NovelToon NovelToon
IBU SUSU UNTUK DOKTER DUDA

IBU SUSU UNTUK DOKTER DUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Romantis / Ibu susu / Ibu Pengganti / Duda / Romansa
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: syahri musdalipah tarigan

Maya Anita, seorang gadis berusia 16 tahun, harus menelan pahitnya kenyataan bahwa cinta remaja tidak selamanya indah. Di usia yang seharusnya dihabiskan di bangku sekolah, ia justru terjebak dalam pernikahan dini akibat hamil di luar nikah.

Demi menyambung hidup, Maya dipaksa bekerja keras di sisa-sisa tenaga kehamilannya yang sudah tua. Namun, takdir berkata lain. Sebuah insiden tragis membuatnya kehilangan bayi yang ia kandung di usia 9 bulan.

Dr. Arkan, seorang dokter spesialis kandungan yang tampan namun penyendiri, diam-diam memperhatikan penderitaan Maya melalui laporan perawat. Arkan adalah seorang duda yang menyimpan luka serupa. Istrinya meninggal saat melahirkan, meninggalkan seorang putra kecil yang sangat haus akan ASI.

“Aku mohon, bantu anakku. Tubuhmu memproduksi apa yang sangat dibutuhkan putraku untuk bertahan hidup,” pinta Arkan dengan nada penuh permohonan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

08. Memori Lily

Malam itu, keheningan rumah besar Arkan pecah oleh suara lembut yang mengalun dari kamar Baby KEL, info, singkatan dari nama Arkan, Leon, Lily. Maya berdiri di depan jendela besar, membelakangi pintu. Cahaya bulan purnama masuk menembus kaca, membungkus tubuh mungilnya dengan pendar perak yang puitis.

Di pelukannya, Leon sudah mulai tenang. Maya mengayunkan tubuhnya pelan sambil bersenandung lirih, sebuah nyanyian sederhana yang ia ciptakan dari rasa rindunya sendiri.

...🎶🎶🎶🎶...

...Bintang kecil, saksi bisu langit malam....

...Tidurlah sayang, lupakan duka yang kelam....

...Biarlah mimpimu terbang tinggi di awan....

...Di sini ada hangat, dalam dekap ketenangan....

...Esok pagi mentari ‘kan datang menyapa....

...Menghapus perih, membawa tawa yang nyata....

Di luar kamar, Arkan berdiri mematung di balik celah pintu yang sedikit terbuka. Dadanya sesak. Melihat punggung Maya yang diterpa sinar bulan, sebuah memori yang selama ini ia kunci rapat di dasar hatinya tiba-tiba meledak keluar.

Siluet Maya perlahan memudar di mata Arkan, berganti dengan bayangan Lily.

Ia teringat malam-malam sebelum tragedi itu terjadi. Lily, dengan perutnya yang membuncit besar, selalu berdiri di jendela yang sama. Ia sering bersenandung sambil mengelus perutnya dengan penuh kasih.

“Nanti setelah lahir, jadilah jagoan untuk Ibu dan Ayah, ya,” bisik Lily saat itu pada Leon yang masih dalam kandungan.

Tiba-tiba, dalam penglihatan Arkan, bayangan masa lalu itu terasa begitu nyata. Ia melihat bayangan Lily menyadari kepulangannya dari jendela, lalu berbalik dengan wajah berseri-seri. Bayangan Lily itu seolah berjalan keluar dari kamar melewati Arkan yang sekarang.

Sontak, Arkan bergeser, tubuhnya merapat ke dinding lorong untuk memberi jalan pada “bayangan” itu. Matanya mengikuti gerakan tak kasat mata tersebut hingga ke ruang tamu bawah.

Di sana, Arkan seolah melihat dirinya sendiri yang dulu, Arkan versi beberapa bulan lalu yang baru pulang kerja dengan wajah lelah, namun langsung berbinar saat melihat istrinya. Ia melihat dirinya sendiri berlutut di depan Lily, lalu mendaratkan ciuman hangat pada perut besar istrinya, membisikkan kata-kata cinta untuk putra mereka.

Arkan tersentak. Napasnya memburu. Ia tersadar dan kini ia berdiri sendirian di tengah ruang tamu yang gelap dan dingin. Tidak ada Lily. Tidak ada tawa istrinya. Yang ada hanyalah kesunyian, dan suara senandung Maya yang masih terdengar sayup-sayup dari lantai atas.

Arkan menyandarkan kepalanya di pilar marmer, tangannya mengepal kuat. Air mata yang selama ini ia tahan kini jatuh satu tetes.

“Maafkan aku, Lily,” bisiknya perih.

Di tengah kesunyian ruang tamu yang redup, suara langkah kaki kecil menyentak Arkan dari lamunannya. Maya menuruni anak tangga dengan perlahan, tangannya memegang botol bayi yang kosong.

“Kak Arkan? Kenapa berdiri sendirian di sana?” tanya Maya lembut. Ia berdiri hanya beberapa langkah di belakang Arkan, menatap punggung tegap pria itu yang tampak sedikit bergetar.

Arkan tersentak. Dengan gerakan secepat kilat, ia menghapus sisa air mata di sudut matanya menggunakan punggung tangan, lalu berbalik sambil mengatur napasnya agar terdengar normal.

“Begini, May, tadi… tadi aku sedang mengecek pintu depan, apakah sudah terkunci rapat belum. Keamanan rumah ini harus dipastikan setiap malam soalnya,” sahut Arkan berbohong, suaranya sedikit serak namun tetap terdengar tegas.

Maya memandangi wajah Arkan sejenak. Meski remang-remang, ia bisa melihat mata pria itu yang sedikit memerah. “Oh, kalau begitu aku ke dapur ya, Kak. Mau ambil minum,” ucap Maya.

Arkan hanya mengangguk singkat tanpa berkata-kata lagi, posisinya masih mematung di tempat yang sama. Maya pun berjalan menuju dapur, namun sesekali ia menoleh ke arah Arkan. Ia tahu pria itu sedang berbohong, ada duka yang mendalam di balik alasan pintu tersebut. Tapi, Maya menggelengkan kepala pelan, ia sadar akan posisinya. Ia tidak ingin terlalu ikut campur dalam privasi.

Setelah memastikan Maya benar-benar menghilang di balik pintu dapur, Arkan mengembuskan napas panjang yang sangat berat. Ia tidak sanggup lagi berada di sana, terlalu banyak bayangan Lily dan ditambah kehadiran Maya yang mengaduk-aduk perasaannya.

****

Ia segera melangkah naik menuju lantai tiga. Di sana, di dalam kamar luas yang kini ditempati adiknya, terdengar suara dengkur halus Yudha yang sudah terlelap setelah lelah bekerja lembur di kantor kejaksaan.

Arkan tidak ingin mengganggu adiknya. Ia memilih untuk merebahkan tubuhnya di sebuah sofa single di sudut kamar. Dengan lengan yang diletakkan di atas dahi, ia menatap langit-langit kamar yang gelap.

Pikirannya melayang pada kehangatan masa lalu dan tanggung jawab besar di masa depan.

“Selamat malam, Lily,” gumam Arkan lirih, sebuah bisikan yang hanya bisa didengar oleh sunyi. Perlahan, ia memejamkan matanya, membiarkan kelelahan membawanya ke dalam tidur yang penuh dengan mimpi tentang masa yang telah hilang.

***

Pukul 04:30

Suasana rumah yang biasanya senyap di jam-jam buta kini mulai dihidupkan oleh aroma bumbu tumisan yang menggugah selera. Di dapur, Maya bergerak cekatan, seolah ia sudah hafal di mana letak sudip dan bumbu-bumu dapur meski baru beberapa hari tinggal di sana.

Yudha, yang sudah rapi dengan baju olahraga setelah lari pagi singkat di lingkungan rumah, melangkah masuk ke dapur. Pagi ini ia harus bangun ekstra cepat karena ada jadwal Sidang Dakwaan di Pengadilan Negeri.

“Rajin kali,” ucap Yudha santai. Ia berdiri di depan dispenser, menunggu gelas kosongnya terisi penuh oleh air dingin.

Maya sedikit tersentak, namun segera tersenyum tipis tanpa menghentikan tangannya yang sedang mengaduk tumis kangkung campur udang di atas wajan.

“Sudah terbiasa, Bang,” sahutnya pendek. Baginya, jam segini adalah waktu di mana ia biasanya sudah harus mencuci tumpukan baju dan menyiapkan sarapan di rumah Rian.

Yudha membawa gelasnya ke arah mini bar, lalu duduk di kursi tinggi di sana sambil memperhatikan gerakan Maya yang lincah.

“Kak Vanya bilang, kamu hari ini mulai masuk sekolah?” tanya Yudha. Ia menaruh gelasnya di atas meja marmer, matanya menatap Maya degan rasa ingin tahu.

Maya mengangguk. “Iya, Bang,” sahutnya singkat. Ia mematikan kompor, lalu menuangkan tumis kangkung yang masih mengepul itu ke atas piring keramik putih yang cantik.

“Tumben si Arkan belum turun,” gumam Yudha sambil melirik jam di dinding. “Biasanya kalau urusan Leon, dia nomor satu. Tapi mungkin semalam dia kurang tidur karena sofa di kamar atas tidak senyaman ranjang empuknya yang sekarang kamu tempati.”

Maya terdiam sejenak mendengar ucapan Yudha. Ia merasa tidak enak hati karena telah mengusir pemilik rumah dari kamarnya sendiri.

“Bang Yudha, apa tidak apa-apa kalau Kak Arkan tidur di atas?” tanya Maya pelan sambil meletakkan piring kangkung di depan Yudha. “Maksudku, ini rumahnya, tapi dia malah harus mengalah.”

Yudha tertawa kecil, ia mengambil garpu dan mencicipi sedikit kangkung tumis udang buatan Maya. “Wah, ini enak! Tenang saja, Maya. Kak Arkan itu kalau punya kemauan, tidak ada yang bisa membantah. Termasuk soal membuatmu nyaman di sini. Lagipula—” Yudha menggantung kalimatnya, lalu menatap Maya serius. “Bagi dia, kenyamananmu adalah kesehatan Leon. Dia sangat disiplin soal itu.”

Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar dari arah tangga. Arkan muncul masih memakai baju piyamanya, wajahnya tampak segar meski ada sedikit lingkaran hitam di bawah matanya.

“Sudah bangun?” tanya Arkan, suaranya yang berat memecah obrolan Maya dan Yudha.

Melihat Arkan dengan aura yang cukup mengintimidasi di pagi buta, Yudha buru-buru meneguk habis sisa air putihnya. Ia segera berdiri, tak ingin terjebak dalam pembicaraan serius kakaknya.

“Masakan kamu enak! Mulai hari ini kamu jadi chef langgananku,” puji Yudha tulus sambil mengedipkan sebelah mata pada Maya. Ia kemudian melesat pergi, mengabaikan lirikan tajam Arkan yang seolah ingin menusuk punggungnya.

Arkan menarik kursi yang tadi diduduki Yudha. Ia duduk dan menuangkan air ke gelasnya. “Kamu tidak perlu repot-repot masak. Tugas kamu di rumah ini hanya untuk Leon, bukan yang lain,” ucap Arkan datar, namun nada bicaranya menunjukkan perhatian.

“Kebetulan Leon masih tidur, dan aku juga sudah terbiasa bangun pagi, Kak,” sahut Maya tenang.

Arkan menatap deretan hidangan di meja. Ada tumis kangkung, tempe goreng, dan beberapa lauk lain yang aromanya sangat menggoda. “Apakah semua masakan ini kamu yang masak?”

Maya mengangguk pelan. Arkan terdiam sejenak, menatap gadis di depannya dengan saksama. “Apa kamu tidak lelah? Apalagi nanti kamu bakalan masuk sekolah. Tenagamu akan terkuras banyak.”

“Tidak, Kak. Makanan yang baik untuk ibu menyusui adalah masakan rumahan. Tapi sayangnya, di kulkas tadi ada beberapa sayur yang kurang,” jelas Maya.

“Apa itu? Katakan saja,” ucap Arkan cepat. Ia mengambil sepotong tempe goreng yang masih hangat, menggigitnya, dan sara kriuk renyah memenuhi dapur. Matanya sedikit melebar, rasa masakan Maya benar-benar di luar ekspektasinya.

“Kak, nanti tolong carikan daun katuk, atau sayuran hijau lainnya yang bagus untuk nutrisi ibu menyusui. Itu sangat membantu melancarkan ASI,” pinta Maya.

Arkan mengunyah tempenya perlahan, lalu menatap Maya dengan tatapan yang sangat dalam dan mengunci. “Baik. Apa pun yang kau minta, dan jika itu memiliki manfaat yang bagus untuk Leon, akan aku penuhi. Jangan sungan mengatakan kebutuhanmu padaku.”

“Terima kasih, Kak,” ucap Maya dengan senyum tulus yang membuat wajah pucatnya tampak jauh lebih cantik pagi ini.

Arkan membalas dengan anggukan singkat, mencoba menyembunyikan rasa senang di hatinya melihat Maya mulai bisa berkomunikasi dengan lancar dengannya.

“Sekarang, makanlah yang banyak. Setelah ini bersiaplah, aku sendiri yang akan mengantarmu ke sekolah. Aku ingin memastikan tidak ada yang berani mengganggumu di hari pertama.”

...❌ BERSAMBUNG ❌...

...Permintaanku untuk kalian sang pembaca:...

...Mohon tinggalkan jejak untukku dong. Please!!! 🥹...

1
sari. trg
setajam apa?
Manyo
iya dek
Manyo
Yang sabar ya, Pak dokter
Manyo
O mak. Tajam kali
Manyo
karena kau bodoh
sari. trg: Antara bodoh dan bucin
total 1 replies
Manyo
Di bab ini, aku terharu.
sari. trg: Terima kasih sudah terbawa suasana
total 1 replies
Manyo
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Manyo
Hanya nikah siri. Kalau nikah siri berarti Maya tidak harus m3makai surat cerai
Manyo
Iya, suaminya yang tak berguna.
Manyo
Kerja kau. Buat malu kaum lakik aja.
Manyo
Baru baca sampek bab 3. Tpi emosinya sampai ke ubun-ubun
Manyo
Keputusan yang bagus
Manyo
Akhirnya dia mau terlepas dari suaminya
Manyo
Sudah tau suami dan mertuanya kayak gitu, tapi kenapa bertahan. Ini perempuan bodoh kurasa. Udah dihamili, disuruh banting tulang sampek keguguran. Iiiiih gerem kali aku
Manyo
Ternyata suaminya berbohong. Bjir, demi duit segitu
Manyo
Ketika takdir dipertemukan dengan cara yg unik.
Manyo
Traumanya dalam
Manyo
pingin kucabaein.
Manyo
Taeee...aku kira beneran sedih karena istrinya keguguran
Evi Lusiana
zavier terlalu sadis thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!