Weni menatap Jani yang terlihat meringis kesakitan.
" Segera obati lukamu itu!" Weni kasihan juga melihat kening Rinjani yang sedikit benjol dan memerah karena benturan yang lumayan keras tadi.
" Cieeeeeee..."
" Daddy dan kakak tidur berpelukan?" Entah mengapa Yoyo sangat senang sekali melihatnya.
" Yoyo..."
" Kenapa kamu tidak bangunin daddy nak?" Samuel menatap Yoyo dengan wajah lemas.
" Sudah!" Yoyo menggangukkan kepalanya dengan mantap, rambut pirang kritingnyat itu bahkan mengayun dengan indahnya, membuat Yoyo terlihat makin imut saja.
" Tapi Daddy tidak memperdulikanku!"
" Daddy masih saja terus memeluk kak Jani."
" Padahal Yoyo sudah sangat lapar!"
" Jadi Yoyo tinggal pergi sarapan sendiri deh!" Ucap Yoyo terlihat serius, saat Yoyo terbangun tadi dia tersenyum dan bahagia saat Jani memeluknya, dia benar-benar merindukan pelukan seorang ibu seperti ini, karena sangat lapar Yoyo sengaja turun dulu tanpa membangunkan mereka, namun saat dia menoleh kembali ternyata mereka malah berpelukan dengan erat, dan Yoyo tidak ingin menggangu mereka dia berpikir mungkin daddynya juga merindukan pelukan mommy seperti dirinya.
Saat Rinjani akan turun dan beranjak pergi kedapur, Samuel juga beranjak ingin pergi kekamar mandi diujung.
Braaak..
Akhirnya mereka bertabrakan, karena Rinjani seperti hilang keseimbangan, Samuel langsung menarik dan memeluknya agar tidak jatuh terhempas ke lantai.
" HAH..!" Rinjani hanya bisa melongo merasakan kembali pelukan hangat yang tadi dia rasakan, Samuel pun begitu, wangi rambut Rinjani kembali menghipnotis dirinya.
" Heiiiiii.. heiiiiiiiiii.."
" Kalian tidak ada malu-malunya ya bermesraan didepan anak kecil!" Weni langsung kembali menutupi kedua mata Yoyo.
" Apa kalian mau saya nikahkan sekarang juga!"
" Iyaaaaa..?" Teriak Weni kembali.
" Eherrrmm...!"
" Enak saja!"
" Siapa yang mau menikah dengannya!"
" Nggak level!" Samuel langsung mendorong pelan tubuh Rinjani sambil berdehem ria untuk menetralkan kembali jantung yang sudah berdetak lebih kencang dari biasanya.
" Ma.. maaf tante!"
" Saya tidak sengaja!" Rinjani tidak enak hati melihat tante Weni.
" Lagian juga siapa yang mau nikah sama bapak!" Rinjani berbisik sambil menggeratkan giginya ke arah Samuel.
" Bisa hampa hidupku kalau sampai nikah sama orang kayak bapak!"
" Kering kerontang kayak Kanebo dijemur!" Umpat Rinjani kesal karena merasa direndahkan, walaupun dia tidak sekaya Samuel tapi banyak teman kampusnya yang kaya raya naksir sama dia, cuma dia tolak, karena merasa tidak sepadan, sebelum benar-benar jatuh hati kepada seseorang lebih baik melihat dulu latar belakang dan asal usulnya, dia lebih suka orang yang sederhana dan biasa saja, nanti sama-sama merintis usaha, sama-sama mulai dari bawah, sehingga nanti kedepannya tidak ada kesenjangan sosial diantara keluarganya, atau saling merendahkan satu sama lain hanya karena HARTA DAN TAHTA.
" Ciiihh..."
" Jangan mimpi kamu!" Ledek Samuel saat melihat Rinjani tidak terima.
" Diiihh..."
" Jangankan mimpi, membayangkan saja aku tidak sudi pak!" Entah dapat keberanian dari mana dia berani berkata seperti itu, yang pasti dia tidak terima jika direndahkan seperti ini.
" Awasss sana!"
" Aku mau lewat!" Samuel menggerakkan kepalanya kesamping sebagai isyarat agar Jani tidak menghalangi jalannya.
" Lewat ya lewat saja kali pak?"
" Jalanan luas ini lho?" Rinjani bahkan merentangkan kedua tangannya seolah mengukur luasnya kamar Yoyo yang mewah itu.
" Mau buat maen sepak bola juga bisa!" Umpat Rinjani yang jengah melihat kesombongan dari presdirnya.
" Astaga..."
" Kalian berdua ini kenapa masih saja berdebat disitu!"
" Arrrggh... Yoyo.." Weni memanggil Yoyo yang ikut melihat dua orang didepannya itu yang memang tidak ada yang mau mengalah.
" Yess grandma!" Jawab Yoyo sambil memberikan hormat kepada nenek, layaknya hormat kepada komando upacara.
" Hmm... sepertinya sudah saatnya kamu dapat mommy baru!"
" Apa kita nikahkan saja mereka berdua?" Weni berjongkok didepan Yoyo.
" Hmmm..." Yoyo sekan berpikir keras sambil mengamati Samuel dan Rinjani dengan tàngan kanan dibawah janggut lancipnya.
" Apa kamu setuju Yoyo sayang?" Weni mengedipkan satu matanya kearah Yoyo.
" Yess Grandma!"
" Yoyo setuju!" Jawab Yoyo dengan suara lantang.
" TIDAAAAAAKKKK...!" Jawab Samuel dan Rinjani kompak sambil menoleh kearah mereka berdua yang sudah bertos ria dan tertawa bahagia.
Kita gak akan pernah bisa tahu dan menebak tentang perasaan yang ada dalam diri kita. Secara tidak sadar, perasaan kita itu bisa tiba-tiba berubah yang dari awalnya membenci menjadi mencintai. Perubahan perasaan itu memang butuh waktu yang tidak sebentar dan melewati beberapa proses.
Banyak orang yang beranggapan bahwa rasa benci yang dimilikinya itu bisa membuat diri kita selalu ingat dan kepikiran terus dengan orang yang kita benci. Tapi perlu kamu sadari juga bahwa jika kamu selalu kepikiran sama orang yang kamu benci, itu tandanya kamu mulai punya ketertarikan sama dia.
Secara tidak langsung kamu ketahui bahwa alam bawah sadar kamu mungkin telah memberikan sinyal kalau kamu memiliki perasaan yang lain dengannya, selain rasa benci.
..." Benci itu cinta yang meluap-luap tak ada penyalurannya, atau cinta yang tertunda akan balasannya."...
..."Jangan terlalu membenci seseorang, karena rasa benci bisa dengan mudah berbalik menjadi rasa suka, bahkan yang teramat sangat."...
kaget aku tuh....he he he