"Tugasku adalah menjagamu, Leana. Bukan mencintaimu."
Leana Frederick tahu, ia seharusnya berhenti. Mengejar Jimmy sama saja dengan menabrak tembok es yang tak akan pernah cair.
Bagi Jimmy, Leana adalah titipan berharga dari seorang sahabat, bukan wanita yang boleh disentuh.
Hingga satu malam yang menghancurkan batasan itu. Satu malam yang mengubah perlindungan menjadi sebuah obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25
"James! Kau ingin mati, hah?! Kenapa baru diangkat sekarang?!"
seruan Diego Frederick langsung memenuhi ruang tamu apartemen saat Jimmy menekan tombol terima pada panggilan video tersebut.
Jimmy, yang hanya mengenakan celana training hitam tanpa atasan, mengusap wajahnya yang masih mengantuk. Rambutnya berantakan, dan gurat kelelahan terpancar jelas di wajahnya.
"Maafkan aku, Diego. Ponselku dalam mode senyap. Kami juga kelelahan setelah pelarian semalam," jawab Jimmy dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
Wajah Diego tampak merah padam, sementara di sampingnya Elise terlihat sedikit lebih tenang. Meski sejujurnya sebagai seorang ibu, ia sangat cemas dengan keadaan Lea.
"Di mana Lea? Jangan bilang kau meninggalkannya di pinggir jalan untuk memancing anak buah Aaron!" Elise menyela dengan tatapan menyelidik sembari memeriksa ruangan di belakang Jimmy.
Jimmy mengarahkan kamera ponselnya sedikit bergeser ke arah pintu kamar yang tertutup rapat.
"Lea sedang tidur. Dia sangat syok karena kejadian semalam. Aku membawanya ke apartemen pribadiku karena dia menolak pulang ke mansion. Dia tidak ingin membuat kalian berdua khawatir melihat keadaannya yang kacau," ucap Jimmy.
"Syukurlah. Setidaknya dia aman bersamamu. Aku sudah mengurus Aaron. Bajingan itu sekarang sedang merangkak di rumah sakit dengan tulang tangan yang hancur. Kerja bagus, Jim," sahut Diego mengembuskan napas panjang yang terdengar seperti ban bocor di speaker ponsel.
"Terima kasih. Aku tahu hanya kau yang bisa menjaga Lea dengan baik. Tolong buatkan dia sarapan yang bergizi saat dia bangun nanti. Dia pasti butuh asupan energi." Elise menimpali dengan senyum tipis.
"Tentu. Akan segera aku siapkan," ucap Jimmy sopan.
Saat Jimmy ingin pamit untuk mematikan sambungan, mata elang Diego menyipit. Pria itu mendekatkan wajahnya ke layar ponsel, seolah sedang mencoba menembus kamera Jimmy.
"Tunggu dulu, Jim, diam di tempat. Jangan bergerak!" seru Diego tiba-tiba.
Jimmy membeku. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari sebelumnya. Apa dia ketahuan?
"Ada apa, Diego?" tanya Jimmy sesantai mungkin.
"Itu di leher sebelah kiri, tepat di bawah rahangmu ada bercak merah keunguan yang sangat mencurigakan. Apa itu luka baru? Atau kau terkena sabetan pisau Aaron?" tanya Diego sembari menunjuk layar.
Jimmy refleks menyentuh lehernya.
Sial! Itu bukan luka karena Arron. Itu adalah kenang-kenangan dari ciuman penuh tuntutan Lea, saat gadis itu sedang dalam puncak pengaruh obat semalam.
Tanda itu sangat jelas, kontras dengan kulit Jimmy yang kecokelatan.
"Oh, ini digigit semut, Diego." Jimmy berdehem, otaknya berputar cepat mencari alasan paling masuk akal.
"Semut?" Diego menaikkan satu alisnya ragu. "Semut jenis apa yang bisa meninggalkan bekas sebesar koin begitu? Apa semut itu memakai lipstik sebelum menggigit mu?"
"Semut api. Semut apartemen ini sangat agresif jika ada orang asing masuk. Rasanya sangat gatal dan panas, jadi aku menggaruknya sedikit terlalu keras," balas Jimmy datar dan berusaha sesantai mungkin agar Diego tak curiga.
"Jim, kau yakin tidak butuh salep antibiotik? Sepertinya gigitan semut itu cukup... ganas," ucap Elise menatap suaminya lalu kembali ke arah Jimmy.
"Tidak perlu. Aku sudah biasa dengan gigitan seperti ini. Akan hilang dalam beberapa hari," jawab Jimmy, mencoba menahan senyum yang nyaris pecah.
Diego mendengus, masih merasa ada yang aneh. Namun otaknya yang sudah lelah karena terjaga semalaman tidak mampu berpikir lebih jauh lagi.
"Dasar kau ini. Melawan selusin pembunuh bayaran saja tidak luka, tapi kalah oleh seekor semut apartemen. Memalukan!" ejek Diego.
"Aku minta maaf sudah mengecewakan mu, Diego," ucap Jimmy.
"Sudahlah, Diego. Yang penting Lea aman." Elise menepuk bahu suaminya. "Jim, jaga dia. Jangan biarkan dia keluar sebelum aku mengirim tim pengawal tambahan ke sana."
"Baiklah."
Begitu panggilan berakhir, Jimmy langsung menyandarkan punggungnya di dinding dan mengembuskan napas lega.
"Hampir saja," gumamnya.
"Siapa yang digigit semut, Jim?"
Jimmy tersentak. Di ambang pintu kamar, Lea berdiri dengan mengenakan kemeja putih milik Jimmy yang sedikit kebesaran di tubuhnya.
Rambut gadis itu masih berantakan. Wajahnya masih memerah dan mata indahnya menatap Jimmy dengan binar yang menggemaskan.
"Ayahmu," jawab Jimmy sambil berjalan mendekat lalu melingkarkan tangannya di pinggang Lea. "Dia hampir saja memberiku medali kehormatan karena gigitan semut yang kau tinggalkan di leherku ini," bisik Jimmy menggigit kecil telinga Lea.
Lea tertawa geli sembari menyandarkan kepalanya di dada bidang Jimmy yang hangat.
"Oh, jadi aku dianggap semut sekarang? Kalau begitu, semut ini ingin sarapan dan dia ingin kau yang menyuapinya," rengek manja Lea.
Jimmy terkekeh, mengecup puncak kepala Lea dengan penuh kasih sayang.
"Apapun untukmu, singa betina nakal. Tapi jangan pernah sebut kata panas lagi di depan umum, atau aku benar-benar akan dikuliti oleh Diego."
"Aku tidak janji," balas Lea sambil mengeratkan pelukannya.
Jimmy membopong Lea kembali ke kamar, lalu mendudukkannya di tepian ranjang. Kemudian berlutut untuk mengecup keningnya.
"Istirahatlah sebentar lagi, aku akan—"
Drrt! Drrt!
Jimmy merogoh ponselnya dan begitu melihat nomor tanpa identitas itu, tiba-tiba firasat buruk menghampiri.
"Halo," sapa Jimmy.
"Pulang dan pertanggung jawabkan semua yang kau lakukan pada Aaron, James! Berani-beraninya kau menyentuh putraku sampai hampir cacat begitu!" teriak seorang pria di seberang sana.
"Aku tidak akan pernah kembali ke sana. Aaron mendapatkan apa yang pantas ia dapatkan setelah mencoba menyentuh milikku."
"Milikmu? Kau hanya anjing penjaga, James! Jangan lupa siapa yang membesarkan mu sebelum kau memilih tinggal bersama Diego!" pria itu tertawa sinis. "Baiklah, jika kau ingin wanita itu mati di tanganku karena keegoisanmu!"
"Apa maksudmu, Daren?! Jangan berani-berani membawa orang luar ke dalam urusan kita!" seru Jimmy. Ia segera melangkah keluar kamar, menjauh menuju balkon agar Lea tidak mendengar percakapan mereka.
"Orang luar? Kau yakin dia orang luar?"
"Katakan, jangan bertele-tele sialan!"
"Ibumu masih hidup, James. Dan dia ada di genggamanku sekarang. Dia terus menangis dan memohon agar putranya yang hebat ini datang menjemputnya. Cepatlah pulang karena aku tidak suka menunggu, James!"
Panggilan itu terputus sepihak. Jimmy mematung. Layar ponselnya nyaris remuk dalam genggaman tangannya yang bergetar hebat.
Informasi itu menghantamnya lebih keras daripada peluru manapun. Ibunya? Wanita yang ia kira sudah lama tiada dalam tragedi belasan tahun lalu masih hidup?
"Panggilan dari siapa Jim? Kenapa kau terlihat tegang begitu?" Sebuah lengan kecil tiba-tiba melingkar di perutnya dari belakang.
"Bukan siapa-siapa. Hanya urusan pekerjaan lama yang belum selesai," jawab Jimmy dengan berbohong.
"Tapi kau berteriak tadi. Siapa Daren?" tanya Lea lagi sembari melepaskan pelukannya dan berpindah ke depan Jimmy, menatap dalam-dalam mata pria itu.
"Bukan siapa-siapa, Lea," balas Jimmy dingin. "Mandilah. Sebentar lagi orangtuamu datang. Aku akan membuatkan sarapan untukmu."
Jimmy berbalik dan berjalan cepat menuju dapur tanpa menoleh lagi. Lea berdiri mematung di, menatap punggung kokoh itu menghilang di balik dinding.
Ada jarak yang seolah membentang diantara mereka. Entah rahasia gelap apa yang membuat Jimmy kembali menjadi pria asing yang dingin.
"Apa aku salah bicara? Kenapa sikapnya jadi aneh?" gumam Lea bertanya-tanya.
apaan coba lagi lagi gak bisa menahan keinginanmu untuk menanam saham itu🤣🤣
ingat Lea terburu buru ada kelas pagi 😭
ini malah berharap kecambahnya tumbuh 🤣🤣
udah ganti sekarang bukan Jimmy lagi
Diego pria itu sudah menyentuh putrimu lebih dari satu kali
kecanduan dia pengen terus🤣
hadapi dulu calon mertua mu itu hahaha🤣🤣🤣
rasanya pengen tertawa ,menertawakan Wil Wil arogan itu
Tuan Wil mau nikah lagi anda?
bentar nanti di carikan sama pembuat cerita ini 😂
.jawab jim😁😁