Dua ego yang bersinggungan. Dua imperium yang beradu. Satu perasaan yang dilarang.
Every adalah sang penguasa kampus, River adalah sang pemberontak yang ingin menggulingkannya. Mereka menyebutnya rivalitas, dunia menyebutnya kebencian.
"...semua yang terjadi di gubuk ini, jangan pernah lo anggap sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar cara lo membayar utang.."
River hanya menyeringai, "... gue tetap orang yang tahu persis gimana rasanya lo gemetar ketakutan di pelukan gue semalam."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hening dan River Armani
"Semua logistik masuk ke Bus 3! Tim Keamanan Teknik, tolong bantu angkat tenda!" teriak Recha melalui megafon.
Pagi itu, suasana keberangkatan ke Bandung dipenuhi riuh rendah mahasiswa.
Tiga bus pariwisata besar sudah berjajar rapi. Every berdiri di garis depan dengan papan jalan di pelukannya, berusaha keras menjaga wibawanya sebagai Ketua BEM.
River datang membelah keramaian. Kaos oblong santai, kulit hitam dan boots yang membuat auranya terlihat sangat tertutup dan profesional.
Sesuai ucapannya, River tidak melanggar jarak satu meter. Ia berhenti di dekat Recha, membelakangi Every sepenuhnya.
"Checklist keamanan kendaraan sudah selesai. Bus 1 dan 2 siap jalan," lapor River pada Recha dengan nada suara yang sangat datar, seolah Every hanyalah debu yang tidak sengaja tertiup angin.
"Eh, River... makasih ya. Tadi Every mau nanya soal rute alternatif karena ada perbaikan jalan di jalur Subang," ucap Recha sambil melirik Every, memberi kode.
River diam sesaat, tanpa menoleh ke arah Every sedikit pun. "Semua sudah ada di sini. Jangan mendahului bus 1. tapi semua driver bus udah megang jalurnya juga kok, tadi kita udah cek bareng."
Every yang berdiri hanya satu setengah meter di sana merasa darahnya mendidih.
River benar-benar melakukan trik diam. Pria itu menganggapnya tidak ada. Jangankan tatapan mesum atau ejekan seperti biasanya, melirik ke arah sepatu Every pun River tidak sudi.
"Ayo masuk, Every. kita di Bus 1, paling depan," ajak Axel yang tiba-tiba muncul dan mencoba meraih tas Every.
Every tidak menolak. Ia membiarkan Axel membantunya, berharap tindakan itu memancing reaksi River.
Namun, River justru sedang sibuk mengobrol akrab dengan anak-anak Teknik lain seolah dunia hanya berisi mereka saja.
---
Bus eksekutif itu melaju membelah kemacetan menuju arah Bandung.
Di bagian depan, Every duduk dengan punggung tegak, mencoba fokus pada lembar koordinasi di pangkuannya. Namun, indranya tidak bisa berbohong; seluruh perhatiannya tersedot ke barisan kursi paling belakang.
Di sana, River duduk dengan santai, menyandarkan kepalanya pada kaca jendela.
Dan tepat di sampingnya, duduk Aluna. dia memakai jaket bomber kebesaran, celana kargo yang robek di lutut, dan rambut pendek yang berantakan. Namun, saat berada di samping River, sisi manja dan macho-nya berbaur secara alami.
"Riv, liat deh, piston yang kemarin gue bongkar kayaknya perlu di-skir lagi," ucap Aluna dengan suara serak-serak basah yang manja, sambil menyandarkan kepalanya di bahu River.
Tangannya yang masih menyisakan bekas oli hitam dengan santai memainkan kunci motor River yang tergantung di saku celana pria itu.
River hanya bergumam rendah, tidak menolak sandaran itu, bahkan tidak menjauhkan tangan Aluna. Ia benar-benar menjalankan trik diamnya terhadap Every. Sepanjang dua jam perjalanan, River tidak sekalipun melayangkan pandangan ke arah depan bus.
"Panas ya? Mau minum?" Aluna merogoh tasnya, membuka botol air mineral, dan menyodorkannya ke bibir River seolah hal itu sangat lumrah dilakukan.
Every, yang tanpa sengaja melihat interaksi itu melalui pantulan kaca spion di atas kepala supir, merasa dadanya seperti diremas.
Ia yang meminta River menjauh, ia yang menyatakan River bukan siapa-siapa, tapi melihat River membiarkan gadis lain masuk ke jarak "kurang dari satu meter" yang Every larang, rasanya seperti dihantam godam.
"Every, kamu oke? Muka kamu merah banget," bisik Axel yang duduk di sampingnya, mencoba menyentuh kening Every.
"Gue oke. AC-nya aja yang kurang dingin," sahut Every ketus, melepaskan tangan Axel dengan kasar.
Suara tawa Aluna yang pecah dari belakang bus kembali memenuhi kabin. "Ih, River mah, sialan! Masa gue dibilang kayak anak kucing kecebur got gara-gara belum mandi pas di bengkel!"
Mendengar kalimat "kucing kecebur got", Every tersentak. Itu adalah istilah yang River gunakan untuknya di dalam Jeep tempo hari.
Sekarang, River membiarkan istilah itu menjadi bahan candaan dengan gadis lain.
River tetap diam, hanya sesekali menanggapi Aluna dengan senyum tipis yang jarang ia perlihatkan. Ia benar-benar menganggap Every tidak ada.
Tidak ada intimidasi, tidak ada tatapan predator. River memperlakukan Every seolah-olah Every adalah penumpang asing yang tidak sengaja berada di bus yang sama.
"Al, jangan berisik. Gue mau tidur," ucap River pelan, namun cukup terdengar sampai ke kursi Every.
Every melihat Aluna justru semakin merapat, melingkarkan lengannya di lengan River yang berurat. "Ya udah, tidur di pundak gue aja, Riv."
Every memalingkan wajah ke arah jendela, menatap kabut yang mulai turun di sepanjang jalan tol Cipularang.
Ia harusnya lega karena River tidak mengganggunya, tapi kenyataannya, diabaikan oleh River dan melihat pria itu "nyaman" dengan gadis lain justru memberikan rasa sakit yang jauh lebih tajam daripada bentakan mana pun.
Setiap kali bus berhenti di rest area, Every sengaja berdiri di dekat pintu, memberikan kesempatan bagi River untuk mendekat atau sekadar memberikan tatapan dingin.
Namun, River memilih pimtu belakang bus yang sulit dibuka atau berkumpul dengan tim mekaniknya, merokok dalam diam, dan sama sekali tidak memandang ke arah rombongan BEM.
"Dia beneran berubah ya, Ev?" bisik Recha saat mereka sedang antre di toilet. "Biasanya River itu paling berisik kalau ada lo. Sekarang... kok kayak orang nggak kenal?"
"Baguslah. Itu yang gue mau," sahut Every ketus, meski hatinya berdenyut nyeri.
"Tapi jujur ya, aura dia yang diem gini malah makin serem," tambah Recha. "Kayak bom waktu yang lagi nunggu detik terakhir."
Every tidak menjawab. Ia kembali ke bus dengan perasaan yang semakin tidak keruan.
Tantangan yang ia berikan pada River berbalik menjadi senjata yang menyiksa dirinya sendiri. River tidak hanya menjauh, ia seolah-olah sedang menghapus Every dari eksistensinya.
Sore hari, bus mulai memasuki kawasan pegunungan Bandung yang berkabut.
Udara dingin mulai merembes masuk lewat celah jendela.
Every mencengkeram kemeja BEM-nya.
Bisa jadi, keheningan River hanyalah badai yang sedang mengumpulkan kekuatan sebelum menghantamnya habis-habisan di vila nanti.
---
Vila yang mereka sewa terletak di titik tertinggi Ciwidey, di mana kabut tebal bukan lagi sekadar pemandangan, melainkan selimut dingin yang meresap hingga ke tulang.
Udara di sini begitu tipis dan beku, membuat setiap embusan napas berubah menjadi uap putih yang peka.
Begitu bus berhenti, suhu ekstrem langsung menyergap. Anak-anak BEM yang terbiasa dengan kenyamanan AC kampus mulai menggigil, sibuk merapatkan jaket masing-masing.
"Logistik BEM turunkan di lobi utama! tim logistik, bantu bawa peralatan ke basecamp belakang!" terah Recha dengan suara gemetar karena dingin.
Every turun dari bus dengan langkah kaku.
Ia hanya mengenakan turtleneck hitam dan jaket BEM yang tidak terlalu tebal.
Begitu kakinya menginjak tanah, angin gunung yang tajam menyapu wajahnya. Ia menoleh ke arah bagasi bus, berharap melihat seseorang yang biasanya akan langsung mengintimidasi keberadaannya.
Namun, yang ia lihat justru pemandangan yang membuat hatinya lebih dingin daripada suhu Bandung.
River turun dari bus dengan santai. Ia tidak menatap Every. Alih-alih menghampiri Every untuk sekadar mengejek wajahnya yang pucat, River justru berjalan ke arah Aluna yang sedang kesulitan mengangkat tas ransel besarnya.
"Sini, biar gue yang bawa. Lo urus kunci kamar tim kita aja," ucap River rendah. Ia menyambar tas Aluna dengan satu tangan, sementara tangan lainnya dengan santai merangkul bahu Aluna agar gadis itu berjalan lebih dekat dengannya untuk membagi kehangatan.
"Aduh... dingin banget ya. Padahal gue udah pakai jaket dua lapis," rengek Aluna, tangannya tanpa canggung masuk ke dalam saku jaket kulit River, mencari kehangatan dari tangan pria itu.
River hanya bergumam, membiarkan Aluna menggelayut padanya saat mereka berjalan melewati Every.
Jarak mereka kurang dari satu meter—jarak yang dilarang Every—namun River melewatinya seolah Every hanyalah patung selamat datang di vila tersebut. Tidak ada lirikan, tidak ada aroma tembakau yang sengaja ditiupkan ke arahnya. River benar-benar menganggap Every tidak eksis.
"Every, kamu pucat banget. Pakai syal aku ya?" Axel datang, mencoba melingkarkan syal wol ke leher Every.
Every biasanya akan menolak, tapi kali ini ia membiarkannya. Matanya tetap terpaku pada punggung River yang menjauh menuju gedung sayap kiri. Ia ingin berteriak, ingin memaki River karena ketidakpeduliannya, tapi ia sadar—bukankah ini yang ia minta?