Karena orang tua serta para keluarga selalu mendesak untuk menikah. Akhirnya Adelia Aurellia nekat menikahi seorang anak magang yang jarak usianya sepuluh tahun dibawahnya. Hal itu malah membuat orang tua Aurel menjadi murka. Pasalnya orang tua sang supir yang bernama Adam Ashraf adalah seorang pengkhianat bagi keluarganya Aurel.
Padahal itu hanya fitnah, yang ingin merenggangkan persahabatan antara Ayahnya Aurel dan juga Ayahnya Adam. Makanya Adam sengaja bekerja pada mereka, karena ingin memulihkan nama baik sang Ayah. Dan karena tujuan itu, ia pun langsung menerima tawaran dari Aurel, untuk menikahinya.
Akankah, Adam berhasil membersihkan nama baik sang Ayah? Dan Akankah mereka mendapatkan restu dari keluarga Aurel? Yuk ikuti karya Ramanda, jangan lupa berikan dukungannya juga ya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HILANGNYA JEJAK DI HATI YANG BEKU.
Hujan salju tipis mulai turun membasahi landasan pacu Bandara Charles de Gaulle. Aurel berlari menembus kerumunan calon penumpang dengan napas yang tersenggal, mengabaikan rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Di belakangnya, Arfan Faris berusaha menyamai langkah kakinya sambil membawa tas kecil milik kakaknya.
"Kak! Pelan-pelan! Kamu bisa jatuh!" seru Faris cemas.
Aurel tidak peduli. Matanya menyisir setiap sudut terminal keberangkatan internasional. "Adam! Adam Ashraf!" teriaknya parau, suaranya tenggelam di antara pengumuman keberangkatan dan hiruk pikuk manusia.
Ia menghampiri meja informasi dengan tangan gemetar. "Tolong, cek penerbangan ke Jakarta atas nama Adam Ashraf. Saya mohon!"
Petugas bandara menatapnya dengan iba. "Maaf, Mademoiselle. Pesawat dengan tujuan Jakarta baru saja take-off sepuluh menit yang lalu."
Tubuh Aurel seketika lemas. Ia jatuh terduduk di lantai bandara yang dingin, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Isaknya pecah, mengundang perhatian orang-orang di sekitar.
"Dia pergi, Faris... Dia benar-benar meninggalkanku karena kebodohanku," rintih Aurel di sela tangisnya.
Faris berlutut di samping kakaknya, merangkul bahunya erat. "Kita kembali ke Jakarta sekarang juga, Kak. Jangan menyerah di sini. Kamu harus menjelaskan semuanya sebelum dinding di antara kalian semakin tinggi."
Aurel mendongak, matanya yang sembap menyiratkan penyesalan yang mendalam. "Aku harus pulang. Aku tidak peduli lagi dengan apa kata dunia, aku hanya ingin Adam kembali."
Apartemen yang Sunyi
Sementara itu, di belahan bumi lain, Jakarta menyambut Adam dengan kemacetan yang menyesakkan. Namun, bagi Adam, kemacetan itu tak sebanding dengan kekacauan di dalam dadanya. Ia melangkah masuk ke apartemen Aurel dengan kunci cadangan yang masih ia simpan.
Suasana apartemen itu sunyi senyap, hanya detak jam dinding yang terdengar. Adam menuju kamar tamu tempat ia biasa tidur sendirian. Dengan gerakan mekanis, ia memasukkan baju-bajunya ke dalam koper. Tidak ada lagi sisa kehangatan subuh berjamaah, tidak ada lagi aroma parfum Aurel yang biasanya menenangkan.
Ia berhenti sejenak saat melihat sebuah foto pernikahan mereka di atas meja. Foto di mana ia menyampirkan selendang putih ke kepala Aurel. Adam memejamkan mata, rahangnya mengeras.
"Cinta memang tidak mengenal usia, tapi sepertinya ia butuh kepercayaan yang tidak bisa kau berikan, Adel," gumam Adam dingin.
Ia meletakkan kunci apartemen di atas meja makan, tepat di samping sebuah nota kecil bertuliskan: Terima kasih untuk kontraknya. Aku pulang ke Surabaya.
Tanpa menoleh lagi, Adam melangkah keluar. Ia menutup pintu itu dengan bantingan pelan, namun getarannya seolah meruntuhkan seluruh harapan yang pernah ia bangun.
Sang Penguasa Kegelapan
Dua hari kemudian, di kantor pusat A-Games Digital Surabaya, suasana berubah drastis. Jika biasanya kantor itu penuh dengan musik santai dan tawa para pengembang gim, kini suasananya mencekam bagaikan ruang pemakaman.
Adam duduk di singgasana CEO-nya dengan kemeja hitam legam yang lengannya digulung hingga siku. Matanya yang merah karena kurang tidur menatap tajam ke arah monitor raksasa yang menampilkan barisan kode rumit.
BRAAK!
Adam menggebrak meja saat Rian masuk membawa segelas kopi. "Rian! Aku bilang jangan pakai script ini untuk mekanisme combat-nya! Ini terlalu lambat! Hapus dan ganti dengan algoritma yang aku kirim satu jam lalu!"
Rian tersentak, hampir menjatuhkan kopinya. "T-tapi Bos, itu algoritma baru. Tim butuh waktu untuk mempelajarinya. Kita sudah bekerja delapan belas jam sehari tanpa henti."
Adam menoleh, tatapannya begitu dingin hingga membuat Rian bergidik ngeri. Tidak ada lagi senyum ramah atau binar jenaka di mata itu. Yang ada hanyalah kegelapan yang pekat.
"Kalau mereka tidak sanggup, suruh mereka pulang dan jangan kembali lagi," ucap Adam datar. "Aku tidak butuh orang lemah di perusahaanku. Dalam seminggu, gim ini harus siap untuk alpha testing. Mengerti?"
"Bos, Anda harus istirahat. Anda sudah menciptakan tiga konsep gim baru dalam tiga hari. Ini gila kerja namanya," protes Rian berani.
"Bekerja adalah satu-satunya cara agar aku tidak perlu berpikir tentang hal yang tidak berguna, Rian. Sekarang keluar!" usir Adam tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
Rian keluar dengan bahu merosot. Di luar ruangan, para karyawan berbisik-bisik ketakutan. "Ada apa dengan Pak Adam? Dia seperti monster sekarang," bisik salah satu desainer.
Penyesalan di Ambang Pintu
Di saat yang sama, Aurel baru saja mendarat di Jakarta. Ia langsung menuju apartemennya, berharap menemukan Adam di sana. Namun, yang ia temukan hanyalah sunyi, Ia melangkah menuju kamar tamu, tempat Adam tidur. Kamar itu juga terlihat kosong. Aurel melangkah kelemari Adam, yang ternyata baju-baju disana juga tidak ada, bahkan aroma Adam, sudah hilang sepenuhnya. Membuat hati Aurel terasa sakit. Ia melangkah keluar matanya melihat kunci yang tergeletak dingin di atas meja dan apartemen yang terasa hampa.
Aurel membaca nota singkat dari Adam. Air matanya kembali menetes, namun kali ini ada tekad di sana. Ia segera mengambil ponselnya dan menelepon asistennya.
"Siska, batalkan semua rapat minggu ini. Siapkan mobil, aku akan ke Surabaya sekarang juga."
"Tapi Bu, ada pertemuan dengan pemegang saham—"
"Aku tidak peduli!" potong Aurel tegas. "AA Cosmetic bisa menunggu, tapi suamiku tidak. Aku akan menjemputnya kembali, apa pun risikonya." pungkasnya, lalu ia mengambil koper yang belum sempat ia buka setelah dari Paris. Dan ia pun kembali meninggalkan apartemennya.
Aurel menyadari, selama ini ia takut terlihat tua di depan Adam, namun ia tidak menyadari bahwa perilakunya yang tidak dewasa justru yang menjauhkan Adam. Ia kini tahu, mencintai Adam berarti harus siap menghadapi badai, termasuk badai kedinginan yang kini sedang diciptakan oleh suaminya sendiri.
Di Surabaya, Adam terus mengetik, menciptakan dunia virtual di mana ia bisa berkuasa sepenuhnya, tempat di mana ia tidak akan pernah dikhianati oleh rasa percaya. Namun, di lubuk hatinya yang paling dalam, setiap baris kode yang ia tulis sebenarnya adalah jeritan rindu yang ia bungkus dengan kebencian.