Ketika kabar bahagia berubah duka. Cinta yang dia impikan telah menjadi hal paling menyakitkan. Pertemuan manis, pada akhirnya adalah hal yang paling ia sesali dalam hidupnya.
Mereka dipertemukan ketika hujan turun. Lalu, hujan pulalah yang mengakhiri hubungan itu. Hujan mengubah segalanya. Mengubah rasa dari cinta menjadi benci. Lalu, ketika pertemuan berikutnya terjadi. Akankah perasaan itu berubah lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab*8
"Astaga. Kenapa aku tidak kepikiran bahwa tuan muda ke sana sejak tadi ya?"
"Ya sudah, terima kasih atas bantuannya. Aku ke sana sekarang."
"Baik, Pak."
Sementara itu, di sisi lain, Rain sudah pun memasuki rumah. Kunci cadangan yang dia punya masih berlaku, masih bisa membuka gembok rumah tersebut. Rain pun terus melangkah ke dalam.
Tidak ada yang berubah, saat pintu utama terbuka. Ruang tamu, lalu, ketika Rain masuk semakin jauh, perubahan sudah mulai terasa. Tepatnya, di ruang keluarga. Sentuhan tangannya sudah mulai dia sadari tidak ada yang terlihat lagi. Bingkai foto yang sebelumnya terpanjang, kini sudah menghilang.
Rain terus berjalan dengan langkah yang tertatih-tatih menuju kamar. Seketika, tangisannya pecah. Langkah kakinya terasa semakin berat. Semua jejak tentang dirinya yang sempat dia tinggalkan di kamar itu, kini sudah tak tersisa lagi. Semuanya sudah terhapus, menghilang dan lenyap.
Tubuh Rain pun jatuh ke sisi ranjang dengan air mata yang mengucur deras. Sungguh, dia sedih bukan kepalang. Rasa penyesalan pun semakin kuat. "Maafkan aku, Aina. Aku salah. Aku yang tidak berguna."
Rain langsung menundukkan wajah. Saat itu, kertas yang sempat basah sebelumnya, kini sudah mengering. Rasa penasaran membawa Rain untuk mengambilnya. Kertas yang terlipat itupun Rain buka. Sungguh, kejutan yang sangat luar biasa. Kejutan yang seketika mengguncang batin Rain.
"In-- ini ... Ain."
Ingatan Rain di paksa untuk kembali ke hari dia memutuskan hubungan dengan wanita yang sangat ia cintai. Kata-kata dan wajah bahagia Aina yang masih tergambar dengan sangat jelas membuat luka hati Rain semakin melebar.
Mata Rain pun semakin melebar sekarang.
"Jadi, kabar bahagia yang ingin kamu sampaikan padaku, tapi tidak sempat kamu selesaikan ucapannya adalah tentang kehadiran buah hati kita, Aina?"
Rain mengigit bibir dengan keras. Tubuhnya pun langsung berguncang karena menahan isak tangis yang ingin lepas. Hatinya sakit, batinnya kini penuh dengan sesal. Tangannya tergenggam erat.
"Aina. Anakku. Aku tidak berguna. Hu hu hu."
Rain memukul-mukul lantai dengan satu tangan. "Kamu hamil. Aku sama sekali tidak memberikan kamu kesempatan untuk berbagi kebahagiaan. Aku benar-benar bukan manusia, Aina."
Air mata semakin mengalir cepat. Penyesalan memenuhi jiwa. Rain benar-benar mengutuk dirinya. Mengutuk karena tidak berdaya. Tidak bisa melindungi wanita yang dia cintai. Dia benar-benar marah pada dirinya sendiri sekarang.
"Tuan muda."
Saat Dion tiba, Rain masih menangis sambil bersandar di depan ranjang. Tubuhnya terlihat lelah. Wajahnya masih saja basah walau suara tangisannya tidak lagi terdengar. Tak lupa, tangannya memeluk erat selembar kertas yang dia temukan beberapa menit yang lalu.
"Tuan muda."
"Dion. Ternyata, dia punya kabar yang sangat membahagiakan. Tapi sayang, aku yang tidak memperdulikan apa yang ingin ia sampaikan."
"Tuan muda."
"Dion, aku punya anak. Tapi, aku telah melenyapkan anak juga istriku. Aku tidak pantas menjadi manusia, Dion. Aku tidak berguna."
Lagi, untuk yang kesekian kalinya, Rain memuntahkan darah segar. Hal itu semakin membuat Dion panik. "Tuan muda."
"Ha ha ha. Aku pantas mati, Dion. Aku tidak berguna." Rain pun kehilangan kesadarannya sekarang.
Gegas, Dion memapah Rain menuju mobil. Dia akan membawa Rain kembali ke rumah sakit sesegera mungkin. Kondisi Rain kelihatannya semakin bermasalah. Bukan hanya fisik yang rusak, tapi batinnya juga. Gangguan batin yang dokter itu katakan, kini semakin terlihat dengan jelas.
*
Rain baru sadar dari pingsannya setelah memasuki hari kedua usai dia pingsan terakhir. Ini adalah hari yang paling lama. Sejak kejadian pemutusan hubungan dengan Aina, entah sudah kali yang ke berapa pria itu jatuh pingsan. Lalu, ini adalah kali yang paling lama dari yang sebelumnya.
"Tuan muda. Anda sudah bangun?"
"Dion."
"Anakku. Mana anakku?" Rain mencari dengan panik.
"Tuan muda."
"Anakku. Kertas, mana dia?"
"Tenang, tuan muda. Maksud tuan muda, laporan kehamilan nona Aina."