NovelToon NovelToon
KEKASIH GELAP WALI KOTA

KEKASIH GELAP WALI KOTA

Status: sedang berlangsung
Genre:POV Pelakor / Selingkuh / Percintaan Konglomerat / Cinta Terlarang / Konflik etika / Balas Dendam
Popularitas:284
Nilai: 5
Nama Author: Wen Cassia

Dalam setiap imaji tentang masa depan, Summer tidak menemukan gambaran selain Denver dan mata cokelat gelapnya yang hangat. Hidupnya dijejali dengan fantasi manis bahwa kehidupan tentram, jauh dari carut-marut dan kutukan, hanya bisa ia dapatkan jika Denver bersamanya.

Namun, Summer lupa satu hal: Obsesi selalu berkelindan erat dengan kemuakan. Denver akhirnya menemukan cara untuk lepas dari tali kekang Summer, mengesampingkan harga yang harus perempuan itu tanggung agar Denver bisa bernapas dengan leluasa.

Sayangnya, kalkulasi Denver agak meleset kali ini. Summer memang terperosok ke penjara lembap dan dingin, namun di tempat itu pula ia menjelma menjadi iblis yang melafalkan syair pembalasan dendam setiap malam. Dan agar bisa berdiri di podium pemenang, tersenyum congkak layaknya mimpi buruk, Summer harus bisa memenangkan hati Archilles Meridian, sang wali kota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wen Cassia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 | MUSLIHAT PERTAMA

Ketika seseorang memainkan game, tertantang untuk menyelesaikan misi, sebetulnya saat itulah otak sedang melepaskan dopamin. Senyawa kimia ini menciptakan kesenangan, menuntut untuk memperoleh kepuasan. Sekali tidak hati-hati, terjerumus dalam jurang kecanduan adalah harga yang harus dibayar.

Seperti layaknya pengetahuan tentang sistem saraf yang ia baca di perpustakaan penjara itu, saat ini Summer merasa otaknya sedang dibanjiri dopamin. Dan Archilles adalah penyebabnya. Ia menjadi sangat bersemangat, tertantang untuk membuat pria yang tampak terhormat itu berlutut di depannya. Ikan besar benar-benar sudah berada di depan mata, Summer hanya perlu melakukan tugasnya sebaik mungkin.

Summer mengamati Archilles dari petak-petak teh siam yang terpangkas rapi, nyaris menyerupai labirin mini, lalu mengitarkan pandangan ke sekeliling. Anak kucing berwarna putih yang sedang melompat-lompat kecil untuk menangkap kupu-kupu menarik atensi Summer. Selarik ide yang mengemuka di kepalanya membuat Summer meringis.

Merasa peluang ide ini menjanjikan, Summer meletakkan selimut dan buku untuk amal di dekat pot bunga, kemudian ia membungkuk untuk mengangkat kucing bermata biru itu. Pohon tanjung cukup rimbun di sebelah kanan membawa langkah Summer mendekat. Di bawah pohon terdapat rumput pendek yang menutupi lantai batu ampar yang termakan usia, sehingga nyaris ditaklukkan oleh tanah.

“Kau akan terkejut sebentar. Maaf, ya,” bisik Summer pada si anak kucing yang terlihat tenang, sepertinya sudah terbiasa dengan manusia.

Summer mengambil napas dalam-dalam untuk menyiapkan diri. Matanya terkatup erat-erat saat ia melompat, segera menekuk kakinya ke belakang, sehingga lututnya yang pertama kali membentur lantai saat ia mendarat. Pekikan nyaringnya tidak terelakkan, pekikan atas rasa sakit sungguhan, kedua lututnya nyeri luar biasa setelah menggesek lantai batu. Si anak kucing terlonjak dan mengeong keras, spontan berusaha melarikan diri. Namun, Summer masih menahannya, merapatkan kucing itu ke perutnya.

Derap semrawut dari kombinasi beberapa kaki yang terdengar mendekat bahkan tidak cukup mampu menghibur Summer, ia menyesal melompat terlalu tinggi, kakinya seperti baru saja dipatahkan menjadi empat bagian.

“Anda baik-baik saja?”

Suara itu dalam, seperti datang dari bagian terdalam laut yang tidak pernah terjamah tangan manusia, ada gurat tipis serak yang terdengar seturut dengan intonasi terkendali dan sekelumit nada cemas. Kakinya yang berbalut sepatu oxford hitam mengilap semakin cepat melangkah, berhenti tiga jengkal dari Summer yang terduduk menyedihkan.

“Ah, saya baik-baik saja.” Summer mengibaskan tangan yang bebas, berusaha menahan ringisan sakitnya, karena tentu akan membuat wajahnya tampak konyol. Gagal. Desisan pelan lolos dari bibirnya bersamaan dengan tangannya yang melepaskan si anak kucing yang gelisah ingin segera minggat dari sana. “Jatuh dari pohon …,” katanya tersipu.

“Biar saya lihat.” Archilles berjongkok, sedikit mendekatkan wajahnya ke arah lecet di lutut Summer selama beberapa saat. “Saya panggilkan dokter.”

“Tidak perlu!” Summer spontan berseru gugup, menghentikan Archilles yang ingin berdiri dan berderap untuk meminta bantuan. Kerutan samar muncul di dahi pria itu. “Eh, ini tidak separah kelihatannya. Saya baik-baik saja dan bisa mengobatinya sendiri. Dokter dan perawat pasti sedang sangat sibuk sekarang, tidak perlu menambah pekerjaan untuk mereka.”

Archilles mendongak untuk mengamati pohon tanjung, irisnya yang pekat terlihat berpendar menawan ketika tertimpa selarik cahaya matahari yang menyelinap dari sela-sela dahan pohon. “Pohon ini cukup tinggi, bisa saja terjadi fraktur atau dislokasi akibat benturan. Jangan ambil risiko, Anda harus diperiksa.”

Keras kepala hanya akan menciptakan kesan buruk, jadi Summer mengangguk. “Tentu. Setelah keadaan di sini kondusif, saya akan langsung periksa.”

“Aku juga pernah jatuh sampai lututku terluka seperti itu waktu belajar sepeda!” seorang anak laki-laki berkulit pucat berseru di belakang Archilles. Ia memakai penutup kepala berwarna abu-abu berbentuk kucing. Menilik wajahnya yang masih terlihat belia, Summer memperkirakan usianya sekitar tujuh tahun. “Rasanya sakit sekali, apalagi waktu Mama meneteskan cairan merah-merah ke lukaku. Tante Mirna sampai datang bersama Spoky yang suka menggonggong ke semua orang dan pipis sembarangan karena aku berteriak kencang. Hebat, Kakak tidak menangis!”

“Jatuh dari sepeda selalu menjadi awal yang bagus untuk sebuah petualangan,” timpal Summer. “Bagaimana sekarang? Sudah pernah bertanding siapa yang paling cepat dengan Spoky? Kurasa kau perlu mengalahkannya agar dia bisa belajar tata krama, setidaknya menjadi anjing yang berkelakuan baik. Buang air sembarangan itu sangat menyebalkan.”

“Ya, kan? Sepatu kesayanganku pernah terkena pipisnya! Mama harus menggosoknya lama sekali, sampai aku takut gambar Totoro-nya rusak.” Mendadak, kedua alis bocah itu menyatu muram, sesal membayang di wajahnya. “Yah, tidak jadi masalah sekarang. Sepatunya paling-paling sudah tidak muat lagi. Aku lebih sering memakai sandal rumah sakit, sudah lama tidak pulang ke rumah. Meskipun galak, kurasa aku juga merindukan Spoky.”

Angin mengantarkan aroma lavender seiring keheningan yang berdenyut di antara mereka. Ada semacam riak ngilu yang berdesir di dalam dada Summer, rasanya sangat tidak nyaman. Membayangkan anak-anak sekecil itu harus menyerahkan sebagian kebebasannya, memaksa diri berteman dengan rasa sakit, dan dituntut menahan diri untuk beberapa hal yang mereka gemari, rasa-rasanya dunia tidak berlaku adil. Keriangan baru terbentuk di antara tembok-tembok dingin rumah sakit sementara mereka berusaha memenangkan pertempuran dengan dirinya sendiri.

Sampai kapan pun mungkin Summer tidak akan mengerti bagaimana cara kerja dunia sesungguhnya.

“Seharusnya jalan di sisi taman itu tidak terlalu dilewati banyak orang.” Archilles mengamati jalan beton selebar sekitar dua meter di sisi kanan taman yang lebih sering dilalui staf rumah sakit, kemungkinan untuk akses ke gudang dan pemeliharaan taman. Ia kemudian menoleh ke arah kelima anak yang berdiri muram di belakangnya. Senyum samar terselip di sudut bibir Archilles. “Bukankah area yang cocok untuk bermain sepeda?”

Redup yang melingkupi mata anak-anak terburai menjadi binar antusias. Beberapa dari mereka menghambur untuk memeluk punggung dan leher Archilles.

“Benar, Om?” tanya salah satu anak perempuan berambut cokelat gelap, rambutnya dipotong pendek, atau mungkin baru tumbuh lagi setelah kemoterapi.

“Akan Om diskusikan dulu dengan direktur rumah sakit. Kalaupun diizinkan, kemungkinan hanya boleh pada jam-jam tertentu. Kau tahu, di sini sibuk. Kita tidak boleh mengacaukan operasional rumah sakit.”

“Tidak masalah!” si anak berpenutup kepala kucing berseru riang. “Aku akan mengajarimu naik sepeda, Brita!”

Setelah pelukan anak-anak terlepas, mereka sibuk berdiskusi tentang siapa yang akan mengajari siapa, Archilles berdiri sambil mengebuti pelan celananya. “Saya ambilkan obat merah,” katanya pada Summer. “Setidaknya harus diberi pertolongan pertama sebelum diperiksa lebih lanjut.”

“Terima kasih.”

Selagi memandangi punggung Archilles yang menjauh, Summer membuang napas seiring kelegaan yang menggelegak memenuhi rongga dadanya. Teror yang membuat perut Summer mencelus sepanjang berhadapan dengan pria itu akhirnya memberikan sedikit ruang untuknya mengernyit sakit semaunya tanpa perlu khawatir terlihat jelek.

“Mau duduk di sana saja?”

Summer mendongak menatap anak laki-laki berpenutup kepala abu-abu yang tengah menunjuk kursi panjang taman berwarna putih tidak jauh dari mereka.

“Biar kubantu,” lanjut anak itu.

“Terima kasih.” Kulit lutut Summer meregang perih ketika ia beranjak berdiri dengan dibantu si anak, aliran nyeri seakan menjalar ke seluruh kaki hingga terasa kebas. Mati-matian ia mencoba tidak menumpukan bobotnya pada anak kecil itu, berusaha berdiri tegap sementara mereka berjalan perlahan ke arah kursi taman. “Namamu?”

“Ansel,” jawab anak itu.

“Nah, Ansel,” kata Summer, mengembuskan napas panjang setelah berhasil duduk di kursi, “om tadi sering datang ke sini?”

Ansel melompat kecil untuk duduk di samping Summer, keempat anak lain masih bersemangat membicarakan warna sepeda yang mereka inginkan. “Om Archilles? Baru datang hari ini. Tadi sebenarnya kami bermain dengan Kak Renard, perawat di sini, tapi dia dipanggil ke dalam sehingga Om Archilles yang menggantikannya bermain gitar.”

“Oh, ya? Kalian kelihatan akrab.”

Ansel menggeser duduknya mendekat pada Summer, berbisik, “Sebenarnya aku tidak terlalu menyukainya. Sejak tadi Brita tersipu kalau Om Archilles menatapnya, aku jadi agak kesal.”

Tawa yang sudah sampai di ujung lidah Summer telan bulat-bulat saat ia melihat Ansel yang merengut menatap Brita di depan sana. Sebagai gantinya, ia berdeham sekali, menyenggol lengan Ansel layaknya teman sejawat. “Hei, kau tidak kalah tampan dari Om Archilles. Tunggu setelah rambutmu tumbuh lagi. Howl? Ashitaka? Mereka tidak akan punya kesempatan kalau disandingkan denganmu.”

Mata Ansel berkilat-kilat senang. “Kalau Horikoshi Jiro?”

“Jiro, ya?” Summer tersenyum miring, meliriknya jahil. “Yah, Brita mungkin akan lebih suka laki-laki yang merancang pesawat sungguhan daripada insinyur pesawat kertas.”

“Kak!” Bibir bawah Ansel mencebik. Ia bersedekap dengan wajah cemberut.

Tawa Summer akhirnya pecah, nyeri di kedua lututnya terlupakan sejenak. Bocah itu membuang muka sembari mendecih pelan.

Kesenangan Summer terburai saat ia melihat Archilles di ujung jalan taman. Buru-buru ia menyumpal tawanya dan berbisik pada Ansel, “Hei, jangan marah, Kakak hanya bercanda. Besok Kakak belikan sepatu Totoro yang baru.”

Ansel hanya meliriknya sebentar, lantas membuang muka lagi.

Summer menekuk bibirnya. “Baiklah, baiklah, penutup kepala Totoro juga. Atau kau mau topeng No-Face?”

“Totoro!” Ansel berseru dengan wajah masih setengah tertekuk.

“Kita sepakat kalau begitu.” Summer menjentikkan jari. “Mana senyumnya?”

Ansel memajukan wajah sambil meringis alih-alih tersenyum, Summer kembali menahan semburan tawanya karena Archilles tinggal selemparan batu.

“Kelihatannya obrolan kalian menyenangkan,” ucap Archilles ketika sampai di depan mereka, menenteng kotak medis kecil.

“Kakak bilang aku lebih tampan dari Ashitaka!” Ada nada pamer dalam suara Ansel, dadanya membusung seiring wajahnya yang terangkat congkak.

Senyum tipis tersungging di bibir Archilles. “Om yakin itu benar.” Lalu dengan gerakan yang terkesan luwes, Archilles menurunkan tubuhnya, berlutut dengan satu kaki di depan Summer.

“Apa yang Anda lakukan?” Summer tersentak, matanya membeliak. Remang menjalari tengkuknya bersamaan dengan datangnya sebentang perasaan ganjil yang merembes dalam dirinya.

“Luka Anda.” Archilles menunjuk luka lecet Summer.

“Saya sangat menghargai niat baik Anda, tapi saya bisa mengobatinya sendiri.”

Archilles mengangkat wajah, membuat tatapan mereka telak bertemu. Summer spontan menahan napas, perutnya melilit-lilit oleh hawa yang menggeranyam di sekitarnya.

“Akan sangat canggung kalau saya berdiri sekarang dan menyingkir,” kata Archilles tenang. Sebagian wajahnya diterpa sinar matahari keemasan, menciptakan bayangan elok yang jatuh di sisi wajahnya yang lain. “Saya bukan tenaga medis, tapi saya cukup baik dalam berhati-hati. Jadi, perkenankan saya.”

Kendati Archilles berbicara dengan sopan, Summer menyadari ada sekelumit kesan mendikte dalam nada pria itu. Barangkali, menduduki jabatan tinggi tidak membuatnya terbiasa dengan penolakan, setiap ucapannya hanya bisa diinterpretasikan sebagai perintah atau keputusan tak terbantahkan.

Summer menghela napas tidak kentara, mengangguk pelan.

Persetujuan kecil Summer langsung diikuti oleh Archilles yang membuka kotak penanganan luka. Mengamati sebentar luka Summer sekali lagi, ia lantas menyemprotkan antiseptik perlahan, namun sudah cukup untuk membuat Summer menggigit bibirnya menahan sakit.

“Kenapa bisa sampai terluka seperti ini?” Kerutan samar menghiasi kening Archilles selagi ia menunggu antiseptik di luka Summer mengering.

Summer berdeham sebentar untuk menghalau ekspresi kesakitan. “Kucing … anak kucing tadi tidak bisa turun dari pohon. Seharusnya saya meminta pertolongan pada petugas, tapi situasinya kurang baik tadi sehingga saya nekat memanjat. Setelah berhasil meraihnya, saya yang tidak hati-hati terpeleset batang pohon ketika turun. Benar-benar kekanakan, saya malu sekali kalau mengingatnya lagi.” Summer sengaja membuat gestur tersipu dengan mengusap hidungnya.

“Tidak ada yang memalukan dari berbuat baik,” timpal Archilles, intonasinya cenderung datar. Kalau dicermati lebih teliti, Summer menyadari ia sama sekali tidak bisa membaca apa yang tengah pria itu pikirkan dari ekspresi maupun bahasa tubuh. Segalanya terlalu terkendali, terlalu presisi, Archilles seperti sengaja tidak membiarkan celah sedikit pun mengungkapkan kerentanannya.

“Saya rasa tidak ada seorang pun yang benar-benar mengerti cara kerja kemalangan. Terjadi begitu saja tanpa memandang usia dan status, lalu melenggang pergi setelah menyebabkan kerusakan,” lanjut Archilles seraya mengoleskan salep dengan gerakan pelan ke luka Summer. “Bagian terbaiknya, ada memori yang bisa disesali, dikutuk, dan ditertawakan di masa depan. Hidup manusia seharusnya bertekstur, hamparan kain halus tanpa corak akan terlihat kurang menarik—nah, sudah selesai.”

Kalimat terakhir Archilles membuat Summer mengerjap, baru menyadari pria itu sudah selesai menempelkan plaster luka di kedua lututnya.

Summer membasahi bibirnya, memaksakan seulas senyum tipis. “Bantuan Anda, kata-kata menenangkan Anda … saya sangat menghargainya. Terima kasih banyak. Anda orang yang baik, Pak Wali Kota. Senang bisa bertemu Anda dan anak-anak.”

Kilat keterkejutan samar melintas sekejap di mata hitam Archilles, yang langsung digantikan anggukan kecil pria itu.

Saat pria itu bangkit berdiri, Summer tidak melepaskan pandangan darinya. Seringaian laten menghiasi bibirnya.

Langkah pertama berjalan mulus. Kali berikutnya Archilles berlutut, Summer pastikan itu adalah saat pria itu memohon padanya.

...****...

1
Amaya Fania
jujur paling suka kalo kian muncul. ketawa mulu kalo lagi berantem sama summer, saling ejek, tapi diem diem sayang adek
Amaya Fania
penasaran lanjutannya, ayo lanjut kak
aspidiske ☆: okaii 😳
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!